
Natasya tengah menatap takjub pada deretan foto yang ada di Ipad Kai. Mereka sudah selesai menjalani sesi foto prewedding mereka.
"Suka?" tanya Kai sambil memeluk tubuh Natasya dari belakang. Pria itu menempatkan wajahnya di ceruk leher sang kekasih. Sesekali menghirup aroma lavender dari tubuh sang kekasih.
Natasya mengangguk. Kai benar-benar menuruti semua keinginannya. Melakukan foto prewedding di tengah kebun bunga sakura. Bodo amat kalau orang menganggap dia kuno. Memilih latar foto prewedding di taman bunga sakura.
All kredit google.com
(Anggap saja prewedding Natasya sama Kai ya guys)
"Cantik" guman Natasya.
"Siapa? Apanya?" tanya Kai mulai mengendus leher Natasya.
"Semuanya. Kak....geli" ucap Natasya sambil menggeliatkan tubuhnya. Gerakan Natasya membuat tubuh keduanya bergesekan.
"Oh God. Kamu memancingku Ann" ucap Kai dengan suara serak. Hasratnya mulai terpancing.
"Kakak...." rengek Natasya yang membuat hasr** Kai semakin naik.
"Anna aku tidak bisa menahannya" ucap Kai lagi. Sedang Natasya masih asyik melihat hasil foto prewedding mereka.
"Minggu depan Kak" ujar Natasya santai.
Kai mendengus kesal. Lantas dengan cepat membalik tubuh Natasya. Membuatnya jatuh terlentang di tengah kasurnya.
"Aku benar-benar tidak bisa menahannya Ann" untuk ke sekian kalinya Natasya melihat mata Kai yang sudah diselimuti kabut gai***.
Kai baru saja akan mencium Natasya ketika pintu kamar Natasya terbuka tiba-tiba.
"Astaga, kalian ngapain?" tanya Jocelyn sambil menutup mulutnya.
Bukannya menyingkir dari atas tubuh Natasya. Kai malah balik menatap Jocelyn kesal.
"Timingmu salah Jo" kesal Kai.
Jocelyn melongo mendengar ucapan Kai.
"Jadi kau pikir akan meng-unboxing-nya sekarang" tanya Jocelyn tidak percaya.
"Kalau bisa aku lakukan sekarang. Pasti aku lakukan. Tapi kau menggangguku" kembali Kai mendengus kesal.
"Apa kabar kalian..." Edgard menggantung ucapannya. Melihat posisi Kai dan Natasya yang benar-benar wow.
"Aisshhh kalian benar-benar menyebalkan" ucap Kai. Menyingkir dari atas tubuh Natasya. Langsung masuk ke kamar mandi.
Membuat semua orang langsung tertawa terpingkal-pingkal.
"Kau benar-benar payah Kai" teriak Edgard.
"Aku dengar itu Ed" teriak Kai balik dari kamar mandi.
Jocelyn langsung memeluk Natasya.
"Bagaimana kabarmu putri kabur? Sungguh tidak menyangka kalau pelarianmu akan berakhir di Shanghai. Menikah di sini" ucap Jocelyn sambil mengusap air mata yang mulai turun di pipinya.
Natasya tersenyum mendengar ocehan Jocelyn.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih berkat kalian aku masih bisa melihat bunga sakura yang kuimpikan" ucap Natasya dengan mata berkaca-kaca.
"Kau berhak mendapatkannya Runaway Princess" ucap Edgard sambil mengusap lembut kepala Natasya.
"Hei jauhkan tanganmu dari calon istriku" geram Kai yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Hai cepat sekali kau" ledek Edgard.
Kai melengos mendengar ledekan Edgard.
"Perlu tips agar bisa tahan lama?" goda Edgard.
"Aku tidak perlu tips darimu. Aku bisa menghajarnya sepanjang malam. Bahkan membuatnya tidak bisa berjalan" ucap Kai pede.
Edgard menelisik penampilan Kai.
"Harusnya sih kamu bisa melakukan hal itu" ucap Edgard pada akhirnya.
"Kalian pada ngomongin apa sih" tanya Jocelyn melihat ekspresi Natasya yang tidak paham dengan penbicaraan dua pria kekar itu.
"Sudah kalian keluar sana. Aku mau kangen-kangenan sama si putri kabur ini" usir Jocelyn.
"Ada biaya konsultasinya Kak"
"Tidak masalah. Masih kurang ya kado dariku" kerling Kai.
"Kami belum jadi pergi ke Raja Ampat. Karena calon suamimu ini langsung menawari bulan madu ke sini. Sambil melihat pernikahanmu. Thank you kakak tiketnya sudah dibayarin" ucap Jocelyn sambil nyengir.
"Kalian sih datang kecepeten. Jadi nggak bisa sekalian bareng pesawat Luis yang menjemput yang lain. Biar gretongan gitu" gerutu Kai.
"Sultsn kok perhitungan" cebik Jocelyn.
"Nggak perhitungan nggak jadi sultan guys" jawab Kai tidak mau kalah.
"Kami punya jatah libur yang tidak kami ambil. Jadi kami mengumpulkannya jadi satu. Dapat dua minggu. Jadi puas deh di sini sambil keliling Shanghai" cerita Jocelyn lagi.
Sedang Edgard hanya mengusap sayang kepala sang istri.
"Bahagiakah?" tanya Natasya setelah kedua pria itu keluar dari kamar Natasya.
"Banget" jawab Jocelyn.
Natasya langsung mengembangkan senyumnya mendengar sahabatnya itu terlihat begitu bahagia setelah menikah dengan Edgard Subroto.
"Kamu tahu? Gara-gara kamu. Mereka bertiga memajukan pemberkatan mereka. Agar bisa sekalian bulan madu ke sini. Resepsi belakangan" info Jocelyn.
"Siapa?" tanya Natasya meskipun dia sudah bisa menebaknya.
"Alex, Evan dan Leo" jawab Jocelyn.
Natasya terkekeh mendengarnya.
"Evan dan Leo tidak masalah dengan pemberkatan dadakan. Lah yang tobat Alex. Dia menyewa puluhan bodyguard untuk mengamankan acara pemberkatannya" ujar Jocelyn.
"Maklum Mandy tengah tenar-tenarnya. Sama dengan Angela" tambah Jocelyn.
"Angela apa kabar?"
"Kabar baik. Dia senang sekali kamu undang ke pernikahanmu. Kebetulan sekali dia dapat libur tiga hari setelah bekerja keras menyelesaikan seluruh pekerjaannya"
"Sorry. Itu ulahnya. Ingin menikah dalam minggu ini" keluh Natasya.
"Kau tahu kan berapa lama dia menunggu untuk hari ini"
Natasya mengangguk.
"Berbahagialah. Setelah semua drama yang kamu alami tidak hanya kamu tonton. Kamu berhak untuk bahagia" ucap Jocelyn. Menatap dalam wajah Natasya.
Kembali Natasya mengembangkan senyumnya. Merengkuh tubuh Jocelyn dalam pelukannya.
"Terima kasih sudah berada di sisiku selama ini. Saat susah dan senang. Kamu dan kalian selalu berada di sampingku. Terima kasih" ucap Natasya dalam pelukan Jocelyn.
Jocelyn menepuk-nepuk pelan punggung sahabatnya itu. Membiarkan sang sahabat menumpahkan segala rasa yang ada dihatinya.
"Sudah. Lupakan kemarin. Berbahagialah untuk hari esok" ucap Jocelyn sambil tersenyum. Natasya mengangguk. Dan malam itu mereka habiskan untuk bercerita. Setelah hampir dua bulan tidak bertemu.
***
Hari pernikahan semakin dekat. Semua keluarga dari Indonesia sudah datang. Kedua kakek Natasya. Tiga pasang pengantin baru. Nadya. Angela dan Jason. Justin meluncur langsung dari Singapura.
Hera langsung berlari memeluk Natasya begitu melihat gadis itu menyambut di pintu utama rumah keluarga Liu. Tangis haru dan bahagia tidak dapat mereka sembunyikan.
Terlebih Hera. Mereka sudah bersama sejak duduk di bangku SMP. Sampai bisa membeli rumah patungan. Yang kini dilimpahkan untuk ditempati Hera dan Evan.
"Oh my God. Aku sangat bahagia. Bolehkah aku menangis lagi" ucap Hera yang langsung masuk ke dalam pelukan Natasya. Kembali menumpahkan air matanya di sana.
Sedang yang lain hanya memandang haru pemandangan itu.
"Berbahagialah. Mantan istri abal-abalku" ucap Evan yang langsung mendapat pelototan dari Kai.
"Slow Bro. Ngegas mulu bawaannya" oceh Alex.
"Kalian bisa ngomong begitu. La aku? Ditolak mulu" gerutu Kai.
"Sabar, sabar...." ucap Natasya. Sambil mengedipkan matanya.
"Lihat dia. Kalau banyak orang berani menggoda. Tapi kalau sendiri kayak apa ya? Pokoknya lari mulu deh dari tanggung jawab" jelas Kai membuat Natasya menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Hera.
"Kalian lihat itu" ujar Kai lagi.
Semua tertawa melihat tingkah calon pengantin itu. Sedang Natasya langsung memanyunkan bibirnya.
Makan malam hari itu terasa begitu meriah. Semua orang nampak berbahagia. Rumah utama tampak hidup setelah berpuluh tahun terasa sepi.
Apalagi di bagian lain dari rumah utama itu. Persiapan pernikahan Kai dan Natasya terus dilakukan. Mengingat dalam dua hari. Pesta pernikahan Tuan Muda mereka akan di adakan secara besar-besaran dan meriah.
*****