
Jocelyn tampak masuk ke ruang kerja papanya.
"Malam Pa" Sapanya. Membuat papanya, Marcellino Kusuma mengalihkan perhatiannya kepada putri bungsunya.
"Ada apa? Serius sekali kelihatannya?" Tanya papa Jocelyn melihat wajah khawatir putrinya.
"Tadi Tasya pingsan" Beritahu Jocelyn.
"Lalu? Ada yang serius?" Tanya papanya.
"Aku belum tahu. Dua sample darah sudah aku ambil. Satu untuk general check up-nya. Satu lagi untuk memenuhi permintaan tuan Atmaja" Jelasnya lirih.
"Dia curiga?"
"Tentu saja tidak"
Jocelyn ingat ketika beberapa waktu lalu. Sam, asisten pribadi tuan Atmaja menemuinya. Meminta dirinya untuk melakukan tes DNA kepada Natasya. Jocelyn mungkin sedikit tidak begitu paham maksud tuan Atmaja.
Namun dia juga sepenuhnya tidak bisa menolak permintaan tuan Atmaja. Mengingat status tuan Atmaja sebagai partner merger dari rumah sakit tempat dia bekerja. Walaupun itu adalah rumah sakit milik keluarganya.
"Papa rasa, tuan Atmaja kemungkinan sudah bertemu Tasya. Mungkin dia curiga atau malah sudah yakin siapa Tasya" Info papa Jocelyn kemudian.
Jocelyin terdiam. Dia pikir kehidupan sahabatnya itu begitu rumit. Bertahun-tahun menyembunyikan identitas dirinya, untuk menghindari beberapa orang yang tidak menyukai kehadiran dirinya dan adiknya.
"Kenapa dia tidak langsung mengakui saja kalau dia cucunya. Itu akan membuat posisi Tasya dan Nadya lebih baik. Tuan Atmaja jelas bisa melindunginya lebih baik dari kita" Heran Jo.
"Tuan Atmaja mungkin punya pertimbangannya sendiri. Kita tidak tahu" jelas papa Jo.
Keduanya terdiam selama beberapa waktu.
"Pa, sepertinya Kak Kaizo punya rasa deh sama Tasya" Ujar Jo lagi. Kali ini papa Jocelyn sedikit memicingkan mata.
"Maksudmu. Kai jatuh cinta begitu pada Tasya?" Papa Jocelyn meyakinkan.
"Aku rasa begitu. Meski kita tahu Kak Kai tidak sama dengan yang lain. Tapi bagaimana reaksi Kakek Hadiwinata jika dia tahu hal ini" Cemas Jocelyn.
"Itu akan sangat berbahaya. Papa hampir yakin kalau dia tidak akan menyukai hal ini. Astaga bertahun-tahun kita menjauhkannya dari mereka. Tapi pada akhirnya dia terlibat juga dengan keluarga Hadiwinata. Bagaiamana ini, Jo" Tanya papanya.
"Aku tadi sudah memperingatkan Kak Kai, kalau kakeknya pasti tidak akan suka dengan hubungan mereka. Seandainya mereka benar-benar menjalin kasih" Sambung Jo.
"Papa takut kejadian ayah dan ibu Natasya akan terulang lagi Jo, kamu tahu kan seperti apa waktu itu" Kenang papa Jocelyn.
Ingatan Marcellino Kusuma melayang kembali ke 25 tahun yang lalu. Dimana ayah Natasya dan ibunya terpaksa menikah, tanpa restu dari tuan Hadiwinata waktu itu. Tuan Hadiwinata begitu murka waktu itu. Mengetahui putra tunggalnya Kevin Hadiwinata, memilih menikah dengan Celina Wulandari, ibu Natasya.
Dengan alasan kalau ibu Natasya bukan orang yang sederajat dengan mereka. Tanpa menyelidiki dulu siapa sebenarnya ibu Natasya waktu itu. Dan menolak dijodohkan dengan Sarah Amelia.
Marcellino Kusuma menghela nafasnya berat.
"Sepertinya kehidupan putri-putrimu akan lebih rumit dari kehidupanmu sendiri, Vin" batinnya.
"Jadi Jo harus bagaimana?" Tanyanya pada sang Papa.
"Ya, kita lakukan saja seperti biasa. Kita lihat dulu situasinya. Yang terpenting fokus pada general check up keduanya. Itu yang terpenting" Pinta papa Jo kemudian.
"Oh ya Pa, apa aku sudah memberitahu belum kalau Nadya aman tahun ini?" Tanya Jo.
"Benarkah? Papa bahkan tidak tahu Nadya sudah check up" Ucap papa Jo lega.
"Justin yang memberitahu. Hasil tesnya negatif. Dia kan yang menangani Nadya selama di Singapura. Bekerja di General Hospital memudahkannya melakukan itu. Bahkan dia sudah mengambil sample sumsum tulang belakang Nadya. Untuk berjaga-jaga. Semoga keduanya lolos tahun ini" Doa Jo. Yang diangguki oleh papanya.
"Sepertinya Justin ada hati juga sama Nadya" Info Jo kemudian.
"Masak sih?" Papa Jo tidak percaya.
"Terakhir kali dia menelepon. Dia kepo banget soal Nadya. Papa kan tahu sendiri Nadya judes banget sama yang namanya cowok" Ucap Jo.
"Lah kayak dia enggak aja" Goda papanya.
"Loh kok jadi aku. Kita lagi ngomongin Nadya sama Justin Pa, bukan ngomongin Jo" Kilah Jocelyn.
"Alah. Mbok ya kamu tu kayak kakakmu. Bentar lagi mau merit tu. Kemarin bilang Risma menerima lamaran kakakmu" Ucap papa Jo.
"Beneran Kak Nathan mau nikah sama Kak Risma?" Kepo Jo.
"Iya, minggu depan kita melamar ke tempat Risma. Kamu sediakan waktu buat ikut ke sana. Kalau perlu ajak dokter Edgard buat ikut. Biar gak kelihatan banget jomblonya" Goda papanya lagi.
"Aissshh, jahat banget papa ngatain putrinya sendiri jomblo. Lagian kenapa jadi bawa-bawa nama dokter Edgard segala" Protes Jocelyn.
"Dia suka sama kamu. Apa kamu tidak tahu" Papa Jocelyn memberitahu.
"Tahu. Dia beberapa kali nembak Jo sebenarnya. Tapi entahlah Pa. Jo pikir belum ingin menjalin hubungan sebelum masalah Tasya selesai. Pusing kepala Jo" Keluh Jocelyn.
"Masalah Tasya, kita tidak tahu kapan selesainya. Jadi nikmati harimu selagi bisa. Dokter Edgard orangnya baik lo. Ntar di embat orang baru nangis kejer" Goda papa Jo lagi.
Jocelyn memicingkan matanya.
"Dia sudah me-lobi duluan ya ke Papa?" Tanya Jo curiga.
"Oh, come on Jo. Edgard anaknya dokter Subroto, koleganya papa. Tentu papa kenal baik dan tahu track recordnya" Info papa Jo.
"Oo yang me-lobi papanya malahan" Ucap Jo.
"Dia ingin kamu jadi mantunya"
"Haissh, PDKT aja belum kok suruh jadi mantu" Sungut Jo.
"Bukan begitu. Kamunya sendiri yang susah buat buka hati kamu. Coba deh, kasih Edgard kesempatan. Toh dia juga tidak ingin memaksamu. Dia ingin kalian dekat dulu. Lalu biarkan semua mengalir seperti air" Ucap Papa Jocelyn.
"Entahlah Pa. Jo naik dulu. Capek pengen tidur" Pamit Jo, lantas berdiri keluar ruang kerja Papanya.
"Pikirkan ucapan Papa. Jangan hanya karena masalah Tasya kamu lupa bahagia. Kakakmu sudah mau menikah. Papa juga ingin segera melihatmu punya pasangan. Pertimbangkanlah, Edgard pria yang baik" Nasihat papa Jocelyn.
"Baik Pa" Jawabnya lirih. Lantas naik ke lantai dua menuju kamarnya. Dilihatnya rumah sudah sepi. Mungkin mamanya sudah tidur. Mengingat sudah jam sepuluh malam.
****
Kai mengajak Natasya makan malam di apartemen miliknya. Sedikit terkejut ketika tahu Kai bisa memasak.
"Kamu bisa masak?" Tanya Natasya dengan wajah berbinar senang. Melihat sepiring spaghetti saus bolognese tersaji di depannya.
Kredit google.com
"Semua orang juga bisa masak makanan simple kayak gini" Jawab Kai santai.
"Aku tidak bisa" Cengir Natasya.
Membuat Kai melirik sekilas gadis yang tengah memulai acara makannya.
"Kamu tidak bisa masak" Tanya Kai.
"Enggak. Aku bisanya makan" Jawab Natasya jujur.
"Tidak masalah. Aku bisa memasak untukmu" Ucap Kai serius.
"Ya?" Tanya Natasya tidak paham. Namun Kai tidak menjawab. Mereka makan di ruang tengah apartemen Kai. Ruang tengah mewah yang didominasi warna gelap. Berbeda dengan kamar tidur Kai yang berwarna cerah.
Kredit google.com
"Bisa kita makan sambil bicara soal Alan?" Tanya Kai tiba-tiba.
Ucapan Kai membuat Natasya langsung menghentikan acara makannya. Kai pun ikut menghentikan makannya.
Dua tahun ini, Natasya nyaris tidak pernah membicarakan tentang Alan pada orang-orang yang tahu hubungannya dengan Alan.
"Alan pernah bercerita padaku. Kalau dia jatuh cinta pada seorang gadis. Tapi dia juga bilang kalau hubungan mereka tidak mungkin. Gadis yang dia suka hanya menganggapnya sebagai kakak. Tidak lebih" Kai memulai ceritanya.
Natasya terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Alan satu-satunya pria yang pernah dekat dengannya waktu masih kuliah. Alan begitu baik padanya. Selalu ada untuknya kapan saja dia perlu teman untuk bicara.
"Dia bilang padaku. Dia sangat cantik. Kamu akan langsung jatuh cinta padanya begitu kamu bertemu dengannya. Aku tidak percaya Alan bisa berkata seperti itu. Dia tipe yang sangat susah menyukai seorang gadis"
"Dan dia meninggal karena aku. Aku membunuhnya. Aku yang membunuhnya" Ucap Natasya mulai lagi. Dia mulai menangis.
"Itu murni kecelakaan. Itu bukan kesalahanmu" Balas Kai.
"Jika saja....jika saja aku menolak bertemu dengannya waktu itu.Mungkin dia tidak akam pergi. Dan mamanya tidak akan membenciku sampai sekarang" Sahut Natasya.
Kai sejenak terdiam. Kai pikir gadis di hadapannya ini tampak begitu tangguh. Tapi rupanya dia salah. Melihat betapa rapuhnya gadis itu saat ini.
Perlahan direngkuhnya gadis itu dalam pelukannya. Kai membiarkan gadis itu menangis untuk beberapa waktu.
"Kamu tahu. Alan selalu berkata. Dia hanya ingin melihatmu selalu tersenyum dan bahagia. Jika kamu terus seperti ini. Kamu hanya akan membuatnya bersedih di sana" Hibur Kai.
"Tapi Kak. Dia meninggal karena aku. Bagaimana bisa aku terus tersenyum dan bahagia" Natasya menjawab di sela tangisnya.
Perlahan Kai mengurai pelukannya. Sejenak ditatapnya Natasya yang tampak terisak dalam tangisannya. Gadis itu terus menunduk tidak berani menatap wajah Kai.
"Hei, bisa lihat aku. Dengarkan aku. Kamu tidak bersalah sama sekali dalam hal ini. Bukankah penyelidikan polisi sudah jelas mengatakan kalau mobil yang menabrak Alan masuk ke jalur pejalan kaki. Karena pengendaranya mabuk. Alan bukan satu-satunya korban. Ada tiga yang meninggal bersama dengan Alan. Hanya karena kamu berada di TKP kamu jangan terus menyalahkan dirimu. Itu akan membuatmu menderita. Merasa bersalah atas hal yang tidak pernah kamu lakukan" Jelas Kai.
"Tapi mamanya Alan?" Tanya Natasya ragu.
"Dia terlalu shock, kehilangan orang tersayang siapa yang tidak akan shock. Dia terlalu sulit untuk menerima kenyataan bahwa Alan sudah meninggal. Jadi dia mencari pelampiasan dengan menyalahkan dirimu. Yang bahkan Alanpun tidak tahu kamu ada di sana waktu itu" Jelas Kai.
"Dari mana kamu tahu semua ini. Tahu kalau Alan tidak tahu aku ada di sana" Tanya Natasya. Beban hatinya sedikit berkurang mengetahui kejadian sebenarnya.
"Aku punya rekaman CCTV-nya. Mau melihatnya?" Tanya Kai.
Dan tak lama. Natasya menutup mulutnya dengan tangannya. Dia melihat dirinya melambaikan tangan ke arah Alan yang masih berada di seberang jalan. Namun jelas Alan tidak meresponnya. Menandakan kalau Alan memang tidak melihat Natasya yang tengah memanggilnya.
Hingga sebuah mobil Range Rover berwarna putih tiba-tiba saja masuk ke jalur pejalan kaki. Dan dalam hitungan detik tubuh Alan dan yang lainnya tertabrak tanpa ampun.
"Cukup. Selanjutnya kamu tahu sendiri kan" Ucap Kai sambil menutup laptopnya.
"Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Hilangkan beban di hatimu. Kepergian Alan tidak ada hubungannya denganmu. Semua murni karena kecelakaan. Jangan pikirkan lagi ucapan mamanya Alan. Dia hanya terlalu shock dengan kepergian Alan yang tiba-tiba" Ucap Kai.
Menatap dalam kedua bola mata bening milik Natasya. Yang semakin di lihat semakin membuatnya teringat dengan seseorang. Namun di samping itu. Ada rasa berdesir dalam hati Kai sejak pertama kali Kai menatap bola mata Natasya.
"Sepertinya yang diucapkan Alan benar. Aku rasa aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu. Natasya Ariana"
***
Up malam readers,
Thank's sudah mampir,
Happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘
*****