
Natasya begitu terkejut dengan sosok yang sudah menggagalkan usahanya nyebur ke danau.
"Kamu ingin bunuh diri?" Teriak suara itu lagi.
Natasya terdiam. Dia sendiri tidak tahu dengan apa yang dilakukannya. Dia seperti orang yang dihipnotis untuk berjalan ke ujung dermaga.
"Jawab aku! Kenapa kamu diam saja?!" Tanya pria itu lagi.
Bukannya menjawab. Natasya malah semakin bungkam. Tak satupun kata keluar dari bibirnya.
Hal itu membuat Kai gemas sekaligus marah. Ya, ternyata pria yang menarik tubuh Natasya menjauh dari ujung dermaga itu adalah Kai. Natasya semakin melamun melihat Kai marah-marah padanya.
Hingga tiba-tiba Kai meraih tengkuk Natasya lantas mencium bibir Natasya lembut. Membuat Natasya mengedip-ngedipkan matanya saking terkejutnya. Untuk beberapa saat keduanya terhanyut dalam ciuman penuh kerinduan itu.
"Aku sangat merindukanmu, Anna" Batin Kai di sela-sela ciuman mereka.
Hingga ciuman mereka terurai, ketika keduanya mulai kekurangan oksigen.
"Jangan melakukan hal yang bodoh. Tetaplah hidup, jika kamu ingin aku tetap hidup. Hidupku tergantung padamu. Kamu hidup, aku hidup. Kamu mati, aku tidak punya pilihan selain menyusulmu" Ucap Kai menatap dalam bola mata Natasya.
"Kenapa kamu begitu bodoh. Menyandarkan hidupmu padaku?" Ucap Natasya berkaca-kaca.
"Aku memang bodoh. Apa kamu baru tahu" Canda Kai.
Ucapan Kai membuat Natasya menangis.
"Jangan menangis. Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi. Bisakan kamu melakukannya untukku? Aku tidak akan minta banyak darimu. Tetaplah hidup dan jangan menangis" Ucap Kai sambil memeluk Natasya.
"Dua, tapi lebih mudah mati dari melakukan itu" Gerutu Natasya.
Membuat Kai tersenyum.
"Bisa katakan kenapa ingin terjun ke sana?" Tanya Kai.
"Aku ingin pergi ke tempat Alan"
Kai terdiam. Dia tahu gadis ini sama putus asanya dengan dirinya.
"Alan saja ingin kembali bersamamu. Kenapa juga kamu ingin ke sana" Ucap Kai seperti bicara pada anak kecil.
"Dia bohong padaku. Dia bilang aku akan bahagia walau tidak bersamanya. Tapi nyatanya..bohong"
"Pergilah denganku. Dan kau akan bahagia. Aku jamin.." Bujuk Kai.
Natasya menghela nafasnya.
"Aku tidak bisa" Jawabnya lirih.
Giliran Kai yang menghela nafasnya. Dia tahu betapa keras kepalanya gadis yang ada didepannya ini.
"Aku pergi" Pamit Natasya lantas berlalu dari hadapan Kai.
"Tidak bisakah kamu tinggal lebih lama di sini?" Pinta Kai.
"Tidak. Aku tidak bisa" Jawab Natasya.
"Aku akan selalu merindukanmu dan mencintaimu" Ucap Kai. Membuat Natasya tidak kuasa lagi membendung air matanya.
"Akhir minggu ini adalah hari pernikahannya" Ucap Kai.
"Maka lakukan seperti yang aku minta" Pinta Natasya perih.
Kai kembali menghela nafasnya. Dia hanya bisa memandang kepergian Natasya dengan rasa kecewa dihatinya.
"Tidak maukah kamu berjuang bersamaku. Bisakah kamu sedikit egois pada dirimu sendiri. Tanpa memperdulikan orang lain yang belum tentu peduli padamu" Ucap Kai lirih.
Memandang Natasya yang berlalu setelah masuk ke sebuah mobil hitam yang seolah tengah menunggunya.
"Keluarga Kusuma" Guman Kai.
***
Kembali keadaan Natasya memburuk ketika dia kembali ke rumah sakit. Kalau biasanya hanya tensinya yang anjlok kali ini dia mengeluh sesak nafas.
Membuat Jocelyn dan tim dokter memutuskan bahwa akhir pekan ini Natasya akan menjalani stem cell. Karena kemungkinan kankernya sudah mulai menyerang paru-parunya. Dan itu sangat berbahaya.
"Akhir minggu ini? Cepat sekali" Ujar Hera.
"Kita tidak punya waktu lagi" Jocelyn berkata.
"Akhir minggu ini. Wah dua orang bodoh ini, seperti akan maju ke medan perang bersama-sama" Seloroh Alex.
"Maksudmu?" Tanya Evan.
"Kai menikah akhir minggu ini. Dan Natasya maju operasi hari itu juga" Jelas Alex.
Membuat ketiga yang lainnya saling pandang.
"Takdirkah ini?" Seolah ketiganya mempunyai pendapat yang sama.
Natasya sedang berada di kamarnya sendirian. Hera, Alex, Evan bahkan Jocelyn sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mereka semua ingin menemani dirinya saat operasinya berlangsung.
Meski Natasya berkata tidak usah. Namun mereka semua bersikeras akan datang. Membuat Natasya tidak bisa menolak. Kecuali Alex. Mereka ingin Alex tetap pergi ke pernikahan Kai agar tidak ada yang curiga.
"Kalian boleh kenapa aku tidak?" Alex protes.
"Tidak akan ada yang perasan aku datang atau tidak. Lagipula aku bukan orang yang penting untuk ada disana" Alasan Alex.
"Orang lain tidak curiga kamu tidak datang. Tapi Kak Kai. Dia akan berpikir kalau terjadi sesuatu dengan Natasya. Ini bisa mengacaukan semuanya" Jelas Jocelyn.
Alex terdiam.
"Oh come on Lex. Kamu bisa langsung ke sini. Setelah acaranya selesai" Pinta Hera kali ini.
"Tidak adil!" Protes Alex lagi.
"Come on bro. Mengalahlah" Kali ini Evan yang bicara.
"Kamu satu tim dengan mereka?" Tanya Alex tidak percaya.
"Sorry, I don't have a choice" Jawab Evan.
(Maaf, aku tidak punya pilihan)
Alex menggeram kesal.
"Oke-oke aku akan pergi. Padahal ogah aku lihat muka Kai saat dia nikah dengan cewek manja itu" Maki Alex.
"Pura-pura tidak lihat saja" Seloroh Evan.
Dan sebuah bantal sofa mendarat tepat di wajah Evan.
"Ini KDRT, bro!" Ucap Evan dengan nada menggoda.
"Hiiii, aku masih lempeng. Belum belok. Masih doyan cewek!" Ucap Alex jijik.
Membuat yang lain mengulum senyum. Setidaknya masih ada tawa di tengah duka yang tengah mereka rasa.
***
Kai tengah memandang langit ibukota yang sudah menggelap. Dia berdiri di tepi jendela di apartemannya. Satu tangan memegang gelas wine. Satu tangan masuk ke celananya.
Sesekali dia meneguk minuman yang berada di tangannya. Pikirannya melayang ke pertemuan terakhirnya dengan Natasya.
Ingin sekali dia melihat gadis itu. Lusa adalah hari pernikahan gilanya.
Dia sudah kehabisan akal untuk menghindarinya. Hanya karena Natasya menginginkan dia menikah dengan Fanny. Adik tirinya. Yang bahkan peduli dengan Natasyapun tidak.
"Ini gila!" Ucapnya pelan lantas meneguk habis minumannya.
Ting tong, ting tong
Bel pintunya berbunyi. Kai mengerutkan alisnya. Melirik jam di pergelangan tangannya. Masih jam 9. Siapa yang berkunjung? Pikir Kai.
Sejak kejadian Fanny hampir memperko**nya waktu itu. Dia jadi waspada pada orang yang datang ke apartemennya. Bahkan Leo harus menelepon dulu sebelum datang.
Dia melihat dari layar monitor. Hanya nampak siluet tubuh seorang wanita. Namun wajahnya tidak terlalu jelas. Yang dia takutkan adalah Fanny akan bertindak yang tidak-tidak, sebelum hari pernikahan mereka tiba.
Ting tong, ting tong,
Bel kembali berbunyi,
Kai memegang handle pintu dengan ragu. Dia pikir kalau itu Fanny maka dia akan langsung mengusirnya. Tidak akan membiarkannya masuk.
Ceklek,
Pintu mulai Kai buka, dan matanya langsung membulat melihat siapa yang berada di depan pintu apartement-nya.
Sesaat dia terdiam. Berusaha mempercayai yang dia lihat, tidak mungkin kan ini dia? Dia tidak mungkin ada di sini kan?
Pertanyaan itu berputar di kepalanya. Hingga suara lembut itu membuyarkan lamunannya. Memaksanya percaya kalau yang dia lihat adalah benar.
Dia yang ada di pikirannya. Berada didepannya saat ini.
"Boleh aku masuk?" Tanya suara itu.
Membuat Kai langsung menarik tangan gadis itu. Membawanya masuk ke apartementnya. Lantas memeluk gadis itu erat. Seolah tidak ingin melepasnya. Berharap ini bukan mimpi.
"Kamu datang? Kamu ada di sini? Aku sangat merindukanmu!" Ucap Kai tidak percaya.
Membuat gadis yang ada dalam pelukannya hanya terdiam. Menikmati pelukan hangat dari Kai.
***
Up lagi readersku tercinta,
Author lagi kesambet bisa triple up hari ini,
Thank's sudah mampir ya,
Jangan lupa dilike dan ritual lainnya ya. Author tunggu lo 🤗🤗🤗
Happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘😘
****