You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 48



Kai akhirnya menuruti permintaan kakek Atmaja untuk tidur sejenak. Karena dia memang sangat mengantuk. Sejak tadi pagi dan ini hampir jam 2 dini hari. Dia belum tidur sama sekali.


Setidaknya sampai sarapan dihidangkan. Sebelum pergi ke rumah sakit. Namun ia begitu terkejut ketika sang pelayan rumah membawanya masuk ke kamar yang bernuansa pink khas perempuan.



Kredit google.com


"Mbak ini nggak salah kamar" Tanya Kai ragu.


"Maaf tuan. Kamar tamu belum disiapkan. Kami tidak tahu jika ada yang akan menginap. Ini sebenarnya kamar nona muda" Jawab pelayan itu.


"Nona muda? Natasyakah maksudnya?" Batin Kai.


"Oh, tidak masalah kalau begitu" Ucap Kai lagi.


Mau bagaimana mana lagi. Kai langsung melesat ke kamar mandi. Membawa paperbagnya. Dan dia kembali tersenyum ketika harus menggunakan barang-barang berbau perempuan. Sedikit ragu.


"Yang benar saja" Kai berguman.


"Oke ini darurat. Daripada tidak pakai sabun" Guman Kai memulai ritual mandinya.


Merasa segar kembali, ketika Kai selesai mandi dan berganti baju. Meski dengan aroma perempuan. Dia senyum-senyum sendiri mencium aroma tubuhnya sendiri.


"Ah bomatlah. Aku mau langsung tidur" Batin Kai. Langsung naik ke kasur bernuansa pink itu. Memejamkan matanya. Mulai masuk ke alam mimpi.


Sementara itu diruang kerja tuan Atmaja,


"Apa yang kamu katakan benar?" Tanya tuan Atmaja.


"Kai berusia 8 tahun kala itu. Dan dia mengingat dengan jelas wajah Sarah dan Celine yang ingin dia tolong" Jawab papa Jocelyn.


"Apa aku harus membuat perhitungan dengannya? Atau aku perlu menjebloskan dia ke penjara?" Ucap tuan Atmaja.


"Entahlah, aku juga tidak tahu harus bagaimana menghadapi Sarah. Tapi satu hal yang pasti dia juga sudah dua kali berusaha menabrak Natasya. Untungnya dia gagal. Pertama dia diselamatkan Angela. Kedua dia ditolong Alex" Jelas papa Jocelyn lagi.


"Kurang ajar!" Maki tuan Atmaja.


"Jangan emosi. Ingat Anda baru saja sembuh. Dan dua cucumu menanti untuk bertemu" Papa Jocelyn mengingatkan.


"Kau benar. Aku benar-benar harus menjaga kesehatanku sekarang. Aku melewatkan 20 tahunku sia-sia. Tanpa mengetahui cucuku menderita di luar sana" Sesal tuan Atmaja.


"Karena itu mulailah memperhatikan kesehatan Anda, Tuan" Papa Jocelyn berkata.


"Oh ya, kamu punya foto Nadya. Aku belum pernah melihatnya" Tanya tuan Atmaja.


Papa Jocelyn tersenyum. Meraih ponselnya. Lantas mencari foto Nadya.


"Cantik. Tapi dia memiliki garis wajah Kevin di wajahnya"


"22 tahun. Kuliah di National University of Singapura. Mengambil prodi Managemen Bisnis. Major on Accounting. Dua cucumu kandidat yang sempurna untuk mewarisi rangkaian bank yang Tuan punya" Jelas papa Jocelyn.


Tuan Atmaja mengembangkan senyumnya. Dia begitu bangga pada dua cucunya.


"Dan bersiaplah, untuk mengadakan pesta pernikahan besar-besaran untuk kedua cucumu. Kai jelas tidak akan melepaskan Natasya. Sedangkan Nadya sedang diburu oleh Justin Wiratmaja" Jelas papa Jocelyn.


"Wiratmaja? Dia masih saudara denganmu?" Tanya tuan Atmaja.


"Benar tuan. Dia sepupu saya. Selama di Singapura Justinlah yang mengurusi urusan medis Nadya. Dia spesialis bedah jantung sekarang bekerja di General Hospital Singapura" Jawab papa Jocelyn.


"Oke, aku tidak akan mempermasalahkan dengan siapa cucuku akan menikah. Asal dia benar-benar mencintai cucuku. Itu cukup. Aku tidak ingin mengulang tragedi ayah ibunya" Kenang tuan Atmaja.


"Baik tuan"


***


Kai terbangun ketika matahari sudah tinggi. Berapa lama dia tidur. Dia masih mengantuk. Mengingat dia tidur hampir jam 3 pagi. Tapi harus ke rumah sakit. Dia harus membangunkan Natasya.


Kai langsung melesat ke kamar mandi. Mencuci mukanya. Dia ogah memakai peralatan yang berbau perempuan lagi. Dia pikir, kenapa Natasya yang memakai, aroma itu tercium sangat wangi dan menenangkan sekaligus menggoda.


Tapi giliran aroma itu menempel ditubuhnya. Dia malah menjadi jijik mencium aroma tubuhnya sendiri. Aroma lavender.


"Ah, aku harus meminta Leo membelikan peralatan mandi yang biasa aku pakai" Guman Kai.


Dia meraih ponselnya mengetik pesan pada Leo. Lalu keluar dari kamar bernuansa pink itu. Menuju ruang makan. Dimana sarapan sudah tersedia.


"Silahkan Tuan memulai sarapannya" Sapa seorang pelayan.


"Ini sudah brunch mbak. Bukan sarapan lagi. Saya kesiangan" Jawab Kai ramah.


Entah kenapa dia berubah ramah sejak masuk ke rumah itu. Mbaknya hanya tersenyum. Tahu jika pria yang tengah memulai brunch-nya itu adalah kekasih nona mudanya.


"Tidak perlu dilayani mbak. Saya bisa sendiri" Ucap Kai lagi.


Membuat pelayan itu mundur ke dapur mengambilkan teh untuk Kai.


"Di mana Kakek?" Tanya Kai sambil menyuapkan sandwich ke mulutnya.


"Tuan Besar sudah pergi ke kantor. Ada urusan kata asisten Sam. Oh ya Tuan, ini kunci mobil untuk tuan pakai. Mobil yang kemarin tuan pakai sudah dikembalikan ke pemiliknya" Jelas mbak pelayan itu.


Kai mengerutkan alisnya. Dia pikir kenapa kakek jadi begitu memperhatikannya. Sungguh berbeda dengan tuan Hadiwinata. Yang terkesan cuek dan tidak perhatian.


Tiiing, satu pesan masuk ke ponselnya.


"Pakai saja. Jangan membantah"


Bunyi pesan itu. Membuat Kai tersenyum.


"Mereka sama saja. Tukang perintah" Batin Kai.



Kredit instagram.com


Masuk ke mobil berwarna hitam itu. Menghidupkan mesinnya. Sejenak menunggu agar mesin mobil itu panas. Karena menurut pelayan yang tadi mengantarnya. Mobil itu jarang sekali dipakai.


Ketika dirasa sudah panas. Kai mulai melajukan mobilnya ke pintu garasi yang langsung terbuka otomatis begitu ada mobil yang akan masuk dan keluar ke garasi luas itu.


***


Di rumahsakit,


Kai langsung masuk ke ICU setelah bertemu Jocelyn terlebih dahulu. Gadis itu masih saja galak pada dirinya. Masih marah dengan sikap Kai.


"Iya-iya, aku salah" hanya itu yang keluar dari bibir Kai, tiap kali Jocelyn memarahinya. Mau bagaimana lagi. Dilawan, pasti gadis itu akan tambah mengamuk.


Kai masuk ke ruang di mana Natasya dirawat. Kata Jocelyn keadaannya masih sama hanya saja sudah lebih baik dari kemarin.


"Pagi Anna, atau Tasya. Sebenarnya kamu ingin dipanggil apa olehku, hmm?" Ucap Kai memulai percakapannya dengan Natasya. Disentuhnya lembut tangan gadis itu. Diusapnya penuh cinta. Lantas diciumnya. Ditempelkannya tangan itu dipipinya. Yang sudah basah oleh airmata.


"Bangunlah aku mohon. Apa kamu tidak ingin bertemu denganku?"


"Tidak ingin bertanya kenapa aku ada disini?"


"Tahu tidak, aku tadi malam tidur di kamarmu dirumah kakkemu. Kakek Atmaja"


"Kamarmu warna pink. Lucu sekali"


"Kamu harus segera bangun dan melihat kamarmu sendiri. Kakek Atmaja juga sudah sembuh. Dia baru kembali dari Tiongkok tadi malam"


"Apa kamu tidak ingin bertemu dengannya. Bukankah dulu kamu sangat ingin memiliki keluarga. Selain Nadya. Sekarang kamu memiliki seorang kakek. Dia sangat sayang padamu" Cerita Kai pagi itu.


Dia terus bercerita sampai dia sendiri ketiduran ditepi ranjang Natasya. Jocelyn memang memberi akses penuh pada Kai. Untuk berada di ruang ICU itu selama tidak mengganggu. Tanpa dia sadari jari Natasya bergerak tanpa Kai tahu.


Kai memenuhi ruang perawatan ICU Natasya dengan suara musik dari ponselnya. Lagu instrumen klasik kesukaan Natasya mengalun lembut di ruangan tersebut.


Lagu berjudul Canon yang diciptakan oleh komposer Pachelbel. Lagu yang terakhir kali ia mainkan bersama Natasya di hall MDC kala itu.


Kai berpikir kenapa Natasya terlihat begitu sedih saat gadis itu memainkan lagu itu. Kai baru tahu hari itu adalah hari dia bertemu Jocelyn dan mengetahui hasil labnya. Tentu dia sangat sedih.


Memasuki makan siang. Kai baru keluar dari ruang ICU. Bermaksud mencari makan siang. Namun sebelumnya dia akan mampir ke kamar VIP Natasya. Karena semua barangnya ada disana.


Ketika dia masuk. Semua tengah berkumpul. Hera, Evan, Jocelyn, Alex bahkan Mandy, Angela, Jason pun ada disana.


"Bagaimana?" Tanya Alex.


"Aku juga baru saja masuk, Lex"


"Kak, maaf baru menjenguk. Kami baru saja tahu soal Kak Natasya" Ucap Angela mewakili Mandy dan Jason.


"Aku juga baru tahu kemarin. Mereka memang keterlaluan pada kita" Kesal Kai.


"Dia yang minta. Bukan keinginan kami" Evan membela.


"Mobil sudah dikembalikan, Bro" Ucap Kai melihat Evan.


"Yeah" Evan menjawab.


"Waktumu sampai besok!" Ucap Jocelyn sadis.


"Iya-iya, aku tidak akan pulang malam ini" Jawab Kai. Membuat Jocelyn diam-diam mengembangkan senyumnya.


"Lagu apa yang kau putar?" Tanya Alex.


"Sekarang "My Love" dari Westlife. Biar dia ingat pulang" Kata Kai.


"Yeah, lagu paling ampuh untuk menyiksa tahanan di Guantanamo" Sambung Jason.


"Ya, biar dia tersiksa terus bangun" ucap Angela.


Tiiing,


Bunyi pesan masuk dari Hera.


"Itu daftar lagu yang dia suka dengar akhir-akhir ini" Ucap Hera.


"Ini kenapa lagu Cina semua. Apa dia ingin pergi ke Cina?" Tanya Kai.


****


Up lagi readersku tercinta,


Jangan lupa like like like


Vote vote vote


Kopi ma kembangnya kalo perlu sekebon jangan lupa,


Ngantuk berat ini,


Happy reading semua,


Love you all, 😘😘😘😘


****