
Natasya sampai di rumah Nek Lastri ketika hari mulai gelap. Keduanya sempat membeli sushi, tempura dan ebifurai. Ketika mobil mereka berhenti di sebuah SPBU Untuk mengisi bahan bakar.
Ternyata di depan SPBU itu ada sebuah restoran Jepang. Dan Natasya ingin membeli. Selain dirinya sudah lama tidak makan makanan Jepang. Dia ingin membeli oleh-oleh untuk Agus dan Nek Lastri.
Dan kebetulan di dekat restoran Jepang itu ada ATM. Jadi sekalian Natasya mengambil uang cash. Jaga-jaga kalau kartu sakti Kai tidak laku.
Kali ini Kai boleh tersenyum. Dia bisa menggunakan kartu saktinya di restoran itu.
"Kamu bisa beli sebanyak yang kamu mau. Aku yang bayar" Tantang Kai sombong.
"Alah, itu karena kartumu laku. Coba kalau tidak" Ledek Natasya.
Kai nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Keduanya duduk di salah satu meja di restoran itu sambil menunggu pesanan take away mereka.
"Eh beli banyak boleh kan. Kemarin denger-denger temannya Agus pada mau datang. Katanya mau patungan mau buat usaha bengkel" Ucap Natasya.
"Masa?" Tanya Kai balik.
Natasya mengangguk.
"Kamu tahu nggak kalau Agus itu suka sama kamu?" Tanya Kai. Ada nada cemburu dalam pertanyaan Kai.
"Tahu" Jawab Natasya cuek.
"Lalu?" Kai kesal Natasya bisa cuek menghadapi Agus yang jelas-jelas punya rasa padanya.
"Apanya? Aku tidak suka padanya. Lagipula aku punya kamu. Ngapain juga melirik yang lain" Jawab Natasya santai. Membuat rasa cemburu Kai sedikit berkurang.
"Beneran kamu nggak ada rasa sama Agus?" Tanya Kai memastikan.
"Ya ampun Kak. Masih tidak percaya. Orang Alex saja aku tolak. Apalagi Agus, biarpun dia baik orangnya" Natasya meyakinkan Kai.
"Lagian Agus itu sudah diuber-uber sama Ika. Itu cewek yang mendorongku waktu itu. Dia menuduhku merebut Agus dari dia" Tambah Natasya.
Kai terdiam. Dia masih jealous mode on.
"Kakak jangan marah lagi. Besok anterin aku ke Tebing Breksi. Terus sorenya lihat sunset di Ratu Boko. Lusa kita pulang" Ucap Natasya yang langsung membuat wajah Kai berbinar senang.
"Beneran kamu mau pulang?" Tanya Kai tidsk percaya.
"Iya pulang. Pengen tidur di kamar pink-ku di rumah Kakek. Kata Nadya cantik kamarnya" Sahut Natasya.
"Kenapa tidak tanya padaku saja soal kamar pink-mu itu" Tanya Kai sambil menaikkan satu alisnya.
"Iiisshh Kakak mana tahu kamarku"
"Siapa bilang. Yang tidur pertama kali diranjangmu adalah aku. Dan sumpah ranjangnya enak banget buat bercin**" Ucap Kai dengan kata terakhir diucapkan sambil berbisik.
Sontak satu keplakan mendarat di lengan kekar Kai.
"Aduuh sakit, Ann" Keluh Kai.
"Siapa suruh mesum" Ucap Natasya sambil berbisik.
"Habis mau ngapain lagi setelah kita nikah kalau tidak..." Kai menggantung ucapannya.
"Iiisshhh Kakak ini" Potong Natasya dengan wajah merona malu.
Entah kenapa dia menjadi begitu malu mendengar kata menikah. Teringat part plus 21 yang pernah terlintas di kepalanya. Ketika Nek Lastri mengatakan kalau perempuan yang harus pandai ini dan itu ketika sudah menikah. Termasuk urusan kasur alias ranjang.
Wajahnya semakin merah ketika Kai malah semakin menggodanya.
"Kenapa wajahmu begitu merah Ann. Jangan-jangan kamu sudah tidak sabar ya ingin menikah denganku. Bagaimana kalau kita langsung menikah saja sepulang dari sini. Pesta belakangan" ucap Kai semakin gencar menggoda Natasya.
"Kakak....." Rengek Natasya.
Membuat Kai tertawa terbahak-bahak. Tidak peduli pengunjung lain menatapnya aneh. Namun tatapan mereka berubah menjadi bisik-bisik tetangga. Begitu tahu yang tertawa terbahak-bahak adalah seorang pria yang sangat tampan.
Tawa Kai terhenti ketika take away mereka datang. Empat buah paperbag besar berisi pesanan mereka kini memenuhi jok belakang mobil Kai. Tentu saja setelah Kai dengan bangganya bisa membayar makanan mereka kali ini.
"Akhirnya dipakai juga kartunya" Ucap Kai sambil menyalakan mesin mobilnya. Mulai menjalankan mobilnya menyusuri jalanan Kulon Progo yang lumayan ramai malam ini. Maklum jalur ke bandara baru.
"Memang tidak pernah dipakai selama ini?" Tanya Natasya. Dan Kai mengangguk.
"Utuh dong isinya" Seloroh Natasya.
"Aku sendiri bahkan tidak tahu berapa isi masing-masing kartuku itu. Semua Leo yang urus. Aku cuma menentukan pin-nya saja" Ucap Kai. Membuat Natasya menautkan alisnya.
"Pin?" Tanya Natasya.
"Iya, soalnya pin kartuku semua satu. Tanggal lahir kamu" Jawab Kai sambil menatap wajah Natasya. Karena mereka ada di lampu merah.
Natasya memandang Kai tidak percaya.
"Kenapa? Tidak percaya? Bisa dicek. Kamu bisa gunakan kartuku besok. Supaya kamu percaya kalau pin-nya ulang tahunmu. Sama seperti kamu yang menggunakan tanggal lahirku sebagai password di ponselmu. Betul tidak?" Balas Kai sambil tersenyum tipis sekaligus menaikkan satu alisnya.
"Kok Kakak bisa tahu.." Tanya Natasya.
"Tahulah..." Jawab Kai santai.
"Iiisshhhh, Kakak menyebalkan" gerutu Natasya. Sedang Kai kembali tersenyum tipis melihat ekspresi Natasya.
Setengah jam kemudian. Mobil Kai mulai memasuki halaman rumah Nek Lastri. Dan benar saja rumah Nek Lastri tampak begitu ramai dengan beberapa sepeda motor dan juga teman-teman Agus yang sudah duduk lesehan di teras rumah Nek Lastri.
"Baru pulang Mas?" Tanya Agus begitu melihat Kai turun dari mobilnya.
"He e" Jawab Kai singkat.
Teman-teman Agus mulai berbisik-bisik melihat penampilan Kai. Semua kagum terlebih Ika dan temannya yang juga ikut nimbrung di sana.
"Selamat malam semua" Sapa Natasya. Sedang Kai hanya menatap dingin pada teman-teman Agus.
"Jangan galak-galak amat. Mereka takut" Bisik Natasya di telinga Kai. Sedetik kemudian Kai langsung mengulas senyum tipis di bibirnya. Membuat teman-teman Agus membalas senyum Kai.
Sedang teman Ika sudah hampir berteriak melihat Kai tersenyum.
"Duh Gusti. Kuwi mau makhluk Tuhan paling ngganteng sing tau tak weruhi" Ucap teman Ika setelah Natasya menarik Kai masuk ke ruang tamu.
(Ya Tuhan. Itu tadi makhluk Tuhan paling tampan yang pernah aku lihat)
"Agus tolong ambil plastik di jok belakang" Pinta Natasya.
Agus langsung membuka mobil. Dan meraih empat paperbag besar. Yang langsung dibawa masuk.
"La kenapa dibawa masuk? Ini sana dimakan sama teman-teman biar diskusinya lancar" Ucap Natasya setelah mengambil satu paperbag. Dan menyerahkan sisanya kepada Agus.
"Buat kita Anna?" tanya Agus. Dan Natasya mengangguk. Sedang Kai sudah mulai memainkan ponselnya. Mengecek e-mail dari Leo dan juga Thomas.
Dan begitu paperbag sampai didepan dan dibuka isinya. Agus dan teman-temannya mengucapkan terima kasih sambil berteriak dari depan rumah Nek Lastri.
Membuat Nek Lastri yang baru keluar kamar. Langsung menegur.
"Hei, jangan berteriak-teriak seperti itu. Ora sopan (tidak sopan)" Tegur Nek Lastri.
Dan berikutnya ucapan minta maaf yang terdengar. Kai sendiri langsung bangun dan mencium punggung tangan Nek Lastri begitu Nenek itu masuk kembali ke dalam rumah.
"Duuuh nggantenge cah iki"
(Aduuh tampannya anak ini)
Ucap Nek Lastri membuat Kai bengong karena tidak tahu artinya.
"Jangan dipuji terus Nek. Nanti gedhe kepalanya" Seloroh Natasya yang baru datang dari dapur. Membawa piring, garpu dan sendok.
"La wong kenyataannya begitu kok. Mau apa lagi" Jawab Nek Lastri.
"Ngomong apa sih?" Tanya Kai penasaran.
Natasya lantas membisikkan sesuatu di telinga Kai. Membuat pria itu tersenyum lebar.
"Terima kasih Nek. Aku memang tampan. Tidak sombong dan baik hati" Balas Kai sambil nyengir.
"Tu kan Nek"
Dan giliran Nek Lastri yang tertawa.
"Ini apa?" Tanya Nek Lastri ketika Natasya menghidangkan satu piring. Berisi sushi, tempura dan ebifurai.
" Ini namanya sushi. Empuk kok Nek. Nenek pasti bisa makan" Ucap Natasya.
Dan Nek Lastri mulai mencoba sushi. Lalu manggut-manggut.
"Enak juga. Ada asemnya sedikit" Komen Nek Lastri.
Sedang Kai juga mulai makan piring bagiannya berdua dengan Natasya. Sambil sebelah telinganya mendengar diskusi Agus dan teman-temannya. Tak berapa lama Kai bangkit dari duduknya menuju ke teras depan.
"Kalian perlu modal berapa?" Tanya Kai.
"Banyak Mas" Jawab Agus singkat.
Lalu Agus menyerahkan sesuatu ke Kai.
"Ini kartunya Mas kemarin. Maaf lupa mau dikembalikan. Saya nggak ngambil duitnya kok mas" Ucap Agus.
Namun Kai tidak bergeming.
"Pakai saja itu sebagai modal" Pinta Kai pada akhirnya.
"Maksudnya?" Tanya Agus dan lainnya sama tidak pahamnya dengan ucapan Kai.
"Kartu itu isinya lima ratus juta. Kalian bisa menggunakannya sebagai modal" Jelas Kai.
"Haaaaaa" Hanya kata itu yang terdengar dari semua orang ditempat itu.
"Tapi Mas tidak usah. Kami mau patungan saja" Tolak Agus merasa tidak enak.
"Begini saja. Anggap saja saya meminjamkannya. Jika kalian sudah mulai untung kalian bisa mencicil mengembalikannya. Bagaimana?" Usul Kai.
Semua orang mulai berbisik-bisik. Berdiskusi.
"Kalian diskusikan saja dulu. Lalu buat rincian penggunaan dananya. Jadi kalian akan tahu berapa persisnya modal yang kalian perlukan. Kartunya kamu bawa saja. Pin-nya masih sama" Ucap Kai.
"Kalian terima saja. Mumpung dia lagi baik. Dan dia ini tidak suka ditolak" Suara Natasya tiba-tiba ikut nimbrung.
"Tapi Anna..." Agus ingin membantah.
"Alah buat apa sih mikir-mikir lagi. Kalian perlu modal buat nikah to" Ucap Natasya cepat.
Semua mengangguk.
"Ya sudah kami diskusikan dulu" Kata Agus mewakili teman-temannya.
"Bagus aku tunggu proposalnya besok" Balas Kai.
"Baik Boss" Sahut Agus dan teman-temannya.
Kai tersenyum melihat semangat Agus dan teman-temannya.
*****