
"Angela, 20 tahun. Sedang meniti karier dibawah HD TV Management. Cihh" Tuan Park mendecih membaca laporan tentang Angela yang berhasil dikumpulkan anak buahnya.
"Satu lagi gadis miskin yang mencoba merangkak naik menjadi orang kaya" Satu kalimat yang terdengar begitu kejam terucap dari bibir tuan Park.
"Pintar sekali dia merayu putraku" Tambahnya lagi.
Tak lama pintu dibuka kasar. Dan masuklah Jason. Wajahnya terlihat marah.
"Papa menyelidikinya?" Tanya Jason to the poin.
"Dia mengadu padamu?" Tanya tuan Park.
"Dia bahkan tidak tahu ada orang yang mengikutinya beberapa hari ini. Aku lihat mereka" Ucap Jason sambil melirik ke arah dua pria berpakaian serba hitam. Yang kini hanya bisa menundukkan kepala mereka.
"Dia sama dengan yang lain. Merayumu untuk bisa menikmati semua fasilitas mewah yang kita punya" Ucap tuan Park.
"Dia tidak merayuku. Dia saja tidak tahu siapa aku. Satu lagi bukan dia yang mendekatiku tapi aku yang mengejarnya" Jawab Jason.
"Kamu jatuh cinta dengan gadis miskin itu" Tanya tuan Park.
"Entahlah. Tapi hanya dia yang benar-benar memperlakukanku sebagai temannya.Tanpa embel-embel nama Park di belakangku" Jawab Jason.
Tuan Park terdiam.
"Dia tulus berteman denganku. Dia bahkan yang menyuruhku pulang. Dia bilang papa dan mamamu pasti mengkhawatirkanmu. Tapi aku rasa tidak. Kalian lebih khawatir jika aku mendapat teman yang baik dan lebih suka jika aku berteman dengan mereka yang jelas-jelas memakai topeng di wajah mereka. Berlagak baik di depan tapi menusuk dari belakang" Ucap Jason menyindir papanya.
"Papa tahu kan aku benci kepura-puraan. Kepalsuan. Dan asal Papa tahu hanya ketika bersama Angela aku bisa menjadi diriku sendiri" Tambah Jason berlalu dari hadapan papanya.
"Satu lagi, jangan sampai Papa menyentuhnya apalagi menyakitinya. Papa akan tahu apa yang bisa aku lakukan jika papa sampai melakukan hal itu" Ancam Jason.
Kali ini Jason benar-benar berlalu dari hadapan papanya. Meninggalkan sang papa terdiam mendengar semua omongan putra tunggalnya.
***
Hari masih gelap. Dan Natasya masih belum mau membuka matanya. Setelah insiden dia dilarang bergerak agar tidak membangunkan si junior. Natasya akhirnya kembali tertidur. Karena ternyata Kai tidak melepaskan tangannya dari pinggang Natasya.
"Nnnggg" Guman Natasya tidak jelas.
"Apa?" Suara serak Kai. Masih dengan mata tertutup.
"Pegel" Ucap Natasya.
Dia yang biasa tidur seperti baling-baling bambu-nya Doraemon. Putar sana, putar sini. Jelas merasa pegal setelah semalam dipaksa tidur dengan posisi memeluk tubuh Kai. Yang diakui Natasya nyaman beuts. Ditambah tangan Kai yang tidak melepaskan pinggangnya semalam.
Ucapan Natasya membuat Kai melonggarkan pelukannya. Membuat Natasya dengan cepat mengubah posisinya. Membelakangi pria itu.
Namun Kai dengan cepat kembali memeluk tubuh Natasya dari belakang. Menempelkan wajahnya di ceruk leher Natasya. Membuat Natasya bergidik geli.
"Kai, geli" Ucap Natasya.
"Ssttt, sebentar saja" Sahut Kai masih dengan mata terpejam. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Natasya.
"Aku selalu berharap ini yang akan aku alami setiap pagi bersamamu Sya, tapi entahlah" Batin Kai.
Tanpa Natasya sadari sudut mata Kai sudah berembun. Pun dengan Natasya. Sama-sama berusaha menikmati waktu bersama. Seolah inilah terakhir kalinya mereka bisa menghabiskan waktu berdua.
Sesaat kemudian Kai bangun dari tidurnya. Meraih sesuatu di dalam nakas di depan Natasya. Membuat gadis itu ikut terbangun. Kai membuka benda itu yang tak lain sebuah kotak dengan sebentuk cincin di dalamnya.
"Aku ingin sekali melamarmu. Menjadikanmu satu-satunya dalam hidupku. Menemaniku menghabiskan hidup bersamaku. Tapi untuk saat ini aku belum bisa melakukan. Jadi aku ingin kamu memakainya saja terlebih dahulu" Ucap Kai menatap dalam wajah Natasya.
Kredit google.com
"Aku menamainya "The One" seperti kamu yang akan menjadi satu-satunya untukku selamanya" Ucap Kai.
Sedang gadis itu terdiam. Ingin sekali dia menerimanya. Hatinya berbunga-bunga mendengar kata-kata Kai. Namun sejurus kemudian Natasya teringat akan kondisinya. Dia tidak mungkin membawa Kai ikut terpuruk bersama dirinya. Jika semua diluar prediksi dan keadaannya memburuk.
"Tapi Kai..." Ucap Natasya.
"Pakai saja dulu. Hal lain kita pikirkan belakangan" Potong Kai. Lantas meraih jemari Natasya dan memasangkan cincin itu di jari manis kirinya.
"Eh, kenapa di sini" Tanya Natasya protes.
"Aku ingin orang-orang mengira, kalau kali ini kamu benar-benar sudah menikah" Ucap Kai. Terus menatap cincin itu yang terlihat manis di jemari lentik Natasya.
Sesaat Kai menatap wajah Natasya. Lantas detik berikutnya dia mencium lembut bibir gadis itu. Ciuman yang begitu dalam. Menyiratkan betapa dalamnya perasaan Kai pada gadis di hadapannya itu.
"Aku mencintaimu Natasya Ariana. Sangat, sangat mencintaimu" Ucapnya lirih. Membuat Natasya menangis sekaligus tersenyum.
"Maafkan aku Anna, aku rasa aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Aku benar-benar tidak bisa kehilangan gadis ini" Batin Kai.
"Tuhan bolehkah aku meminta kalau ini nyata adanya. Bukan hanya mimpi belaka" Batin Natasya.
Kai lantas berlalu menuju kamar mandinya. Saat Kai bangun Natasya menjerit karena pria itu hanya memakai boxernya saat tidur. Namun Kai dengan santainya terus berjalan tanpa memperdulikan umpatan Natasya.
"Seenaknya sendiri. Dia pikir tidak ada orang lain apa dirumahnya" Umpat Natasya.
Tapi detik berikutnya perhatiaannya teralih pada cincin cantik bermata pink di jarinya.
"Biarkan aku memiliki ini sebagai hal terakhir yang aku punya darimu" Bisik Natasya pelan.
Satu jam kemudian, keduanya tengah memakan sarapan mereka. Keduanya ternyata sama, tidak bisa memakan nasi sebagai sarapan tidur.
"Auto pindah tidur ke kantor kalau aku sarapan nasi" Seloroh Natasya yang membuat Kai tersenyum.
Mereka tengah menikmati sandwich yang Natasya buat ketika menunggu Kai mandi.
"Boleh aku menggunakan dapurmu?" Teriaknya dari luar kamar mandi.
"Terserah kamu. Asal jangan diledakin saja" Jawab Kai di sela-sela guyuran air showernya.
Sedikit tahu kalau dapur bukanlah bidang yang dikuasai gadis itu.
Membuat Natasya mencebik kesal.
"Aku juga tidak separah itu kali" Kesal Natasya.
Mulai merebus air. Membuka laci sana sini. Membuka kulkas. Hingga menemukan bahan sandwich. Lantas membuatnya cepat. Dia hampir selesai ketika Kai keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Membuat Natasya hampir menjerit kembali. Membuat Kai menyeringai.
"Apa semua laki-laki seperti itu. Pamer abs tiap kali habis mandi" Guman Natasya namun masih bisa didengar Kai.
"Kamu lihat abs pria mana?" Tanya Kai menyembulkan kepalanya dari walk in closetnya.
"Aaaaa itu ...di TV. Aku melihatnya di TV" Jawab Natasya gelagapan.
"Aku mandi dulu" Ucapnya berlalu ke kamar mandi. Karena kadang dia juga melihat Evan melakukan hal itu. Jika habis kerja terus main ke rumahnya. Lantas numpang mandi di kamar Nadya yang tidak berpenghuni.
"Bawa ini" Ucap Kai sambil menyerahkan paper bag kepada Natasya.
Membuat gadis itu melirik isinya curiga.
"Ini punya cewek mana lagi yang kamu ambil" Tanya Natasya sambil memicingkan matanya.
"Aku membelinya semalam untukmu" Jelas Kai.
Natasya tidak percaya. Membuat Kai menghela nafasnya.
"Aku baru tahu kalau kamu itu curigaan. Dan tidak gampang percaya. Itu ukuranmu. Mau aku sebutkan berapa?" Goda Kai.
Membuat Natasya langsung kabur masuk ke dalam kamar mandi.
20 menit kemudian Natasya baru keluar dari kamar mandi. Hanya mengenakan bathrope. Sejenak pikiran Kai kembali traveling ke mana-mana. Membayangkan tubuh Natasya yang hanya terbalut underwear berwarna pink yang ia belikan kemarin. Di balik bathrope itu.
"Ini bajunya gak sekalian" Tanya Natasya.
"Ada di paper bag atas meja" Jawab Kai sedikit melirik gadis itu ketika melewati dirinya. Meninggalkan harum lembut lavender di hidung Kai.
Tak lama keduanya sudah bersiap di dalam mobil Kai.
"Ke mana kita?" Tanya Natasya.
"Ke mana saja asal bersamamu" jawab Kai. Membuat Natasya memutar matanya malas.
Dia pikir sejak kapan pria ini pandai berkata manis. Manis semanis tampilannya hari ini.
Kredit google.com
Kai melajukan mobilnya meninggalkan apartemennya. Menuju sebuah taman kota. Tempat yang ingin ia gunakan untuk menghabiskan waktunya bersama Natasya hari ini.
Yang mungkin esok hari tidak bisa ia lakukan lagi.
***
Up lagi readers,
Thank's sudah mampir,
Happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘😘
****