You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 105



Braaakkkk,


Bunyi pintu yang ditutup kasar.


"Aarrggghhh"


Pekik Alena. Tubuhnya dihempaskan begitu kasar ke atas ranjang besar yang ada di apartemen Luis.


"Kau pikir bisa lari ha? Setelah kau mencuri dariku?" tanya Luis begitu emosi.


Beberapa saat lalu. Luis berhasil menemukan Alena. Jatuh tersungkur di tabrak oleh seorang pria. Kala itu Luis langsung menarik tubuh Alena. Membawanya masuk ke mobilnya secara paksa.


Dan disinilah ia. Meringkuk ketakutan di atas ranjang Luis. Sedang pria itu menatap dirinya penuh amarah.


Luis benar-benar tak habis pikir. Apa yang ada di pikiran gadis yang tengah menangis ketakutan itu. Hingga satu saat, sesuatu melintas di pikiran Luis. Membuatnya semakin marah.


Luis dengan cepat melepas jasnya. Melepas kemejanya. Lalu naik dengan cepat ke atas ranjang. Membuat Alena semakin takut. Apalagi tubuh shirtless Luis semakin mendekat padanya. Aroma maskulin pria itu mulai memenuhi indra penciumannya. Membuat rasa mual yang tadi terasa. Perlahan menghilang.


"Apa kamu juga menyukai aroma Papamu" batin Alena sambil menyentuh pelan perutnya.


Alena terkejut ketika Luis menarik kakinya. Membuat tubuhnya terlentang di tengah ranjang itu.


"A..apa yang tuan lakukan?" tanya Alena dengan tubuh bergetar.


"Kau begitu menginginkan anak dariku bukan? Sampai-sampai kau mencurinya dariku. Maka aku akan memberikannya padamu kali ini" ucap Luis yang membuat Alena bergidik ngeri.


Apalagi tubuh Luis kini tepat berada di atas tubuhnya. Mengunci seluruh pergerakan tubuhnya.


"Tidak. Bukan seperti itu maksud saya. Saya hanya ingin men...hmmppt...ucapan Alena terpotong karena Luis telah mencium bibirnya. Begitu lembut meski Alena tahu jika tuannya itu sedang marah.


"Rasa bibirnya berbeda. Ini bahkan lebih manis" batin Luis.


Alena terus bergerak. Berontak. Mencari celah agar pria itu tidak menyentuh dirinya. Yang ia khawatirkan jelas janin yang baru beberapa hari lalu dipindahkan ke rahimnya. Jika Luis menyentuhnya dengan kasar.Akan sangat membahayakan janinnya.


"Tuan berhenti. Lepaskan saya" ucap Alena memelas. Sesaat ketika Luis melepaskan ciumannya. Nafas pria itu terlihat memburu. Menatap dalam wajah untuk beberapa saat.


"Kau pikir aku akan melepaskanmu dengan mudah? Kau mencuri sesuatu yang berharga dariku Lena. Dan kau harus menerima hukumannya" ucap Luis kembali ingin mencium bibir Alena.


Bibir Luis sudah kembali bertaut sempurna di bibir Alena. Ketika gadis itu tiba-tiba mendorong tubuh Luis hingga berhasil menyingkirkan tubuh kekar itu dari atas tubuhnya. Alena langsung melesat masuk ke kamar mandi. Langsung memuntahkan isi perutnya di wastafel.


Luis jelas melongo melihat hal itu.


"Jangan bertindak kasar padanya. Bagaimanapun ia tengah mengandung anakmu" ucapan Profesor Huang terlintas di kepala Luis.


"Astaga!! Apa yang aku lakukan" teriaknya panik. Ikut melesat masuk ke kamar mandi.


Alena masih terus mengeluarkan isi perutnya. Oh kenapa rasanya begitu menyiksa, pikirnya. Hingga tiba-tiba sebuah tangan dengan lembut menyentuh tengkuknya. Memijatnya perlahan.


"Tu...tuan..." ucap Alena tidak percaya.


Detik berikutanya. Alena kembali muntah.


Wajahnya mulai terlihat pucat.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Luis.


Alena menggelengkan kepalanya. Perlahan dia bangkit. Mulai berjalan keluar dari kamar mandi setelah membersihkan mulutnya.


"Apakah dia menyusahkanmu?" tanya Luis.


"Ya?"


"Maaf. Maafkan aku. Jangan pergi. Tetaplah disisiku" ucap Luis.


Perlahan Luis merengkuh tubuh lemas Alena dalam pelukannya. Membuat Alena membulatkan matanya tidak percaya.


"Ketika Chen mengatakan kamu mengundurkan diri. Entah kenapa ada sesuatu yang hilang yang aku rasakan. Ketika profesor Huang mengatakan kalau kamu mungkin sedang dalam perjalanan ke Anhui. Entah kenapa aku merasakan sesak di dadaku. Seolah seluruh oksigenku pergi bersamamu. Apalagi ketika profesor Huang mengatakan kamu bersedia menjadi ibu pengganti untuk janinku dan Luna. Entah kenapa aku marah. Marah karena aku pikir kamu begitu bodoh. Mau melakukan hal itu. Mengandung tanpa ikatan pernikahan. Aku begitu marah karena kamu bahkan tidak memberitahuku keinginanmu. Aku begitu marah. Marah. Marah sampai aku ingin merantaimu agar kamu tidak bisa pergi dariku. Jatuh cintakah aku padmu?"


Perlahan Luis melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah Alena yang masih terisak.


"Maafkan aku tuan. Aku hanya berpikir dia sudah berhasil hidup. Bukankah akan sangat tidak adil baginya kalau dia tidak diberi kesempatan untuk melihat dunia" ucap Alena.


Luis tertegun. Menyadari kesalahannya. Dia yang memberi kesempatan untuk membuat sebuah kehidupan menjadi nyata. Namun pada akhirnya dia sendiri tidak bisa bertanggungjawab atas ulahnya.


"Maafkan aku. Maafkan aku" ucap Luis dengan mata berkaca-kaca.


"Tuan tidak perlu merasa bersalah. Karena semua keputusan saya. Jadi tidak masalah" ucap Alena berusaha mengembangkan senyumnya.


"Tetaplah di sini. Kita akan membesarkannya bersama-sama"


"Ha?"


Alena melongo mendengar ucapan Luis.


"Maksud Tuan"


"Tuan melamar saya?" tanya Alena.


Sedang Luis tampak menyentuh tengkuknya sendiri. Melihat dirinya sendiri. Lihatlah, dirinya melamar seorang wanita shirtless. Tanpa cincin.Tanpa persiapan apapun.


"Aaah yang lain menyusul" ucap Luis kikuk.


Alena tersenyum.


"Tuan tidak perlu menikahiku jika terpaksa. Hanya karena saya tengah mengandung anak tuan. Karena ini semua murni keputusan saya. Jadi tuan tidak perlu merasa bersalah dengan menikahi saya"


"Tapi anak ini perlu status"


"Setelah dia lahir. Tuan bisa memberikan status kepadanya"


"Kenapa kamu menolak menikah denganku?" tanya Luis pada akhirnya.


"Saya ingin menikah karena cinta bukan karena rasa bersalah atau sekedar rasa ingin bertanggungjawab"


Sontak jawaban Alena seperti balok yang menghantam kepala Luis. Sejenak Luis terdiam.


"Terima kasih sudah mau bertanggungjawab tapi karena ini keinginan saya. Biarkan saya menjalaninya. Permisi tuan Luis"


Alena berjalan melewati Luis. Membuka pintu. Cukup terkejut ketika melihat Chen di depan pintu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Chen.


Bagaimanapun Alena adalah partner kerjanya dua tahun ini. Hubungan mereka cukup baik. Jadi Chen cukup khawatir ketika Luis menyeret Alena ke dalam kamarnya dengan kasar. Apalagi Chen juga tahu kalau Alena tengah mengandung anak tuannya. Meski dengan bibit dari Luna.


Mendengar pertanyaan Chen. Alena tersenyum.Cukup senang jika partner kerjanya itu mengkhawatirkan dirinya.


"Di mana koperku? Aku mau pulang"


"Pulang kemana? Kau sudah menjual apartemenmu"


Alena terdiam. Namun kemudian dia tetap melangkah menuju pintu keluar.


"Chen tahan dia. Jangan biarkan dia keluar dari sini" teriak Luis dari dalam kamarnya.


Mendengar hal itu. Chen langsung berlari ke pintu. Menahan pintu dengan tubuhnya.


"Kak...."


Chen bergeming. Tak lama Luis keluar dari kamarnya. Masih merapikan kaos yang melekat di tubuhnya.


"Kau tinggal di sini" perintah Luis.


"Tuan..."


"Tidak menerima bantahan. Atau kau ingin kembali ke Anhui. Jangan harap. Anak itu milikku" ucap Luis penuh penekanan.


"Tuan Luis..." Chen berusaha mencegah tuannya bertindak keterlaluan.


"Kau diam Chen!" bentak Luis.


"Masuk ke kamar! Mulai hari ini kau tinggal disini. Terserah jika kau mau bekerja lagi atau tidak. Aku tidak menerima surat pengunduran dirimu" ucap Luis tegas.


"Tapi Tuan saya tidak mau tinggal di sini"


Luis menatap Alena tajam.


"Lalu kau mau tinggal dimana? Hotel atau jalanan?" tanya Luis dingin.


Alena baru saja akan menjawab. Ketika rasa mualnya datang lagi. Secepat kilat dia berlari ke dapur. Kembali memuntahkan isi perutnya di sana.


Chen dan Luis ikut berlari menyusul ke dapur. Chen tidak berani menyentuh Alena. Pria itu langsung meraih tisu diatas meja makan. Sedang Luis langsung memijat pelan tengkuk Alena.


"Kau tahu bahkan anakku pun mendukung keputusanku" ucap Luis sambil tersenyum.


Pada akhirnya Alena benar-benar harus menuruti perintah Luis. Karena sejak tadi dia tidak berhenti memuntahkan isi perutnya.


Hingga akhirnya dia menghubungi profesor Huang.


"Kenapa kau meneleponku. Harusnya kau membawanya ke dokter kandungan. Kau kan ayahnya" pekik profesor Huang dari seberang.


"Hai kau berani melawanku sekarang?" tanya Luis.


"Kalau aku tidak cerita padamu. Kau pasti sudah kehilangan Alena dan anakmu sekarang. Seharusnya kau berterima kasih padaku" balas profesor Huang tidak kalah galak.


"Panggilkan dokter kandungan. Anakmu akan sangat merepotkan Alena. Kau harus menjaganya" ucap profesor Huang sebelum menutup teleponnya.


Luis terdiam sejenak.


****