
Kai, kedua pamannya. Luis, Steven dan juga dua pengacara keluarga Liu. Mereka kini berada di ruang kerja milik Kai. Ruang kerja yang begitu luas dan mewah. Dulunya ruang kerja itu milik kakek Kai. Lalu diwariskan kepada ayah Kai, tuan Andrew. Lalu sekarang dipakai Kai.
Kredit Pinterest.com
Tak lama dokter Su datang. Membawa sebuah kotak yang membuat semua orang bertanya-tanya apa isinya.
"Maaf, saya sedikit terlambat" ucap dokter Su.
Tak perlu berlama-lama. Kedua paman Kai lalu meminta Kai mencari tombol di bawah meja kerjanya. Ketika Kai menemukannya. Dan menekannya. Tiba-tiba lukisan besar di belakang meja kerja Kai bergeser ke kiri.Menampilkan sebuah pintu brankas.
"Kami bisa menemukan brankasnya dimana. Tapi sampai sekarang kami tidak bisa membukanya. Karena kami tidak memiliki kuncinya" ucap ayah Steven.
Kai mendekati brankas itu. Dan benar saja. Ada sebuah pola tercetak di pintu itu. Seperti puzzle yang kurang satu keping. Kai mengerutkan dahinya. Dia seperti mengenal pola itu.
"Ini seperti..."
"Kalungmu" potong dokter Su cepat.
Membuat semua orang menatap ke arah dokter itu. Perlahan dia memakai sarung tangannya. Lantas mengeluarkan sesuatu dari kotak yang ia bawa.
"Kalungmu adalah kunci brankas utama keluarga Liu. Tapi kunci ini saja tidak cukup untuk membuka brankas itu. Dia akan memilih tuannya" ucap dokter Su membuat semua orang bingung.
"Jadi didalam kalung ini ada sebuah chip.Yang oleh tuan Andrew telah dirancang menggunakan DNA sistem. Artinya jika DNA mu tidak cocok dengan chip ini. Kalian tetap tidak akan bisa menggunakannya untuk membuka brankas ini" jelas dokter Su.
Membuat semua orang saling pandang. Semua orang memandang Kai.
"Lalu kenapa dua puluh tahun lalu. Ada sinyal yang kami tangkap dari Indonesia. Apakah itu dari kunci itu?" tanya Luis.
"Iya betul. Tapi sekali lagi jika kunci ini dipisah dari tuannya. Sinyalnya akan menghilang" jelas dokter Su.
"Lalu apakah selama ini kamu tidak memakai kalungmu ini?" tanya ayah Luis.
"Selama dua puluh tahun ini. Kalung ini bersama Anna. Aku memberikannya kepada Anna" jawab Kai.
"Pantas saja kami tidak bisa melacak keberadaanmu" ujar ayah Steven.
"Maaf. Aku tidak tahu jika kalung itu begitu penting" sesal Kai.
"Sudahlah. Sekarang hal itu tidak penting. Yang penting kamu sudah kembali. Dan kamu baik-baik saja. Maaf jika kami kurang berusaha untuk menemukanmu. Membuatmu menderita di luar sana" tutur ayah Steven.
"Sebenarnya masalah surat warisan kakek, kami tidak terlalu mempermasalahkannya. Kami masih bisa hidup dengan usaha kami. Itu sudah cukup bagi kami" ujar ayah Luis.
Yang langsung diangguki oleh ayah Steven.
"Tapi mungkin orang luar akan menganggap kita saling berebut warisan" kekeh ayah Luis.
"Kau benar Han Wen" jawab ayah Steven ikut tertawa.
"Tapi karena saya sudah ada disini. Biarkan saya melakukan tugas saya. Jika memang saya yang ditunjuk untuk membuka brankas kakek" ucap Kai.
Membuat suasana hening. Perlahan Kai meraih kunci yang masih dipegang oleh dokter Su. Begitu kunci berbentuk inisial AA itu berada di tangan Kai. Sesaat benda itu berkedip.
"Dia menemukan tuannya" guman dokter Su.
Kai mendekati brankas. Menempatkan kunci pada pola yang ada dipintu brankas. Menahannya sejenak. Hingga terdengar "klik" dan sebuah notifikasi
"DNA match"
"succesfully open"
Membuat semua orang melongo.
"Jadi memang dialah yang ditunjuk Kakek" guman Luis.
Barulah Kai membuka pintu brankas itu. Dia mengeluarkan sebuah map yang masih nampak baru. Lantas menyerahkannya kepada dua pengacara yang ikut hadir disana.
"Paman dan kalian semua tidak ingin mengetahui isinya. Selain map itu" tawar Kai.
"Kamu hafal benar kesukaan ayah" kekeh ayah Luis.
"Apalagi yang dia suka selain itu. Kita tahu Andrew dan Alicia sudah merubah semua kepemilikan aset mereka atas nama Eric. Dan mereka menyimpan semua harta berharga mereka di bank" jelas ayah Steven.
Keduanya terkekeh kembali.
"Maaf tuan-tuan" sela seorang pengacara.
"Ya?" tanya Steven.
"Map ini berisi surat wasiat dari tuan besar Liu dan juga tuan Andrew" jawab pengacara itu.
"Isinya?" tanya Luis.
"Surat wasiat tuan besar Liu berisi penunjukkan tuan Andrew sebagai pewaris utamanya. Tuan Andrew yang berhak membagi warisan keluarga Liu sesuai keinginannya. Namun karena tuan Andrew sudah meninggal jadi surat wasiat tuan besar Liu gugur alias tidak berlaku. Jadi kami akan membacakan surat wasiat tuan Andrew" pengacara itu memberi jeda.
Semua orang saling pandang. Seolah tahu isi surat wasiat Andrew. Ayah Kai.
"Silahkan dimulai" ucap Kai. Lalu dia mendudukkan diri di kursi kerjanya. Menautkan kedua jari tangannya.
"Baik kami akan mulai membacakan surat wasiat tuan Andrew....isinya mengatakan bahwa beliau menunjuk putra tunggalnya, Eric Liu sebagai pewaris utama keluarga Liu. Memberikan hak penuh kepada Eric Liu untuk membagi harta warisan keluarga Liu. Semua daftar aset keluarga Liu terlampir" pengacara itu mengakhiri ucapannya.
Kai terdiam. Begitu juga dengan semua orang.
"Dan ini ada surat untuk Anda tuan Eric. Dan untuk Anda berdua" seorang pengacara memberikan sepucuk surat kepada Kai dan kedua paman Kai.
Mereka berbarengan membaca surat itu.
Untuk putraku Eric,
Maaf, mungkin jika kamu membaca surat ini. Papa mungkin sudah tidak ada di dunia ini Eric. Maaf jika setelah ini Papa memberikan beban yang begitu berat untukmu. Maaf jika selama ini Papa masih kurang menyayangimu, Eric. Tapi percayalah dimanapun Papa dan Mama berada, kami akan selalu menyayangimu. Eric Liu, putra Papa dan Mama tersayang
Andrew Liu,
Airmata Kai langsung tumpah seketika. Membaca surat dari papanya. Dokter Su yang berada paling dekat dengan Kai. Langsung menepuk pelan bahu pria itu.
Sementara di sisi lain,
Untuk kedua adikku,
Maaf, jika aku harus meminta maaf dengan cara seperti ini. Aku hanya menjalankan wasiat ayah. Jadi aku mohon pengertian kalian. Ketika aku menulis ini. Entah mengapa aku merasa kalau hidupku tidak akan lama. Jadi tolong bantu aku menjaga putraku Eric. Aku percaya putraku bisa memberikan keputusan terbaik bagi keluarga kita. Dan aku mohon jangan sampai ada perpecahan dalam keluarga kita seperti yang selalu ayah pesankan kepada kita.
Kakakmu
Andrew,
Kedua Paman Kai menghela nafasnya bersamaan. Keduanya lantas menatap Kai yang masih terisak pelan. Dengan surat sang ayah yang masih berada di tangannya.
Ya, dari semua anggota keluarga Liu. Keluarga Kailah yang menjadi korban keserakahan seseorang di luar sana. Hingga membuat kematian datang begitu cepat pada kedua orang tua Kai. Membuat Kai terpaksa harus dilarikan sampai ke Indonesia. Membuatnya terpisah dari keluarga besarnya selama hampir dua puluh tahun.
Sejenak suasana hening menyelimuti ruangan itu.
"Kami tidak masalah dengan apapun keputusanmu Eric. Putuskanlah sesuai keinginanmu. Kami tidak masalah dengan waktunya" ucap ayah Steven pada akhirnya.
"Dibanding kami. Dirimu adalah yang paling menderita. Dan kami jelas tidak bisa memenuhi permintaan ayahmu untuk menjagamu. Maafkan kami" tambah ayah Luis.
Kedua pria itu tampak menyesal. Merasa gagal tidak mampu menjaga satu-satunya putra kakak tertua mereka.
"Kami akan undur diri dulu. Kamu mungkin memerlukan waktu untuk berpikir tentang keputusan yang akan kamu ambil" lanjut ayah Luis.
Keempatnya sudah bersiap akan keluar dari ruangan itu. Mereka pikir Kai mungkin perlu waktu. Karena semua ini mungkin terlalu mengejutkan untuk Kai.
"Tunggulah sebentar Paman dan juga kalian Brother. Aku akan memberikan keputusanku hari ini juga" ucap Kai.
Membuat keempat pria itu saling pandang. Pun dengan kedua pengacara keluarga Liu.
****