You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 62



Kai berjalan tergesa-gesa menuju kamar rawat Natasya. Dia langsung membuka pintu dan masuk. Namun dia melongo tidak mendapati siapapun didalam sana. Hanya seorang perawat yang tengah membereskan peralatan medis yang tersisa.


"Pasien yang di sini ke mana, Sus?" Tanya Kai.


"Oh sudah keluar pagi ini, Pak" Jawab perawat itu.


Kai mengerutkan dahinya. Melirik jam tangannya. Dia pikir dia tidak terlambat untuk memjemput gadis itu.


Kemudian satu nama terlintas di pikirannya. Dia langsung melesat keluar dari kamar itu. Membuat perawat itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Jo, dimana Anna?" Tanya Kai begitu melihat Jocelyn di salah satu lorong rumah sakit itu.


"Dia sudah pulang dari tadi pagi. Aku pikir kamu yang menjemputnya. Aku memang tidak mengantarnya ke depan karena aku ada pasien urgent. Kenapa?" Tanya Jocelyn.


Kai terbengong. Lantas kemudian mencoba menghubungi nomor Natasya. Tidak aktif.


"Aku pergi dulu kalau begitu" Pamit Jocelyn sambil berlalu dari sana. Membuat mimik wajah sebiasa mungkin.


"Bisa-bisanya gadis tengil itu melibatkanku dalam permainannya. Uuhh orang itu bisa membunuhku jika dia tahu aku ikut terlibat" Batin Jocelyn.


Kembali ke masa kemarin,


"Kamu yakin mau melakukannya lagi?" Jocelyn bertanya.


"Maksudmu?" Natasya bertanya balik.


"Kabur lagi darinya"


"Aku tidak kabur, Jo. Aku menenangkan diri"


"Dengan tidak memberitahunya? Itu sama saja kamu kabur darinya. Dia sudah menyiapkan tiket liburan kalian ke Shanghai kamu tahu tidak?"


Natasya terdiam.


"Tapi aku ingin sendiri dulu"


"Apalagi sih yang kamu pertimbangkan. Kurang apalagi coba dia itu?"


Kembali Natasya terdiam.


"Sebentar saja Lyn, please" Mohon gadis itu.


Dan Jocelyn hanya bisa menarik nafasnya lega.


"Ini" Natasya memberikan cincin pemberian Kai. Cincin bermata berlian pink.


"Apalagi ini"


"Bilang saja petugas kebersihan yang menemukannya lalu memberikannya padamu. Aku tidak mau dia melacakku lewat cincin itu"


"Astaga Sya, kamu benar-benar ingin menghilang kali ini?"


"Sebentar saja please" Natasya memohon.


"Lalu kamu mau ke mana?"


"Rahasia"


"Natasya!!!"


Jocelyn menarik nafasnya dalam.


"Dia benar-benar akan akan membunuhku kali ini" Ucap Jocelyn membuat Natasya terkekeh.


Kembali ke masa sekarang


Setelah gagal menghubungi ponsel Natasya. Kai lantas menghubungi rumah keluarga Atmaja. Dan jawabannyapun sama. Nona muda mereka belum sampai ke rumah itu.


Rumah Hadiwinata? Tidak mungkin gadis itu kembali ke sana. Lalu kemana gadis itu pergi. Nadya baru mengirim pesan bertanya apa kakaknya sudah pulang atau belum.


Menandakan kalau dia juga tidak tahu kakaknya ada di mana. Hingga akhirnya dia menghubungi salah satu anak buahnya.Menyuruh mereka mencari keberadaan Natasya.


Kai cukup khawatir dengan keadaan Natasya. Meski secara medis dia sudah dinyatakan sembuh. Tapi dia memerlukan perhatian lebih soal kesehatannya.


Pada akhirnya Kai seharian ini hanya berkeliling Jakarta dan sesekali pergi ke tempat yang mungkin saja disinggahi gadis itu.


Di sisi lain,


Seorang gadis cantik memakai kaos berwarna putih dan celana kain berwarna pastel. Tampak berdiri di pintu keluar sebuah stasiun kereta api.



Kredit pinterest.com


Ya, gadis cantik itu adalah Natasya. Setelah tadi pagi dia keluar dari rumah sakit. Dia langsung melajukan mobilnya ke Stasiun Jatinegara. Dia meminta Evan mengantarkan mobilnya ke rumah sakit. Dengan dalih ingin jalan-jalan sebentar sebelum pulang ke rumah kakek Atmaja-nya.


Pada akhirnya mobilnya itu ia tinggalkan di area parkir Stasiun Jatinegara. Sedang dirinya langsung membeli tiket. Tujuan Surabaya. Dia juga telah membuang sim card miliknya. Keterlaluan mungkin sikapnya itu.


Tapi dia benar-benar ingin menikmati waktunya sendiri. Dia tahu Kai dan yang lainnya akan kembali mencemaskan dirinya. Tapi biarlah dia akan menerima kemarahan mereka nanti.


Setelah beberapa jam menikmati perjalanan menggunakan kereta. Transportasi yang sangat ingin dia naiki dari dulu. Baru kesampaian hari ini. Entah kenapa, Natasya turun begitu saja di stasiun kecil dengan tulisan Stasiun Wates, Kulon Progo. Yogyakarta.



Kredit google.com


Dia cuma tahu Yogyakartanya saja. Lain dia tidak tahu. Dia menghirup dalam-dalam nafasnya. Segar sekali rasanya. Lalu dia tersenyum.


"Let's the adventure begin"


(Ayo kita mulai petualangannya)


Natasya mulai berjalan ke luar dari stasiun kecil itu. Dia terlihat sangat santai. Sosok cantiknya banyak mengundang perhatian orang. Baik yang lewat atau yang sekedar berada di sekitar daerah sana.


Saat berikutnya. Natasya melihat seorang nenek yang terlihat kebingungan setelah diturunkan dari sebuah bus.


"Ngapunten nggih, mbah keliwatan"


(Maaf ya mbah terlewat)


"Nek, nenek mau ke mana?" tanya Natasya lirih.


Sesaat nenek itu hanya memandang Natasya. Mungkin curiga. Orang baik atau jahat mungkin begitulah pikir nenek itu. Seolah tahu dengan isi pikiran nenek itu. Natasya tersenyum.


"Saya bukan orang jahat Nek. Saya baru saja turun di stasiun itu" Sapa Natasya lagi.


Kembali nenek itu terdiam. Mungkin masih berpikir.


"Nenek mau ke pasar itu. Tapi naik bis tadi malah kebablasan. Keneknya lali (lupa) nurunke Nenek di pasar" Jawab nenek itu dengan bahasa Indonesia bercampur jawa. Membuat Natasya tersenyum.


"Terus ini neneknya masih mau ke pasar itu?" Tanya Natasya.


"La iyo to. Nenek mau kulakan (belanja) buat warung nenek" Jawab nenek itu.


"Kalau gitu tak anter aja. Sekalian saya jalan-jalan. Mau jalan kaki atau naik bis lagi" Tanya Natasya antusias.


"La emang mbaknya mau ke mana?" Nenek itu malah balik bertanya.


"Saya tidak tahu mau ke mana. Saya cuma pengen liburan. Habis ini paling saya mau nyari penginapan" Jelas Natasya.


"Ooo kalau jalan kaki jauh nduk (panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa jawa). Nanti nduknya capek. Kalau bis gak ada yang lewat sini" Jelas Nenek itu.


"Terus mau jalan?" Tanya Natasya.


"Naik becak nduknya mau?" Tanya nenek itu.


Natasya langsung mengangguk antusias.


Beberapa waktu kemudian kedua wanita beda usia itu sudah duduk di sebuah becak. Yang dikayuh oleh seorang pria paruh baya.


Natasya sedikit tidak tega ketika orang itu harus mengayuh becaknya dengan dia dan Nek Lastri duduk didalamnya.


Keduanya sudah saling berkenalan. Dan Natasya menggunakan nama Anna.


"Hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilku dengan nama itu. Ah kenapa jadi rindu dengannya" Batin Natasya.


"Nek nggak kasihan apa sama bapaknya. Kayaknya dia keberatan deh bawa kita" Bisik Natasya lirih.


"Kita ini sudah enteng nduk. Coba lihat itu" Sahut nek Lastri sambil memandang ke sisi kirinya.


Natasya langsung menutup mulutnya. Melihat seorang tukang becak dengan seorang penumpang yang bobotnya mungkin lebih dari 80 kilo.


"Itu sudah resiko pekerjaan nduk. Kita harus menjalaninya"


Natasya mengangguk.


Mereka akhirnya turun di sebuah pasar tradisional yang cukup besar. Setelah sedikit berdebat dengan tukang becaknya. Karena Natasya membayar becak itu dengan uang ratusan ribu. Dan menolak kembaliannya. Tukang becak itu hanya menarik ongkos 40 ribu. Karena mereka cuma lima belas menit naik becaknya.


Perdebatan itu berakhir setelah nek Lastri menengahi. Menyuruh tukang becak itu menerimanya.


"Anggap saja rezeki pak" ucap Nek Lastri.


"Rezeki banget mbah. Sudah yang naik cantik baik lagi. Semoga enteng jodoh ya mbak" Ucap tukang becak itu.


Natasya terkekeh mendengar doa sang tukang becak itu.


"Jodoh? Entahlah"


Pikirannya kembali melayang pada Kai. Duh kok malah rindu sih.


Sementara itu. Yang dipikirkan Natasya tengah melajukan kuda jingkraknya menuju stasiun Jatinegara. Setelah anak buahnya melapor telah menemukan mobil Natasya di parkiran stasiun itu.


"Dimana mobilnya?" Tanya Kai.


"Itu Bos" Jawab anak buahnya.


Dan Kai dengan cepat menuju Honda Brio Natasya.


"Benar ini mobilnya"


Ceklek, Kai membuka pintunya. Tidak dikunci. Gadis itu meninggalkan mobil beserta kuncinya. Dia pasti sengaja. Begitulah pikir Kai.


"Kalian sudah mencarinya"


"Sudah Bos. Dia tidak ada dimanapun. Hanya ada satu kemungkinan. Dia pergi dengan kereta" Info anak buahnya itu.


"Jadi ini bukan penculikan kan?" Tanya Kai.


"Saya rasa bukan. Maaf jika kami lancang. Kami menemukan ini di dashboard mobil Nona Natasya"


Kai menerima secarik kertas. Dengan seuntai kalimat yang ditulis dengan tulisan tangan.


"Aku ingin menenangkan diri sebentar. Jangan khawatir. Aku mencintaimu. Anna"


Kai terdiam. Itu memang tulisan tangan Natasya.


"Oke jika itu yang kamu inginkan. Aku akan menunggumu pulang" Ucap Kai.


"Hentikan pencarian. Bawa mobilnya kembali ke kediaman Atmaja" Perintah Kai.


Dan anak buahnya langsung mengangguk tanda mengerti.


"Baik akan aku beri waktu kau dua minggu. Lebih dari itu. Jangan salahkan aku jika aku akan menyeretmu pulang" Batin Kai.


Lantas masuk ke Ferrari 458-nya dan melajukannya ke kediaman Atmaja.


***


Up lagi readersku tercintah,


Jangan lupa ritualnya ya readersku,


Happy reading semua,


Love you all 😘😘😘


**