
Hari berlalu dengan cepat. Dan lusa adalah hari kepulangan Natasya. Semua orang tentu saja gembira.
"Akhirnya acara kita ngumpul di rumah sakit berakhir juga" Seloroh Alex.
"Betul juga itu. Kita bisa pindah tempat nongkrong habis ini" Timpal Evan.
Membuat Natasya tersenyum. Dia begitu bahagia di saat titik terendah dalam hidupnya dia dikelilingi oleh orang-orang yang begitu tulus pada dirinya.
"Terima kasih semua" Ucap Natasya.
"No problemo" Jawab mereka kompak. Membuat Natasya tersenyum.
"Jadi habis ini mau ngapain? Balik kantor?" Tanya Alex.
"Belum tahu lagi. Masih pengen malas-malasan" Jawab Natasya.
"Belum puas jadi kaum rebahan hampir sebulan ini" Tanya Evan.
"Dia kan cucu sultan sekarang jadi dia bebas mau ngapain" Seloroh Alex.
"Lalu yang handle konserku sama Angela siapa jika kamu nggak balik ke kantor?" Mandy bertanya.
"Konsepmu dan Angela sudah siap. Jadi tinggal bagian produksi dan lapangan yang mengerjakan. Kalau mereka follow konsepku aku jamin tidak akan ada yang miss" Terang Natasya.
"Yang pusing Lisa" Potong Alex.
"Iya kemarin dia ke sini. Ngeluh. Kasian juga itu anak" Imbuh Hera.
"Ya iyalah, siapa juga yang tidak pusing. Ditinggali proyek konser sebesar itu. Walaupun dia sudah lama ikut kamu. Tapi kan selama ini kamu yang mengontrol semua. Ini dia, yang terjun langsung mengontrol semua" Ucap Alex.
Natasya terkekeh.
"Dia punya kemampuan untuk itu. Jangan khawatir dia pasti bisa mengatasi semuanya. Dan konsermu akan jadi konser yang luar biasa. Aku jamin" Ucap Natasya.
Membuat Mandy melebarkan senyumnya.
"Nanti kakak datang ya pas konserku" Pinta Mandy.
"Pasti" Jawab Natasya.
"Jika aku masih di sini" *B*atin Natasya.
Natasya tersenyum samar.
"So, siapa yang turn duluan? Jocelyn dan Edgard sudah mulai go public kemarin" Lanjut Alex.
"Mereka jadian?" Tanya Hera.
"Ya sesuai janji Jocelyn. Jika masalah Natasya sudah selesai dia akan memberi jawaban atas perasaan Edgard" Jelas Evan.
Dan semua ber-oooo ria.
Tak lama Jocelyn masuk. Seperti biasa visit pasien rutin.
"Pagi semua" Sapanya ceria.
Membuat semua orang mengulum senyumnya.
"Cie, cie yang baru jadian" Goda Alex.
"Issh apa sih" Jocelyn mengomel. Padahal wajahnya memerah menahan malu.
"Alah mengaku saja. Tidak usah malu" Goda Evan kali ini.
Jocelyn mengacuhkan. Mulai memeriksa Natasya. Sedang yang lain mulai mengambil sarapan mereka. Sebelum pergi ke kantor masing-masing.
Sejenak Natasya memperhatikan Jocelyn. Rona bahagia jelas terlihat di wajahnya.
" Ada yang spesial kah?" Tanya Natasya tiba-tiba.
Jocelyn menggeleng. Namun ekor matanya menangkap sebentuk cincin cantik di jari Jocelyn. Hal yang tidak pernah Jocelyn lakukan.
"Egdard melamarmu ya?" Tanya Natasya lirih namun cukup jelas didengar oleh semua orang. Membuat Jocelyn malu seketika.
"Wah beneran itu Jo. Kita kalah start dong" Ejek Alex.
"Isssh kenapa sih ngomongnya keras-keras" Rengek Jocelyn pada Natasya.
Membuat semua orang meledakkan tawanya.
"So kapan? Biar gantian" Tanya Evan.
"Kamu juga sudah melamar Hera?" Tanya Alex.
Hera hanya nyengir sambil menunjukkan jemari tangannya.
Dan sekali lagi tawa bahagia terdengar di ruangan itu. Hanya saja Mandy dengan cepat mengubah senyum di bibirnya menjadi sebuah wajah sendu. Menatap sosok Alex yang sedang tertawa bahagia bersama Evan.
Beberapa saat kemudian,
"Kamu kembali?" Tanya Natasya ketika dia melihat Alex masuk ke kamarnya lagi.
"Ponselku tertinggal" Jawab Alex. Yang malah duduk kembali sambil mengecek ponselnya.
"Mandy sudah pergi?"
"He em. Dia mulai sibuk hari ini. Konsernya tinggal dua minggu. Kamu tahu itu"
"Kapan kamu akan melamarnya"
Pertanyaan Natasya membuat Alex mengalihkan pandangannya ke arah Natasya. Di mana gadis itu sudah duduk di depannya.
"Dia perlu kepastian soal perasaannya"
"Dan aku perlu memastikan perasaanku sendiri"
"Oh come on Alex. Jangan membahas itu lagi. Perasaanku sudah jelas. Kamu tahu itu"
"Tapi perasaanku belum"
"Alex jangan mengecewakannya. Dia begitu iri melihat Edgard dan Evan melamar Jocelyn dan Hera. Jelas dia ingin kamu melakukan hal yang sama"
"Aku akan memastikan perasaanku dulu"
"Lupakan aku"
"Jika aku tidak bisa"
"Alex..."
Seketika Natasya mengembangkan senyum terbaiknya. Membuat dada Alex berdesir hebat.
"Aku akan melakukan apapun untuk melihat senyum selalu ada diwajahmu. Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu" Ucap Alex sendu.
"Alex..."
"Seperti katamu perasaanku adalah milikku. Jadi kau tidak bisa melarangku untuk tetap mencintaimu" Tambah Alex.
Ucapan Alex membuat Natasya terdiam.
"Aku melepaskanmu karena hanya Kai yang kau cintai dan hanya dia yang bisa membuatmu bahagia. Tapi untukku, dirimu akan selalu ada dihatiku. Selamanya" Alex menambahkan.
Perlahan Alex mendekat ke arah Natasya.
Membuat Natasya memundurkan tubuhnya.
"Mau apa?" Tanya Natasya curiga.
Alex tidak menjawab. Sungguh dia tidak akan pernah bisa melupakan gadis yang duduk di hadapannya itu. Melihat Alex hanya terdiam. Natasya menjadi lega. Mengira jika pria itu akan melakukan hal yang aneh-aneh lagi.
Namun dugaannya salah. Karena detik berikutnya Alex benar-benar melesatkan ciumannya di bibir Natasya. Membuat Natasya terkejut. Seketika Natasya mendorong mundur dada Alex. Membuat ciuman Alex langsung terurai.
"Apalagi ini?" Protes Natasya.
"Farewell kiss. Ciuman selamat tinggal" Jawab Alex santai. Lantas berlalu pergi keluar dari kamar Natasya.
Natasya mendengus kesal. Sedang seseorang di ujung sana. Hampir saja melempar ponselnya. Rasa marah jelas terlihat di wajah tampannya.
"Ada apa?" Tanya Nadya.
"Nothing" Jawab Kai.
Nadya mengedikkan bahunya melihat sikap Kai. Mereka berdua sedang berada kantor pusat Atmaja Group. Sebuah bank yang menjadi pusat dari ratusan cabang bank yang berada di seluruh negeri ini.
Kali ini Kai mampir dari sidang bu Sarah yang akhirnya akan memasuki babak akhirnya bulan depan. Kai cukup yakin jika wanita itu akan mendapat masa tahanan sesuai dengan tuntutan yang ia ajukan.
Mengingat semua bukti benar-benar memberatkannya. Bahkan Alex dan Angela pun turut menjadi saksi dalam kasus Bu Sarah. Hingga persidangan bu Sarah cukup menyita perhatian publik. Banyaknya orang penting yang terlibat didalamnya. Membuat sidang itu selalu ramai dengan wartawan yang ingin meliput beritanya.
"Kak, tidak bisakah kakak bersikap lunak sedikit pada kakek Wira dan Fanny" Tanya Nadya ragu.
Dia cukup sedih dengan hubungan ketiganya.
"Entahlah Nad. Aku masih begitu marah pada mereka"
"Kakak membenci mereka?"
"Tidak"
"Kalau begitu marahannya udahan ya" Bujuk Nadya. Mendengar bujukan Nadya yang seperti anak kecil membuat Kai menatap Nadya.
Gadis itu masih sibuk berkutat dengan laptop dan berkas-berkas di atas mejanya. Tapi masih bisa berusaha membujuknya.
"Kamu berharap aku bisa dibujuk dengan caramu itu"
"Cara bagaimana?"
"Haiissh dasar anak kecil. Ya tetap anak kecil"
"Aku dah gedhe, Kak" Protes Nadya. Kali ini dia menghentikan pekerjaannya. Kemudin menatap Kai.
"Apa kakak tidak kasihan pada mereka?"
"Mereka pantas menerimanya, Nad"
"Iya aku tahu. Tapi bukankah ini sudah cukup. Fanny kemarin sudah bertemu kakak beberapa kali. Berulangkali dia meminta maaf telah menyakiti kalian. Begitu juga dengan kakek Wira. Kak dia sudah tua" Bisik Nadya.
"So...."
"Maafkan mereka" Ucap Nadya tegas.
"Kamu dibayar berapa untuk membujukku?" Tanya Kai curiga.
"Aiisshhh, aku tidak butuh duit. Duitku dah banyak sekarang. Tapi aku pengen kita bisa kumpul. Ketawa-ketawa. Kan asyik tu" Ucap Nadya dengan wajah berbinar. Membayangkan mereka bisa melakukan hal itu.
"Kakak kan tahu aku ini selalu kesepian. Cuma berdua sama kak Tasya. Seneng tahu begitu aku tahu masih punya keluarga" Ujar gadis itu sendu.
Kai terdiam cukup lama. Dia juga banyak mendapat laporan dari Leo. Jika Fanny menolak mengambil alih kepemimpinan HD GROUP. Membuat tuan Hadiwinata sedikit kewalahan menghandle semua perusahaannya. Ditambah dengan usianya yang tak lagi muda.
"Akan aku pertimbangkan" Sahut Kai pada akhirnya.
Jawaban Kai membuat Nadya langsung menghambur memeluk Kai.
"Nadya stop. Kamu membuat kusut bajuku. Nanti Justin cemburu padaku. Lepaskan" Protes Kai.
"Janji dulu"
"Kan aku sudah bilang akan aku pertimbangkan" Kai mengangkat kedua belah tangannya. Enggan memeluk balik Nadya.
"Janji dulu" Kekeuh Nadya.
Kai terdiam,
"Kak...." Rengek Nadya.
"Iya, iya nanti aku ketemu mereka" Balas Kai pada akhirnya. Nadya akan sulit dihadapi jika sudah merengek seperti anak kecil. Dan benar saja begitu Kai mengiyakan permintaan Nadya. Gadis itu langsung melepaskan pelukannya. Membuat Kai lega seketika.
"Dewasalah sedikit, Nad" Saran Kai. Namun gadis itu hanya mengedikkan bahunya. Enggan menanggapi saran Kai.
Tanpa sadar keakraban mereka ditangkap oleh sepasang mata yang sejak tadi berdiri di belakang pintu. Enggan untuk masuk.
"Bahkan kamu tidak pernah bersikap semanis dan sehangat itu kepadaku Kak, baik sebagai adik ataupun sebagai seorang perempun. Ah sepertinya kehadiranku memang tidak diharapkan oleh banyak orang"
Batin wanita itu lantas melangkah pergi dari ruangan itu.
***
Up lagi readerku tercintah
Happy reading semua
Jangan lupa ritualnya ya🙏🙏🙏
Love you all 😘😘😘
****