
Sementara di kamar Luis. Pria itu tertegun menatap Alena yang tertidur pulas diranjangnya.
"Cantik" gumannya tanpa ia sadar.
"Hah ngomong apa aku barusan" umpatnya pada diri sendiri.
Tapi memang dua tahun menjadi sekretarisnya, gadis itu memang selalu tampil cantik. Meski Alena bukan dari kalangan atas. Yang hobi memakai barang branded. Gadis itu cukup bisa membuat dirinya tampil menawan dengan barang-barang kelas menengah.
Kalau dia punya barang branded. Itu berasal dari Luis yang sering mendapat hadiah atau souvenir dari klien mereka. Daripada tidak ada yang memakai. Luis sering meminta Alena untuk memakainya.
"Haaah"
Luis menarik nafasnya dalam. Rasanya pada Natasya sudah tidak mungkin ia perjuangkan. Tapi entah mengapa hatinya tidak merasakan sakit atau kecewa. Adakah rasa yang ia punya untuk wanita lain. Luis menggeleng pelan.
Alena terlihat menggeliat. Membuat selimutnya tersingkap. Memperlihatkan paha mulus miliknya. Perlahan Luis mendekat. Membetulkan posisi selimut Alena. Namun lagi-lagi gadis itu bergerak. Dan kali ini dada mulus Alena yang terekspos.
"Oh *****" umpat Luis.
"Jangan mengujiku Alena. Aku bisa saja menerkammu sekarang juga" batin Luis.
Sejenak Luis kembali menatap Alena yang masih setia bergelung manis di ranjangnya. Detik berikutnya Luis melesat keluar dari kamarnya. Turun ke lantai bawah dengan bibir tak habis mengumpat.
"Kenapa kau? Baca mantra?" tanya Steven melihat adik sepupunya terdengar komat-kamit tidak karuan.
"Semua perempuan sama saja" ucap Luis ketus.
"Haaa memangnya kenapa?" tanya Steven kepo.
"Kenapa mereka kalau tidur tidak pernah menjaga sikapnya. Berguling ke kiri ke kanan. Tidak sadar apa kalau paha dan dada mereka kemana-mana" umpat Luis.
Sedang Steven langsung terkekeh mendengar omelan sang adik sepupu.
"Dan kau tergoda?" goda Steven.
"Hei aku normal Bro. Siapa yang tidak tergoda dari kemarin lihat yang begituan mulu" oceh Luis.
"Punya siapa itu" Steven kepo.
"Siapa lagi kalau bukan si keras kepala dan sekarang si Alena juga sama dikamar atas" gerutu Luis sambil menyesap kopinya.
"Ha ha ha makanya jangan sembarangan menculik tunangan orang. Dikerjai baru tahu rasa kamu" ledek Steven.
"Kalau tidak ingat punya Eric sudah aku hajar dari semalam" ucap Luis tanpa filter.
"Ooh kamu masih ingat kalau dia milik Eric" tanya Steven.
"Bagaimana tidak ingat. Tiap melawanku dia pasti mengatakan tunanganku akan menjemputku" jawab Luis sambil menirukan gaya bicara Natasya.
"Baru kamu ketemu batumu. Tapi yang sekarang dikamar atas masih single kan. Kau bisa menghajarnya jika kau mau" goda Steven lagi.
"Iiisshh kau pikir aku murahan apa" gerutu Luis.
"Katamu normal. Lagipula Alena cantik lho. Dua tahun masak kamu nggak ada rasa sama sekali ke dia. Biasanya kamu itu tidak bisa lama-lama dengan satu wanita. Tapi Alena dia betah jadi sekretarismu selama dua tahun ini" Steven mengingatkan Luis.
"Iya juga ya" ucap Luis baru sadar.
"Kamu mungkin ada rasa sama dia. Hanya kamu tidak menyadarinya" tambah Steven.
"Entahlah" ucap Luis ambigu.
Keduanya lantas terdiam. Menikmati minuman mereka masing-masing. Beberapa pelayan masih hilir mudik membereskan sisa kekacauan tadi sore.
"Kemana mereka?" tanya Luis akhirnya.
"Justin sedang ke atas membangunkan Kai. Tadi katanya minta dibangunkan kalau makanan sudah siap" jawab Steven.
"Oh ya bagaimana kalian bisa menemukan ku disini. Jika bukan diberitahu profesor Huang" tanya Luis kepo.
"Kan aku sudah bilang kau salah memilih lawan kali ini. Kau tahu siapa Eric?" tanya Steven.
Luis menggelengkan kepalanya.
"Dia pemilik A&A Hitech Corporation. Pembuat software yang terkenal itu" jelas Steven.
"Dia pemiliknya?" tanya Luis lagi.
"Tapi dia jarang tampil ke publik. Hanya asistennya yang sering muncul ke public. Dia memasang GPS di cincin tunangan yang dipakai Natasya" jelas Steven lagi.
"Sampai segitunya" ujar Luis tidak sadar.
"Iya-iya aku salah. Aku akan minta maaf nanti" ucap Luis.
Kai terbangun ketika mendengar ketukan di pintu. Suara Justin memanggil.
"Mau makan tidak? Makanan sudah siap" teriak Justin.
"Ya aku turun sebentar lagi" jawab Kai dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Sejenak dilihatnya Natasya yang masih tertidur pulas. Lalu dilihatnya jam yang melekat di tangan kirinya.
"Hampir tengah malam rupanya" gumannya.
Turun dari ranjang. Masuk ke kamar mandi. Mencuci mukanya. Lalu turun ke ruang makan. Mulai memakan makanannya.
Disana dia bertemu Luis dan Steven dan beberapa anak buah mereka. Yang ikut makan mengingat mereka memang belum memakan apa-apa sejak baku hantam kemarin sore.
Luis akhirnya meminta maaf. Meski awalnya merasa canggung. Tapi sebagai pria akhirnya dia dengan gentle meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
Berujar ingin membalas dendam. Malah dia yang dikerjai habis-habisan oleh gadis keras kepala itu. Mana pakai acara terjun bebas di air terjun lagi. Benar-benar gadis yang membuat kepala pusing.
Kai dan jelas terbahak-bahak mendengar cerita Luis. Dan pada akhirnya Kai menerima maaf Luis. Meski dia sebenarnya sempat geram ketika pria itu berniat menjadikan tunangannya sebagai ibu pengganti bagi bayinya dan Luna.
"Kau tahu aku saja belum pernah menyentuhnya. Kamu enak saja suruh dia hamil anak kamu sama Luna. Cari kandidat lain" protes Kai.
"Iya-iya aku cari kandidat lain" jawab Luis cepat.
"Kenapa kau ingin sekali memiliki anak dari Luna?" tanya Steven.
Mendengar pertanyaan itu. Wajah Luis langsung berubah sendu.
"Aku ingin menebus kesalahanku. Luna meninggal ketika dia mengandung anakku. Umur kehamilannya dua bulan ketika dia meninggal. Aku bahkan tidak tahu kalau dia mengandung anakku" ucap Luis sendu.
"Karena itu kau meminta profesor Huang untuk membekukan sel telur Luna setelah dia meninggal" tanya Steven.
Luis mengangguk.
"Karena wajah Anna mirip Luna kau ingin dia yang jadi ibu penggantinya?" tanya Kai.
Kembali Luis mengangguk.
"Sudah umur berapa janinnya" tanya Kai.
"Dua minggu"
"Waktu yang tepat untuk dipindahkan ke rahim ibu pengganti"
Luis mengangguk lesu.
"Kita pasti dapat kandidatnya" ucap Steven menenangkan.
Mereka terdiam. Kemudian datang Justin dan profesor Huang bergabung untuk mengambil makan malam mereka yang sudah sangat terlambat.
Setelah itu semua orang kembali ke kamar mereka. Melanjutkan tidur mereka. Hingga matahari mulai meninggi. Mereka baru bersiap kembali ke kota.
Mereka pulang ke kota Shanghai dengan tiga mobil. Sebagian anak buah Steven sudah kembali ke kota. Bahkan tim Alpa dan Delta yang Steven panggil langsung kembali ke markas mereka begitu baku hantam mereka selesai.
Luis, Alena, dan profesor Huang berada di mobil paling depan. Sedang Kai, Natasya, Steven dan Justin berada di mobil berikutnya. Satu mobil berisi sisa anak buah Steven dan Luis yang bertugas mengawal mereka kembali ke kota.
Meski Natasya masih lemah tapi dia sangat bersemangat untuk pulang. Dia bosan dikurung oleh Luis selama seminggu ini. Didalam mobil Natasya hanya berbaring. Kursinya sudah disetting menjadi setengah rebahan. Membuat gadis itu merasa nyaman selama perjalanan pulang ke rumah keluarga besar Liu.
Sedikit tidak percaya jika Kai adalah cucu keluarga Liu yang sudah lama hilang.
"Kisahmu seperti di cerita dongeng saja Kak" oceh gadis itu.
Begitu Steven selesai bercerita. Mereka tengah berhenti untuk beristirahat. Dan Justin menggunakan kesempatan itu untuk memeriksa Natasya.
"Aku sudah sembuh , Dok" ucap Natasya.
"Aku tahu. Aku hanya memastikan saja" jawab Justin merapikan kembali peralatan medisnya. Semalam dia meminta anak buah Luis untuk mencari stetoskop dan juga beberapa obat untuk Natasya.
Kai sedang berada di luar mobil. Sambil meluruskan kakinya. Ketika ponselnya berbunyi.
"Nomor tidak dikenal. Siapa ya" guman Kai.
****