You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 45



Hari pernikahan tiba, Kai sudah bersiap di apartemennya. Mengenakan jas pengantin berwarna hitam. Terlihat sangat tampan, namun tidak ada raut kebahagiaan sama sekali di wajah tampannya.



Kredit google.com


Bahkan pertanyaan dari MUA yang didatangkan untuknya yang menanyakan kenapa dia memilih jas berwarna hitam, padahal gaun pengantinnya berwarna putih. Dengan lantang Kai menjawab karena dia tengah merayakan hari kematiannya.


Membuat sang MUA langsung kicep tidak mau berbicara lagi. Sampai dia selesai membantu Kai bersiap.


Pria itu kini tengah memandang keluar dari jendela apartementnya. Menunggu Leo untuk menjemputnya. Satu tangannya menggenggam secarik kertas. Secarik kertas yang ditinggalkan Natasya terakhir kali dia datang berkunjung ke apartementnya.


"Let's not meet again"


(Mari untuk tidak bertemu lagi)


Bunyi tulisan itu. Kai tidak menemukan Natasya dipelukannya ketika dia membuka matanya keesokan harinya. Padahal semalam jelas jika gadis itu tidur dalam pelukannya. Hanya secarik kertas bertuliskan pesan agar mereka tidak bertemu lagi.


Membuat Kai benar-benar kecewa dengan gadis itu. Kenapa dia lebih memilih menderita demi kebahagiaan orang lain.


Dia menghela nafasnya pelan. Saat dia mendengar pintu apartemennya dibuka.


"Bos, semua sudah siap" Leo datang melapor.


Kai hanya terdiam. Lantas berbalik dan menuju pintu keluar. Namun Leo mencegahnya.


"Bos, ada yang harus Anda tahu" Ucap Leo ragu.


Kai kembali menarik nafasnya lagi, ketika dirinya dan Leo sudah berada di mobil jemputan yang akan membawa mereka ke venue pernikahan.


"Ini maksudmu?" Tanya Kai dan Leo mengangguk.


"Dia terlalu takut aku mengacaukan semuanya" Ucap Kai dengan seringai di wajahnya.


Rupanya tuan Hadiwinata menjemput Kai lengkap dengan satu kelompok bodyguard yang mengawal mobil Kai.


"Mereka bawa pistol nggak ya?" Tanya Kai.


Leo menatap bosnya curiga.


"Bos, jangan aneh-aneh deh. Kalau mau kabur kenapa nggak dari kemarin-kemarin saja. Kabur ke Singapura kek atau ke negara M tempat Prince Mark. Pasti aman di sana" Pinta Leo.


Bisa kacau kalau bosnya kabur. Pasti dia yang habis sama tuan besar nanti.


"Aku gak akan kabur Leo. Tapi mau mati. Boleh?" Ucap Kai santai.


"Bos, jangan aneh-aneh bisa tidak?" Ucap Leo panik.


"Kan kalau aku mati habis ceritanya. Kamu tinggal nguburin aku. Beres kan?" Jawab Kai santai.


"Sudahlah bos. Nanti kita pikirkan cara untuk mengacaukan pernikahan ini oke?" Ucap Leo setengah berbisik.


"Maksudmu?" Tanya Kai heran.


"Entahlah bos. Feelingku mengatakan kalau bos nggak bakalan nikah sama Bu Fanny" Jawab Leo ambigu.


Dan satu keplakan mendarat di lengan Leo. Membuat sang pemilik lengan meringis menahan sakit.


"Aku pikir kamu punya rencana buat menggagalkan pernikahan ini. Ternyata cuma feeling kamu doang. Gak membantu sama sekali" Sindir Kai.


Leo hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Salah tingkah.


Di venue pernikahan. Tamu undangan sudah banyak yang datang. Pernikahan Fanny berkonsep outdoor. Venuenya di pinggir danau. Tempatnya sudah didekorasi sedemikian rupa.


Sehingga banyak tamu yang berdecak kagum dibuatnya.




Kredit google.com


"Cantik" Ucap Nina (istri Lee Joon dari novel sebelah)


Yang kebetulan hadir menjadi salah satu tamu undangan dipernikahan Kai.


"Kamu suka?" Tanya sang suami, Lee Joon.


Nina mengangguk. Tak lama keduanya bertemu Alex dan Mandy. Yang ternyata mereka saling kenal.


"Hai bro, long time no see" Sapa Lee Joon yang disambut pelukan oleh Alex.


"Sekarang kalian bersama?" Tanya Lee Joon.


(Part selengkapnya ada di novel author yang satu lagi)


Di sisi lain,


Hera terkejut ketika melihat Natasya telah berganti baju. Memakai dres berwarna biru. Yang kemarin sempat dia lihat ada didalam paperbag yang diberikan Kai saat bertemu di taman.


Natasya pada awalnya tidak terlalu peduli pada dress itu. Namun ketika dia bermaksud memindahkannya ke lemari. Sebuah kartu ucapan terselip di dalam paperbag itu.


"Aku begitu berharap bisa melihatmu memakai gaun ini"


Begitulah ucapan yang tertulis di kartu itu. Membuat Natasya berkaca-kaca. Apalagi ada sepasang sepatu juga dalam paperbag itu.


"Kamu mau kemana?" Tanya Hera.


"Aku ingin melihatnya, Ra" Ucap Natasya sambil memakai slingbagnya.


"Tapi Sya, operasimu dua jam lagi. Dan kamu butuh preparation setidaknya selama satu jam" Cegah Hera.


"30 menit. Beri aku 30 menit. Aku akan segera kembali" Pinta Natasya.


"Sya...." Ucap Hera berusaha mencegah kepergian Natasya.


"Ra, biarkan aku pergi. Biarkan aku melihatnya untuk yang terakhir kali. Setelah ini aku akan diam. Tidak akan ke mana-mana. Aku mohon" Mohon Natasya dengan mata berkaca-kaca.


Membuat Hera tidak tega.


Natasya langsung mengembangkan senyumnya.


"Aku janji akan segera kembali. Dan baik-baik. Sayang Hera" Ucap Natasya sambil mencium pipi Hera.


"Bye, bye aku pergi dulu" Natasya pergi sambil melambaikan tangannya.


Di venue pernikahan,


Acara hampir dimulai. Kai sudah masuk ke venue pernikahan. Melewati Alex dan Lee Joon yang tengah berbincang.


"Aku dengar pernikahan ini diatur oleh kakek Kai?" tanya Lee Joon.


"Yeah, boleh dibilang seperti itu" Jawab Alex ambigu.


Sementara Kai dari depan altar pernikahan bisa melihat interaksi Alex dan Lee Joon.


"Alex ada di sini berarti dia baik-baik saja" *B*atin Kai.


Tak lama sang MC mengumumkan kalau pengantin perempuan akan segera memasuki venue pernikahan. Musik pengiring mulai dimainkan. Dan masuklah Fanny. Dengan gaun pengantinnya yang mewah, panjang menjuntai menyapu rerumputan di venue pernikahan itu.



Kredit goole .com


Semua mata takjub memandang kecantikan Fanny yang tak henti-hentinya menampilkan senyum terbaiknya. Dia terlihat begitu bahagia. Berbeda dengan Kai yang jelas terlihat tidak fokus pada pernikahan ini.


Fanny diantar kakeknya tuan Hadiwinata menuju altar pernikahan. Begitu sampai di altar tuan Hadiwinata segera menyerah genggaman tangannya pada Kai yang menerimanya dengan malas.


Dan prosesi pernikahan pun mulai dilangsungkan. Sumpah pernikahan sudah diucapkan yang berarti separuh dari proses pernikahan sudah berlangsung.


"Ya Tuhan tidak adakah cara bagiku untuk lari dari pernikahan ini" Bisik hati Kai.


Keduanya sudah akan bertukar cincin pernikahan. Ketika ekor mata Kai melihat Alex yang tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Lantas setengah berlari seperti mengejar seseorang.


Sementara itu, Natasya yang melihat Kai sudah mengucapkan sumpah pernikahannya. Lantas berlalu pergi. Sakit dan sedih ia rasakan. Air mata sudah turun deras di pipinya.


"Selamat tinggal Kak" Batin Natasya.


Kai yang melihat Alex seperti mengejar sesuatu. Menghentikan gerakannya yang hampir memasangkan cincin di jari manis Fanny. Membuat semua orang kesal dibuatnya. Bahkan Leo sudah berulangkali mengkode bosnya itu. Untuk segera memasangkan cincin di jari Fanny.


Namun sepertinya Kai tidak menghiraukannya. Matanya terfokus pada Alex yang tengah mengejar seorang wanita bergaun biru keluar dari venue pernikahannya.


Dan detik berikutnya. Cincin yang dipegang Kai jatuh ke rumput. Karena Kai sudah berlari keluar dari altar pernikahan itu. Membuat semua orang melongo.


"Kaizo Aditya kembali!" Teriak tuan Hadiwinata disusul tangis Fanny yang terdengar pilu. Hampir semua tamu undangan dibuat melongo dengan kejadian itu.


"Gaun biru itu adalah gaun yang aku berikan untuk Natasya waktu kami bertemu di taman. Dia datang. Dia ingin aku berjuang bersamanya" Batin Kai.


Kai terus berlari mengejar Alex yang terlihat tengah berbicara pada wanita bergaun biru itu. Sedang wanita itu yang tak lain adalah Natasya langsung membulatkan matanya begitu melihat Kai yang berlari di belakang Alex.


Seketika rasa pusing langsung menghantam kepalanya. Belum lagi rasa sesak langsung menyerang dadanya.


"Alex...." Panggil Natasya lirih.


Alex jelas terkejut melihat tubuh Natasya yang tumbang di atas rumput.


"Sya...Natasya wake up. Kamu harus bertahan" Ucap Alex panik.


Dan dia lebih terkejut lagi ketika Kai sudah ada didepannya. Memangku kepala Natasya.


"Apa yang kau lakukan disini bodoh!" Bentak Alex. Tidak menyangka jika Kai akan melihat dirinya dan Natasya.


"Ada apa dengannya?" Alih-alih menjawab pertanyaan Alex. Kai malah sibuk menatap cemas wajah pucat Natasya.


"Dia hanya kelelahan" Jawab Alex.


"Jangan bohong! Kalian menyembunyikan sesuatu dariku..." Teriak Kai membuat beberapa orang mulai mendekat. Ingin tahu apa yang tengah terjadi.


Alex baru akan berbicara. Ketika ponselnya berbunyi.


"Halo Jo, dimana ambulansnya. Aku rasa dia ngedrop lagi. Dia pingsan" Ucap Alex panik.


"...."


"Akan aku tunggu" Jawab Alex cepat.


Alex baru menutup telepon dari Jocelyn. Ketika Kai sudah membawa Natasya dalam gendongannya.


"Kita harus membawanya ke rumah sakit kan. Ini bukan kelelahan biasa bukan" Ucap Kai dengan tatapan intimidasi pada Alex.


"Itu ambulansnya datang" Ucap Alex.


Dengan cepat Kai langsung membawa tubuh Natasya menuju ke ambulans yang baru saja berhenti di tepi jalan. Perawat itu baru akan mengeluarkan bed sorong. Ketika Kai terlebih dahulu membaringkan tubuh Natasya di sana.


"Aku akan ikut ambulans. Kau terserah!" Ucap Kai.


"Lalu pernikahanmu bagaimana?" Teriak Alex.


"Persetan dengan pernikahan gila ini" Kai ganti berteriak.


Pintu mobil ambulans ditutup. Meninggalkan Alex yang menggeram marah di tepi jalan.


"Oh ****" Umpat Alex keras.


***


Up lagi readersku tercinta,


Thank's sudah mampir ya,


Jangan lupa dilike ya. Ditunggu lo sama authornya ( belajar malak kayak author yang itu he he),


Happy reading everyone,


Love you all 😘😘😘


***