
Kai langsung menjawab panggilan di ponselnya.
"Ya halo. Dengan siapa ini....."
"Kakak kemana saja? Kami sudah ada di depan rumah kakak di Shanghai. Tapi pelayan bilang kakak pergi dari kemarin dan belum pulang" teriak seorang gadis di ujung sana.
Membuat Kai langsung menjauhkan ponsel dari telinganya. Telinganya langsung berdengung mendengar suara di ponsel miliknya.
"Astaga Nadya. Pelankan suaramu. Aku langsung budeg kalau begini caranya" ucap Kai saling mengusap-usap telinganya.
"Bomat Bambaaaanng! Sekarang kamu di mana? Di mana kakakku?" tanya Nadya.
"Bambang lagi" gerutu Kai dalam hati.
"Tunggu kau bilang ada dirumahku. Di Shanghai? Are you kidding me? " tanya Kai tidak percaya jika Nadya ada di Shanghai.
"I'm so serious Bambaaaanng! Tidak percaya kau tanya pelayanmu sendiri. Sekarang dimana Kakak. Aku dan yang lain lelah. Ngantuk" rengek Nadya.
"Kamu beneran ada di Shanghai? Yang lain? Kamu ke sini sama siapa?" tanya Kai.
"Beneran aku di Shanghai. Aku ke sini sama Alex sama Evan. Buruan pulang. Aku kangen sama mbakku!" perintah Nadya.
"Hei kenapa kamu lebih galak dari tuan rumahnya" canda Kai.
"Aaaiiisshh kakak menyebalkan" umpat Nadya.
"Kalau begitu bilang pada pelayan. Minta kamar dulu. Minta makan dulu. Kakak akan sampai dalam 3 jam lagi. Kalian istirahat saja dulu. Aku akan minta pelayan untuk menyiapkan keperluan kalian semua" ucap Kai pada akhirnya.
"Oke deh Bambaanng. Cepetan balik!"
"Jangan panggil aku Bambaaannng!" tolak Kai.
"Yey suka hati aku. Dah aku mau istirahat dulu!" ucap Nadya lantas mengakhiri panggilannya.
"Kenapa?" tanya Justin.
"Haaish pacarmu nyusul ke sini" beritahu Kai.
"Haaaa Nadya di sini? Seriously" ucap Justin tidak percaya.
Kai mengangguk.
"Alamak!! Bisa dijewer ini kupingku kalau dia tahu aku ke sini nggak kasih tahu dia" cemas Justin.
"Masih mending kalau cuma dijewer.Ini kupingku sudah auto budeg tiap terima telepon dari dia. Sudah yuk cabut. Biar cepat sampai" ajak Kai.
"Makin cepat aku kena jewer deh" gerutu Justin.
Ketiga mobil itu kembali melanjutkan perjalanannya menuju kota Shanghai. Lebih tepatnya rumah utama keluarga Liu.
Sementara itu, kepala pelayan langsung menyiapkan semua kamar dan makan siang. Setelah mendapat perintah langsung dari pemilik rumah.
"Aje gila. Ini beneran rumahnya Kai" ucap Evan penuh decak kagum.
"Ya karena dia ternyata salah satu pewaris keluarga Liu. Tidak heran aku" Alex ikut berujar.
"Kalau begini bikin minder aku saja kenal sama Kai" lanjur Evan.
Ketiganya sudah dipersilahkan menunggu di ruang keluarga yang sangat mewah. Beberapa pelayan sudah menghidangkan teh dan makanan ringan lainnya.
"Silahkan dinikmati Nona dan Tuan" ucap kepala pelayan mempersilahkan Nadya dan yang lainnya.
"Ehh Tuan boleh saya bertanya. Kak Kai pergi ke mana ya?" tanya Nadya.
Kepala pelayan itu berpikir. Dia pikir tidak masalah untuk memberitahu Nadya dan yang lainnya. Karena Tuan Mudanya mengatakan kalau mereka adalah adik dan teman-temannya dari Indonesia.
"Tuan Kai? Maksud Nona Tuan Muda Eric?" tanya kepala pelayan itu.
"Tuan Muda Eric?" gantian Nadya yang bertanya.
"Itu nama aslinya" sahut Alex.
Nadya dan Evan ber-ooo ria.
"Tuan Muda Eric tidak mengatakan mau pergi ke mana. Tapi Tuan Steven mengatakan akan pergi menjemput Nyonya Muda yang dibawa pergi tuan Luis ke vila Utara" jelas kepala pelayan itu.
Yang malah membuat kepala Nadya semakin pusing. Steven? Luis? Vila Utara? Ah mumet. Hingga akhirnya dia hanya mengangguk pura-pura paham.
"Sebenarnya siapa sih Kak Kai sebenarnya?" tanya Nadya kepo.
Tiba-tiba Evan berteriak. Dia baru saja googling soal Eric Liu.
"Whooaaahh ternyata Kai the real sultan. Lihat" ucap Evan dengan wajah tidak percaya.
"Kenapa?" tanya Nadya.
"Pewaris Liu Corporation telah kembali ...bla...bla...bla..." baca Evan.
"Beneran dia sekaya itu?" tanya Nadya.
"Ya seperti itulah" jawab Alex ambigu.
Dia sebenarnya enggan untuk mengakui kalau Kai sekarang lebih unggul darinya dalam segala hal.
"Waaaahh. Boleh dong eike malak kakak ipar" seloroh Nadya.
"Mau malak apa juga kamu pasti dikasih. La wong duwite bejibun" oceh Evan.
Pria itu masih asyik membaca artikel soal Kai di media online. Hingga kepala pelayan datang memberi tahu kalau kamar mereka sudah siap. Mereka bertiga mengikuti kepala pelayan menuju kamar masing-masing.
Evan dan Nadya hanya bisa melongo sepanjang perjalanan mereka ke kamar. Perjalanan? Ya karena ketiganya ditempatkan di kamar yang berada di sisi sebelah kiri dari rumah utama. Melewati taman yang terbentang luas dengan air mancur menghiasinya.
"Terima kasih Tuan" ucap ketiganya.
Mereka berpisah dan masuk ke kamar masing-masing. Langsung naik ke ranjang masing-masing dan langsung terlelap.
***
Mobil Kai mulai memasuki pintu gerbang rumah besarnya. Cukup lama untuk sampai ke rumah utama. Mengingat besarnya rumah Kai. Luis masih mengantarkan Alena dan profesor Huang ke rumah masing-masing.
"Kak Lin sudah pulang?" tanya Kai pada Steven. Pria itu tengah menempatkan Natasya pada tempat ternyaman dalam gendongannya.
"Sebentar lagi dia pulang. Aahhh lelahnya. Aku naik mau berendam dulu" pamit Steven. Setelah masuk ke rumah dan disambut kepala pelayan.
Sesaat kepala pelayan melirik ke arah gadis cantik yang tengah berada dalam gendongan tuan mudanya.
"Anna akan tidur di kamarku untuk saat ini. Dia masih sedikit demam. Luis membuatnya terjun ke air terjun di vila Utara" Kai menjelaskan.
Kepala pelayan sedikit terkejut mendengar gadis yang bernama Anna itu nyemplung ke air terjun yang setahunya cukup dalam.
"Bagaimana bisa Tuan?" tanya kepala pelayan. Sambil mengikuti tuan mudanya berjalan menuju lift. Karena kamar Kai ada di lantai lima.
"Dia mencoba lari dari Luis" jelas Kai.
Kepala pelayan hanya ber-ooo ria.
"Bagaimana dengan adikku dan teman-temanku?" tanya Kai.
"Mereka menempati kamar di sayap timur, Tuan" jawab kepala pelayan.
"Bagus. Terima kasih sudah menyambut mereka dengan baik" ucap Kai.
"Sudah tugas saya Tuan Muda" jawab kepala pelayan.
Dia senang sekali setelah hampir dua puluh tahun kosong. Akhirnya rumah besar itu akan terasa hidup kembali. Pemilik yang sebenarnya sudah kembali. Terlebih setelah tahu Tuan Mudanya seorang yang ramah dan hangat. Meski jika diluar, Tuan Mudanya itu terkenal dingin dan tidak bersahabat.
Kepala pelayan itu membukakan pintu kamar Kai.
"Terima kasih. Kami akan beristirahat dulu" ucap Kai sebelum masuk ke kamar mewahnya.
Dan kepala pelayan itu membungkukkan badannya. Lantas undur diri sambil menutup pintu kamar Kai.
Kai merebahkan tubuh Natasya di ranjang besarnya. Lantas masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri. Dia meraih laptopnya. Mengecek pekerjaannya. Sedikit mengerutkan dahinya ketika sebuah pesan masuk melalui e-mailnya.
"Haa Thomas juga ikut kemari. Pada mau ngapain sih ke sini?" gerutu Kai.
**
Malam menjelang. Kai masih berkutat dengan pekerjaannya. Ketika dilihatnya Anna mulai gelisah dalam tidurnya. Pria itu melepas kacamatanya. Mematikan laptopnya. Lantas mendekati ranjangnya.
"Sudah bangun?" tanya Kai ketika dilihatnya Natasya mulai membuka matanya.
"Ini di mana?" tanyanya sambil memicingkan matanya. Memindai keadaan sekelilingnya.
"Merasa lebih baik?" tanya Kai.
Natasya mengangguk.
"Jadi ini dimana?" tanya Natasya lagi.
"Kamarku?" jawab Kai.
"Kita sudah pulang ke Jakarta?" tanya Natasya.
Kai menggeleng.
"Penthouse-mu di Singapura?" tanya Natasya lagi.
Kai kembali menggeleng.
"Aishhh main tebak-tebakkan" gerutu Natasya.
Kai terkekeh.
"Kita masih di Shanghai"
"Rumah tuan gila itu?"
Kai terbahak. Mendengar panggilan Natasya untuk Luis.
"Bukan ini di rumahku" jawab Kai. Ikut duduk di tepi ranjang. Meraih gelas berisi air putih lantas memberikannya pada Natasya.
"Tahu saja kalau aku haus" ucap Natasya.
"Apa sih yang tidak aku tahu soal kamu. Bahkan ukuran dalamanmu pun aku tahu" ucap Kai sambil tersenyum.
"Mesuuuum" gerutu Natasya.
Kai kembali terkekeh.
"Jadi kamu punya rumah juga di Shanghai" tanya Natasya.
"Emmm bukan rumahku sih. Sebenarnya ini peninggalan orang tuaku atau lebih tepatnya kakekku" Kai mulai menjelaskan.
"Kamu sudah ketemu keluargamu?" tanya Natasya kepo.
"Sudah. Hanya saja...." Kai baru saja akan bercerita tentang dirinya. Ketika pintu terdengar. Mengalihkan pandangan keduanya ke pintu.
****