You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 26



Angela tengah berlatih koreo. Meski hari libur. Gadis itu memang selalu bersemangat. Hal yang membuatnya memiliki nilai lebih di mata Alex. Ditambah sifatnya yang dengan terang-terangan akan menolak hal yang tidak sesuai dengan prinsipnya.


Pernah gadis itu mengamuk gegara pemotretan yang mengharuskan dia memakai pakaian seksi. Mungkin untuk seorang pendatang baru di dunia entertainment, sikapnya dianggap terlalu berani. Dan bisa membuat publik beranggapan kalau dia terlalu sombong dan pemilih. Namun Angela tidak peduli.


"Aku tidak mau berfoto dengan baju telanj***g itu!" Teriaknya kala itu.


Alex jelas pusing bukan kepalang. Dia bukan jenis orang yang akan membujuk artisnya. Untungnya Natasya kebetulan lewat di situ. Hingga masalah bisa diselesaikan. Dan bukannya membujuk, Natasya justru ikut marah. Membuat kepala Alex serasa ingin pecah.


"Apa kamu melihat job description-nya. Jelas Angela menolak. Ini tidak sesuai dengan job description-nya" Jelas Natasya.


Dan kali ini giliran Alex yang meledak. Membuat pihak produksi jelas kelabakan. Alex jika marah seramnya minta ampun.


Angela terus berlatih koreo tanpa tahu Alex tengah mengamati dirinya. Dari ruang kerjanya. Alex masuk karena ada beberapa berkas yang harus diclearkan mengenai konser Mandy dan Angela.


Dia pikir Natasya akan ada di studionya, namun ternyata gadis itu mengambil off hari ini. Membuat Alex kesal. Dia harus menunggu sampai besok untuk membereskan berkasnya.


"Kamu baru sadar jika kamu kehilangan seseorang yang berharga setelah dia pergi dari kehidupanmu. Jadi sebelum kamu menyesal jangan biarkan dia pergi" kali ini kata-kata Angela yang terngiang di telinganya.


"Konser ini akan jadi konser terakhirku di sini. Setelah itu mungkin aku akan pergi"


Ucapan Mandy kembali terngiang ditelinganya. Alex mengacak rambutnya frustrasi. Semakin dia memikirkan kepergian Mandy. Semakin dia merasa akan kehilangan wanita itu.


Sementara itu di apartemennya, Mandy tengah mempelajari beberapa kontrak yang telah datang padanya. Fix, jika HD TV Management tidak ingin memperpanjang kontrak dengannya.


Jadi dia pikir tidak salah, jika dia mulai memilih beberapa kontrak yang sesuai dengan dirinya. Namun sebelumnya, dia ingin sekali mengambil liburan sejenak.


**


Di sisi lain. Kai dan Natasya benar-benar menikmati kencan mereka. Bergandengan tangan sepanjang jalan yang mereka lalui di taman kota itu. Sesekali mereka tertawa bahagia.



Kredit google.com


Kai seolah tidak ingin melepaskan tautan jemarinya di jemari Natasya. Membuat Natasya sedikit heran. Namun lekas ditepisnya rasa itu. Menggantikannya dengan rasa bahagia yang mungkin saja besok sudah berubah menjadi air mata.


Mereka berhenti di tepi danau buatan yang ada di taman itu. Sejenak melepas lelah. Sambil duduk di tepi danau itu. Yang terbuat dari potongan papan yang disusun sedemikian rupa.Hingga seolah membentuk seperti dermaga kecil di danau itu.



"Lelah?" Tanya Kai. Natasya mengangguk.


Kai lantas memeluk Natasya. Membiarkan gadis itu bersandar di dada bidangnya.


"Bisakah kamu berjanji satu hal padaku" tanya Kai.


"Apa?" Tanya Natasya balik.


"Berjanjilah padaku. Apapun yang akan terjadi besok dan selanjutnya tetaplah percaya padaku, bahwa cintaku hanya untukmu" Jawab Kai menatap dalam dua bola mata Natasya.


"Ya?" Natasya tidak paham maksud Kai.


"Cukup berjanji padaku. Lakukan hal itu oke?" Pinta Kai lagi.


Natasya mengangguk dalam pelukan Kai.


"Kamu tahu aku akan melakukan apapun untukmu. Melakukan apapun yang kamu minta. Dan mencintaimu sepanjang hidupku. Hanya dirimu" Ucap Kai sendu.


"Kamu itu sebenarnya kenapa sih? Dari kemarin ngomongnya kayak kita tidak akan bertemu lagi" Tanya Natasya pada akhirnya.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya mengatakan apa yang ingin aku katakan padamu sejak lama" Ucap Kai menenangkan. Lantas kembali memeluk Natasya erat.


"Aku mencintaimu Sya" Ucap Kai sambil mencium puncak kepala Natasya.


Ucapan Kai membuat senyum Natasya terkembang sempurna diwajah cantiknya.


***


Kai berjalan cepat menuju ke ruang kepala direksi. Ketika asisten Kakeknya mengatakan kalau kakeknya itu sudah menunggu di ruangan bu Sarah.


Ceklek,


Pintu dibuka pelan oleh Kai. Terlihat sang Kakek tengah duduk di kursi kerja bu Sarah. Tidak nampak siapapun di ruangan itu selain dirinya dan sang Kakek.


"Ada apa Kek?" Tanya Kai to the poin.


"Aku menginginkan jawabanmu sekarang. Tidakkah kamu tahu Fanny menangis semalaman, karena kamu memilih menghabiskan waktumu dengan gadis tidak jelas itu!" Jawab tuan Hadiwinata pedas.


Kai menghela nafasnya. Dia sebenarnya tidak peduli dengan perasaan Fanny.


"Bagaimana jika aku menolak pernikahan ini" Ucap Kai mantap.


Semalam dia sudah memutuskan untuk menolak perjodohannya dengan Fanny. Dia ingin mempertahankan rasa cintanya pada Natasya.


"Kau yakin?" Tanya tuan Hadiwinata dengan senyum misterius-nya.


"Aku yakin Kek. Aku tidak ingin kehilangannya" Jawab Kai lagi.


"Lalu bagaimana dengan ini?" Ucap tuan Hadiwinata. Menekan tombol diatas meja. Sehingga TV besar di hadapan Kai langsung menyala. Menampilkan sebuah video yang langsung membuat mata Kai membulat.


"Lakukan sekarang. Dia menolaknya" Perintah tuan Hadiwinata melalui ponselnya.


"Hentikan! Apa yang Kakek lakukan?!" Kai berteriak.


"Kau bilang tidak ingin kehilangannya. Maka aku akan membuatnya menjadi nyata. Membuatmu kehilangannya hanya karena keputusan bodoh yang kamu ambil!" Ucap tuan Hadiwinata.


"Kakek hentikan! Jangan lukai dia!" Kai hampir menerjang Kakeknya sendiri melihat gadis itu yang tak lain adalah Natasya ditodong dengan sebuah pistol di kepalanya. Kepalanya serasa ingin pecah. Memikirkan apa yang harus dilakukannya.


"Nikahi Fanny. Dan aku akan melepaskannya" Tawar tuan Hadiwinata.


"Kakek mengancamku?" Tanya Kai. Rahangnya mengatup rapat. Menahan amarah yang memuncak. Matanya memerah menahan ledakan emosi yang mungkin saja bisa terjadi.


"Ya, aku mengancammu. Dia kelemahan terbesarmu Kai. Jadi tanda tangani ini. Dan nikahi Fanny secepatnya. Minggu depan kita akan melakukan konferensi pers. Menjelaskan siapa dirimu dan juga rencana pernikahan kalian" Jelas tuan Hadiwinata.


"Kenapa Kakek melakukan ini padaku? Kenapa?" Kai berteriak. Air mata jelas sudah mengalir di pipinya.


Dia benar-benar putus asa sekarang. Ditatapnya wajah damai Natasya yang tertidur pulas. Cantik, sangat cantik. Kai tidak mungkin mengorbankan Natasya demi keinginannya sendiri.


"Sudah jelas tujuanku Kai. Mengikatmu, menjadi pewarisku yang sah melalui pernikahanmu dengan Fanny" Jelas tuan Hadiwinata.


"Kakek terlalu kejam. Tidak bisakah Kakek mempertimbangkan perasaanku. Perasaan Fanny?" Ucap Kai lagi.


"Perasaanmu? Sejujurnya aku sama sekali tidak peduli dengan perasaanmu. Tujuanku sejak awal adalah menjodohkanmu dengan Fanny. Sedang perasaan Fanny. Kamu tahu sendiri Fanny sangat mencintaimu" Ucapan tuan Hadiwinata bagai sambaran petir untuk Kai.


Sungguh dia tidak mengira jika orang yang banyak berjasa dalam hidupnya. Ternyata orang yang sangat kejam. Tidak memperdulikan apapun asal keinginan dan tujuannya tercapai.


"Aku hitung sampai tiga. Jika kau tidak segera menandatangani berkas ini. Kekasih hatimu itu akan benar-benar hilang dari kehidupanmu"


Kai membulatkan matanya.


"Satu,"


Pistol itu semakin kuat menekan pelipis Natasya. Kai panik seketika.


"Dua"


Pelatuk sudah siap ditarik. Kai jelas kelabakan.


"Tiga! Lakukan dia menolak!" Perintah tuan Hadiwinata.


Bisa Kai lihat, jika pelatuk itu sudah separuh jalan ditarik.


"Apa yang harus aku lakukan?Aku tidak bisa melihatnya terluka karena aku" Batin Kai.


"Lakukan sekarang!" Perintah tuan Hadiwinata.


"Hentikan! Aku akan menuruti perintahmu!" Ucap Kai cepat.


Membuat tuan Hadiwinata menarik ujung bibirnya. Puas dengan hasil permainannya.


"Hentikan! Tinggalkan dia!" Perintah tuan Hadiwinata.


Bisa Kai lihat jika ujung pistol itu sudah tidak lagi ada di pelipis Natasya. Membuat Kai menarik nafasnya lega. Namun kemudian dia terkejut ketika melihat asisten tuan Hadiwinata masuk dari pintu sebelah kirinya. Jelas sekali jika dia baru saja menyimpan pistol di balik saku jasnya.


"Berarti Natasya ada di ruang sebelah" Batin Kai.


"Kau benar. Kekasih hatimu ada di ruang sebelah. Jangan khawatir dia masih dalam pengaruh obat tidur yang aku berikan. Tanda tangani ini. Setelah itu kau bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya" Ucap tuan Hadiwinata. Sedang sang asisten langsung menyiapkan berkas untuk Kai tanda tangani.


Yang langsung Kai tanda tangani. Tanpa ingin mengetahui apa isi dari berkas yang baru saja ia tanda tangani.


"Kau tidak ingin mengetahui isinya" Tanya tuan Hadiwinata.


"Apakah itu penting? Bahkan aku rasa hidup atau matikupun sekarang ada di tanganmu, tuan Wira Hadiwinata" Kilat kemarahan jelas terlihat di mata Kai.


"Kau benar. Jangan melihatku seperti itu. Kaizo Aditya, suatu hari kau akan berterima kasih kepadaku. Telah memilihmu menjadi pewarisku" Ucap tuan Hadiwinata.


"Aku tidak ingin hartamu!" Teriak Kai.


Tuan Hadiwinata hanya tersenyum.


"Aku izinkan kau menemuinya kali ini. Tapi setelah hari ini aku melarangmu menemuinya. Kau berani menemuinya, aku tidak segan akan melukainya" Ancam tuan Hadiwinata lantas bangkit dari duduknya. Keluar dari ruangan itu.


"Kau kejam tuan Hadiwinata!" Raung Kai.


Yang langsung jatuh berlutut. Bertumpu pada dua tangannya. Air mata turun deras di pipinya. Dia sadar sudah kehilangan segalanya dalam hidupku. Cinta dan kebebasannya. Semua sudah direnggut paksa darinya.


"Aku sungguh tidak berguna. Aku kehilangan Anna di masa lalu. Dan kini aku kehilangan Natasya. Kaizo Aditya kau sungguh tidak berguna!!" Rutuk Kai pada dirinya sendiri.


***


Up lagi readers,


Thank's sudah mampir,


Happy reading everyone,


Love you all 😘😘😘😘


*****