
Alex dengan cepat menuju mobilnya. Melajukannya menuju rumah sakit. Setelah sebelumnya menghubungi Mandy. Mengatakan kalau Natasya masuk rumah sakit.
Tak lupa juga ia menghubungi Jocelyn. Memberitahu jika Kailah yang ikut didalam ambulans bukannya dirinya.
Membuat Jocelyn panik seketika.
"Ada apa?" Hera bertanya. Saat ini semua orang sedang menunggu dengan cemas di depan UGD rumah sakit.
"Kak Kai ikut dalam ambulans bagaimana ini?" Tanya Jocelyn.
"Mau apa lagi? Kita tidak punya pilihan selain memberitahunya. Mau sampai kapan kita akan menutupinya" Evan memberi saran.
"Dia berhak tahu" Edgard menambahkan.
Membuat Hera dan Jocelyn saling pandang.
"Bagaimana pernikahannya?" Tanya Edgard.
"Kata Alex berantakan. Kak Kai meninggalkan altar sebelum acara tukar cincin" Jelas Jocelyn.
"Wah, Kai akan menghadapi bahaya besar" Seloroh Evan.
"Dia punya back up. Jangan khawatir" Ucap Jocelyn.
Sementara didalam ambulans,
Kai jelas heran ketika dua perawat itu dengan sigap langsung memasangkan masker oksigen pada Natasya. Setelah memeriksa saturasi (pemeriksaan kadar oksigen, detak jantung) Natasya. Lantas memeriksa tensi darah gadis itu.
Kedua perawat itu saling melirik.
"Hubungi dokter Jo" Ucap seorang perawat.
"Halo dokter Jo. Kita sepertinya memerlukan transfusi darah. Keadaannya lebih parah dari perkiraan kita"
"..."
"Sekitar 10 menit lagi"
"..."
"Dokter Jo akan menyiapkannya" Ucap perawat itu.
Tentu saja percakapan dua perawat itu membuat Kai heran. Natasya seperti bukan pasien baru untuk mereka. Dua perawat ini sepertinya hafal betul dengan keadaan Natasya.
Tak berapa lama. Seperti perkataan perawat tadi. Ambulans mereka sudah masuk ke UGD rumah sakit. Dan langsung disambut Jocelyn dan Edgard. Tim dokter sudah menunggu di dalam. Raut panik dan cemas jelas terlihat diwajah mereka.
"Jo kita perlu bicara" Kai mencekal tangan Jocelyn setelah bed Natasya didorong masuk ke dalam UGD.
"Tidak sekarang Kak. Aku harus memastikan keadaannya dulu" Ucap Jocelyn.
Kai terpaksa melepas cekalan tangannya. Membiarkan Jocelyn masuk menyusul Edgard dan Natasya.
Ketika dia berbalik dia baru menyadari kalau Hera dan Evan juga ada di sana.
"Jadi ada yang bisa menjelaskan kepadaku. Ada apa ini sebenarnya?" Tanya Kai dengan tatapannya yang setajam elang.
Hera jelas ketakutan melihat wajah Kai. Dia bersembunyi di balik tubuh Evan.
"Kau membuatnya takut Kai" Evan memperingatkan.
"Kalau begitu jelaskan padaku!" Kai hampir berteriak.
"Bukan wewenang kami untuk menjelaskan Kai. Kau harus menunggu dokter Jo keluar" Kembali Evan menjawab.
Mendengar hal itu emosi Kai naik seketika. Dia langsung mencengkeram kerah baju Evan. Membuat Hera histeris.
"Lepaskan Kai!" Teriak Alex yang tiba-tiba sudah muncul di hadapan Kai.
Kai bergeming. Sedang Evan mulai tercekik. Dia mulai kekurangan oksigen.
"Kai lepaskan! Kau bisa membunuhnya brengsek!" Umpat Alex.
Ucapan Alex membuat Kai melepaskan kerah baju Evan. Evan langsung terbatuk-batuk.
"Jelaskan padaku sekarang juga!" Teriak Kai menggelegar.
Tidak ada yang menjawab. Kai hampir berteriak lagi ketika pintu ruang UGD terbuka. Menampilkan wajah Jocelyn yang terlihat putus asa. Bahkan dia harus dipapah Edgard ketika berjalan.
"Bagaimana?" Tanya Alex.
"Buruk, dia mengalami koma" Jawab Edgard, karena Jocelyn sudah tidak sanggup berkata-kata.
Mendengar hal itu Hera langsung memeluk Jocelyn. Keduanya menangis sesenggukan.
"Bagaimana ini Ra? Bagaimana aku menjelaskan pada Nadya" Bisik Jocelyn.
Hera hanya diam saja. Tidak tahu harus berkata apa.
Sedang Kai jelas merasa bingung.
"Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku?" Pertanyaan Kai membuat semua orang sadar kalau Kai satu-satunya orang yang tidak tahu keadaan Natasya.
Sejenak semua orang terdiam. Mereka tidak tahu harus memulai dari mana memberitahu Kai.
"Masih diam? Atau kalian ingin aku menghancurkan rumah sakit ini? Jangan pikir aku tidak bisa melakukannya!" Teriak Kai kembali menggelegar.
"Easy Kai" Ucap Evan. Evan memang yang paling kalem diantara mereka.
"Jocelyn, On count on 3" Kali ini Kai jelas menginginkan Jocelyn untuk menjawab keingintahuannya.
"1"
Semua masih terdiam,
"2"
"Kai!" Alex berteriak memperingatkan.
"3"
Kai mulai bergerak merangsek masuk ke ruang UGD. Membuat semua orang menahan nafas mereka.
Hingga teriakan Edgard menghentikan aksi Kai.
"Dia menderita leukemia stadium 2. Dan kini dia mengalami koma" Ucap Edgard cepat.
Jederrrrr,
Ucapan Edgard membuat Kai membeku seketika.
"Kalian bohong kan?" Tanya Kai tidak percaya.
Kali ini Jocelyn yang merangsek maju. Mencengkeram kerah kemeja Kai.
"Kamu pikir kenapa kami selama ini mati-matian menyembunyikan hal ini dari kamu ha?!!" Teriak Jocelyn. Namun Kai tidak bergeming.
"Leukemia, koma"
Dua kata itu berputar-putar di kepala Kai.
"Karena kamu bisa membuat emosinya tidak stabil. Dan kamu bisa lihat. Kamu menyebabkan dia jadi seperti ini!" Jocelyn berteriak sambil memukul-mukul dada Kai.
"Jo, ini bukan sepenuhnya kesalahan Kai" Edgard membujuk Jocelyn.
"Ini salahnya, ini salahnya. Dia tidak bisa melindunginya Ed"
"Aku bersalah. Ini memang salahku. Seharusnya aku yang terluka bukan dia. Ini salahku" Ucap Kai tidak sadar.
Mendengar hal itu. Jocelyn semakin marah.
"Karena ini salahmu. Kau harus bisa membawa dia kembali. Aku beri kamu waktu 48 jam. Kamu harus membawanya kembali!" Teriak Jo.
"Jo jangan aneh-aneh. Ini tidak mungkin"
"Kita harus melakukan stem cell dalam waktu 48 jam ke depan. Jika tidak. Mungkin kita bisa kehilangan dia. Aku tidak mau kehilangan dia, Ed" Ucap Jocelyn kali ini sudah masuk dalam pelukan Edgard.
"Kau dengar? kami harus membawanya ke meja operasi dalam waktu 48 jam. Jika tidak kemungkinan kau bisa kehilangan dia selamanya. Tubuhnya tidak akan sanggup bertahan lebih dari 2 hari" Ucap Edgard.
Membuat yang lain semakin sedih. Hera sudah kembali terisak dalam pelukan Evan.
"Emosi sangat berpengaruh pada ketahanan tubuhnya dalam melawan penyakit ini. Kini kau tahu keadaannya. Lakukan yang kau bisa untuk membuatnya sadar dan membuat keadaannya stabil. Hanya kamu dan Nadya yang ada dalam pikirannya" Jelas Edgard lagi.
"Dia tidak ingin kamu ikut terpuruk dengan keadaannya. Maka dia bersikeras untuk tidak memberitahumu" Alex ikut menjelaskan.
Kai hanya diam seribu bahasa. Dia sangat shock dengan kenyataan ini.
Hingga bunyi ponselnya membuyarkan pikirannya.
"Ya, Leo"
"...."
"Aku tidak peduli. Silahkan kalau dia mau bunuh diri. Aku tidak peduli" Kai mengucapkan tiga kata terakhir penuh penekanan.
"..."
"Aku yakin mereka tidak akan melukaimu. Lawan kalau mereka mau menyentuhmu"
"...."
"Leo jangan menggangguku lagi!" Kai kembali berteriak.
"Dimana dia dirawat. Biarkan aku melihatnya" Pinta Kai
Pria itu lantas melepas jasnya.Melemparnya asal ke arah Alex.
"Oh ****" Umpat Alex. Namun tak urung dia menangkap juga jas Kai.
Menggulung lengan kemejanya. Lantas mengikuti langkah Jocelyn dan Edgard. Masuk ke dalam ruang ICU. Dimana dia harus memakai baju steril, hair net, masker untuk masuk kedalam.
Setelah masuk. Bisa Kai lihat Natasya yang terbaring dengan berbagai alat bantu ditubuhnya. Sebuah ventilator nampak terpasang menunjukkan kalau ada masalah serius dengan paru-parunya.
Kai langsung berkaca-kaca melihat kondisi Natasya. Dia jatuh bertumpu pada lututnya.
"Maafkan aku, maafkan aku. Aku bahkan tidak menyadari keadaanmu. Kembali membiarkanmu menghadapinya sendiri" Ucap Kai.
"Sekarang kau tahu keadaannya. Bantulah dia untuk bangun" Ucap Edgard sambil menepuk pelan bahu Kai.
"Apa yang harus aku lakukan. Katakan" Kai berucap.
Kali ini dia bertekad akan melawan siapapun yang akan menghalangi jalannya.Dia tidak ingin lagi meninggalkan Natasya. Gadis itu membutuhkan dirinya. Dia tidak peduli dengan yang lainnya.
Edgard dan Jocelyn tersenyum. Merasa memiliki harapan. Bagi seorang dokter walaupun kecil harapan itu. Mereka akan tetap berusaha untuk mewujudkan harapan itu.
***
Up lagi readersku tercinta,
Thank's sudah mampir,
Jangan lupa dilike ya readersku tercinta,
Anyway happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘
****