
Natasya langsung turun ke ruang makan. Begitu ia selesai dengan ritual mandi dan ganti baju. Dia asal berjalan saja. Hingga dia menemukan ruang makan di sisi kiri tangga. Dia melihat Alena tengah menikmati sarapannya juga. Sepertinya gadis itu sudah terbiasa berada di vila ini.
"Silahkan Nona. Anda mau sarapan apa? Biar saya ambilkan" Tawar Alena.
"Tidak perlu. Aku akan ambil sendiri. Kamu nikmati saja sarapanmu" Sahut Natasya.
"Manis sekali wanita ini. Dan lagi dia begitu mirip dengan Nona Luna" Batin Alena.
Alena menarik nafasnya pelan.
Natasya mulai mengambil sandwich sebagai sarapan seperti biasanya. Beberapa pelayan nampak hilir mudik melakukan pekerjaannya. Sedikit melirik pada Natasya. Mungkin heran dengan kehadiran Natasya di sana.
Dengan aksen khas orang timur. Membuat mereka sedikit berbisik-bisik. Siapa gadis cantik yang tengah sarapan ditemani oleh sekretaris tuannya itu.
"Ah bagus sekali, tidak bertemu dengan tuan gila itu adalah sesuatu yang baik" Batin Natasya.
Mata Natasya melirik ke kanan dan kiri. Mencari celah untuk meloloskan diri.
Lagi-lagi sepi. Kenapa dia tidak melihat satu orangpun yang berjaga disana.
"Alena, boleh aku meminjam ponselmu. Aku ingin menghubungi tunanganku" Natasya mencoba.
"Tunangan? Jadi wanita ini sudah bertunangan. Lalu kenapa tuan Luis membawanya kemari" Kembali Alena membatin.
"Maaf Nona. Tuan Luis tidak mengizinkan Anda menghubungi siapapun" Tolak Alena halus.
Jawaban Alena membuat Natasya memanyunkan bibirnya. Walaupun dia sudah menduga akan mendapat penolakan.
"Katanya penculik paling baik yang pernah ada. Cih ternyata sama saja dengan penculik lainnya. Dasar tuan gila" Batin Natasya tak berhenti mengumpat Luis.
Mata Natasya kembali melihat ke sana kesini.
"Dan satu lagi Nona. Tuan Luis juga berpesan kalau Anda tidak perlu bersusah payah untuk melarikan diri. Dia bilang tidak akan pernah berhasil" Ucap Alena lagi.
"Nona Alena. Kan saya baru satu kali gagal tapi tidak masalah. Saya masih punya seribu satu cara untuk lari dari tuan gilamu itu" Balas Natasya kalem.
"Tuan gila? Anda memanggil tuan Luis dengan sebutan itu. Apakah dia marah?" Tanya Alena.
"Pertama kali sih marah. Lama-kelamaan dia diam saja tu tak panggil gila" Jawab Natasya santai.
"Haaa tidak mungkin kan kalau tuan Luis jatuh cinta pada wanita ini" Batin Alena dengan dada makin berkecamuk.
Natasya masih asyik dengan sarapannya ketika ekor matanya melihat Luis yang berjalan masuk bersama seorang pria paruh baya.
Tampak tidak peduli dengan Natasya yang tampak menikmati sarapannya.
"Bagus-bagus abaikan saja aku. Memang itu yang seharusnya kau lakukan" Batin Natasya sambil melirik tajam ke arah Luis.
"Dasar gadis kurang ajar. Beraninya dia menendang asetku semalam. Kita lihat saja bagaimana aku akan menghabisimu malam nanti" Batin Luis.
Berlalu tanpa melihat Natasya sedikitpun. Itulah kenapa semalam Natasya memilih mengunci diri di kamar mandi. Setelah dia berhasil lepas dari kurungan tangan Luis dengan cara menendang milik Luis.
Membuat pria itu mengumpat Natasya sekeras-kerasnya. Dan Natasya hanya tertawa cekikikan mendengar umpatan Luis dari dalam kamar mandi.
"Dia siapa? Orang yang bersama tuan gila?" Natasya kepo.
"Itu bukan urusan Anda, Nona" Alena menjawab tegas.
"Ahh kamu tidak asyik" Gerutu Natasya.
Natasya melihat sorot mata Alena berbeda saat melihat Luis lewat tadi.
"Alena.." Panggil Natasya.
"Ya, Nona?"
"Apa kamu menyukai tuan gila itu?" Tanya Natasya to the point.
Membuat Alena langsung tersedak teh yang tengah diminumnya.
"A..apa maksud Nona? Menyukai tuan Luis? Itu tidak mungkin" Alena menjawab dengan wajah merah, semerah kepiting rebus.
"Aduh kenapa sih nona ini pakai bertanya hal seperti itu. Aku kan jadi salah tingkah" Batin Alena.
"Oh fix, ada pengagum rahasia tuan gila disini rupanya" Batin Natasya merasa mempunyai celah untuk menyerang Luis.
"Eehh Nona. Kalau Anda sudah selesai sarapan. Anda bisa kembali ke kamar. Saya harus mengurus sesuatu dulu" Pamit Alena langsung kabur dari hadapan Natasya.
"Ya, ya beginilah nasib jadi korban penculikan" Omel Natasya seorang diri.
Tak berapa lama, Natasya mulai naik ke lantai dua. Awalnya ingin kembali ke kamar. Namun ketika melewati sebuah pintu. Dia mendengar samar-samar orang yang tengah berbicara didalamnya.
Natasya menempelkan telinganya ke daun pintu. Berusaha mencuri dengar pembicaraan orang yang berada didalam sana.
"Itu kan suara Luis dan... atau itu orang dia panggil profesor semalam" Guman Natasha semakin kepo.
"Jadi kau ingin mengubah rencanamu" Tanya profesor Huang yang terdengar jelas di telinga Natasya.
Luis mengangguk.
"Lalu bagaimana janinnya. Janinnya sudah siap untuk dipindahkan ke rahim ibu penggantinya. Ah kau ini membuatku pusing saja. Kalau tahu kau akan berubah pikiran aku kan tidak akan melakukan prosedur ini" Maki profesor Huang. Kali ini dia tidak peduli lagi kalau Luis akan marah padanya.
"Secepatnya" Tegas profesor Huang.
"Aku usahakan"
"Lalu apa rencanamu mengenai gadis itu? Tunangan kakak sepupumu?"
"Ibu pengganti? Tunangan kakak sepupu?" Ah mereka membicarakan apa sih. Aku tidak paham" Batin Natasya.
"Aku rasa aku jatuh cinta padanya. Dan aku ingin memiliki anak darinya" Timpal Luis.
"Kau gila? Kau tahu kan dia tunangan kakak sepupumu. Tindakanmu akan memperburuk keadaan" Profesor Huang memperingatkan.
"Aku tidak peduli dengan akibatnya. Aku ingin memiliki anak dari tunangan kakak sepupuku. Natasya Arianna Atmaja" Ucap Luis.
Natasya langsung membulatkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Tuan gila itu ingin punya anak dariku. Yang benar saja. Dia pasti sudah benar-benar gila" Batin Natasya.
"Dan aku ingin melakukannya malam ini. Gadis itu dalam masa suburnya bukan?" Tanya Luis.
"Ma...malam ini? Tidak! Aku tidak mau pria gila itu menyentuhku. Aku harus lari dari sini sekarang!" Natasya mulai menjauh dari ruang itu.
Tapi sialnya dia menyenggol vas bunga yang ada didekatnya saking gugupnya.
"Pyar"
Suara barang pecah terdengar sampai ke ke dalam ruangan tempat Luis dan Profesor Huang tengah berbicara.
"Siapa?" Tanya Luis.
Tidak ada jawaban.
"Mungkin pelayan menjatuhkan sesuatu" Ujar Profesor Huang.
Namun tak lama seorang penjaga masuk dengan wajah ketakutan.
"Ada apa?" Tanya Luis.
"Itu..itu Tuan. Nona itu...
"Ada apa? Bicara yang jelas. Ada apa dengan Natasya?" Tanya Luis lagi.
"Nona Natasya...
****
"Apa laporanmu valid?" Steven bertanya.
Mereka sudah separuh perjalanan menuju vila Utara.
"Ada masalah?" Tanya Kai.
"Ahhh aku rasa aku tahu alasan mengapa Luis membawa tunanganmu Brother" Ujar Steven ragu.
"Apa tujuannya?" Kepo Kai.
Steven melirik Justin yang duduk dihadapan mereka.
"Dia ingin menggunakan tunanganmu untuk dijadikan ibu pengganti untuk anak Luis dan Luna" Jawab Steven takut-takut.
Dia sedikit tahu kalau Kai punya temperamen yang buruk. Dia sangat berbahaya jika sudah mengamuk. Dan benar saja. Kemarahan langsung tergambar jelas diwajah Kai.
"Kau bilang apa? Luis ingin Anna hamil anaknya dan Luna. Bagaimana dia bisa melakukan itu pada Anna? Kenapa harus Anna?" Teriak Kai membuat semua orang memejamkan mata. Mendengar teriakan Kai yang menggelegar.
"Mungkin karena Anna mirip dengan Luna" Steven menjawab lirih.
"Tapi dia bukan Luna! Kau sendiri yang bilang kalau Luna sudah meninggal!" Jawab Kai masih dengan emosinya yang setinggi langit.
"Kai tenangkan dirimu dulu" Bujuk Justin, berusaha meredam amarah Kai.
"Tenang bagaimana? Sekarang kalau kalian diposisiku. Apa kalian rela? Nadya atau Kak Lin hamil anak orang lain. Padahal kalian belum menyentuhnya"
"La ini orang marah karena tunangannya mau dijadikan ibu pengganti atau karena dia belum unboxing Anna" Batin Steven dan Justin hampir bersamaan.
"Tenang dulu Brother. Itu tadi baru rencana Luis. Dia belum melakukannya sampai sekarang. Dan dalam 3 jam lagi kita akan menjemputnya. Jangan berpikiran yang macam-macam dulu" Steven lagi.
"Banyak hal bisa terjadi dalam tiga jam Brother. Bahkan satu perusahaan bisa hancur dalam hitungan menit" Balas Kai, tidak berani membayangkan seandainya Natasya hamil anak orang lain.
"Kau pikir Anna perusahaan IT-mu atau bursa saham" Seloroh Justin.
Kai langsung mendelik ke arah Justin.
"Calm down Bro. Semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Anak buahku akan berusaha mencegah jika mereka akan memulai prosedurnya. Dan sampai saat ini anak buahku belum melaporkan apapun" Jelas Steven menenangkan.
"Everything is gonna be okay. Don't worry and keep calm"
(Semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Tetaplah tenang)
*****