You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 80



Agus kembali dengan wajah berbinar.


"Dapat Mas" Ucapnya sumringah.


"Harga?" Tanya Kai.


"Sesuai dengan perkiraan Mas" Jawab teman Agus.


"Bagus. Apa kalian sudah dapat supplier untuk suku cadangnya?" Tanya Kai.


"Belum Mas. Besok kita baru mau hunting ke kota" Jawab teman Agus lagi.


"Kalau begitu pakai relasiku saja. Aku baru menghubunginya. Dan dia punya cabang di Jogya. Aku sudah memberitahu kalau besok akan ada temanku yang datang untuk melihat-lihat dulu. Dia mengatakan tidak masalah" Tutur Kai.


Membuat Agus dan kedua temannya bertambah semangat.


"Matur nuwun lo Mas" Ucap Agus.


"Sama-sama. Terima kasih juga sudah menjaganya hampir tiga minggu. Dia sangat merepotkan" Keluh Kai.


"Alaah ngono ae bucine setengah mati" Ledek Agus.


(Alaah begitu juga bucinnya setengah mati)


"Aku paham lo Gus" Balas Kak santai.


Membuat Agus menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jadi DP rukonya sudah dibayar?" Tanya Kai.


"Sudah Mas lima puluh persen. Dan besok rencananya kami mau mulai bersih-bersih. Dan menatanya" Jawab Agus.


"Bagus" Sahut Kai.


Kai lantas meraih ponselnya menghubungi Leo.


"Leo, bisa kau tambahkan lima ratus juta lagi ke kartu debetku. Aku tidak tahu nomor rekeningnya" Ucap Kai membuat Agus dan teman-temannya melongo.


Mereka punya modal satu milyar di tangan mereka.


"Mas apa tidak berlebihan. Nanti kami mengembalikanya lama" Risau Agus.


"Tidak apa-apa. Yang penting kalian bersungguh-sungguh. Dan bekerja keras. Ingat semua tidak akan mudah apalagi untuk seorang pemula seperti kalian. Akan ada banyak halangan dan rintangan dalam bisnis kalian. Tapi berusahalah untuk mencari solusi dari setiap masalah yang kalian hadapi. Jangan memendam rasa antara satu dengan yang lain. Bicarakan jika kalian ada masalah. Saling terbuka dan percaya itu salah satu kunci sukses untuk bisnis dengan konsep patungan seperti ini" Nasihat Kai.


"Patungan apanya? Orang jadinya kita dimodalin sama Mas" Potong teman Agus.


"Nggak apa-apa. Itung-itung tanam saham. Pokoke semangat. Pantang kendor, oke?" Kai menyemangati.


Yang langsung diangguki oleh Agus dan teman-temannya.


Dan sore itu menjadi sore yang mengharukan bagi semua orang di sekitar tempat Nek Lastri jualan. Mereka saling berpelukan. Hanya tiga minggu tapi kebersamaan mereka cukup meninggalkan kesan yang mendalam.


"Kalau selo (senggang) main ke sini ya Neng. Ajak cowoknya yang ngganteng banget itu ya" Pinta Bu Surti.


"Ye mau ketemu Neng Anna atau pacarnya?" Seloroh yang lain.


Tawa pecah seketika.


"Nek, Anna pamit ya. Jaga diri. Sehat selalu. Terima kasih sudah jagain Anna tiga minggu ini. Maaf kalau Anna ngerepotin Nenek" Pamit Natasya sambil memeluk erat Nek Lastri.


"Kamu juga ya. Kalau mau kabur ke sini saja" Seloroh Nek Lastri.


"Kalau tahu ke sini namanya bukan kabur Mbah" Timpal yang lain.


"Terima kasih sudah bikin cucu Nenek jadi orang lempeng lagi" Bisik Nek Lastri.


"Biarpun harus patah hati" Timpal Natasya balas berbisik.


"Wo la wong tandingane we koyo ngono. Yo Agus mesti kalah"


(Wo la lawane saja seperti itu. Ya Agus pasti kalah)


"Apa sih Mbah!" Protes Agus yang tahu kemana arah pembicaraan kedua orang itu.


Yang lain tertawa terbahak-bahak.


"Anna-nya tak bawa pulang ya Nek" Pamit Kai sambil mencium punggung tangan wanita tua itu.


"Iya, karena memang dia duwekmu (milikmu). Ngati-ngati yo le cah bagus" Ucap Nek Lastri


(Hati-hati ya anak yang tampan)


"Titip cucuku yang itu" Tambah Nek Lastri.


Kai mengangguk.


"Berangkat kapan Mas" Tanya Agus.


"Besok siang. Aku masih di hotel sampai besok siang. Jadi masih bisa ketemu kalau masih ada yang mau ditanyakan" Ucap Kai.


"Beres Mas" Jawab Agus.


"Semoga berhasil" Ucap Kai lagi.


"Pasti!!" Jawab Agus dan kedua temannya serempak.


"Tak tunggu launching-nya ya" Seloroh Natasya.


"Bereesss, Ann!" Jawab Agus.


"Jangan sia-siakan yang bucin sama kamu" Bisik Natasya ke telinga Agus. Membuat Agus membulatkan matanya reflek menatap ke arah Ika.


Hanya sekilas Natasya berdekatan dengan Agus. Karena detik berikutnya dia sudah melingkarkan tangannya ke lengan Kai. Tahu kalau Kai cemburu dengan pemandangan tadi.


Perlahan dihapusnya air mata yang mulai turun di pipinya.


"Kita bisa datang ke sini kalau sedang tidak sibuk" Kai menghibur.


Natasya mengangguk. Walau ia tak tahu kapan. Karena dia jelas tahu, keduanya akan sangat sibuk ketika kembali ke Jakarta nanti. Nadya sudah sering menyuruh kakaknya itu pulang. Dia mengatakan sulit sekali menghandle semua sendirian.


Belum dengan perusahaan-perusahaan di bawah naungan HD GROUP yang juga mulai dialihkan atas nama mereka dan Fanny. Nadya sudah hampir stres dengan itu semua itu.


Nadya memiliki kemampuan tapi minus pengalaman. Itu yang membuatnya keteteran menghandle dua grup perusahaan beda bidang itu. Padahal tiga asisten sudah membantunya. Belum termasuk Leo yang sering kali membantu menghandle HD GROUP.


Satu jam mereka baru sampai di hotel. Karena Natasya merengek minta makan pecel lele Mbah Suro yang terkenal di daerah sekitar bandara baru. Gadis itu juga mampir membeli beberapa cemilan. Untuk dibawa pulang besok.


"Pulang. Sudah tidak sabar rasanya pengen pulang" Batin Natasya sambil tersenyum.


Natasya benar-benar merindukan kesibukannya. Tiga bulan cukup membuatnya merasakan istirahat yang sebenarnya.


"Jadi liburan ke Shanghai-nya aku tunda ya" Pinta pria itu ketika sudah sampai di hotel dan selesai membersihkan dirinya. Juga berganti pakaian. Hari sudah merayap malam ketika mereka sampai di hotel.


"Kamu beneran mau ke Shanghai" Tanya Natasya yang sudah mengganti bajunya dengan daster. Membuat Kai melongo.


"Kita tinggal berangkat sebenarnya. Ann kamu mau pakai daster begitu terus" Tanya Kai.


"La memang kenapa? Enak tahu dipakainya. Adem" Jawab Natasya santai.


Keduanya sedang berada di balkon kamar hotel Kai. Melihat pemandangan malam dari hotel itu. Yang ternyata didominasi pemandangan bandara baru dengan ribuan lampu yang menerangi bandara itu. Hotel itu ternyata tidak jauh dari New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA).


Perlahan Kai memeluk Natasya dari belakang. Menempatkan kepalanya dipundak gadis itu. Membuat tubuh Natasya meremang seketika. Hembusan nafas Kai langsung menerpa leher gadis itu.


"Tidak sek** tahu. Kamu bisa pakai lingerie setelah kita menikah nanti" Pinta Kai tepat dibalik telinga Natasya. Membuat tubuh Natasya semakin tidak karuan.


"Kak lepas, iihhh geli tahu" Protes gadis itu. Karena posisi mereka yang benar-benar intim.


Natasya bisa merasakan dada bidang Kai yang menempel ketat di punggungnya. Ini adalah kali ketiga keduanya menghabiskan malam bersama. Namun semua terasa berbeda. Karena kalau dulu mereka menghabiskan malam berdua dengan begitu banyaknya masalah yang tengah mereka hadapi.


Namun tidak kali ini. Semua masalah sudah selesai. Tidak ada beban yang terasa di hati masing-masing. Dan juga keduanya kini jelas saling mencintai.


"Aku sudah meminta Leo untuk mengurus pernikahan kita secepatnya begitu kita tiba di sana" Bisik Kai lagi.


"Secepat itu?" Tanya Natasya.


"Aku ingin kamu menjadi milikku secepatnya" Lirih Kai. Membuat jantung Natasya berdebar.


Perlahan Kai membalik tubuh Natasya. Menatap dalam wajah Natasya.


"Aku memcintaimu, Anna" Bisik Kai.


Perlahan pria itu mulai menautkan bibirnya ke bibir Natasya. Kali ini Natasya tidak terkejut lagi dengan ulah Kai. Hanya beberapa detik ketika kemudian Natasya mulai membalas ciuman Kai.


Bahkan gadis itu dengan berani mengalungkan tangannya di leher kokoh Kai. Satu tangan Kai berada di tengkuk Natasya. Membuat ciuman mereka semakin dalam. Satu tangan berada dipinggang gadis itu. Membuat tubuh mereka saling menempel tanpa menyisakan jarak sama sekali.


Sadar mereka berada di balkon. Kai mulai membawa Natasya masuk ke dalam kamar mereka. Tanpa melepaskan ciuman mereka.


Awalnya hanya ciuman biasa. Namun semakin lama ciuman mereka berubah semakin panas. Ketika Natasya mulai bisa mengimbangi ciuman Kai.


Tanpa sadar keduanya sudah berada di kasur mereka. Dan Kai semakin buas mencium bibir Natasya. Nafas pria itu semakin memburu seiring hasratnya yang mulai naik. Tubuh keduanya mulai memanas.


Hingga Kai dengan cepat melepas kaosnya. Membuangnya ke sembarang arah. Natasya tentu terkejut. Disuguhi pemandangan tubuh sempurna Kai. Membuat tubuhnya ikut memanas.


Apalagi ketika pria itu kini mulai menciumi leher jenjang Natasya. Sesekali menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis yang kini mulai menjadi candunya.


"Kaakkkk...." Rengek Natasya.


Ketika ciuman pria itu semakin liar. Mulai menuruni area dadanya. Perlahan Natasya mendorong dada Kai menjauh. Bisa dia lihat mata pria itu sudah dipenuhi kabut gai***.


Sesaat mata keduanya saling mengunci. Dan detik berikutnya. Kai memjatuhkan tubuhnya tepat diatas tubuh Natasya. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Natasya.


"Aahh, Anna kamu benar-benar membuatku gila" Ucap Kai frustrasi.


Sedang Natasya langsung terkekeh. Melihat betapa frustasinya Kai. Apalagi dia bisa merasakan milik Kai yang mulai menegang. Karena posisinya yang tepat berada diatas perut Natasya.


"Sabar ya" Ucap Natasya sambil mengusap punggung polos Kai.


Kai menggeram kesal.


"Lihat saja. Aku akan menghabisimu jika waktunya tiba" Kata pria itu. Masih betah berada di ceruk leher Natasya.


Natasya mengulum senyumnya.


"Akan kutunggu hari itu" Bisik Natasya di telinga Kai.


"Kamu menantangku" Geram pria itu.


Natasya terkekeh.


"Oh lihat saja. Jika hari itu tiba. Jangan salahkan aku jika kamu kubuat sampai tidak bisa berjalan. Tidak akan kubiarkan kamu keluar dari kamar sehari semalam" Ancam Kai.


Natasya malah tertawa semakin keras.


"Iya-iya kutunggu hari itu. Tapi sekarang handle dulu itu..." Ucap Natasya sambil melirik ke bawah.


"Ohh ******" Umpat Kai. Langsung melompat turun dari kasur. Melesat masuk ke kamar mandi.


Natasya tertawa terbahak-bahak.


"Annaa.......!" Teriak Kai dari dalam kamar mandi.


Sedang Natasya semakin keras tertawa.


****