
Suara keributan di luar ruangan Kai membuat Kai dan yang lainnya sejenak saling pandang. Detik berikutnya Kai melangkah ke pintu. Bersamaan dengan pintu yang dibuka dari luar.
"Ada apa?" tanya Kai melihat kepanikan di wajah kepala pelayannya.
"Itu Tuan Muda...Nona Wu membuat keributan dia mengancam...."
Belum sempat kepala pelayan menyelesaikan laporannya. Kai langsung melesat keluar ruangan diikuti Thomas dan yang lainnya.
Begitu sampai di taman. Amarah Kai naik seketika. Melihat Janice Wu tampak mengarahkan pistol ke arah Luis yang menjadi tameng bagi Natasya yang tengah menangis ketakutan dalam pelukan bibi Tang.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kai emosi.
Sedang tuan Wu yang melihat tingkah putrinya langsung pucat wajahnya.
"Oh hai Kak. Aku hanya sedang menyingkirkan penghalang bagi perjodohan kita. Dia kan wanita yang menggodamu?" ucap Janice Wu santai.
Luis langsung terkekeh mendengar perkataan Janice. Tuan Wu semakin pucat wajahnya.
"Penghalang? Penggoda? Kau yang penggoda dasar jal***" maki Luis.
"Singkirkan itu sekarang juga!" perintah Kai.
"Tidak mau. Sebelum kakak menyetujui perjodohan kita" jawab Janice.
"Kau yang memaksaku!" ucap Kai.
Kai mengulurkan tangannya pada Thomas. Dan sebuah Revolver kini berada di tangan Kai. Pria itu mengokang senjatanya. Lantas mengarahkannya pada Janice. Membuat semua orang panik seketika. Terlebih tuan Wu.
"Janice apa yang kau lakukan. Turunkan pistolnya" perintah tuan Wu.
"Ayah ini bagaimana? Bukankah ayah bilang kita harus melakukan apapun agar aku bisa menjadi Nyonya Muda Liu" jawab Janice.
Membuat tuan Wu semakin ketakutan.
"Menjijikkan!" lagi Luis memaki.
Sedang Natasya semakin ketakutan melihat dua orang saling menodongkan pistol di hadapannya. Gadis itu semakin mempererat pelukannya pada bibi Tang.
"Kai kau membuatnya takut" Luis memperingatkan.
Tapi Kai seolah tidak peduli. Dia begitu marah. Seseorang berusaha menyakiti Natasya tepat di depan matanya.
"Kau tahu tuan Wu? Lisensiku bukan hanya menembak. Aku bahkan punya lisensi untuk membunuh dalam keadaan terdesak" gertak Kai.
Membuat tuan Wu langsung memohon.
"Jangan sakiti putri saya Tuan Muda" mohon tuan Wu.
"Bujuk dia!" perintah Kai.
"Janice sayang jangan lakukan itu Nak. Lepaskan pistolnya" bujuk tuan Wu.
"Tidak mau! Pokoknya aku mau menjadi Nyonya Muda Liu" kekeuh Janice.
"Kalian menyebalkan. Kenapa melindungi wanita penggoda ini" tambah Janice.
Membuat emosi Kai naik seketika.
"Berhenti menghinanya!" teriak Kai.
"Bahkan Tuan Muda Liu terlihat sangat menyukainya. Lebih baik jika aku melenyapkannya" ucap Janice.
Membuat Luis siaga. Memundurkan tubuhnya. Hingga yakin jika Natasya dan bibi Tang tepat berada di belakangnya
Dooor!!
Dua bunyi tembakan terdengar sekaligus.
"Kak...." pekik Natasya tertahan dalam pelukan bibi Tang.
"Aarrgggghh"
Semua orang menahan nafasnya.
Klontaaannngg,
Terdengar benda terjatuh di atas lantai marmer. Dan itu adalah pistol Janice. Gadis itu berteriak karena Kai menembak tangan Janice. Membuat pistol langsung terlepas dari tangannya bersamaan dengan darah yang mengucur dari pergelangan tangan Janice.
Tidak akan parah. Karena Kai hanya menyerempetkan peluru pada kulit Janice.
Tuan Wu langsung berlari ke arah putrinya. Melihat keadaan putrinya. Sesaat semua orang mengarahkan pandangannya pada kedua orang itu.
Kai langsung mengembalikan Revolver-nya kepada Thomas.
"Itu peringatan dariku. Tapi jika kau membuatku marah lagi. Aku akan benar-benar menghancurkan bisnismu" Kai memperingatkan tuan Wu.
"Thomas, kawal harga saham mereka" perintah Kai lagi.
Membuat Thomas langsung meraih ponselnya. Memberi sederet perintah kepada seseorang di ujung sana.
Sedang tuan Wu semakin pias. Berniat menjaring ikan besar. Tapi malah kesialan yang dia dapat.
"Nona...Nona..." teriak bibi Tang.
Membuat Luis langsung membalikkan badannya. Kai langsung melesat mendekat.
Kedua pria itu nampak panik. Kai dengan cepat meraih tubuh Natasya dalam gendongannya. Luis dengan cepat meraih ponselnya.
"Dokter Xu datanglah ke rumah utama. Tunangan Tuan Muda Liu sepertinya mengalami shock" ucap Luis melalui ponselnya.
"Tunangan? Jadi yang tadi itu tunangan Tuan Muda Liu" bisik semua orang.
Detik berikutnya mereka langsung mencibir putri tuan Wu. Mengakui kalau tunangan Tuan Muda Liu sangatlah cantik. Janice Wu tidak ada apa-apanya.
"Anda lihat kan seperti apa calon Nyonya Muda Liu. Silahkan bandingkan dengan diri Anda Nona. Dan lagi satu calon Nyonya Muda Liu adalah cucu dari dua pengusaha ternama di Indonesia. Jadi silahkan berkaca dulu sebelum bertindak" cibir Thomas sambil berlalu dari hadapan dua orang itu yang kini sangat menyesali perbuatan mereka.
***
Kai nampak merebahkan tubuh lemah Natasya di ranjang besar di kamarnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Luis.
Pria itu berdiri di samping Kai.
"Entahlah. Aku harap dia tidak apa-apa.Kalau tidak akan aku hancurkan harga saham mereka"
"Calm down Bro, dokter Xu sedang otw kemari"
"Xu Kai Cheng? Kenapa kau memanggil dokter laki-laki ha?"
"Astaga dia dokter. Cuma mau periksa" Luis benar-benar tidak percaya kalau Kai begitu posesif pada Natasya.
"Sekarang aku tanya. Kalau Alena disentuh pria lain kau rela tidak?"
"Jawab saja"
"Ya, aku tidak rela"
"La itu tahu. Lalu kenapa kau panggil Xu Kai Cheng kemari. Bukannya An Yue Xi"
"Astaga aku lupa kalau ada dokter An" teriak Luis.
"Baru ingat?"
"Sorry"
"Kau ini. Menambah tensiku saja"
"Nah tu nanti sekalian periksa saja"
Kai mendengus kesal.
"Ya halo Chen"
"...."
"Aku ke sana sekarang"
Kai menatap Luis.
"Ada masalah?"
"Dia terus muntah tidak mau berhenti" keluh Luis.
"Kau harus baik padanya. Lihatlah bagaimana anakmu begitu menyusahkan Alena" saran Kai.
"Aku ingin menikahinya"
"Itu bagus. Setidaknya aku bisa sedikit tenang. Tidak akan ada "pebinor" dalam rumah tanggaku kelak"
"Pebinor? Apa itu?"
"Perebut bini orang"
"Sialan kau" umpat Luis.
Kai terbahak.
"Aku pergi dulu"
"Thank you" ucap Kai yang dibalas lambaian tangan Luis.
Kepergian Luis bersamaan dengan kedatangan Xu Kai Cheng. Yang langsung membuat mood Kai memburuk. Bagaimana tidak Xu Kai Cheng rupanya seorang dokter dengan wajah tampan dan body atletis seperti dirinya.
Wajah Kai benar-benar masam selama Xu Kai Cheng memeriksa Natasya. Dan seperti dugaan Luis. Natasya hanya mengalami shock. Dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Begitu selesai memeriksa Natasya. Dokter Xu sedikit bercakap-cakap dengan Kai. Yang masih saja bermuka masam.
"Ada apa dengan Anda Tuan Muda Liu?" tanya dokter Xu.
"Tidak ada"
"Jangan cemburu pada saya. Saya sudah menikah.Dan sudah memiliki seorang putra" ucap dokter Xu sambil menunjukkan cincin di jari manisnya.
"Anda..."
"Ya Tuan Muda saya sudah menikah dengan dokter An" jelas dokter Xu.
Membuat wajah Kai langsung berbinar cerah. Namun detik berikutnya Kai kembali memasang tampang seriusnya.
"Tapi tetap saja lain kali kalau "dia" yang membutuhkan dokter. Suruh dokter An yang datang" pinta Kai.
"Tidak masalah Tuan Muda Liu" jawab dokter Xu legowo. Cukup paham dengan sifat posesif tuannya itu.
Setelah semua keluar dari kamar Kai. Perlahan pria itu melepas kemeja luarnya.Menyisakan kaos oblong putih yang melekat di tubuh atletisnya.
Kredit Instagram.com
"Bagaimana perasaanmu"
"Takut. Melihat kalian saling menodongkan pistol seperti waktu itu"
"Maaf"
"Benar kak Kai punya lisensi membunuh?"
"Tentu saja tidak. Lisensiku hanya lisensi menembak biasa. Susah untuk mendapatkan a licence to kill"
"Kayak judul serinya James Bond"
"Kamu tahu?"
"Sedikit"
Diam sejenak. Hening menyelimuti. Kai memeluk Natasya erat.
"Menikahlah denganku"
"Ha? Lagi?"
"Kali ini aku serius. Semua masalahku sudah selesai. Aku juga sudah bicara pada kedua kakekmu. Melamarmu meski secara virtual"
"Kak Kai sudah bicara pada kakek-kakekku?"
Kai mengangguk.
"Lalu jawaban mereka?"
"Mereka bilang terserah padamu. Menikah ya...ayo kita menikah" rengek Kai.
"Isshhh kenapa jadi seperti anak kecil begini. Padahal tadi keren lo waktu pegang Revolver"
"Aiih jangan menggodaku. Jadi mau ya menikah denganku please....
Natasya tersenyum melihat tingkah Kai. Dia pikir berapa kali pria di hadapannya ini melamar dirinya. Perlahan dibelainya lembut wajah sang kekasih. Diusapnya rahang tegas milik Kai. Lalu ditatapnya dalam dua bola mata Kai. Sedetik kemudian senyum terkembang sempurna di wajah Natasya.
"Baik. Mari menikah kali ini" ucap Natasya.
Membuat Kai ikut mengembangkan senyumnya.
"Terima kasih Anna. Terima kasih" ucap Kai sambil menciumi seluruh wajah Natasya. Dan berakhir dengan sebuah ciuman penuh kelembutan.
*****