
Tuan Hadiwinata memandang tidak percaya sosok gadis muda yang tiba-tiba saja memeluk tuan Atmaja. Pikirannya langsung travelling ke mana-mana. Menduga yang tidak-tidak soal sahabatnya. Yang baru saja menyelesaikan perang dingin dengannya.
"Kakek kenapa disini?Ayo masuk" Ajak gadis itu sambil bergelayut manja di lengan tuan Atmaja.
Tingkah Nadya memang benar-benar seperti anak kecil sejak bertemu kakeknya itu.
Tuan Hadiwinata sejenak terdiam. Menatap gadis muda yang tak lain adalah Nadya. Dia teringat pada foto yang diberikan asistennya tempo hari.
"Nadya Arina Atmaja. 22 tahun. Lebih tua 3 bulan dari Fanny"
Keterangan singkat yang tertulis di foto itu.
"Jadi ini Nadya. Benar-benar Kevin versi perempuan" Batin tuan Hadiwinata.
"Sudah jangan seperti anak kecil. Nanti ada yang jealous lo" Seloroh tuan Atmaja.
"Siapa? Justin? Dia lagi pergi sama kak Kai. Tau mau bahas apa" Jawab Nadya sambil memanyunkan bibirnya.
"Hai, masak cemburu dengan Kai. Yang benar saja" Canda tuan Atmaja.
Tuan Hadiwinata sedikit iri dengan kehangatan kakek dan cucu itu. Dia jadi sadar dia tidak pernah bersikap hangat kepada Fanny selama mereka tinggal satu rumah.
"Tidak ingin memberi salam?" Tanya tuan Atmaja.
"Pada siapa?" Jawab Nadya lantas mengalihkan pandangannya.
Mata Nadya menangkap sosok tuan Hadiwinata yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Dia siapa Kek?" Tanya Nadya.
"Dia Wira Hadiwinata. Kakekmu juga. Ayah Kevin, papamu" Jelas tuan Atmaja.
Nadya jelas terkejut dengan ucapan tuan Atmaja. Dia memang tidak melihat sendiri bagaimana perlakuan tuan Hadiwinata pada Kakaknya. Tapi dia cukup paham bahwa kakaknya sangat tidak suka dengan tuan Hadiwinata.
Nadya jelas tidak tahu harus bersikap bagaimana. Dia hanya terdiam.
"Benar tidak ingin memberi salam?" Tanya tuan Atmaja lagi.
Hingga entah keberanian dari mana. Perlahan Nadya mulai melangkah mendekat. Dan detik berikutnya sebuah pelukan hangat mendarat di tubuh tuan Hadiwinata.
Membuat tuan Hadiwinata terkejut sekaligus senang. Perlahan dia membalas pelukan cucu tengahnya itu. Bersamaan dengan air mata yang turun di kedua belah mata tuan Hadiwinata. Rasa haru jelas menyeruak dalam dada pria renta itu.
"Kakek..." Panggil Nadya pelan.
Dan tuan Hadiwinata semakin mengeratkan pelukannya.
****
"Ish, Kakek ini membuatku jadi seperti pengkhianat" Gerutu Nadya.
Keduanya kini berjalan beriringan menuju kamar Natasya. Mendengar gerutuan sang cucu tuan Hadiwinata hanya terkekeh.
"Jadi kalau pengkhianat itu pantasnya dihukum apa ya" Goda tuan Atmaja.
"Haishhh kakek ini...." Gerutu Nadya lagi.
"Aaahhh, bagaimana kalau dihukum kerja nggak dibayar" Usul tuan Atmaja.
Tuan Atmaja tahu jika cucu bungsunya itu mulai bosan. Karena hanya mondar mandir rumah dan rumah sakit. Sedang dia tidak ingin balik ke Singapura. Toh dia tinggal menunggu wisuda saja. Skripsi dan sidangnya sudah selesai.
"Haaa yang benar Kek? Aku disuruh kerja?" Tanya Nadya antusias.
"Lah orang disuruh kerja malah happy. Biasanya orang disuruh kerja itu manyun" Seloroh tuan Atmaja.
"Kakek ini sembarangan kalau ngomong. Aku ini sudah lama pengen kerja. Tapi kakakku yang satu itu tidak pernah mengizinkan" Adu Nadya.
"Benarkah?" Tanya tuan Atmaja.
Tak terasa mereka telah sampai di kamar Natasya. Di dalam ternyata sudah ada Alex, Hera dan Evan. Mereka sedang menghabiskan makan malam mereka.
Tentu saja mereka langsung terkejut melihat kedatangan tuan Atmaja.
"Selamat malam Tuan" Sapa ketiganya hampir bersamaan.
Sedang Mandy yang tengah bercakap-cakap dengan Natasya langsung bangun dari duduknya. Memberikan kursinya pada tuan Atmaja.
"Selamat malam juga. Silahkan diteruskan makan malamnya. Jangan sungkan" Ucap tuan Atmaja. Sambil berjalan ke arah Natasya. Yang langsung berkaca-kaca melihat kakeknya.
"Kakek..." Panggil Natasya. Dan gadis itu langsung menghambur masuk ke pelukan kakeknya itu.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Tanya tuan Atmaja tak kalah terharunya. Membuat yang lain ikut terharu melihat pemandangan itu.
"Baik Kek. Sangat baik. Kenapa tidak bilang kalau kakek adalah kakekku waktu itu"
"Maaf. Kakek perlu memastikan lebih dulu. Lagipula kakek malu bertemu denganmu. Kakek menelantarkanmu dan Nadya bertahun-tahun. Kakek merasa bersalah" Jelas tuan Atmaja.
"Tapi kan Kakek tidak tahu soal kami?"
"Memang kakek tidak tahu. Kakek seharusnya mencari tahu. Tapi Kakek tidak melakukannya. Kakek menyesal"
"Aiisssh, kenapa jadi drama begini sih?" Celetuk Nadya. Yang langsung mendapat jitakan dari Alex yang kebetulan berdiri di sebelah Nadya.
"Aduuh sakit tahu. Kak Mandy tolong kondisikan tangan kekasihmu ini. Dia suka sekali menganiayaku" Adu Nadya pada Mandy.
"Ha? Iiih ogah sama kak Alex. Ketuaan" Ejek Nadya.
"Enak saja bilang tua. Aku bukan tua tapi pria matang" Protes Alex.
"Mateng? Emang buah, mateng diperam pake karbit" Ejek Nadya.
"Astaga anak ini. Sya tolong kondisikan adikmu" Giliran Alex pusing mendengar ocehan Nadya.
Membuat ruangan itu seketika dipenuhi tawa.
**
"Kamu ingin balik ke Singapura?" Tanya Kai pada Justin.
Keduanya tengah menikmati kopi mereka di salah satu coffe shop di sekitar rumah sakit itu. Paras tampan keduanya membuat para wanita melirik mereka dengan tatapan kagum. Namun keduanya tidak memperdulikan hal itu.
"Iya, besok aku balik Singapura. Aku harus menyelesaikan kontrakku di sana. Baru aku balik sini" Jelas Justin.
"Nadya setuju?" Tanya Kai sambil meminum cappuccino-nya.
"He em. Lagipula dia aman di sini. Ada kakaknya yang njagain dia. Dan juga Kak Kai" Sahut Justin sambil melebarkan senyumnya.
"Aku bukan baby sitternya" Ketus Kai.
Justin terkekeh.
"Mungkin dia akan mulai bekerja. Katanya dia bosan" Ucap Kai.
"Baguslah. Dia merengek ingin bekerja dari dulu tapi tidak diizinkan sama kak Tasya" Justin mengiyakan.
"Kontrakmu masih berapa lama?" Tanya Kai lagi.
"Satu tahun. Setelah itu aku ingin kembali ke sini. Tapi tidak tahu ingin menjadi dokter lagi. Atau kerja di kantor. Kak Kai tahu sendiri kan" Jelas Justin. Dan Kai mengangguk.
Justin dua bersaudara. Kakak laki-lakinya sudah lebih dulu menghandle pekerjaan di kantor orang tuanya. Karena itulah orang tuan Justin agak melonggarkan Justin untuk soal pekerjaan. Tapi kedua orang tua Justin juga menginginkan dirinya untuk ikut membantu kakaknya di kantor. Karena itulah Justin mengambil dua jurusan untuk kuliahnya. Kedokteran dan Ekonomi. Hebat bukan.
Hening sejenak.
"Kak, kakak kan dulu tinggal di panti asuhan. Tidak ingin mencari tahu siapa orang tua kandung kakak?" Tanya Justin tiba-tiba.
"Pengen sih. Tapi gagal terus. Aku heran juga. Apa aku ini memang tidak punya orang tua" Ucap Kai heran.
"Mungkin memang belum ketemu Kak" Jawab Justin meminum latte-nya.
"Yeah mungkin. Soalnya pas aku dititipkan di panti. Tidak ada petunjuk apa-apa yang ditinggalkan. Hanya waktu itu aku memakai ini sebagai kalungku" Ucap Kai sambil menunjukkan gelang ditangannya.
Gelang berinisil AA. Sekilas tidak ada yang spesial dari gelang itu. Hanya berupa gelang dari perak pada umumnya. Dengan bandul huruf AA dari bahan seperti platinum tapi berwarna hitam. Justin sedikit memicingkan matanya saat melihat gelang itu.
"Padahal umurku sudah 4 tahun ketika aku dititipkan ke panti. Aku hanya mengingat orang yang menyerahkanku ke panti" Tambah Kai lagi.
"Kakak sudah menemukan orang itu?" Tanya Justin.
Kai menggeleng.
"Ahh, awww apa ini?" ucap Kai sambil memperlihatkan ujung jarinya yang berdarah ketika dia tanpa sengaja menyentuh nomer meja di atas meja mereka.
Justin dengan sigap mengambil tisu lantas mengelap tetesan darah diujung jari Kai. Lantas berpura-pura membuangnya. Padahal dia memasukkan tisu itu ke dalam sebuah tabung khusus untuk mencegah tisu itu tetap lembab.
"Maaf Kak aku lancang mengambil sample darahmu" Batin Justin.
Memasukkan tabung kecil itu ke dalam saku jasnya.
"Tidak apa-apa?" Tanya Justin.
"Ah hanya luka kecil"
"Lalu bagaimana kak Tasya"
"Dia akan keluar rumah sakit dalam beberapa hari ke depan. Tapi harus terus di observasi" Jawab Kai.
"Tentu saja.Paling tidak dalam enam bulan ke depan. Dia harus menghindari cedera sebisa mungkin" Jelas Justin.
"Jika dugaanku benar. Kamu adalah orang yang selama ini mereka cari" Batin Justin lagi.
**
Up lagi ya readersku tercintah,
Jangan lupa ritualnya
Like like like
Vote vote vote
Kembang ma kopinya jangan sampai ketinggalan 😁😁😁
Happy reading semua
Love you all 😘😘😘
**