
Kai sedang termenung di kamar apartemennya. Dia teringat percakapannya dengan Jocelyn tadi pagi.
"Aku tidak bertemu Tasya kemarin. Mungkin dia hanya menjadikanku kambing hitam saja" Ucap Jocelyn berbohong.
"Lalu di mana dia sekarang?" Tanya Kai.
Jocelyn terdiam.
"Sekarang aku tanya padamu. Kamu mengenal Tasya dengan baik. Dengan sifatnya. Apa yang akan dia lakukan setelah tahu kamu akan menikah dengan gadis lain?" Tanya Jocelyn balik.
Kai terdiam. Dengan sifat Natasya apa yang kira-kira akan dia lakukan.
"Dia akan menjauh dariku. Dia takut kehadirannya akan menggangguku. Oh Jocelyn, jangan bilang dia menjauh dariku. Aku bisa gila" Ucap Kai frustrasi.
"Lalu kamu bisa apa? Kamu tahu keputusan kakekmu akan sangat sulit dirubah" Ujar Jocelyn.
"Aku tidak bisa hidup tanpanya Jo. Aku lebih baik mati daripada kehilangan dia" Kata Kai sendu.
"Bagaimana jika dia menginginkan kamu untuk melakukan itu. Menikah dengan Fanny" Tutur Jocelyn.
"Apa dia sudah gila? Apa dia tidak mencintaiku?" Tanya Kai tidak percaya.
Jocelyn kembali terdiam.
Hal yang sama pun terjadi pada Jocelyn. Dia masih ada di kamar VIP Natasya menunggu Hera yang mengatakan akan datang terlambat.
Jocelyn menatap wajah Natasya yang sudah terlelap. Sedetik kemudian air matanya menetes tanpa diminta.
"Aku harus bagaimana Jo. Aku sangat mencintainya.Tapi aku juga tidak bisa egois pada Fanny. Dia adikku" Ucap Natasya sambil terisak.
Jocelyn tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menepuk pelan punggung sahabatnya itu.
"Aku tidak tahu. Tapi tidakkah kamu ingin memberitahunya tentang keadaanmu. Dia seperti orang gila mencarimu. Dia juga sangat mencintaimu" Tutur Jocelyn.
"Tidak, dia tidak boleh tahu keadaanku. Dia dan Nadya, mereka tidak boleh tahu keadaanku. Keadaanku hanya akan membuat mereka ikut terpuruk bersamaku. Aku tidak mau itu terjadi. Biar, biarkan aku sendiri yang menjalaninya. Sudah cukup bagiku jika mereka baik-baik saja" Ucap Natasya membuat Jocelyn sedih.
"Tasya tidak bisakah kamu jadi orang yang egois sedikit. Apa kamu tidak ingin bahagia? Apa kamu tidak ingin bersatu dengannya. Ha? Kenapa kamu terlalu baik pada mereka?" Jocelyn berteriak.
Dia begitu kesal pada sahabatnya yang terlalu memikirkan orang lain. Tanpa memikirkan dirinya sendiri.
"Apa artinya aku bahagia jika adikku menangis sedih"
"Dia hanya adik tirimu! Bukan adik kandungmu! Berhentilah bersikap baik padanya!" Bentak Jocelyn.
"Lyn, please jangan begini padaku. Jangan memaksaku jadi orang jahat. Dia memang adik tiriku. Tapi kami satu ayah. Ada darah ayah yang mengalir ditubuh kami. Jangan membuatku berada di tempat yang sulit untuk memutuskan. Aku mohon Lyn"
Lyn adalah panggilan Natasya untuk Jocelyn jika dia sudah sangat susah untuk dibujuk.
Jocelyn menarik nafasnya.
"Bisakah kamu tidak terlalu baik pada orang lain" Bisik Jocelyn.
Tak lama Hera datang. Mereka pindah, duduk ke sofa yang agak jauh dari bed Natasya.
"Sendiri?" Tanya Jocelyn.
"Evan hanya mengantarku, dia harus balik lagi ke kantor. Kerjaannya belum selesai" jelas Hera. Dan Jocelyn mengangguk.
"Bagaimana?" Kembali Jocelyn bertanya.
"Kita akan sulit untuk menghindari Kai" Hera berujar.
"Kamu benar. Dia benar-benar tidak akan menyerah sebelum bisa menemukan Tasya" Jocelyn membenarkan.
"Sepertinya kita tinggal menunggu waktu sampai Kai menemukan Tasya" Ucap Hera. Dan lagi-lagi Jocelyn hanya membenarkan.
"Bagaimana tesnya" Hera mengalihkan.
"Hasilnya dua hari lagi. Itu aku meminta mereka bekerja lembur. Biasanya perlu waktu satu minggu. Aku berharap hasilnya baik-baik saja" Info Jocelyn.
Beberapa saat kemudian keduanya terdiam.
"Oh iya. Aku mau menyerahkan ini" Ucap Hera.
"Apa ini?" Tanya Jocelyn heran.
"Ini buku tabunganku dan Evan. Setidaknya itu cukup untuk membantu biaya rumah sakitnya Tasya. Ini semua pasti mahal" Ucap Hera sambil menatap kamar VIP Natasya.
"Kenapa? Tidak mungkin kan kalian menanggung semua biaya perawatan Tasya" Kata Hera heran.
"Tasya tidak akan kekurangan biaya untuk pengobatannya" Beritahu Jocelyn.
Membuat Hera semakin heran. Dan Jocelyn pun akhirnya menceritakan siapa Natasya sebenarnya.
"What!!! Jadi aku selama ini hidup sama cucu sultan. Unbelieveable" Hera hampir menjerit.
"Karena itu jangan khawatir soal biaya rumah sakit Tasya. La wong rumah sakit ini saja separo sahamnya milik Tasya" Ujar Jocelyn.
Membuat Hera semakin melongo.
"But wait, wait. Apa dia tahu siapa dirinya"
Jocelyn menggeleng.
"Oh my God" Ucap Hera.
"Jo, kalau dia cucu seorang penguasa, kenapa tidak mencoba menggunakan kekuasaan kakeknya untuk menggagalkan pernikahan ini" Usul Hera.
"Itu kalau Tasyanya mau. La wong dia berkeingingan supaya Kai nikah sama gadis itu. Soale gadis itu adik tirinya" Jelas Jocelyn membuat Hera kembali hampir berteriak.
"Ha?" Itu beneran Jo?" Tanya Hera tidak percaya.
"Mereka satu ayah. Jadi yang aku tahu. Ayahnya Tasya dipaksa menikah lagi setelah pernikahannya dengan ibunya Tasya tidak mendapat restu dari Kakeknya Tasya" Jelas Jocelyn.
"Wah, kejam sekali orang itu" Maki Hera.
"Yah, kakek Natasya sangat kejam menurutku. Dia akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya. Tidak segan untuk menyakiti orang lain bahkan cucunya sendiri" Ujar Jocelyn.
Hari berganti. Hari pernikahan Kai semakin dekat. Membuat Kai semakin pusing dibuatnya. Hampir seharian ini dia benar-benar tidak mood bekerja. Di tambah Fanny yang terus mengganggu dirinya dengan hal-hal receh mengenai pernikahan konyol mereka. Membuat Kai semakin geram.
Ditambah lagi dia belum bisa menemukan Natasya membuat kepalanya serasa mau pecah.
Sedang disatu sisi. Dua hari sudah berlalu sejak tes BMP yang Natasya lakukan. Dan hasilnya membuat Jocelyn terduduk lemas.
"Positif Leukemia stadium 2"
Dia benar-benar tidak percaya dengan hal itu.
"Prof ini benar kan? Prof tidak salah kan?" Tanya Jocelyn tidak percaya dengan kertas yang tengah dipegangnya.
"Aku juga sama denganmu Jo. Aku bahkan sampai mengulanginya hingga tiga kali. Dan hasilnya tetap sama. Dia memiliki sel darah putih lebih tinggi dari hasil tes hitung darah lengkapnya. Dan dari BMP yang kita lakukan kemarin. Bisa dipastikan jika ini adalah Leukemia Mieloid Akut (Acute Myeloid Leukemia atau AML)" Kata Profesor Herini.
"Leukemia Mieloid Akut (AML) adalah jenis penyakit leukemia akut yang disebabkan karena sumsum tulang belakang memproduksi terlalu banyak sel darah putih yang belum matang. Mempengaruhi sel mieloid ( jenis sel darah putih yang berperan dalam melawan infeksi dan mencegah kerusakan jaringan tubuh) sehingga menyebabkan mieloblast (sel darah putih yang belum matang) menjadi tidak normal"*
*Sumberhellosehat.com
"Kita harus cepat bertindak Jo, kemungkinan dia akan mengalami anemia. Kita harus mengaturkan dia untuk melakukan terapi radioaktif. Untuk persiapan melakukan stem cell (tranplantasi sumsum tulang belakang). Kita sudah menerima sample sumsum tulang belakang dari adiknya bukan?" Ucap Profesor Herini.
Dan Jocelyn mengangguk.
"Cepatlah bertindak. Jenis ini sangat agresif dan cepat memburuk. Dia harus menjaga emosi dan hatinya. Itu akan sangat berpengaruh pada proses penyembuhannya" Tambah Prof Herini.
Dan Jocelyn benar-benar kehilangan kata. Dia terlalu shock dengan hasil tes Natasya. Sungguh itu di luar dugaannya. Dia sama sekali tidak menyangka jika leukemia yang Natasya derita sudah masuk stadium dua. Dia kecolongan banyak dalam hal ini.
"Halo, hasil tesnya sudah keluar" Ucap Jocelyn melalui ponselnya.
Sesaat Jocelyn hanya terdiam. Mendengarkan suara seseorang diujung sana berbicara. Tak lama bahunya bergetar hebat. Dia menangis dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
***
Up sedikit readersku tercinta, ngantuk berat euy, 😁
Mau dong dikopiin atau dikasih kembang sekebon kayak author yang sudah top itu (mode malak on) 😅😅
Anyway thank's sudah mampir,
Jangan lupa di like dan ritual lainnya ya readersku tercinta,
Happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘😘
****