You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 37



Natasya hari ini berencana untuk keluar jalan-jalan. Dia mulai merasa bosan di rumah sakit. Toh hari ini keadaannya sudah stabil lagi. Setelah kemarin dia merasa lemas. Efek dari terapi radioaktif-nya.


Setelah meminta izin pada Jocelyn dia akhirnya memutuskan jalan-jalan ke taman yang dekat dengan rumah sakit. Akhir-akhir ini dia sering pergi ke taman itu jika sedang bosan.


Dia mulai berjalan menyusuri tepi jalan raya. Menuju ke taman. Karena jaraknya yang tidak terlalu jauh.


Tanpa dia sadari. Sebuah mobil mengamati dirinya.


"Bukankah itu Tasya?" Bisik Alex. Setelah beberapa hari mencari di sekitar rumah sakit. Akhirnya pencarian Alex membuahkan hasil. Bisa dia lihat gadis itu berjalan keluar dari rumah sakit.


"Berarti benar. Selama ini kamu ada di rumah sakit. Tapi untuk apa?" Kepala Alex dipenuhi tanda tanya mengenai keberadaan Natasya di rumah sakit itu.


Dia langsung keluar dari mobilnya. Ingin menyapa gadis itu. Hingga kemudian ekor matanya menangkap sebuah mobil yang bergerak cepat ke arah Natasya. Entah melamun atau bagaimana. Gadis itu berjalan semakin ke tengah jalan raya.


Alex pikir mobil itu hanya kebetulan melaju kencang. Namun tiba-tiba dia bisa melihat siapa orang yang ada di balik kemudi mobil itu.


"Bu Sarah" Gumannya.


Dan mobil itu semakin cepat melaju ke arah Natasya. Hingga Alex sadar jika mobil itu ingin menabrak Natasya.


Alex langsung melesat berlari ke arah Natasya. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Natasya menguntungkan Alex. Secepat kilat diraihnya tubuh Natasya. Memindahkannya ke tepi jalan. Namun saking kuatnya dia menarik tubuh Natasya. Membuat keduanya jatuh ke aspal di tepi jalan raya.


"Aaarrgghhhh" Teriak keduanya bersamaan.


Sementara mobil itu terus melaju tanpa berhenti.


Alex langsung bangun dari jatuhnya. Segera diraihnya tubuh Natasya yang terjatuh tak jauh darinya.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Alex panik.


Sesaat Natasya terkejut melihat siapa yang menolongnya.


"Alex..." Gumannya pelan.


"Ya, ini aku. Bagaimana keadaanmu? Apa kamu terluka" Tanya Alex lagi.


"Tidak. Hanya saja..." Ucapan Natasya terpotong ketika dia seperti melihat jutaan kunang-kunang terbang ke arahnya.


"Alex aku pusing" Ucapnya cepat.


"Aku akan mengantarmu. Kamu sekarang tinggal di mana?" Pertanyaan Alex menyiratkan seolah dia tahu, kalau dia tidak lagi tinggal di rumahnya sendiri.


"Aku tinggal di..."


Bruuukkkk,


Tubuh Natasya ambruk seketika. Membuat Alex panik luar biasa. Ditambah wajah Natasya yang terlihat pucat.


"Sya....Sya bangun. Aku harus membawamu kemana?" Tanya Alex panik.


Hingga kemudian tiba-tiba ponsel di sling bag Natasya berbunyi. Dan nama Jocelyn tertera di layar ponsel itu.


"Halo, Sya jika sudah selesai jalan-jalannya cepat kembali" Sapa Jocelyn dari ujung sana.


"Jo ini aku Alex. Tasya pingsan aku harus membawanya kemana?" Tanya Alex membuat Jocelyn panik di ujung sana.


"Bawa dia ke rumah sakit xxx aku menungu di depan UGD" Jawab Jocelyn panik.


Dan secepat kilat Alex menggendong Natasya. Menempatkannya di kursi penumpang di samping kursi kemudinya. Memasangkan seatbelt lantas memacu mesin mobilnya ke rumah sakit xxx.


Begitu dia sampai di UGD, dilihatnya Jocelyn benar-benar sudah menunggunya di sana.


"Cepat bawa dia masuk" Pinta Jocelyn.


Membuat Alex dengan cepat melakukan perintah Jocelyn. Karena dilihatnya wajah panik Jocelyn.


"Kamu bisa pergi. Aku yang akan mengurus Natasya" Ucap Jocelyn cepat.


Namun tangannya dicekal Alex.


"Alex, lepaskan" Pinta Jocelyn ketika Alex malah mencekal tangannya.


"Dia kenapa?" Tanya Alex cepat.


"Mungkin dia hanya kecapekan. Aku akan segera memeriksanya" Sahut Jocelyn, namun Alex tidak kunjung melepaskan tangannya.


"Oh, Alex come on. Aku harus memeriksanya dulu" Mohon Jocelyn.


Takut kalau prediksi Prof Herini benar adanya. Jika keadaan Natasya bisa menurun kapan saja.


"Alex...." Sekali lagi Jocelyn memohon.


"Dokter Jo..." Teriak seorang perawat dari dalam ruang UGD. Membuat Alex mau tak mau melepaskan cekalan tangannya.


"Oke, tapi kamu hutang satu penjelasan padaku" Ucap Alex pada akhirnya melepaskan cekalan tangannya.


Jocelyn tidak menjawan apapun. Dia langsung menghambur masuk ke ruang UGD di mana beberapa dokter telah ada di sana.


Alex lantas mendudukkan dirinya di kursi tunggu rumah sakit tersebut.


"Aku menemukannya"


Alex mengirim pesan pada seseorang.


"Di mana?"


"Rumah sakit xxx"


"Aku akan mencari tahu"


Begitulah isi pesan singkat Alex dengan seseorang diujung sana.


Hingga setengah jam kemudian dilihatnya Jocelyn keluar dari pintu UGD bersama seorang dokter laki-laki.


"Bagaimana keadaanny?" Tanya Alex membuat Jocelyn dan Edgard terkejut.


"Kamu masih di sini?" Tanya Jocelyn balik.


"Kamu ingat hutang penjelasan ke aku" Tutur Alex.


"Dia hanya kecapekan. Jadi kondisi tubuhnya menurun. Dia hanya perlu istirahat" Jawab Jocelyn jelas terlihat menutupi rasa paniknya.


"Boleh aku melihatnya?" Tanya Alex.


"Oh dia sedang tertidur. Lagipula dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan" Jawab Jocelyn.


"Dia dirawat? Aku harus melihatnya Jo" Pinta Alex.


"Alex, tolong biarkan dia istirahat dulu"


Membuat Alex terdiam. Terlihat sekali jika Jocelyn ingin menyembunyikan Natasya.


"Oke aku akan pergi. Tapi aku akan kembali. Jo aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu. Dia berbohong soal liburannya bukan. Dan hari ini asal kamu tahu. Sarah Hadiwinata mencoba menabraknya. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri" Ucap Alex membuat Jocelyn dan Edgard terkejut.


"Sarah Hadiwinata mencoba menabraknya. Itu benar?"


"Ya itu benar" Jawab Alex. Lantas berlalu dari hadapan Jocelyn dan Edgard.


"Ini bagaimana Ed? Nenek sihir masih mengincar Natasya" Ucap Jocelyn cemas menatap ke arah Edgard.


Tanpa sadari Alex menguping pembicaraan mereka. Ya, Jocelyn pikir Alex benar-benar sudah pergi. Nyatanya tidak. Alex hanya menyelinap di balik lorong rumah sakit.


"Kit harus lebih waspada. Apalagi Alex sudah curiga dengan keadaan Tasya. Dia dan Kai sama. Sama-sama keras kepala. Mereka tidak akan berhenti sebelum bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan" Ucap Edgard.


"Kau benar Ed. Apa aku perlu meminta bodyguard Papa untuk berjaga di depan kamar Natasya" usul Jocelyn.


"Aku rasa belum perlu. Kita peringatkan saja pada recepsionis di depan untuk tidak memberitahukan keberadaan Natasya di rumah sakit ini. Dan seluruh staf" Saran Edgard. Jocelyn hanya mengangguk tanda setuju.


"Dok, pasien sudah dipindahkan ke lantai 10" Info seorang perawat.


"Lantai 10. Jadi benar selama ini kamu dirawat di rumah sakit ini" Batin Alex.


"Apa dia sudah sadar?" Tanya Jocelyn.


"Tadi waktu dipindahkan sih belum Dok. Tidak tahu sekarang" Jawab perawat itu.


"Baik, kami akan pergi ke sana" Ucap Jocelyn berlalu dari sana diikuti Edgard.


Dan Alex tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia mengikuti kedua dokter itu.


"Lantai 10. Aku harus mengikuti mereka. Banyak blok bangunan di rumah sakit ini. Lantai 10 yang mana aku harus tahu" Guman Alex.


Sedikit kehilangan jejak. Namun Alex kembali bisa menemukan Jocelyn dan Edgard yang tengah berjalan beriringan. Hingga keduanya tiba di kamar VIP Natasya. Membuat Alex mengerutkan keningnya.


"Ini kan kamar VIP" Gumannya melihat tulisan di depan kamar Natasya tapi tidak ada nama pasiennya.


Dia berusaha mengintip masuk. Hingga satu perawat memperingatkannya.


"Pak, apa yang Anda lakukan di sini?" Tanya perawat itu.


"Ah, aku pikir temanku di rawat disini" Jawab Alex gelagapan.


"Tapi ruangan itu kosong Pak" Jelas perawat itu. Membuat Alex kembali heran.


"Tapi aku melihat dokter Jocelyn masuk kedalam" Ucap Alex.


"Ah, Anda pasti salah lihat" Jelas perawat itu lagi. Membuat Alex pada akhirnya pergi dari sana.


"Oke, setidaknya aku tahu kamu ada dimana. Sepertinya rumah sakit ini sedang menyembunyikan Natasya. Tapi kenapa? Untuk apa? Atau kepada siapa"


"Tunggu. Mereka bilang aku dan Kai sama-sama keras kepala. Mungkinkah mereka sedang menyembunyikan Natasya dari Kai. Tapi kenapa?" Batin Alex.


Monolog Alex sambil berjalan meninggalkan ruang VIP itu.


Sementara itu seorang wanita kembali berteriak marah. Ketika di lagi-lagi gagal melenyapkan orang yang dibencinya. Dia pusing karena setiap hari putrinya,Fanny mengeluh akan sikap Kai yang selalu bersikap dingin padanya.


Fanny berpikir pasti itu karena Natasya. Hingga muncul ide gila di otak bu Sarah begitu melihat gadis itu berjalan sendirian. Dia pikir akan melakukan hal yang sama seperti 20 tahun lalu. Bu Sarah pikir jika Natasya lenyap.Sikap Kai bisa berubah kepada Fanny.


"Sial. Lagi-lagi aku gagal menghabisinya. Lagi-lagi ada yang menolongmu. Tapi jangan harap kamu bisa lolos selanjutnya" Ucap Bu Sarah dengan tangan terkepal dan rahang mengeras memendam amarahnya.


****


Up lagi readersku tercinta,


Thank's sudah mampir ya,


Dan seperti biasa jangan lupa di like dan ritual lainnya readersku tercinta, author tunggu lho 🤗🤗🤗


Happy reading everyone,


Love you all 😘😘😘😘


*****