You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 104



"Kamu yakin akan melakukannya?"


Seorang gadis muda menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Tidak ingin memberitahunya?"


Kembali gadis itu menggeleng.


Profesor Huang menghela nafasnya dalam. Pun dengan gadis itu, yang tak lain adalah Alena.


"Kamu bisa dituduh mencuri oleh Luis karena melakukan hal ini"


"Aku akan pergi setelah ini. Aku akan mengundurkan diri dari pekerjaanku"


"Kau pikir dia tidak bisa menemukanmu"


Alena menelan ludahnya.


"Tapi Prof jika dia tidak segera dipindahkan kita akan kesulitan nantinya. Sedang tuan Luis sepertinya masih belum menemukan kandidatnya dan sepertinya dia masih fokus pada tunangan Tuan Muda"


"Kau cemburu?"


Cemburu? Bahkan aku tidak punya hak untuk hal itu?


Alena menundukkan kepalanya. Airmata perlahan menetes dari kedua bola matanya. Profesor Huang kembali menghela nafasnya.


"Cinta benar-benar memusingkan" keluh profesor Huang.


"Sudahlah Profesor. Lakukan saja prosedur pemindahannya sekarang"


"Kau yakin? Dia bukan anakmu perlu kau ingat itu"


"Dia akan jadi anakku. Karena dia akan tumbuh di rahimku"


"Kau tidak akan menyesal. Seorang gadis hamil bahkan ketika dirinya masih bersegel"


Alena mengangguk. Dia sudah siap dengan segala resikonya. Termasuk kebencian yang mungkin akan ia dapat dari orang yang dicintainya, Luis.


"Baiklah jika kau sudah bulat dengan keputusanmu. Naiklah. Kita akan memulai prosedur pemindahannya"


"Satu lagi Profesor. Jangan katakan jika aku yang menjadi kandidatnya. Katakan saja jika janinnya meninggal atau mengalami kegagalan"


Profesor Huang mengerutkan dahinya. Lantas menganggukkan kepalanya.


"Apa rencanamu setelah ini?"


"Aku mungkin akan pulang ke Anhui"


****


Natasya tengah berjalan- jalan di taman yang ada di rumah keluarga besar Liu.



Kredit Instagram @jjoo_kkyu


"Cantiknya" beberapa kali kata itu terucap dari bibir mungilnya.


Dia cukup bosan berada di dalam kamarnya.Hingga memutuskan untuk keluar berjalan-jalan. Kai dan Thomas keluar untuk suatu keperluan. Sedang rumah utama sedang sibuk karena kedua paman Kai pindah hari ini ke rumah utama. Pun dengan Luis.


Sedang Steven memang sudah tinggal di sini dengan Lin Qian, sang istri sejak mereka menikah. Ditambah dengan Thomas yang memang diperintahkan oleh Kai untuk tinggal di rumah itu.


Pikiran Natasya melayang kembali ke hari di mana ia untuk pertama kali bertemu dengan kedua paman Kai. Tidak menyangka jika mereka mengenal kakeknya. Tuan Surya Atmaja. Bahkan mereka berteman sejak dulu.


"Dunia ini sempit sekali ya. Jauh-jauh ke Indonesia dapatnya cucu si biang kerok itu" seloroh ayah Steven kala itu.


Dan mereka pun kala itu langsung asyik bercerita tentang keusilan sang kakek di masa lalu. Membuat Natasya langsung melakukan crosschek dengan sang kakek. Yang sama sekali tidak mendapat bantahan.


Natasya tersenyum mengingat hal itu. Dia berjalan sambil meletakkan tangannya di atas bunga-bunga yang sedang bermekaran. Tanpa sadar seseorang menatapnya dari kejauhan sejak tadi.


"Cantik..." satu kata itu terlontar dari bibir seksi Luis.


Dia sejak tadi memperhatikan Natasya dari jendela kamarnya. Dia ikut pindah ke rumah itu. Dan memilih kamar yang langsung menghadap ke taman di rumah itu. Gadis itu terlihat semakin cantik dengan gaun berwarna pink. Warna kesukaan gadis itu. Setahu Luis.



Kredit Instagram @ dresseslovesco


Ingatannya kembali ke beberapa hari yang lalu. Kala itu dia melihat Natasya yang tengah merendam kakinya di kolam di taman rumah keluarga itu.


Flashback on,


"Itu dilarang Nona" ucap Luis.


Sedang yang diajak bicara hanya cuek sambil terus memainkan kakinya di dalam air.


"Aku sudah bertanya. Katanya tidak apa-apa"


"Mereka mana berani melawanmu. Kau kan calon nyonya rumah mereka"


"Eh?"


Sejenak Natasya berpikir.


"Kan nyonya rumahnya bukan cuma aku. Ada kak Lin Qian. Ada Alena. Lagipula aku belum menikah dengan kak Kai"


"Apa maksudmu menyebut Alena akan jadi nyonya di rumah ini?"


"Ya kalau kamu menikah dengannya. Dia kan juga akan jadi nyonya rumah di sini"


Luis yang tadinya berdiri. Langsung berjongkok menyamakan diri dengan tinggi Natasya yang tengah duduk sambil terus memainkan kakinya di dalam kolam.


"Aku tidak mengaturmu tuan gila. Hanya memberimu rekomendasi. Siapa sih yang betah menghadapimu selain Alena. Aku saja seminggu kau culik berapa kali aku mencoba kabur darimu. Percayalah tidak akan ada yang sabar berada di dekatmu selain Alena" ucap Natasya sambil tiba-tiba memalingkan wajahnya ke arah Luis.


Sontak Luis terkejut seketika. Mendapati wajah Natasya hanya beberapa senti dari wajahnya. Jantung Luis serasa bermaraton puluhan kilometer. Sedang Natasya dengan cueknya mendorong dada Luis hingga pria itu terjengkang.


"Kau...."


"Jangan dekat-dekat nanti ada yang lihat. Lalu salah paham"


Luis jelas membeku mendengar ucapan Natasya.


"Gadis ini benar-benar tidak memiliki perasaan apapun kepadaku" batin Luis.


"Kejar dia sebelum kamu menyesal karena kehilangannya" kalimat terakhir yang Natasya ucapkan. Sebelum kembali asyik dengan kedua kakinya.


Flashback off


Luis masih terus menatap Natasya yang masih berjalan-jalan di taman bunga itu.


Hingga bunyi ponselnya mengalihkan perhatiannya.


"Ya Chen. Ada apa?"


"..."


"Apa maksudmu mengundurkan diri?"


"...."


"Sudah mencarinya"


"...."


"Profesor Huang?"


"..."


"Aku akan ke sana"


Ucap Luis lantas melesat keluar dari kamarnya. Langsung meraih kunci mobilnya.


Di sisi lain,


Seorang gadis tampak melangkah terseok-seok sambil menyeret koper kecilnya. Dia tampak memasuki sebuah terminal bus di pusat kota Shanghai. Suasana nampak begitu ramai. Membuat gadis itu terlihat begitu susah untuk bergerak.


Gadis itu Alena. Wajahnya nampak begitu pucat. Tubuhnya terasa begitu lemas. Sudah hampir dua minggu ini dia merasakan hal itu. Dia akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota asalnya, Anhui. Berniat melanjutkan hidupnya di sana. Surat pengunduran diri sudah ia kirimkan kantor Luis seminggu yang lalu.


"Oh, seperti inikah rasanya hamil" gumannya kala pertama kali mengalami hal itu.


Dia sudah membaca beberapa artikel soal kehamilan dan memang seperti itulah katanya ketika orang sedang hamil. Padahal Profesor Huang sudah memberikan obat anti mual padanya.


Tapi kenyataannya. Obat itu tidak membatu sama sekali.Seminggu ini tubuhnya benar-benar memberikan reaksi atas kehamilannya. Dia mengalami muntah-muntah yang cukup hebat sejak seminggu yang lalu. Dia kehilangan nafsu makannya secara drastis. Puncaknya empat hari yang lalu dia harus mendapat infus di laboratoriun profesor Huang.


Keadaannya sangat lemah. Meski janinnya baik-baik saja.


"Sebaiknya kau memberitahu Luis. Kehamilanmu ini cukup parah. Kau membutuhkannya untuk mendampingimu. Lagipula itu memang anaknya Luis" bujuk profesor Huang kala itu.


Tapi Alena kekeuh menolak untuk memberitahu Luis. Pria itu jelas akan marah dengan tindakannya.


Perlahan Alena mendudukkan dirinya di kursi tunggu. Menunggu bus yang akan membawanya pulang ke Anhui. Dia sesekali mencium aroma Lavender dari botol kecil yang dibawanya.


Entah kenapa rasa mualnya berkurang ketika mencium aroma lavender.


"Apa kamu suka bunga levender? Aku pikir mamamu suka dengan bunga lily" guman Alena sambil menyentuh pelan perutnya.


Sedikit tidak percaya kalau dirinya hamil.Bahkan ketika dirinya belum pernah disentuh oleh pria manapun.


"Kita akan pulang ke Anhui ya. Ke tempat Mama. Maaf Mama melakukan ini karena Mama takut, Papamu akan marah jika tahu mama mengambilmu tanpa izin" guman Alena lagi.


Dan entah kenapa. Alena merasa sangat menyayangi janin yang kini berada di dalam rahimnya. Padahal jelas itu bukan anaknya. Alena masih menunggu busnya yang kemungkinan akan datang dalam waktu sepuluh menit lagi.


Hingga ekor matanya menangkap mobil sport berwarna putih yang memasuki kawasan terminal itu. Dibelakangnya ada sebuah mobil hitam yang mengikutinya.


Alena langsung menutup mulutnya tidak percaya. Perlahan berlalu dari sana. Mencoba menjauh dari tempat itu.


"Kenapa dia bisa menemukanku begitu cepat" gumannya sambil bersembunyi di balik tembok.


Alena jelas tahu pemilik mobil sport putih itu. Dia tak lain adalah Luis.


"Cari dia sampai ketemu" perintah Luis yang terdengar sampai ke telinga Alena.


"Alamak, bagaimana ini? Aku harus lari. Tapi ke mana?" guman Alena.


Seketika dia melihat banyaknya pria berseragam hitam yang berada di sana. Berbaur dengan banyaknya penumpang lain. Mencoba mencari apa yang tuannya inginkan.


Alena mencoba berjalan menjauh. Ketika dia melihat celah. Berjalan cukup pelan karena posisi Luis berdiri hanya beberapa meter darinya. Dia merapatkan maskernya berharap tidak ada seorangpun yang mengenalinya.


"Oh maafkan Mama sayang. Harus membawamu lari dari papamu" batin Alena. Perlahan dia berjalan semakin menjauhi Luis.


"Bagaimana?" tanya Luis.


"Dia masih ada di sekitar sini. Belum meninggalkan tempat ini" lapor Chen.


"Cari dia sampai dapat. Beraninya dia mengambil milikku lalu berniat kabur dariku. Jangan harap dia bisa pergi dariku" perintah Luis.


Chen langsung menghilang dari hadapan Luis. Hingga tiba-tiba Luis mencium harum aroma Lavender. Membuat pria itu berbalik. Bersamaan dengan suara seorang wanita menjerit pelan karena tertabrak.


"I got you!" ucap Luis sambil menyeringai.


****