You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 44



Kai masih memeluk erat tubuh Natasya. Seolah benar-benar ingin memastikan kalau ini nyata. Bukan mimpi atau halusinasinya semata. Diciumnya pucuk kepala Natasya berulang-ulang.


Hingga kemudian dengan perlahan Kai mulai membawa Natasya ke sisi jendela apartementnya. Menyandarkan tubuh gadis itu disana. Dan detik berikutnya pria itu mulai menautkan bibirnya ke bibir Natasya.


Kembali hal itu membuat Natasya terkejut.


"Kak..." Lirih Natasya berusaha membuat jarak dengan pria itu.


Karena Kai terus menghimpit tubuhnya. Sesak sudah mulai ia rasa.


"Biarkan seperti ini sebentar saja" Jawab Kai sambil terus mencium lembut bibir Natasya. Sedang Natasya mulai menikmati setiap sapuan bibir Kai di bibirnya.


Kai sepertinya mulai hilang kendali. Padahal dia hanya minum alkohol sedikit tadi. Tapi kenapa dia jadi tidak bisa mengendalikan dirinya? Pikir Kai yang kini bibirnya mulai merayap turun menciumi leher jenjang Natasya. Membuat gadis itu bergerak kegelian.


"Kak...stop...ini geli" Ucap Natasya dengan nafas mulai tersengal.


Ada rasa aneh yang dia rasakan ketika Kai mulai menciumi lehernya. Seolah tubuhnya seperti terkena setrum aliran listrik tegangan tinggi. Membuat seluruh tubuhnya meremang.


"Jadilah milikku!" Ujar Kai parau.


Natasya sejenak terdiam. Mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Kai.


"Kakak sudah gila. Minggir!" Jawab Natasya setengah kesal begitu menyadari arti dari ucapan Kai.


Dia setengah meronta. Ingin melepaskan diri dari himpitan tubuh Kai. Namun gagal. Di mana pria itu telah mengunci sempurna tubuhnya. Tubuh Kai menempel ketat pada tubuh Natasya.


Hanya ada tangan Natasya yang masih berusaha menahan dada bidang Kai agar tidak terlalu menempel pada miliknya.


"Kalau aku tidak mau" Jawab Kai menggoda Natasya sambil memiringkan wajahnya. Natasya menggeram kesal.


"Jadilah milikku. Dan aku akan menikahi Fanny" Ucap Kai. Membuat Natasya membulatkan matanya.


"Kakak mempermainkanku?" Jawab Natasya tidak percaya.


"Kenapa? Aku hanya menginginkanmu tidak ingin yang lain. Ini hanya pernikahan gila yang diatur oleh kakekmu" Ucap Kai dengan senyum tipis di bibirnya.


"Kakekmu? Apa kak Kai sudah tahu siapa aku" Batin Natasya.


Natasya terdiam. Sedang Kai semakin gemas menikmati ekspresi bingung gadis yang masih berada dalam kunciannya itu. Natasya masih menikmati kebingungannya ketika Kai dengan perlahan menciumi daun telinga Natasya.


Membuat Natasya terlonjak seketika.


"Kak..jangan lakukan ini" Natasya merengek.


Yang justru membuat Kai semakin bersemangat. Dia kembali menciumi leher jenjang Natasya.


"Tunggu dulu...tunggu dulu. Kenapa Kakak berkata seperti itu. Kemarin Kakak tidak seperti itu" Gadis itu protes.


"Aku berubah pikiran. Aku pikir aku harus memilikimu dulu. Sebelum menikah dengan adikmu. Karena aku tidak pernah berpikir untuk menyentuh adikmu" Ucap Kai santai. Dan Natasya kembali membulatkan matanya.


"Adik? Oh fix. Kak Kai sudah tahu semuanya" Batin Natasya.


"Jadi bagaimana? Kita bisa melakukannya pelan-pelan. Aku akan melakukannya selembut mungkin" Ucap Kai membuyarkan lamunan Natasya.


"Ini tidak benar Kak. Lepaskan!" Ucap Natasya. Karena Kai kembali mencium bibirnya lagi.


Sedang Kai seolah tidak mendengar protes Natasya. Dia menciumi apa yang bisa dia cium dari gadis di hadapannya itu. Bibir, pipi, kening, bahkan mulai turun ke leher dan dadanya.


Membuat Natasya geram. Dia dengan cepat melepas himpitan Kai. Membuat pria itu menyerigai.


"Hentikan Kak! Apa Kakak sudah gila?" Geram Natasya.


"Anggap saja ia" Jawab Kai santai.


Lantas pria itu bergerak cepat. Meraih tubuh Natasya, menariknya menuju kamar utama miliknya. Membuat Natasya berontak seketika.


"Kak apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" Kali ini Natasya berteriak kencang.


Namun Kai tidak menjawab. Terus membawa gadis itu masuk ke kamarnya. Lantas mendorongnya jatuh ke atas ranjangnya.


Rasa takut seketika menghinggapi Natasya. Apalagi ketika Kai dengan cepat melepas kaosnya menampilkan tubuh sempurna miliknya. Natasya menelan salivanya dengan susah payah.


Kai mulai merangkak naik ke atas ranjangnya. Membuat wajah Natasya semakin pucat.


"Kak aku mohon jangan lakukan ini padaku" Natasya memohon.


"Lalu aku harus melakukannya pada siapa? Pada adikmu?" Jawab Kai yang kini kembali menciumi leher Natasya.


Membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya. Menahan sengatan arus listrik tegangan tinggi yang kembali ia rasakan. Kedua tangannya mencengkeram erat kedua lengan Kai.


"Kak.." Bisik Natasya tepat di telinga Kai.


"Yes, Baby" Jawab Kai sensual.


Sedang satu tangan lainnya mulai bergerak masuk mengusap punggung mulus gadis itu. Mencari kait penghalang sesuatu di belakang sana.


Membuat Natasya semakin tidak karuan. Dan gerakan Kai semakin liar. Dia benar-benar mulai kehilangan kendali dirinya.


Dibawah sana jelas sesuatu sudah mulai bergejolak. Kai yang selama ini tidak pernah menyentuh wanita manapun. Tentu ingin merasakan lebih.


Dia baru saja masuk ke ceruk leher Natasya dan membuat tanda disana. Meninggalkan bekas merah kehitaman. Hingga tiba-tiba dia menyadari satu hal.


Natasya tidak bergerak sama sekali. Dia yang sejak tadi harus berusaha mengunci pergerakan gadis itu. Karena Natasya terus meronta. Kini heran karena gadis itu sama sekali tidak meronta.


"Kak Adit...." Bisik lirih Natasya.


Membuat Kai langsung menghentikan aksinya. Kai jelas terkejut ketika mandapati air mata sudah mengalir deras di kedua mata gadis itu.


Kai merasakan pukulan telak di hatinya.


"Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi"


Dia terngiang ucapannya sendiri. Menyadari dirinyalah yang kini membuat gadis itu menangis. Sejenak dia melihat bagaimana berantakannya Natasya akibat ulah gilanya. Blouse Natasya sudah terbuka sepenuhnya.


Menampilkan tubuh mulus gadis itu. Dengan sebuah bra berwarna hitam mendominasi yang mulai menampilkan isinya yang begitu menggoda. Sejenak Kai menelan salivanya sendiri.


"Apa yang sudah aku lakukan" Pikir Kai frustrasi.


Sedang Natasya mulai terisak. Suara tangisnya mengalun sendu di telinga Kai. Membuat pria itu dengan cepat meraih selimut lantas menutup tubuh Natasya yang sudah terbuka.


"Maaf. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku pasti sudah gila" Ucap Kai lantas meraih tubuh berbalut selimut itu kedalam pelukannya.


Hal itu membuat tangis Natasya pecah seketika.


"Maaf. Maafkan Kakak. Kakak salah" Ucap Kai semakin erat memeluk tubuh Natasya.


Kai berulang kali mencium pucuk kepala gadis itu. Rasa sesal dengan cepat menghampirinya. Bagaimana bisa dia begitu mudahnya kehilangan kendali atas dirinya. Saat berdekatan dengan Natasya.


Kai membiarkan Natasya menangis diatas dada bidangnya. Membiarkannya untuk beberapa waktu. Hingga Kai merasa tangisan itu sudah berhenti. Berganti dengan sebuah dengkuran nafas yang terdengar halus dan teratur. Menandakan kalau Natasya sudah terlelap ke alam mimpinya.


Beberapa waktu berlalu. Hingga kemudian Kai menggeser posisi tidur Natasya. Membaringkannya di atas ranjangnya. Membuat gadis itu senyaman mungkin.


Sejenak ditatapnya wajah Natasya. Wajah Natasya sedikit pucat. Perlahan dikecupnya kening Natasya. Lalu turun ke bibir gadis itu. Perlahan dia turun dari ranjangnya.


Keluar menuju ruang tengahnya. Meraih ponsel di atas meja. Mengecek siapa yang sudah menghubunginya dari tadi. Dan banyak pesan masuk ke ponselnya. Sejenak dia mengerutkan alisnya. Saat membaca pesan masuk dari Alex dan Jocelyn.


"Apa dia pergi tanpa memberitahu mereka" Guman Kai lirih.


"Ya, halo ini aku" Sapa Kai.


"...."


"Iya, dia ada ditemparku"


"..."


"Biarkan dia disini dulu malam ini"


"..."


"Aku tidak sejahat itu. Kecuali dia sendiri yang mau"


Kai menutup teleponnya. Setelah mendengar umpatan diujung sana.


Dia kembali masuk ke kamarnya. Ditatapnya sejenak Natasya yang sudah terlelap diranjangnya.


"Kamu tahu, aku selalu berharap. Wajah inilah yang ingin aku lihat setiap kali aku membuka mata di pagi hari" Ucap Kai lirih.


Lantas ikut masuk ke dalam selimut Natasya. Tanpa memakai kembali kaosnya. Meraih tubuh Natasya. Memeluknya erat. Membiarkan gadis itu mulai menggerakkan tubuhnya sendiri. Mencari tempat ternyaman. Lantas melanjutkan tidurnya.


Kai tersenyum tipis. Membiarkan Natasya memeluk erat tubuhnya. Dengan kepala gadis itu berada di ceruk lehernya. Kai perlahan mulai ikut memejamkan matanya. Menyusul Natasya ke alam mimpi. Berharap kalau ini bukan mimpi. Dan besok masih bisa melihat Natasya tertidur di atas dadanya.


"Love you, Baby" Bisiknya pelan.


**


Up lagi readersku tercinta,


Thank's sudah mampir,


Happy reading everyone,


Love you all 😘😘😘😘


****