
Natasya memandang tajam dua orang yang sedang duduk di hadapannya.Dua orang berbeda gender dengan ekspresi yang juga berbeda.
Jocelyn jelas takut jika Natasya marah, karena kelancangannya membiarkan Alex tahu, tentang keberadaannya di rumah sakit itu.
Sedang Alex terlihat biasa saja. Ya, dia sudah terbiasa menghadapi kemarahan Natasya, bahkan hampir setiap hari. Karena memang dirinyalah yang dulu membuat gadis itu sering emosi saat menghadapi dirinya.
"Jangan marah padanya. Aku yang memaksa masuk" Ucap Alex pada akhirnya.
Membuat Jocelyn mengangkat wajahnya yang sejak tadi hanya ia tundukkan. Tidak percaya jika Alex akan mengakui hal seperti itu. Sedang Natasya langsung menyilangkan tangannya didadanya.
"Maksudmu?" Tanya Natasya.
"Aku melihatmu beberapa hari yang lalu. Aku curiga lalu aku mengikutimu. Aku ketemu Jo dan aku memaksanya untuk memberitahu apa yang sedang terjadi padamu" Jawab Alex.
Membuat Natasya melirik Jocelyn. Yang hanya bisa nyengir kuda.
"Dia mengancam akan membuat keributan. Kamu tahu dia kan?" Bela Jocelyn.
Natasya menarik nafasnya dalam. Ya, Alex memang sulit dihadapi. Sekalinya punya keinginan akan sulit dicegah.
"Lebih mudah menghadapi kak Kai ketimbang dia" Ucap Jocelyn lagi.
"Dia kemari?"
"Hari dimana Edgard menggantikan aku untuk BMP-mu. Dia menunggu di bawah waktu itu" Jawab Jocelyn.
Natasya terdiam. Ada segurat kerinduan di hatinya.
"Kenapa kau tidak mau dia tahu keadaanmu? Apa kau tahu dia seperti orang gila mencarimu. Dia membuat kantor seperti medan pelampiasan kemarahannya" Jelas Alex.
"Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Dia akan membatalkan pernikahannya dengan Fanny. Jika tau keadaanku"
"Dengar ya, kalian pikir mudah menghadapi Kai. Itu karena dia masih menahan dirinya. Tapi jika dia sudah melepaskan dirinya, kalian akan tahu betapa mengerikannya dia" Jelas Alex.
"Kalian tahu, belum menikah saja. Fanny sudah banjir airmata. Karena Kai menolak semua hal yang berhubungan dengan pernikahannya. Dia tidak peduli dengan semua itu" Tambah Alex.
Membuat Jocelyn dan Natasya saling pandang.
"Semengerikannyakah dia?" Tanya Jocelyn.
"Kalian hanya belum tahu sisi gelapnya saja. Aku heran kenapa dia bisa dengan mudah menerima perjodohan ini. Dia bukan orang yang mudah dibujuk hanya dengan bujukan biasa. Kecuali..... " Alex menjeda ucapannya. Alex memandang Natasya.
"Kecuali apa?" Tanya Jocelyn tidak sabar.
"Kecuali dia diancam dengan orang yang paling dia cinta" Ucap Alex memandang lurus Natasya.
"Maksudmu apa?" Tanya Natasya.
"Kita tahu kan tuan Hadiwinata adalah orang yang mengerikan. Aku rasa dia mengancam akan melukaimu jika Kai menolak perjodohan ini" Alex menyimpulkan. Masih memandang lurus Natasya.
Namun Natasya tidak terkejut. Dia tahu betul siapa kakeknya.
"Kau tidak terkejut?" Tanya Alex.
"Tidak. Melihatnya saja sudah membuat rasa benciku naik setinggi langit" Jawab Natasya emosi.
"Kau punya dendam pribadi dengan mereka? Pantas saja Sarah sampai ingin menabrakmu waktu itu" Tanya Alex.
"Apalagi ini?" Tanya Jocelyn.
"Ingat ketika dia pingsan waktu aku membawanya ke sini. Dia hampir tertabrak mobil waktu itu. Dan pengemudinya adalah Sarah. Mungkin dia ingin melenyapkanmu supaya Fanny tidak punya saingan lagi mendapatkan Kai" Jelas Alex.
"Kenapa sih dengan perempuan yang namanya Sarah ini. Nggak dulu nggak sekarang hobinya merebut punya orang" Maki Jocelyn.
Yang membuat Alex gantian yang merasa heran.
"Kali ini apa maksudmu?" Tanya Alex heran.
"Aahhh itu...tidak ada. Aku hanya asal bicara" Jawab Jocelyn sambil memandang Natasya yang menatapnya dengan tatapan memperingatkan.
"Baik, jika kalian tidak ingin aku tahu. Cukup kalau aku tahu kamu berada di sini. Bukan di liburan palsumu" Ucap Alex pada akhirnya.
"Oh ya, tawaranku masih berlaku" Kata Alex lagi.
"Kamu cari yang lain saja. Siapa tahu aku mati besok pagi" Jawab Natasya pesimis.
"Mati? Enak sekali kamu mau mati besok pagi. Kalau begitu matilah besok pagi, lalu lihatlah apa yang Kai bisa lakukan" Ancam Alex.
"Alex...!!!" teriak Jocelyn.
"Dengarkan aku. Dia bisa menghancurkan stasiun TV itu, jika dia tahu keadaanmu. Apalagi jika sampai kamu mati. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan" Tambah Alex.
"Jangan percaya pada tampang manisnya. Dia benar-benar mengerikan jika marah" Unar Alex lagi.
"Jadi tetaplah hidup" Ucap Alex pada akhirnya.
Membuat Natasya berkaca-kaca. Dia sadar jika semua kata-kata Alex untuk memberinya semangat.
"Jika aku tidak mampu bertahan lagi?" Tanya Natasya ambigu.
"Maka aku akan menyeretnya kemari. Tidak peduli kau mau atau tidak melihatnya. Tidak peduli kau menginginkannya atau tidak. Aku akan membawanya kemari agar dia tahu keadaanmu" Ancam Alex.
"Alex jangan lakukan itu!" Cegah Natasya.
"Maka dari itu tetaplah hidup. Bertahanlah. Jika dia jadi menikah dengan Fanny. Aku bersedia menikahimu" Canda Alex.
"Aku tidak akan pernah menikah denganmu Alex" Tolak Natasya.
"Kau dengar Jo. Ini entah yang ke berapa kalinya dia menolak lamaranku. Kau masih bisa menolakku bahkan ketika kau berpikir akan mati besok. Hebat!" Puji Alex.
"Tetaplah hidup.Berjuanglah untuk tetap hidup. Aku pergi dulu" Ucap Alex lantas berlalu cepat dari hadapan Jocelyn dan Natasya.
Membuat kedua gadis itu melongo.
Tanpa mereka ketahui di luar pintu. Alex menyusut cepat airmata yang sempat keluar dari matanya. Alex menangis setelah sekian lama dia tidak bisa merasakan kesedihan.
Alex berubah menjadi sosok yang begitu dingin sejak kekasih hatinya meninggal sebelum hari pernikahan mereka.
Tapi hari ini dia bisa merasakan rasa sedih yang luar biasa. Saat melihat Natasya dan Kai. Saling mencintai tapi sulit bersatu.
"Halo, kau dimana?" Sapa Alex melalui ponselnya.
"..."
"Mari bicara. Aku akan kirimkan tempatnya" Ucap Alex lagi.
"..."
"Aku tunggu"
Alex lantas mengirimkan nama tempat mereka bertemu. Bergegas masuk ke mobilnya. Langsung menuju ke tempat pertemuannya dengan seseorang itu.
Mobil Alex berhenti di sebuah bar lounge. Dia langsung masuk. Menuju ruang VIP yang sudah dipesannya. Tak lama seorang pria menyusulnya masuk. Langsung duduk di hadapan Alex. Mulai menuangkan minuman di gelasnya.
"Jangan mabuk dulu. Aku tidak mau memapahmu pulang. Kau berat!" Kilah Alex.
"Kau bisa tinggalkan aku di sini. Tidak masalah" Jawab pria itu.
"Lalu kau akan jadi rebutan para jal*** itu. Iisssh, mengerikan sekali" Sahut Alex.
"Lalu apa masalahnya? Toh aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk bisa dipertahankan" Ujar pria itu lagi.
"Kaizo Aditya!! Apa kau benar-benar sudah menyerah dengan hidupmu? Kalian berdua sama saja. Sama-sama menyedihkan!" Sarkas Alex.
"Kau bertemu dengannya? Lihat, bahkan dia mau bertemu denganmu. Tapi tidak mau bertemu denganku.Dia benar-benar egois!" Maki Kai.
Alex langsung mencengkeram kerah kemeja Kai.
"Aku mencarinya. Aku memaksanya agar mau bertemu denganku!" Ucap Alex emosi.
"Ciih, kau pikir aku tidak mencarinya" Jawab Kai putus asa.
"Tapi dia tetap tidak mau bertemu denganku" Tambah Kai lagi.
Membuat Alex melepaskan kerah kemeja Kai.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Kai.
"Dalam keadaan seperti ini menurutmu bagaimana?" Tanya Alex baik.
"Entahlah. Dia diback up keluarga Kusuma jadi akan sulit menemuinya" Ucap Kai.
"Sebenarnya apa yang orang tua itu lakukan hingga kau tidak bisa menolak perjodohan gila ini?" Tanya Alex penasaran.
Kai meminum minumannya sekali teguk. Lantas mulai menangis.
"Apa yang bisa kau lakukan selain menuruti kemauannya, jika pistol itu siap meledakkan kepala Natasya. Beri aku pilihan jika kau punya" Ucap Kai benar-benar putua asa.
"Dia mengancammu seperti itu. Benar-benar keterlaluan!" Umpat Alex.
Kini dia tahu bagaimana frustrasinya Kai.
"Apa kau tidak ingin melawan kakekmu?" Tanya Alex lagi.
"Aku akan melawan jika Natasya menginginkannya. Tapi jika dia bertemu denganku saja tidak mau. Aku bisa apa?"
"Sejak kapan kau jadi pengecut dan lemah seperti ini ha?" Maki Alex kesal.
"Aku merasa tidak ingin hidup lagi, Lex" Keluh Kai.
"Kalau begitu kau mati saja. Kau mati dan akan ada dua pemakaman sekaligus" Ucap Alex kasar.
Kai melongo.
"Kalian tidak bisa hidup tanpa yang lainnya. Tapi masih tidak mau berjuang bersama. Pasangan yang menyedihkan" Umpat Alex.
"Lex, dia begitu karena Fanny adiknya" Ucap Kai.
"Whaattt!!"
Alex jelas berteriak mendengar ucapan Kai.
***
Up lagi readersku tercinta,
Thank's sudah mampir,
Jangan lupa dilike ya,
Happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘😘
****