
"Kamu tahu? Satu hal yang tidak pernah aku sesali dalam hidupku. Bertemu denganmu dan mencintaimu. Kak Kai"
Satu kalimat terlintas di kepala Natasya.
Sedang tubuhnya dan Luis meluncur begitu cepat menuju dasar air terjun.
"Gadis ini benar-benar nekat.Sudah tahu dia tidak bisa berenang. Juga takut ketinggian. Masih saja keras kepala" Batin Luis.
Pria itu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Natasya. Berusaha membuat tubuhnya terlebih dahulu yang masuk ke air.
"Tasya dengarkan. Ambil nafas sebanyak yang kamu bisa. Begitu aku memberitahumu" Ucap Luis cepat. Sekilas di melirik ke bawah.
"Sekarang" Teriak Luis.
Entah kenapa Natasya menuruti ucapan Luis. Dia menghirup oksigen sebanyak yang dia bisa. Pun dengan Luis.
Dan byuuuurrrrrr,
Tubuh Luis dan Natasya langsung masuk ke kedalaman dasar air terjun. Dengan punggung kokoh Luis terlebih dahulu menyentuh air.
Rasa panas dan perih langsung terasa dipunggung Luis. Begitu ia berbenturan dengan permukaan air. Rasanya sama dengan dihajar menggunakan balok kayu.
Begitu masuk ke air. Pelukan Luis pada Natasya terlepas. Membuat Luis dengan panik mencari keberadaan gadis itu.
Beruntungnya gadis itu berada tidak jauh darinya. Secepat kilat dia berenang mendekat. Meraih tubuh Natasya. Pelan dia menepuk-nepuk wajah Natasya. Mata gadis itu setia terpejam. Tanpa ada tanda-tanda ingin membukanya.
"Tidak mungkin dia kehabisan oksigen kan?" Batin Luis.
Namun mengingat kalau Natasya sama sekali tidak bisa berenang. Tidak tahu teknik pernafasan saat berenang. Bukan hal yang mustahil jika gadis itu kehabisan oksigen.
Perlahan Luis menangkup kedua pipi Natasya. Detik berikutnya bibir Luis sudah bertaut sempurna di bibir Natasya. Menyalurkan sisa oksigen yang dia punya. Sedangkan dua kaki Luis terus bergerak. Mendorong tubuh keduanya semakin mendekat kepermukaan air.
"Haaaaahhhhh"
Luis langsung menghirup oksigen sebanyak yang dia bisa. Begitu dia dan Natasya muncul dipermukaan air.
"Sya, Tasya buka matamu. Sya..." panggil Luis tetap menepuk-nepuk lembut pipi gadis itu. Tidak ada pergerakan sama sekali.
Sekali lagi Luis memberikan nafas buatan pada Natasya. Hingga perlahan gadis itu membuka matanya. Dengan wajah terlihat pucat membiru. Natasya sedikit tersedak. Ketika banyaknya air yang masuk melalui mulutnya.
Raut wajah ketakutan langsung terukir di wajah pucat gadis itu.
"Tidak apa-apa aku disini" Luis menenangkan.
Luis semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Natasya. Perlahan membawa tubuh lemah itu menepi. Sedang Natasya langsung merapatkan tubuhnya ke tubuh Luis. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu.
Begitu keluar dari air. Luis langsung menggendong tubuh Natasya. Beberapa anak buahnya langsung menempelkan handuk ke tubuh keduanya. Lantas membimbing tuannya. Menunjukkan jalan pulang ke vila.
Setengah jam kemudian mereka tiba di vila. Tubuh Natasya terasa dingin di kulit Luis.
"Ada apa ini?" Tanya profesor Huang dan Alena yang menyambut mereka di depan pintu.
Bertanya-tanya mengenai keadaan dua orang itu yang sama-sama basah kuyup. Dengan wajah Natasya yang sudah seputih kapas.
"Dia nekat nyemplung ke air terjun" Jawab Luis sembari membaringkan tubuh Natasya di sofa.
"Alena tolong kau gantikan bajunya" Perintah Luis.
Dia sendiri harus segera mengganti pakaiannya sendiri. Dia keluar dari kamar Natasya. Masuk ke kamarnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya profesor Huang yang main nyelonong masuk ke kamar Luis.
Dan hasilnya dia langsung mengumpat kesal. Melihat Luis yang asal melepas pakaiannya di depan profesor Huang.
"Astaga Luis. Punya malu lah sedikit" Umpat pria paruh baya itu.
"Malu dengan apa? Aku punya tubuh sempurna. Buat apa aku malu" Jawab Luis tanpa dosa.
Perlahan mulai memakai pakaiannya. Mulai dari dalaman sampai yang terakhir. T shirt polo berwarna hitam. Dan selama itu pula profesor Huang menghadap ke dinding. Tidak ingin melihat tubuh polos Luis walau mereka sama-sama pria.
"Sudah" Ucap Luis.
"Apa yang terjadi sampai dia nyemplung ke air terjun. Kau bilang dia tidak bisa berenang. Takut ketinggian" Kepo profesor Huang.
Luis menarik nafasnya pelan.
"Dia marah. Dia mendengar pembicaraan kita tadi pagi" Jawab Luis. Keluar dari kamarnya menuju dapur. Ingin meminta sesuatu yang hangat. Dia juga merasa kedinginan sebenarnya.
"Lalu?"
"Ya dia marah. Dia bilang aku gila. Menjijikkan, mengerikan. Wuiihh mulutnya pedas sekali jika sudah memakiku" Tambah Luis. Mulai duduk di kursi ruang makan. Menunggu pelayan membuatkan keinginannya.
"Bagus sekali. Akhirnya ada juga yang berani melawanmu" Balas profesor Huang girang. Yang langsung mendapat pelototan mata dari Luis.
"Kau ini..."
Luis tidak melanjutkan perkataannya. Lebih memilih untuk segera menikmati teh panas miliknya.
Pria itu masih menikmati teh-nya. Ketika Alena datang dengan wajah panik luar biasa.
"Tuan..tuan Luis. Nona Natasya dia... dia..."
"Nona sepertinya demam. Dan dia terus mengigau" Balas Alena cepat.
Dan detik berikutnya pria itu langsung melesat naik ke lantai dua. Langsung masuk ke kamar Natasya. Dan mendapati gadis itu terlihat lemah. Wajahnya terlihat pucat. Namun ketika Luis menyentuh lengan gadis itu. Dirinya langsung menjengit.
"Aahh panas" Gumamnya. Tangannya seperti menyentuh bara api.
"Ada apa?" Tanya profesor Huang.
"Dia beneran demam" Luis menjawab.
Profesor Huang ikut menyentuh dahi Natasya.
"Dia demam Luis. Dan kita tidak punya obat di sini. Paracetamol biasa tidak akan mampu menurunkan demamnya" Profesor Huang ikut panik.
"Kak..Kak Kai..." Natasya mulai mengigau.
"Dari tadi nama itu yang terus dipanggilnya" Ucap Alena cepat.
"Kai? Siapa dia?" Tanya profesor Huang.
Luis menarik nafasnya dalam.
"Tunangannya. Kakak sepupuku" Sahut Luis singkat.
"Kakak sepupumu bukannya bernama Eric" Profesor Huang makin kepo.
"Itu nama Indonesianya. Kaizo Aditya. Sudah itu tidak penting. Sekarang yang penting bagaimana menurunkan demamnya secepat mungkin" Luis mengalihkan pembicaraan.
Dia begitu malas membicarakan soal sepupunya yang tak lain adalah Kai.
"Hanya ada satu cara untuk menurunkan demamnya dengan cepat. Tanpa obat sebab jelas kita tidak memilikinya"
"Apa itu?" Kepo Luis.
"Metode penyerapan panas skin to skin method" Jawab Profesor Huang.
Luis langsung menatap tajam dokter didepannya itu.
"Aku serius Luis. Demamnya ada di kisaran 39 derajat. Kita juga tidak punya termometer kan? Dan itu harus segera diturunkan. Kalau tidak bisa terus naik apalagi ini..." Profesor Huang langsung membuang selimut tebal yang menutupi tubuh Natasya.
"Sorry, Prof tidak tahu" Ucap Alena takut.
"Bagaimana kalau merendamnya di air dingin" tanya Luis.
"Dia akan kedinginan dan demamnya bisa bertambah tinggi"
Luis terdiam.
"Kalau kau tidak mau aku saja. Atau Alena yang sama-sama perempuan" Pancing profesor Huang.
Dan seolah serius dengan ucapannya. Profesor Huang mulai mendekati ranjang. Membuat Luis langsung memegang kerah belakang baju profesor Huang.
"Mau apa kau?" Tanya Luis kesal.
"Mau melakukan itu...."
"Biar aku saja" Sahut Luis cepat.
Profesor Huang menyeringai. Sedikit tersenyum.
"Alah bilang saja tidak rela tubuh gadisnya aku sentuh. Eh salah orang gadis itu tunangan Eric. Bisa-bisanya kau jatuh cinta pada tunangan orang" Batin profesor Huang.
"Kalian keluarlah" Perintah Luis.
"Setengah jam saja sudah cukup. Pastikàn kulitnya menempel sempurna ke kulitmu untuk hasil yang maksimal. Ah dan jangan melakukan hal yang lebih dari itu" Profesor Huang memperingatkan.
"Aku tahu. Cepatlah keluar!" Perintah Luis.
Sedang Alena tampak enggan untuk keluar dari kamar.
"Bisakah saya tinggal disini. Mungkin Tuan membutuhkan bantuan saya" Alena berusaha agar bisa tinggal di sana.
"Dia tidak membutuhkan apapun Alena. Ayo kita cepat keluar" Ajak profesor Huang.
Perlahan mendorong tubuh Alena keluar kamar.
"Tapi..Prof" Tolak Alena.
Namun tak urung diapun terdorong keluar oleh tarikan Profesor Huang.
Ceklek,
Pintu tertutup. Luis menatap Natasya yang tengah berbaring miring. Sedikit memeluk tubuhnya sendiri. Bibirnya tak henti merintih.
Perlahan Luis mendekat. Tangannya mulai melepas kaosnya sendiri. Juga celananya. Menyisakan boksernya saja. Perlahan pria dengan tubuh setengah polos itu naik ke ranjang. Dimana Natasya bergelung menahan demam di tubuhnya.
Direngkuhnya tubuh lemah itu dalam pelukannya. Menempatkannya pada tempat paling nyaman. Sebelum perlahan jari Luis mulai membuka satu persatu kancing piyama Natasya.
***