
"Ha? Dua minggu lagi? Kakak serius?" tanya Natasya tidak percaya.
Mereka tengah berkumpul di ruang keluarga. Setelah ayah Steven secara resmi melamar Natasya kepada kedua kakeknya. Meski secara virtual. Kedua kakek Natasya tidak keberatan asal Natasya sudah menerima lamaran Kai.
Dia akhir video call mereka. Terselip candaan kalau seserahan atau hantaran akan dikirim via ekspedisi. Yang membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.
"Baik kalian berikan aku mentahnya saja. Transfer saja ke rekeningku Rich" seloroh tuan Atmaja.
Dan tawa kembali membahana di ruang keluarga itu. Kecuali Natasya yang terlihat begitu shock mendengar dia akan menikah dalam dua minggu ke depan.
"Kenapa? Kamu tidak suka menikah denganku? Kalau kamu tidak suka aku bisa membatalkannya" tanya Kai enteng.
Pertanyaan itu sontak membuat semua orang menatap dua calon pengantin itu.
"Ah bukan begitu Kak. Tapi tidakkah itu terlalu cepat. Aku perlu mempersiapkan semuanya" ucap Natasya.
"Apa yang ingin kau siapkan. Kau cukup menyiapkan tenagamu karena kau perlu tenaga ekstra untuk pernikahan kita nanti" jawab Kai sambil mengedipkan matanya.
Membuat wajah Natasya langsung merah menahan malu.
"Kakak ngomong apa sih?"
"La kan memang benar ucapanku benar. Karena mulai besok kita akan mulai dengan acara foto prewedding. Betul tidak Thomas?" tanya Kai.
"Betul Bos. Anda berdua besok dijadwalkan untuk foto prewedding. Selanjutnya bla...bla...bla..."
Natasya langsung menyandarkan tubuhnya lemas.
"Kan sudah aku bilang. Kamu tinggal menyiapkan tenagamu saja. Selebihnya biar uangku yang bekerja" ucap Kai santai.
"Tapi Kak konsep pernikahan impianku kan kakak tidak tahu"
"Siapa bilang aku tidak tahu"
Perlahan Kai mengulurkan IPadnya pada Natasya.
"Bukankah seperti ini konsep pernikahan impianmu?" tanya Kai.
Natasya langsung membulatkan matanya. Melihat isi Ipad Kai. Semua orang di ruangan itu sudah mulai sibuk dengan percakapan mereka sendiri.
"Bagaimana kakak mengetahuinya?" tanya Natasya berkaca-kaca.
"Apakah masih ada yang kurang? Kamu bisa menambahkan apapun yang kamu mau di pernikahan kita" ucap Kai menatap wajah Natasya.
"Ini sempurna sekali. Bagaimana kakak tahu aku menginginkan konsep pernikahan berwarna pink"
Kai tersenyum. Lantas merapikan rambut Natasya yang menutupi wajahnya. Menyelipkannya dibalik telinga Natasya.
"Ingat ketika kita pergi ke pernikahan Lee Joon. Kau pernah mengatakan kalau pernikahan Lee Joon sangat cantik apalagi kalau bernuansa pink"
"Kakak ingat?"
"Apa yang tidak aku ingat soal keinginanmu? Akan kukabulkan semua keinginanmu. Ingat janjiku?"
Natasya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia benar-benar jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya pada pria yang tengah menatapnya penuh cinta.
Perlahan senyum mengembang di bibir Natasya.
"Kalian ini bikin baper saja" gerutu Luis.
Membuat semua orang berhenti bicara. Menoleh pada Luis. Lantas tertawa terbahak-bahak.
"Ada yang lucu?" tanya Luis.
"Kau cemburu...ha ha ha.." teriak Steven.
Membuat yang lain semakin terpingkal-pingkal. Dan kesempatan itu tidak disia-siakan Kai. Dia mencium sekilas pipi Natasya. Membuat si empunya pipi langsung mendelik kesal.
"Lihat mereka. Benar-benar tidak punya malu" kembali Luis berteriak.
"Iri bilang bos" seloroh Kai.
Luis manyun mendengar ledekan Kai.
"Kenapa kalian tidak menikah saja sekalian. Sekalian bisa mengumpulkan keluarga" tanya ayah Luis.
"Dia belum mau menerima lamaranku Pa?" jawab Luis sendu.
"Kau kurang berusaha Luis" seloroh Steven.
"Kau saja sanggup menculik tunanganku. Kenapa dengan Alena kau kalah. Karena dia mengandung anakmu. Jadi kau begitu lunak menghadapi Alena" pancing Kai.
"Kasusnya beda Bro" jawab Luis.
"Beda dimananya. Kau sama-sama menginginkannya. Tapi kenapa dengan Alena caramu berbeda?" tanya Lin Qian.
"Entahlah Kak. Aku benar-benar tidak bisa memaksanya menikah denganku. Jadi aku akan bersabar sampai dia mengatakan ya untuk menikah denganmu" jawab Luis.
"Wah hebat sekali ternyata calon ayah kita yang satu ini" puji Steven.
"Sialan!" maki Luis.
"Oh sayang, dosa apa yang aku buat padamu?" keluh ayah Luis pada mendiang istrinya.
Ayah Luis benar-benar pusing mendengar tingkah polah sang putra Luis.
Walau pada akhirnya semua menerima Alena dengan baik. Alena bukan sosok yang asing di Liu Corporation. Dia juga terkenal gadis yang baik dan tidak neko-neko. Mereka sudah meminta Alena untuk tinggal di rumah utama. Namun gadis itu masih menolak. Alasannya dia masih belum bisa menerima Luis, jadi untuk apa dirinya tinggal di rumah utama.
"Susah sekali membujuknya"
"Kalau dibujuk tidak bisa paksa saja" usul Steven.
"Bagaimana caraku memaksanya. Menghamilinya? Dia sudah hamil anakku dan Luna"
"Tapi kau kan belum pernah unboxing dia. Alias dia masih segelan. Kau bisa mengancamnya dengan cara itu" usul Kai.
"Kalian ini bicara apa?"
"Kau coba saja saranku. Aku jamin dia akan menerimamu"
"Terpaksa tapinya" kesal Luis.
"Awalnya terpaksa nanti lama-lama dia akan menikmatinya" seloroh Kai.
"Kalian ini bicara apa sih?" ucap Natasya.
Mendengar obrolan yang mulai membuat panas telinganya.
"Ahh hanya sedikit pelajaran teori untuk Luis. Kalau kamu mau kita bisa langsung praktek diatas" goda Kai sambil menaikturunkan alisnya.
Natasya mencebik kesal.
"Dia hanya belum pernah merasakannya. Coba saja nanti. Pasti ketagihan. Betul tidak sayang?" ucap Steven sambil menyenggol sang istri, Lin Qian.
"Iisshh kalau ngomong itu difilter" Lin Qian mengingatkan.
"Kenapa mereka sudah dewasa semua. Sudah waktunya mencetak generasi Liu selanjutnya" oceh Steven.
"Kamu pikir buku. Main cetak saja" sarkas Luis.
"Istilah saja Bro. Lagian kenapa sih kamu sensi sekali akhir-akhir ini" tanya Kai.
Obrolan mereka tinggal mereka berlima. Kedua paman Kai sudah naik dari tadi untuk beristirahat.
"Boleh aku tebak? Dia sebenarnya kesal karena Alena bisa hamil tanpa dia unboxing dulu" goda Steven.
Yang langsung membuat Luis melesatkan tendangan ke tulang kering kakak sepupunya itu.
"Aiih sakit Bro. Jangan marah kan omonganku benar" tambah Steven.
Membuat Luis langsung menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Enggan menanggapi ocehan sepupu durjananya.
"Yah dia ngambek" kali Kai yang menggoda.
"Kalian benar-benar menyebalkan" kesal Luis sambil berlalu keluar dari ruang keluarga itu.
"Hei mau kemana kau?" teriak Steven.
"Melihat anakku"
"Melihat anakmu kau sekalian bisa menengoknya" seloroh Kai.
Kai langsung berteriak ketika satu cubitan keras bersarang di perut sixpacknya.
"Sakit Ann"
"Makanya kalau ngomong jangan asal. Nanti kalau dia beneran praktek gimana? Ya kalau Alena suka kalau nggak bisa kabur lagi tu Alena bawa anaknya Luis"
"Oohh mau launching putri kabur versi terbaru nih ceritanya" ledek Kai.
Natasya langsung memanyunkan bibirnya. Membuat Kai gemas. Kini tinggal mereka berdua di ruangan itu. Steven dan Lin Qian sudah naik ke kamar mereka dari tadi.
Kai perlahan mencondongkan tubuhnya. Membuat Natasya memundurkan tubuhnya.
"Kakak mau apa?"
"Bagaimana kalau kita praktekkan teori kita tadi. Di kamar atas tapi" goda Kai.
"Iissh kakak ni mesum" ucap Natasya sambil mendorong jauh tubuh Kai.
"Mesum sama istri sendiri kan tidak apa-apa" Kai berujar.
"Belum sah. Masih ada dua minggu lagi" tolak Natasya.
Mulai berjalan menuju lift dengan Kai tetap mengekor di belakangnya. Menempel layaknya anak kecil yang tengah membujuk mamanya untuk dibelikan mainan.
"Kenapa dia jadi seperti anak kecil akhir-akhir ini" batin Natasya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Memikirkan tingkah Kai akhir-akhir ini.
****