
Tuan Hadiwinata mengepalkan tangannya ketika mendengar asistennya memberi laporan. Jika Kai mengembalikan semua aset keluarga Hadiwinata. Dan juga dua surat pengunduran dari Kai dan Natasya.
Ditambah lagi dengan laporan jika Kai sering hilir mudik bahkan menginap di rumah keluarga Atmaja. Seketika dia merasa seperti orang yang dikhianati. Seperti kata pepatah air susu dibalas air tuba.
Namun kemudian sebaris kalimat terlintas di kepalanya.
"Jangan mengharap kebaikan terjadi jika sejak awal kau sudah berniat tidak baik"
Ya, sejak awal memang tidak ada niat baik ketika ia mengadopsi Kai.Dia jelas berniat untuk menggunakan anak itu untuk mencari pewaris bagi keluarganya. Memanfaatkan Kai tanpa mempedulikan perasaan anak itu.
Juga Natasya. Dia tidak pernah tahu jika gadis itu adalah cucu kandungnya. Putri dari Kevin putranya. Ditambah lagi dengan sebuah foto yang kini berada di atas meja kerjanya.
"Putri kedua tuan Kevin dan Nyonya Celine telah kembali ke sini sejak minggu lalu"
Lapor sang asisten. Membuat tuan Hadiwinata semakin terkejut. Kevin memiliki dua putri pun bahkan dia tidak tahu.
"Kamu yakin dengan laporanmu" Tanya tuan Hadiwinata tidak percaya.
"Yakin tuan. Selama ini keduanya diback up keluarga Kusuma. Menyembunyikan identitas kedua cucu Tuan" Jelas sang asisten.
"Keluarga Kusuma? Mereka berani melakukan itu?" Guman tuan Hadiwinata.
"Putra Anda dan tuan Marcellino Kusuma memiliki hubungan dekat. Kemungkinan putra Anda yang meminta untuk melindungi kedua putrinya" Tambah asisten tuan Hadiwinata.
Namun kemudian tuan Hadiwinata teringat laporan asisten pribadinya yang menyatakan bahwa Sarahlah penyebab kematian Celine dan wanita itu berusaha melukai Natasya. Tuan Hadiwinata lantas menyimpulkan kalau keluarga Kusuma ingin melindungi dua cucunya dari Sarah.
Tuan Hadiwinata merasa pusing dengan kekacauan yang dia ciptakan sendiri.
"Lalu bagaimana dengan Fanny? Apa dia sudah mulai mengambil alih HD TV" Tanya tuan Hadiwinata.
"Emm itu. Nona Fanny menolak untuk memimpin HD TV Tuan" Lapor asistennya.
"Apa? Beraninya dia melawanku! Dasar cucu tidak berguna!" Maki tuan Hadiwinata.
"Salahmu sendiri tuan. Cuma mikirin diri sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Sekarang baru merasakan tulahnya" Batin asisten pribadi tuan Hadiwinata.
Bertahun-tahun mengikuti tuan besarnya. Tentu dia tahu apa saja yang sudah tuannya itu lakukan. Banyak hal yang bertentangan dengan nuraninya tapi dia bisa apa. Hanya seorang asisten pribadi yang bekerja demi sebuah kata "gaji". Untuk menghidupi keluarganya. Tanpa ada hak untuk menyalahkan atau membenarkan semua keinginan tuannya.
Hingga pada akhirnya apa yang dia takutkan terjadi juga. Tuannya kini tidak mempunyai siapa-siapa disisinya. Akibat dari perbuatannya sendiri. Namun sekali lagi dia bisa apa.
"Boleh saya menyarankan sesuatu kepada Tuan?" Ucapnya takut-takut.
Takut ide gilanya akan membuat dia dipecat dari pekerjaannya. Tapi apa boleh buat, Tuannya itu harus disadarkan. Jika tidak bisnis keluarga itu bisa hancur, karena kekosongan pemimpin. Dan hal ini bisa membuat pihak yang tidak menyukai mereka atau rival bisnis mereka mencari cara untuk menjatuhkan bisnis keluarga mereka.
"Tuan bisa meminta tuan muda Kai untuk kembali ataupun meminta maaf pada kedua cucu Anda" Saran asisten pribadinya.
Membuat tuan besar Hadiwinata melayangkan tatapan maut pada asisten pribadinya.
"Haruskah?" Tanya tuan Hadiwinata setelah terdiam beberapa saat.
Asisten pribadi tuan Hadiwinata menarik nafas lega. Jawaban tuan besarnya sungguh diluar dugaannya. Dia pikir ini bisa jadi hari terakhirnya bekerja di keluarga ini. Ternyata dia salah.
"Jika Anda ingin bisnis Anda tetap berjalan. Anda harus segera mencari pengganti. Mengumumkan siapa pemimpin selanjutnya. Dan kita tahu dengan jelas siapa orangnya. Cucu sulung Anda juga sangat ahli dalam memimpin, dia juga memiliki kemampuan yang hampir sama dengan tuan muda Kai" Saran asisten pribadinya.
"Sedang nona Fanny, dia jelas tidak berminat untuk terjun ke bisnis ini. Kemampuannya bukan di bidang ini"
"Dasar tidak berguna. Sama seperti ibunya" Maki tuan Hadiwinata.
"Itu semua salah Anda tuan. Jika tuan tidak terlalu memaksakan kehendak. Keluargamu tidak akan sekacau ini" Gerutu asisten pribadi tuan Hadiwinata lagi.
Biarlah hari ini dia akan memaki kebodohan tuan besarnya itu sepuas hatinya.
"Lalu cucu tengahku?"
"Nona Nadya tinggal menunggu wisudanya di NUS. Skripsi dan sidangnya sudah dilakukan beberapa waktu lalu"
"Dia kuliah di Singapura?" Tanya tuan Hadiwinata dan asistennya mengangguk.
Sejenak keheningan terasa di ruang itu.
"Beri tahu aku dimana dia dirawat" Pinta tuan Hadiwinata pada akhirnya.
Membuat asisten pribadinya mengembangkan senyumnya.
"Kalau tidak memikirkan bisnisku. Malas aku menemuinya" Batin tuan Hadiwinata.
***
Walaupun sang kakak selalu bilang. Kalau dirinya tidak apa-apa sendiri. Keadaannya sudah lebih baik sekarang. Jocelyn sedikit akan melakukan terapi pada Natasya. Gadis itu sudah terlalu lama terbaring di tempat tidur. Hingga tubuhnya terasa kaku. Dan sedikit terapi akan membantunya.
Dia baru keluar dari lift ketika matanya menangkap satu sosok yang asing, yang tengah berdiri tepat di depan kamar kakaknya. Dia mempercepat langkahnya. Takut kejadian tempo hari, dimana ada yang ingin mencelakai kakaknya terulang lagi.
"Maaf siapa ya?" Tanya Nadya membuat sosok itu berbalik dengan cepat. Sosok itu jelas ketakutan.
"Tania?" Bisik Nadya cepat. Dia mengenali sosok didepannya ini dari Kai.
"Ini adikmu. Bagaimanapun juga dia adik kalian. Bukan salahnya jika dia ikut terseret kekacauan ini" Ucap Kai beberapa waktu lalu.
"Tania?" Ujar Nadya waktu itu. Kai mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan ucapan Nadya.
"Ayah memberinya nama Tania tapi katanya mamanya tidak suka" Sahut Nadya menjawab kebingungan Kai.
"Kenapa kamu ada disini? Mau masuk?" Tanya Nadya ramah. Membuat gadis yang ada didepannya berkaca-kaca.
Sekian tahun dia tidak pernah tahu bahwa dirinya memiliki dua orang kakak perempuan yang sangat ingin dia miliki dari dulu.
"Aku Nadya. Ayo masuk tapi kak Tasya sedang tidur sepertinya. Dokter Jo membuatnya jadi sleeping beauty akhir-akhir ini" Seloroh Nadya membuat perasaan Fanny semakin tidak karuan.
Apa gadis di depannya yang notabene adalah kakak tirinya itu sama sekali tidak marah pada dirinya.
"Kak...." Akhirnya Fanny memberanikan diri memanggil Nadya.
"Ya?"
"Kenapa memanggilku Tania namaku Fanny" Tanya Fanny takut.
Namun ternyata ucapan Fanny malah membuat Nadya tersenyum lebar.
"Ayo masuk dulu. Kita bicara di dalam" Ajak Nadya lantas menggandeng tangan Fanny masuk ke kamar Natasya.
Sejenak Fanny melongo melihat betapa mewahnya kamar rawat "kakaknya" itu.
"Tentu saja mewah. Dia cucu keluarga Atmaja" Batin Fanny.
"Duduklah. Sepertinya kakak benar sedang tidur" Ucap Nadya lantas menuju ke lemari pendingin. Mengambil satu kaleng soft drink.
Sedang Fanny mencuri-curi lihat ke arah bed. Di mana seperti kata Fanny seorang gadis tengah tertidur.
"Ingin melihatnya" Tanya Nadya.
"Bolehkah?"
"Tentu saja dia kan kakakmu juga" Jawab Nadya dengan senyum terkembang sempurna di bibirnya.
Jawaban Nadya membuat mata Fanny semakin berkaca-kaca. Dilihatnya sang kakak yang terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya.
"Keadaan jauh lebih baik. Jangan khawatir" Bisik Nadya.
"Maafkan aku" Satu kata yang meluncur dari bibir Fanny.
"Aku jahat padanya. Tidak tahu siapa dia. Tapi sangat membencinya di masa lalu. Aku jahat" Ujar Fanny kembali sambil menahan tangisnya.
Melihat hal itu membuat Nadya langsung memeluknya.
"Jangan berkata seperti itu. Ini semua bukan salahmu" Balas Nadya lembut.
Namun hal itu justru membuat tangis Fanny pecah seketika.
****
Up lagi readersku tercintah,
Jangan lupa like like like
Vote vote vote
Happy reading semua
Love you all 😘😘😘😘
****