
Kai membawa Natasya menuju tempat pesta pernikahan mereka di gelar.Ada empat spot di sudut ballroom dengan empat dekorasi yang berbeda.
Di sisi barat,
Di sisi timur,
Di sisi selatan,
Di sisi utara,
All kredit google.com
Natasya menatap takjub pada dekorasi pernikahan yang Kai siapkan untuknya. Dia sendiri bahkan tidak tahu seperti apa dekorasi pernikahannya sendiri. Hingga dia kini dibuat melongo dengan hasil kerja uang sang suami.
"Suka?" bisik Kai.
Sang istri langsung mengangguk antusias.
"Maaf mungkin kurang sesuai dengan impianmu yang full pink. Tapi WO-nya bilang akan akan monoton sekali jika full pink. Jadi mereka menambahkan beberapa warna sebagai campuran" jelas Kai.
"Tidak masalah. Ini bagus sekali. Terima kasih" jawab Natasya cepat.
Jawaban sang istri kembali membuat Kai mengembangkan senyumnya. Bahagia sekali rasanya bisa melihat senyum itu selalu terukir di bibir mungil sang istri.
Mereka berjalan menuju dekorasi di sisi selatan. Di mana area dansa tersedia di spot utara. Sehingga cukup dekat dengan tempat mereka duduk. Para tamu bertebaran di mana-mana. Menikmati pesta pernikahan Kai dan Natasya di masing-masing spot yang mereka suka.
Tidak ada kursi pelaminan. Yang ada hanya sofa santai. Karena Kai ingin suasana pernikahannya terkesan santai. Tamu undangan bisa mengucapkan selamat kepada kedua mempelai tanpa harus mengantri. Mereka bisa melakukannya kapan saja. Di saat waktu mereka senggang.
"Selamat Bro. Akhirnya dapat juga" ucap Jason memeluk erat Kai.
"Thank you" jawab Kai.
"Kakakku pasti senang. Wanita yang dicintainya jatuh ke tangan yang tepat" tambah Jason.
"Aku harap begitu. Semoga saja dia marah aku menikungnya" canda Kai.
"Menikung darimananya. Kalian bertemu jauh setelah kakakku pergi" ujar Jason.
"Kamu punya kakak Jason?" tanya Natasya.
Jason menatap Kai seolah ragu untuk menjawab. Namun tatapan mata Kai seolah menyiratkan kalau Jason bisa menceritakannya pada Natasya.
"Aku punya kakak laki-laki Kak. Tapi dia sudah meninggal. Aku adik dari Alan Park" jawab Jason ragu.
Dan benar saja. Natasya langsung terkejut mendengar hal itu.
"Kamu adik Alan. Kenapa kamu tidak bilang. Dan kamu kenal Alan?" tanya Natasya.
"Dia sohib baikku" jawab Kak.
"Kalian membohongiku?" tanya Natasya.
"Bohong apanya? Kami hanya tidak jujur karena kami tidak mau kamu sedih. Berapa tahun kamu perlukan untuk merelakan Alan pergi meski kalian cuma teman?" tanya Kai.
Natasya terdiam.
"Sudahlah Kak. Tidak perlu dipikirkan. Kakakku pasti bahagia di sana. Melihat Kakak menikah dengan sahabat baiknya" hibur Jason.
"Tapi Jason..."
"Sudah. Jangan merusak hari bahagia kalian karena masa lalu. Dia sudah tenang di sana" imbuh Jason.
Sejenak Natasya terdiam.
"Berbahagialah selalu. Dengan begitu kakakku pasti akan ikut bahagia" ucap Jason menepuk pelan bahu Kai lalu berlalu pergi dari hadapan keduanya.
"Marah?" tanya Kai setelah kepergian Jason.
"Tidak. Hanya saja Alan tidak pernah cerita dia berteman denganmu" tanya Natasya.
"Aku di Singapura kala itu. Dia dulu hanya sering bercerita. Kalau dia menyukai seorang gadis tapi tidak pernah punya kesempatan untuk memiliki hatinya" cerita Kai.
"Aku jahat ya?" tanya Natasya.
"Tidak. Itu adalah pilihan Alan untuk mencintaimu. Bukankah sejak awal kamu sudah mengatakan pada Alan kalau kamu tidak mencintainya kan?" Kai balik bertanya sambil memeluk tubuh sang istri.
Natasya mengangguk dalam pelukan Kai.
"Woi ngamar sono kalau mau mesra-mesraan" seloroh Alex yang datang bersama sang istri, Mandy.
"Iya-iya habis ini ngamar. Sampai lusa. Jadi jangan diganggu ya" jawab Kai sambil mengedipkan matanya.
"Dasar..." gerutu Alex.
"Kenapa? Kalian boleh kenapa aku tidak?" ledek Kai.
"Woi ada anak kecil. Disensor dong ngomongnya" cerocos Nadya yang baru datang bersama Justin.
Natasya auto melongo. Melihat mereka semua sarimbitan.
"Kecil darimananya coba?" oceh Hera.
"Ini kalian jauh-jauh ke Shanghai pakainya sarimbitan" seloroh Natasya.
"Bagus tidak. Sekali-sekali kondangan antimainstream" ucap Evan.
Dan semua kompak memasang gaya photoshoot terbaik mereka ketika satu kamera seorang fotografer mengarah ke arah mereka.
"Antimainstream kalau di sini. Kalau di Jakarta mah sudah biasa. Kondangan sarimbitan. By the way bajunya oke lho. Thank you sudah dibeliin waktu ke Jogja" seloroh Edgard yang akhirnya bicara. Dia salah satu orang yang irit bicara.
Kai memberi kode oke. Akhirnya semua duduk di sofa yang disediakan di area itu. Bercanda sambil menikmati makanan yang silih berganti dihidangkan pelayan. Sesekali menerima ucapan selamat dari para tamu yang datang menyapa.
Para orang tua nampak berkumpul di spot mereka sendiri. Sangat bahagia melihat kemeriahan pernikahan cucu dan keponakan mereka.
"Kak..." rengek Nadya.
"Apa?" tanya Natasya.
"Boleh tahun depan kami menyusul?" tanya Nadya.
Natasya seketika membulatkan matanya. Lantas melirik ke arah Justin.
"Kamu sudah melamarnya?" tanya Natasya.
Perlahan Nadya menunjukkan jari manis kanannya. Dimana sebuah cincin cantik bertengger di sana.
"Maaf Kak" ucap Justin serba salah.
"Kamu kok nggak bilang ngelamar anak gadis orang" kesal Natasya.
"Maaf Kak. Belum lamaran resmi. Nanti kalau Kakak sudah kasih lampu ijo. Baru deh aku datang ke rumah buat lamaran resminya" jawab Justin.
"Jadi boleh ya tahun depan kita nyusul" rengek Nadya kembali.
Natasya terdiam. Sementara Kai hanya diam sambil memeluk bahu sang istri.
"Boleh. Tapi kamu harus kembali ke Jakarta dulu. No LDR-an" ucap Natasya tegas.
"Siap Kakak" jawab Justin cepat.
"Wah tinggal aku nih yang cuma bisa gigit jari. Nggak bisa gigit yang lain" seloroh Jason.
Yang membuat semua terbahak tapi tidak dengan Angela yang langsung mendelik di balik gelas wine yang dia minum.
Sudah jadi rahasia umum jika Jason harus ekstra sabar menunggu Angela bersedia ia nikahi. Karena tuntutan kontrak yang tidak mengizinkan untuk dia menikah dulu.
Padahal Angela sudah meminta Jason untuk menikahi wanita lain jika dirinya tidak bisa menunggu. Namun Jason menolak. Dengan alasan sudah mentok cinta mati dengan Angela. Lagipula sulit sekali melewati seleksi ketat tuan Park untuk bisa masuk ke keluarga besar Park.
"Wah ramai sekali di sini" seloroh Steven dan Lin Qian.
Semuanya langsung welcome ke pasangan uwu yang baru saja bergabung. Semua sudah saling mengenal hingga dengan cepat langsung membaur.
"Alena mana Kak?" tanya Natasya.
"Tadi dia ke toilet. Biasa masih belum bisa diajak kompromi babynya" jawab Lin Qian.
"Sama Luis tidak?" tanya Kai.
Lin Qian mengangguk.
Semuanya mulai menikmati pestanya. Dokter Su dan Profesor Huang datang memberi selamat. Hanya sebentar karena keduanya langsung berbaur dengan kolega mereka dari dunia mereka.
Suara MC menarik perhatian seluruh tamu.Kedua pengantin dipersilahkan memulai acara dansa malam itu.
"Bolehkah?" tanya Kai mengulurkan tangannya pada sang istri. Yang langsung disambut oleh Natasya. Lantas perlahan membawanya menuju ke hall dansa di spot utara. Meletakkan tangannya di pinggang ramping sang istri. Sedang Natasya dengan sedikit ragu melingkarkan tangannya di leher kokoh sang suami.
Semua bertepuk tangan ketika sepasang pengantin itu memulai first dance mereka.
Disusul pasangan-pasangan lainnya.
Jocelyn dan Edgard. Alex dan Mandy. Hera dan Evan. Steven dan Lin Qian. Justin dan Nadya. Jason dan Angela.
Natasya jelas masih begitu gugup dengan posisi mereka yang sangat intim. Kedua tubuh mereka saling menempel kala Kai semakin merapatkan pinggang ramping Natasya ke tubuhnya.
"Jangan begitu gugup. Membuatku semakin tidak tahan untuk segera menerkammu diatas" ucap Kai sambil mengedipkan matanya.
Ucapan Kai sukses membuat Natasya memanyunkan bibirnya. Yang justru membuat Kai langsung melesatkan sebuah ciuman yang begitu lembut.
"I Love You Natasya Arianna Atmaja"
Kredit google.com
****