
Kai masuk ke ruang kerja tuan Atmaja. Setelah menerima telepon dari Alex. Rahangnya mengatup menahan amarah. Dia pikir tidak ingin memberitahu tuan Atmaja. Tapi jika dia tidak memberitahu, takut jika tuan Atmaja akan marah. Jika beliau tahu dari orang lain.
"Kek..." Sapa Kai.
"Ya?" Tuan Atmaja tampak baru saja menerima panggilan telepon juga.
"Ada hal yang ingin aku sampaikan pada Kakek" Ucap Kai ragu.
"Soal Sarah yang mencoba mencelakai cucuku lagi"
Kai terkejut. Darimana tuan Atmaja tahu.
"Jangan kamu pikir aku lalai dengan keselamatan cucuku. Kau memang menempatkan beberapa bodyguard di sana. Tapi aku yang memegang kendali penuh CCTV disana" Ucap tuan Atmaja.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana? Apa Kakek akan bertindak?" Tanya Kai.
"Aku akan bertindak kali ini. Biar dia tahu dengan siapa dia berhadapan sekarang. Lalu bagaimana denganmu? Apa kau masih ingin bertahan di sana?"
"Aku rasa aku akan berhenti sekarang. Aku tidak peduli lagi dengan mereka" Jawab Kai mantap.
Tuan Atmaja tersenyum.
"Kehancuranmu akan segera datang Wira. Bukan dari orang lain. Tapi dari dirimu sendiri" Batin tuan Atmaja.
Disisi lain,
Seorang gadis tengah menangis pilu. Sejak kegagalannya menikah dengan Kai. Dia begitu terpuruk. Apalagi ketika kakek dan ibunya bukannya menghiburnya tapi malah seolah tidak peduli pada dirinya.
Gadis itu adalah Fanny. Dia begitu sedih dan kecewa namun lebih kecewa lagi dengan kenyataan yang dia dapati. Bahwa wanita yang dia telah dia sakiti adalah kakaknya.
Apalagi ketika dia tanpa sengaja mendengar perkataan kakeknya bahwa dirinya hanyalah cucu yang tidak diharapkan. Bahwa kehadirannya hanyalah sebuah kesalahan. Membuat keadaan Fanny semakin terpuruk.
Apalagi yang dia harapkan di keluarga ini. Semua orang tidak ada yang peduli padanya. Tidak ada yang sayang padanya. Tidak ada yang memperhatikan dirinya. Tidak ada teman berbagi untuknya. Satu-satunya teman bicara adalah asisten pribadinya Vera.
Hanya Veralah tempat Fanny mengadu. Tempat dia curhat. Mencurahkan segala isi hatinya. Keluh kesahnya. Veralah yang selalu ada untuk Fanny. Baik susah atau senang.
"Bagaimana persiapannya, Ra?" Tanya Fanny ketika mereka bertemu di kantor esok harinya.
"Mbak, yakin mau pergi ke sana?" Tanya Vera balik.
"Aku tidak punya apa-apa lagi disini, Ra"
"Persiapan sudah lima puluh persen. Mungkin bulan depan Mbak Fanny bisa pergi ke sana. Saya juga sudah mencarikan apartemen untuk mbak Fanny agar langsung bisa stay di sana. Itu jika mbak Fanny masih ingin pergi ke sana" Jawab Vera.
"Aku akan tetap pergi ke sana. Aku sudah tidak punya muka untuk menghadapi mereka semua. Aku ingin melupakan kenangan disini. Dan memulai hidup baru di sana" Balas Fanny yakin.
Vera hanya bisa mengangguk.
"Aku akan pergi. Melupakan semua hal buruk yang terjadi disini. Juga perasaan gila ini" Batin Fanny.
***
Nadya sudah selesai dengan ritual mandinya. Dia terlihat lebih segar. Melirik ponselnya sejenak. Lantas membuangnya ke atas kasur miliknya. Dia begitu marah ketika terbang ke sini. Namun dia langsung merasa sedih begitu sampai di sini.
Dia merebahkan tubuhnya di kasur besarnya. Di kamar besarnya yang bernuansa biru muda. Kesukaannya.
Kredit google.com
Dia sangat sedih dengan keadaan kakaknya. Dan sangat marah dengan kekasihnya, Justin. Ah entahlah. Apa mereka masih bisa disebut kekasih atau bukan setelah kejadian itu. Nadya menggeram marah.
Sedang Kai malah sudah bersiap akan pergi ke rumah sakit lagi. Dia harus membangunkan Natasya malam ini. Dia keluar dari kamar tamu yang disediakan untuknya.
Kredit google.com
Tak berapa lama Kai sudah sampai di rumah sakit. Dia langsung masuk ke ruang ICU di mana Natasya di rawat. Dia tadi sempat bertemu Jocelyn. Mengatakan kondisi Natasya sudah mulai stabil. Jadi mereka tinggal menunggu Natasya sadar. Agar bisa melakukan stem cell secepatnya.
"Malam, Baby. Bagaimana tidurmu? Nyenyakkah? Kapan mau bangun?" Tanya Kai lembut. Mencium hangat kening Natasya. Lantas meraih tangan Natasya. Digenggamnya erat tangan pucat itu.
Lagu yang tengah diputar saat ini adalah Love is You yang dinyanyikan oleh Liu Jia. Salah satu lagu yang ada di playlist ponsel Natasya.
Sejenak Kai terdiam. Dia teringat kembali ketika Alex menghubunginya. Melaporkan kalau bodyguardnya menangkap basah bu Sarah yang ingin melepas ventilator Natasya. Rasa marah menyeruak seketika.
Bisa jadi sekarang ini pengacara tuan Atmaja sudah melayangkan gugatan ke kantor polisi. Kai menghela nafasnya sejenak. Berusaha menetralisir amarahnya.
"Kamu tahu aku sangat marah pada orang itu. Dia berkali-kali ingin melukaimu. Sebenarnya apa yang dia inginkan?" Kai mulai bercerita pada Natasya.
"Anna, apa kamu benar-benar tidak ingin bangun. Kita bisa liburan ke Cina setelah kamu sembuh. Ke tempat drama Cina yang kamu sukai itu. Bikin jealous saja" Gerutu Kai.
"Kamu tidak capek apa tiduran terus? Ayolah bangun, kita jalan-jalan" Omel Kai lama-lama.
Tanpa Kai tahu jemari sebelah kiri Natasya bergerak. Kai mulai menidurkan kepalanya disisi bed Natasya. Rasa kantuk dan lelah begitu mendera Kai. Hampir dua jam dia mendongeng untuk Natasya. Sambil sesekali dia mencium tangan gadis itu.
"Aku tidur dulu Anna. Ngantuk, besok pagi bangunlah, kita pergi jalan-jalan oke?" Ucap Kai. Perlahan mulai memejamkan matanya.
Diiringi lagu Moment dari Westlife,
Cause everymoment we share together
is even better than the moment before
if everyday was as good as today was
*then i can't wait till tomorrow come*s
Dan disambung dengan lagu Somebody Needs You masih dari Westlife.
Somebody needs you
like never before
*somebody wants you*r love
baby open the door
don't you leave me alone
don't you turn out the light
somebody wants you
somebody needs you tonight
Sebenarnya lagu yang Kai putar sebagian besar adalah playlist milik Natasya. Berharap kalau gadis itu akan membuka matanya begitu mendengar lagu kesukaannya diputar.
Dan kembali tanpa Kai tahu kelopak mata Natasya bergerak-gerak seolah ingin membuka matanya.
"Bangunlah Anna, aku sangat membutuhkanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu" Bisik Kai lirih.
Dan dari sudut mata Natasya yang masih tertutup keluar setetes cairan bening.
"Aku bisa mati jika harus hidup tanpamu. Jadi berjanjilah padaku. Kamu harus bangun besok pagi. Hmmm" Ujar Kai.
"Aku mencintaimu Natasya Arianna Atmaja" Bisik Kai, kali ini dia benar-benar terlelap ke alam mimpinya.
"Aku ingin bangun. Aku harus bangun. Tapi kenapa seluruh tubuhku terasa sakit. Kenapa mataku susah sekali untuk dibuka. Kak, aku ingin bangun. Tolong aku Kak"
Pagi menjelang. Namun matahari masih malu-malu menampakkan dirinya.
Tidur Kai sedikit terusik ketika merasakan sesuatu bergerak lembut dalam genggamannya. Dia pikir apa. Hingga tidak terlalu memperdulikannya. Dia kembali melanjutkan tidurnya lagi.
"Sebentar lagi. Sebentar lagi" Racau Kai seperti orang mengigau.
Hingga pagi mulai beranjak siang. Dan seperti biasa Jocelyn dan Edgard yang melakukan visit ke ruang Natasya.
Mereka hanya membiarkan Kai yang masih tertidur beralaskan tangannya sendiri. Sebelah tangannya menggenggam erat tangan Natasya.
"Ed, bukankah ini baik" ucap Jocelyn sambil mengecek satu persatu keadaan Natasya.
"Kamu benar kita bisa melepas ventilatornya. Menggantinya dengan masker oksigen. Dan lihatlah keadaannya benar-benar membaik" Sahut Edgard lagi.
"Oh my God. Ini keajaiban. Pria ini benar-benar membawanya kembali" Ujar Jocelyn lagi.
Hingga satu suara lirih mengalihkan perhatian Edgard dan Jocelyn dari kegiatan mereka mengecek kondisi Natasya.
"Kak..." Ucap suara itu lirih.
***
Up lagi readersku tercintah,
Tak kasih bonus visuale mas Kai yang masih bobok manis nungguin neng Anna bangun ( tapi yang ini doi dah suegeerr buat manjain mata kitah)
Jangan lupa like like like
Vote vote vote nya juga
Kopi mana kopi author ngantuk berat ini
Eh kasih bunga juga boleh kok
Sekebon juga gak pa pa. Author malah suka kok 😁😁
Happy reading semua
Love you all 😘😘😘
***