
Natasya bangun dari tidurnya. Eh salah dia dibius oleh pria itu. Pria yang dia tidak kenal sama sekali. Dia melihat sekeliling. Dimana dirinya kini berada? Natasya melihat dirinya. Dia masih memakai baju yang sama dengan yang ia pakai tadi pagi.
Ah jam berapa ini? Pikir Natasya sambil menepuk-nepuk kepalanya. Mencoba menghalau rasa pusing yang masih mendera kepalanya.
"Aaargghhh" Ringisnya ketika rasa pusing tak juga pergi dari kepalanya.
"Kau sudah bangun?" Tanya suara baritone seorang pria dari arah pintu.
Natasya langsung menatap ke arah suara itu. Dia langsung merangsek mundur. Melihat pria yang telah membiusnya.
"Kamu mau apa?" Natasya bertanya takut.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Setidaknya untuk saat ini" Pria itu berkata.
Natasya menatap nanar pada pria itu. Sedangkan pria itu tersenyum tipis melihat ketakutan di wajah Natasya.
"Namaku Luis Liu. Kamu bisa memanggilku Luis. Natasya Arianna Atmaja. Atau kakak sepupuku sering memanggilmu Anna. Nama yang cantik"
Ucapan Luis membuat Natasya terkejut.
"Dia tahu siapa aku. Kakak sepupu? Siapa kakak sepupunya?" Batin Natasya.
"Kamu tahu siapa aku" Tanya Natasya.
Luis tersenyum mengejek.
"Aku tahu semua tentangmu, Sya" Jawab Luis.
Natasya semakin terkejut.
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya? Uang? Kakekku bisa memberikan berapapun yang kamu mau" Natasya mencoba bernegosiasi.
Luis kembali tersenyum.
"Kuakui kedua kakekmu memang kaya. Tapi aku tidak butuh uang kakekmu. Aku sendiri sudah kaya. Kau belum tahu siapa aku, Natasya" Luis berucap dingin.
Natasya terdiam. Dia benar-benar tidak mengenal pria dihadapannya ini. Tapi kenapa Luis sepertinya begitu mengenal dirinya.
"Makanlah dulu. Perjalanan kita masih panjang" Pinta Luis sambil meletakkan sepiring makanan di hadapan Natasya.
"Itu makanan kesukaanmu bukan?" Tambah Luis.
Namun Natasya tidak menggubris soal makanan. Tapi soal kemana Luis membawanya.
"Perjalanan? Memangnya kita sedang pergi ke mana?" Kepo Natasya penasaran.
"Shanghai" Jawab Luis.
"Kau sudah gila! Untuk apa kau membawaku ke Shanghai?" Protes Natasya.
Natasya langsung melompat turun dari kasur. Berjalan cepat ke arah pintu. Namun Luis dengan cepat meraih pinggang Natasya. Menahan gadis itu agar tidak keluar kamar.
"Lepaskan aku!! Kembalikan aku ke Jakarta. Kembalikan aku kepada tunanganku!!" Pekik Natasya.
"Oh, kalian sudah bertunangan?" Kata Luis setengah meledek.
Sedang Natasya terus meronta, membuat Luis semakin mempererat kunciannya pada pinggang Natasya.
"Lepaskan aku!!!" Natasya semakin kuat meronta. Tangannya terus memukul dada Luis. Agar pria itu melepaskan kuncian pada pinggangnya.
Luis sedikit kewalahan menghadapi tingkah Natasya. Hingga pria itu dengan cepat membawa tubuh Natasya ke atas kasur. Menghempaskan tubuh gadis lantas langsung mengungkungnya.
Membuat Natasya diam seketika. Wajahnya dan wajah Luis hampir tidak berjarak. Hidung mereka saling menempel. Wajah Natasya memerah seketika. Membuat Luis menyeringai.
"Jangan bilang kalau kakak sepupuku belum pernah menyentuhmu" Desis Luis.
Natasya terdiam. Memang kenyataannya seperti itu.
"Oh come on. Yang benar saja jika kamu masih virgin" Tambah Luis.
Membuat wajah Natasya semakin merah.
Luis tertawa. Dia heran di zaman sekarang masih ada seorang wanita yang masih virgin. Ditambah kakak sepupunya yang bahkan belum pernah menyentuh tunangannya. Hebat sekali, begitulah pikir Luis.
Dan ketika Luis tertawa. Kuncian pada tubuh Natasya sedikit melonggar. Kesempatan itu tentu tidak disia-siakan oleh Natasya. Dia menggunakan kekuatan tangannya. Sekuat tenaga dia mendorong tubuh Luis ke samping. Membuat Luis langsung terjatuh dari kasur.
Buuugghhh,
"Aaarggghhh" Teriak Luis.
Natasya langsung melesat keluar dari kamar itu. Sedang Luis langsung bangkit dari jatuhnya.
"Brengsek!! Mau lari kemana kamu?" Teriaknya menggelegar di kamar sempit itu.
Namun ketika Luis berlari keluar kamar. Didapatinya gadis itu telah berada dalam cekalan anak buahnya. Luis menyeringai penuh kemenangan.
"Kau pikir akan lari ke mana, ha?" Tanya Luis dengan tatapan setajam elang.
Natasya terus meronta. Namun detik berikutnya dia meringis kesakitan. Cekalan kedua pria itu begitu menyakitkan di lengannya. Tepat di bekas jahitan kemarin. Perih terasa.
"Bodoh!! Jangan menyakitinya! Berapa kali aku bilang. Lepaskan dia!" Perintah Luis.
"Kau berdarah?" Tanya Luis panik.
Melihat luka di lengan Natasya. Luis nampak begitu marah.
Dan buggghh,
Satu pukulan mendarat di wajah bodyguard yang tadi mencekal lengan kirinya. Bodyguard itu tidak bergeming. Hanya bisa menerima pukulan dari tuannya.
"Berani kau melukainya!" Maki Luis.
"Maaf tuan. Saya tidak sengaja" Balas bodyguard.
"Berhenti. Kalau kalian mau adu jotos. Di luar sana jangan disini" Salak Natasya.
Dia masih terus memegangi lukanya.Yang kembali berdarah. Dokter Leri sudah berpesan padanya jika lukanya lebar dan juga dalam. Jadi perlu waktu agak lama untuk sembuh.
"Carikan kotak P3K cepat!" Perintah Luis.
"Duduklah dulu" Ucap Luis menuntun Natasya untuk duduk di kursi.
Natasya menepis tangan Luis yang ingin membantunya.
"Jangan menyentuhku!" Natasya memperingatkan Luis.
"Kau benar-benar keras kepala!" Salak Luis.
Setelah menerima kotak P3K Luis langsung membukanya. Mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan lukanya.
"Aku bisa sendiri" Kembali Natasya menolak.
Namun Luis tidak peduli. Dia dengan cepat membersihkan darah yang masih mengalir dari luka di lengan Natasya.
"Aarrgh. Pelanlah sedikit" Ringis Natasya.
"Kita akan memeriksanya begitu sampai ke Shanghai. Aku tahu kau sebenarnya tidak boleh terluka. Kau masih dalam masa observasi setelah prosedur stem cell-mu" Kata Luis.
Yang membuat Natasya langsung menatap wajah Luis.
"Kau tahu?" Tanya Natasya.
"Sudah aku katakan aku tahu semua tentangmu, Sya" Balas pria itu.
"Siapa kau sebenarnya?" Kepo Natasya memicingkan mata. Menatap Luis yang kini sudah duduk di hadapannya. Pria itu tengah menuang wine ke dalam gelasnya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku" Sahut Luis enteng. Lantas mulai meminum wine-nya.
"Makanlah" Pinta Luis melembut. Ketika seorang pramugari meletakkan sepiring steak yang terlihat begitu lezat.
"Aku tidak lapar" Sahut Natasya cepat.
"Makanlah. Masih sekitar 12 jam. Sebelum kita sampai ke Shanghai" Bujuk Luis sambil melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Pulangkan aku. Aku mau bertemu Kak Kaizo" Pinta Natasya.
Mendengar nama Kaizo.Wajah Luis berubah kesal.
"Jangan menyebut nama itu didepanku" Luis mengingatkan.
"Kenapa? Kau kenal juga tidak" Pancing Natasya.
Dia ingin tahu kenapa Luis menculik dirinya. Membawanya jauh-jauh ke Shanghai. Banyak pertanyaan berputar di kepalanya. Dan kenapa juga Luis tampak begitu benci mendengar dirinya menyebut nama Kaizo.
"Aku tidak perlu mengetahui apapun tentang si brengsek itu" Kembali Luis menjawab dingin soal Kaizo.
Natasya terdiam. Bahkan Luis menyebut kak Kai-nya dengan sebutan brengsek. Apa mereka adalah rival bisnis. Dan Luis sedang menggunakan dirinya untuk mengancam kak Kai-nya. Seperti cerita di film-film itu.
"Kenapa kau diam. Makanlah" Ucap Luis lagi.
Natasya bergeming. Dia mulai menyandarkan tubuhnya di kursi empuk itu. Mencoba mencari posisi paling nyaman. Dia ingin kembali tidur. Berharap setelah bangun nanti ini semua hanya mimpi. Gadis itu mulai memejamkan mata indahnya.
"Mau kuberitahu sesuatu soal tunanganmu" Luis memancing Natasya.
Natasya langsung membuka matanya begitu mendengar nama Kaizo disebut. Pria itu dilihatnya tengah memainkan ponselnya.
"Cih, begitu mendengar nama si brengsek itu kau langsung tertarik" Luis berucap sinis.
Natasya memejamkan matanya kembali. Malas melayani ucapan Luis.
"Dia sedang dalam perjalanan menuju Shanghai. Dia menyusulmu" Info Luis.
"Benarkah?" Tanya Natasya dengan wajah berbinar.
"Bahagia sekali dirimu" Batin Luis.
"Mereka akan tiba lima jam setelah kita mendarat" Beritahu Luis lagi.
Hati Natasya kembali bersorak gembira. Kaizo benar- benar mencintainya.
***