
Natasya terduduk sambil menatap jauh ke depan. Pikirannya menerawang jauh. Dia pikir mengapa seluruh hidupnya seolah mempermainkannya. Di masa lalu ketika dia merasa bahwa dia sudah menjadi anak yang paling bahagia, tiba-tiba hal itu menghilang begitu saja.
Ibunya meninggal disusul tidak lama ayahnya juga meninggal. Bahkan penolakan terang-terangan dari kakeknya membuatnya begitu sakit hati pada sang kakek sejak saat itu.
Semua kejadian itu membuatnya berakhir di panti asuhan yang sama dengan Kai. Hingga hanya dalam beberapa hari saja sosok keduanya menjadi sangat dekat.
Kai kecil kala itu berjanji tidak akan pernah meninggalkannya setiap kali Anna, panggilan Kai untuk Natasya di masa kecilnya menangis. Sedang Natasya memanggil Kai, Adit kala itu.
"Jangan menangis lagi. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu seperti orang-orang itu. Berhentilah menangis. Akan aku lakukan apapun yang kamu inginkan. Akan aku berikan apapun yang kamu mau"
"Pembohong! Dasar pembohong!" Teriak Natasya. Dia melempar boneka teddy pink-nya ke lantai.
Dan dimasa kini. Kejadian itu terulang lagi. Ketika Natasya telah memantapkan hatinya. Memilih satu cinta untuk dirinya. Orang yang dia cintai justru akan menikah dengan orang lainnya. Dan sakitnya lagi orang itu tak lain adalah adiknya sendiri.
Natasya tersenyum getir. Hidupnya sekali lagi berantakan akibat ulah pria tua itu.
"Aku benci padamu! Bahkan jika kamu adalah kakekku sendiri!" Teriak Natasya.
Namun detik kemudian dia menangis lagi.
"Sekarang aku harus bagaimana?" Ucapnya lirih di sela-sela tangisnya.
Sejenak dia membiarkan dirinya menangis sendiri. Lagi dan lagi. Hingga kemudian dia berdiri. Menyusut air matanya perlahan. Kemudian meraih teddy pink-nya. Memeluknya sayang.
Kemudian menuruni tangga darurat. Dimana itulah jalan yang selalu ia gunakan naik dan turun ke rooftop. Dia berjalan gontai. Hingga satu pemandangan membuatnya menghentikan langkahnya.
Kai tengah berdiri di hamparan padang rumput. Membelakangi Natasya hingga Kai tidak melihat Natasya yang tengah memandangnya dari balik kaca tangga darurat.
Sesaat Natasya menarik nafasnya pelan. Tidak ingin melihat Kai lagi. Satu keputusan yang sudah ia ambil. Dia ingin berlalu dari sana ketika tiba-tiba dilihatnya Fanny datang lantas memeluk Kai dari belakang.
Natasya membeku melihat kejadian itu. Bahkan dilihatnya Kai sama sekali tidak menolak pelukan Fanny. Tanpa dia dengar apa yang kedua orang itu bicarakan.
"Fanny lepaskan!" Ucap Kai.
"Tidak mau!" Fanny menolak.
"Kamu bisa menimbulkan salah paham bagi orang lain!"
"Aku tidak peduli!"
"Fanny!!!" Kai marah lantas dengan cepat berbalik. Mengurai pelukan Fanny.
Hingga kemudian mata Kai bersirobok dengan mata Natasya. Keduanya saling mengunci pandangan satu sama lain. Hingga kemudian mata Natasya nampak berkaca-kaca.
Tepat saat itu, Fanny kembali memeluk Kai. Dan kali ini Kai jelas ingin menolaknya.
"Fanny lepaskan!" Ucap Kai tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Natasya.
"Kak biarkan. Aku mohon sebentar saja" Pinta Fanny.
Membuat Kai tidak berkutik dibuatnya. Bisa dengan jelas Kai lihat saat Natasya mengusap pelan air matanya. Sakit hati Kai melihat hal itu. Apalagi ketika Natasya perlahan berjalan pergi, menghilang di balik pintu tangga darurat. Kai tetap tidak bisa melepas pelukan Fanny.
"Bukankah ini kesalahpahaman yang cukup untuk membawa hubungan kita ke arah yang mereka inginkan. Perpisahan kita"
Batin Kai dengan mata berkaca-kaca. Menatap kepergian Natasya.
"Sudah jelas jika hubungan ini sudah berakhir" Batin Natasya.
Sejenak Natasya berhenti di depan lift yang akan membawanya ke lantai 5 tempat ruang kerja Kai.
Rupanya gadis itu tadi sempat duduk di tangga darurat agak lama. Sebelum memutuskan menemui Kai. Menyerahkan surat pengunduran dirinya. Yang hanya dirinya saja yang tahu.
Namun sepertinya takdir kali ini sedikit membantunya. Ketika dia mengetuk pintu ruang kerja Kai. Hanya terdengar suara Leo yang menyahut.
"Ibu Natasya ingin bertemu GM Kai" Tanya Leo sedikit bersimpati dengan Natasya. Bisa Leo lihat wajah sembab Natasya.
"Tidak juga. Bagus kalau dia tidak ada" Jawab Natasya.
"Aku tidak perlu berdebat dengannya"
"GM Kai baru saja mendapat panggilan dari kantor direksi" Ucap Leo lirih.
Natasya menarik nafasnya.
"Aku hanya ingin memberikan ini" Ucap Natasya menyerahkan amplop berwarna coklat. Yang Leo terima dengan penuh tanda tanya.
"Ini apa Bu?" Tanya Leo.
"Bukan sesuatu yang penting. Tapi berikan saja pada bosmu. Aku pergi. Jaga Lisa baik-baik. Dia gadis yang baik" Ucap Natasya membuat Leo melongo.
"Maksudnya?" Tanya Leo tapi tidak dijawab oleh Natasya.
Natasya baru akan keluar dari pintu ketika dia berbalik dan berkata,
"Berapapun pinalti yang kalian minta aku akan membayarnya"
Sebaris kalimat yang membuat Leo langsung membuka amplop coklat yang Natasya berikan. Walau ia tahu itu bukan wewenangnya. Mata Leo membulat sempurna. Mengetahui isi amplop coklat itu.
Leo langsung meraih ponselnya bermaksud menghubungi tuannya Kai. Namun ia kemudian mengumpat kesal ketika ponsel Kai berdering di atas meja kerja Kai tertutup beberapa berkas.
"Oh ****!" Umpat Leo.
Dia jelas tidak bisa menyusul masuk tuannya ke ruang direksi. Apalagi ini berhubungan dengan Natasya.
"Oh come on, apa yang harus aku lakukan?" Leo pada akhirnya hanya bisa mondar-mandir seperti gosokan listrik di kantor bosnya.
"Halo, Lisa kamu tahu dimana bosmu sekarang?" Tanya Leo pada akhirnya menghubungi Lisa.
"Dia baru saja pergi. Bisa kau jelaskan padaku apa yang sudah bosmu lakukan pada bosku" Tanya Lisa pedas.
"Kita bicarakan ini nanti. Kita ketemu saat makan malam"
Tuut, sambungan diputus oleh Leo membuat Lisa mengumpat diujung sana.
Leo dengan cepat pergi ke balkon kantor tuannya.Di mana dari sana dia bisa melihat bagian depan kantor itu.
Saat itu Leo melihat sebuah mobil jenis Mercedez Bens tengah berhenti di lobi. Tepat saat itu pintu ruang kantor Kai terbuka. Dan Kai masuk. Cukup heran melihat sikap Leo.
"Kamu ngapain disitu? Tanya Kai.
"Bos cepatlah. Bu Natasya sudah mau pergi. Dia mengajukan surat pengunduran diri" Ucap Leo cepat.
Membuat mata Kai membulat seketika.
"Aappa??!!!" Teriaknya.
"Cepat susul dia Bos. Itu dia sudah mau pergi" Tutur Leo sambil mengarahkan pandangannya ke lobi. Dimana Natasya yang baru keluar dari lobi. Tampak berhenti, tampak tengah menghubungi seseorang.
Kai secepat kilat melesat keluar dari kantornya. Masuk ke lift khusus langsung meluncur turun ke lobi. Pintu lift terbuka. Dan nampak Natasya yang tengah bersiap masuk ke mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh seorang pria berpakaian hitam-hitam. Pakaian khas bodyguard.
"Tunggu dulu Sya! Tunggu!!" Teriak Kai tapi tidak terdengar. Karena mobil itu sudah meluncur keluar dari kawasan HD TV.
"Oh God, aku benar-benar kehilangannya sekarang" Batin Kai.
Kai jatuh terduduk di depan lobi. Sungguh hatinya ingin meraung saat ini. Tangisnya pecah seketika. Hingga,
Buuuuggghhhhh,
Satu pukulan keras menghantam rahang Kai. Membuatnya benar-benar jatuh tersungkur di lantai lobi.
"Dasar brengsek! Beraninya kau menipu perasaannya. Mempermainkan hatinya!" Teriak suara itu yang tak lain adalah Alex.
Alex dengan cepat meraih kerah kemeja Kai. Membuat Kai hanya bisa tersenyum. Sudur bibir Kai berdarah.
"Bunuh saja aku sekalian. Itu akan memudahkanku menebus kesalahanku" Ucap Kai pasrah.
Apalagi yang dia punya sekarang. Bahkan hidup pun dia seolah enggan. Hidupnya benar-benar hancur.
"Dasar pengecut! Enak sekali kau minta mati. Kau tidak akan mati sebelum kau merasakan hal yang sama dengan apa yang dia rasakan. Sakit dan hancur" Ucap Alex. Melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Kai. Lantas mendorong kasar tubuh Kai jatuh ke lantai.
Beberapa karyawan hanya melongo melihat aksi dua pria tampan idola kantor itu.
"Apa kau tidak bisa melihatnya? Ha? Apa aku tidak sama sakit dan hancurnya dengan dia? Apa aku masih bisa tertawa? Kau tahu aku bahkan lebih memilih mati daripada harus melihatnya terluka" Teriak Kai pilu.
Membuat Alex yang tadinya menjauh kini mendekat kembali. Dan "buugghhhhhh" satu pukulan mendarat lagi di wajah Kai.
"Aku tidak butuh omong kosongmu! Kau jelas sudah menyakitinya. Dan aku tidak terima kau melukai hatinya!" Teriak Alex.
Kali ini benar-benar berjalan menjauh dari Kai. Meninggalkan Kai yang terpuruk. Menyesali diri karena tidak mampu berbuat apa-apa. Melindungi orang yang paling dia cinta.
Tanpa sadar. Semua perkataan Alex didengar oleh seorang wanita cantik yang tak sengaja lewat di lobi itu. Seketika mata wanita itu berkaca-kaca.
"Kak...." Ucap wanita yang berdiri di sebelah wanita itu. Ia juga mendengar semua perkataan Alex.
"Kita pergi" Ajak wanita itu.
"Sebegitu besarnyakah rasa cintamu untuknya. Hingga tidak ada celah sedikitpun bagi rasa cintaku untuk menerobos masuk"
Batin wanita sambil menyusut pelan air matanya. Tanpa disadari wanita yang satunya lagi.
****
Up lagi readers,
Thank's sudah mampir,
Happy reading everyone,
Love you all, 😘😘😘😘
*****