
"Pergilah, Fan!" Usir Kai.
"Tapi Kak, biarkan aku mengobati lukamu" Pinta Fanny.
"Aku bisa melakukannya sendiri. Pergilah" Usir Kai lagi.
"Tapi Kak..." Fanny mencoba membantah.
"Aku bilang pergi! Jangan mengurusiku lagi!" Kali ini Kai benar-benar marah.
Sorot matanya memerah. Menunjukkan betapa besar amarah yang tengah ditahannya. Tidak peduli dengan Fanny yang matanya mulai berkaca-kaca.
Fanny melangkah keluar dari ruangan Kai. Detik berikutnya pria itu menyambar amplop yang berisi surat pengunduran diri Natasya. Membacanya lantas merobeknya. Membuat Leo terdiam.
"Aku tidak akan pernah menyetujui pengunduran dirimu!" Ucap Kai.
***
"Ma..." Rengek Fanny.
"Kamu kenapa? Dia bersikap kasar lagi padamu?" Tanya bu Sarah.
Fanny hanya terdiam.
"Kamu tenang saja Fanny. Dia tidak akan bisa lari ke mana-mana. Cepat atau lambat dia akan jadi milikmu" Hibur bu Sarah.
Fanny hanya terdiam. Dia memeluk erat tubuh mamanya.
"Jangan menangis" Hibur bu Sarah lagi.
"Lihat saja anak adopsi! Akan aku buat kau membayar setiap tetes air mata yang dikeluarkan oleh putriku"
**
Mobil yang membawa Natasya langsung masuk ke area UGD. Tadinya mobil itu diminta untuk berhenti di lobi. Namun ketika salah satu bodyguard itu menghubungi Jo mengatakan kalau Natasya pingsan di mobil. Membuat Jo yang saat itu bersama Edgard tengah menyiapkan ruang VIP untuk Natasya. Langsung meminta mereka untuk membawanya ke UGD.
Dan begitu mobil itu tiba. Dengan cepat Edgard langsung meraih tubuh gadis itu. Membawanya masuk dalam gendongannya. Lantas membawanya masuk ke UGD tanpa menunggu brangkar pasien.
Beberapa pemeriksaan awal dilakukan.
"Tekanan darahnya normal"
"Pupil matanya juga normal"
"Semua masih normal. Hanya saja...tingkat stressnya tinggi Jo. Ini yang membuatnya pingsan" Ucap Edgard.
Jocelyn mengangguk.
"Kita pindahkan saja ke ruang rawatnya. Dia akan lebih nyaman di sana" Saran Edgard.
Dan tak berapa lama. Tubuh Natasya sudah terbaring di ranjang queen size rumah sakit itu.
Kredit google.com
Jo sengaja menyiapkan sebuah kamar yang terlihat begitu nyaman. Membuatnya seolah berada di kamar sendiri. Karena dia tidak tahu. Akan berapa lama Natasya dirawat di sana.
Sejenak ditatapnya wajah Natasya. Wajah itu terlihat pucat dan sembab.
"Aku akan menghubungi Hera" Ucap Jocelyn. Meraih ponselnya dan langsung berbicara dengan Hera.
Sejenak Edgard hanya bisa menatap wajah cantik Natasya. Baru kali ini dia bertemu langsung dengan pasien istimewa Jocelyn.
"Semoga kamu bisa melewati ini semua, Nona" Guman Edgard.
"Bagaimana?" Tanya Egdard.
"Dia akan datang sebentar lagi" Jawab Jocelyn.
"Kita akan memulai pemeriksaannya besok" Ucap Jocelyn lagi.
Edgard hanya mengangguk.
"Dia akan dengan siapa selama di sini?" Tanya Edgard.
"Entahlah. Dia melarangku memberitahu adiknya. Dan juga Kak Kai. Orang yang dekat dengannya akhir-akhir ini" Jawab Jo sendu.
"Kai? Kai siapa?" Tanya Edgard.
"Kaizo Aditya. GM-nya HD TV" Jawab Jocelyn. Yang kini telah duduk di sofa diikuti Edgard.
"Kai yang ini?" Tanya Edgard. Menunjukkan ponselnya yang tengah memutar konferensi pers tadi pagi. Jo Membulatkan matanya.
"Dasar brengsek!" Umpat Jocelyn.
"Aku pikir kak Kai serius dengan Tasya. Ternyata dia cuma mempermainkan perasaan Tasya" Ucap Jocelyn lagi.
"Mungkin dia stres karena hal ini. Jika keduanya mempunyai hubungan. Pasienmu pasti tertekan dengan berita ini" Ujar Edgard.
Jocelyn memasang wajah kesalnya.
"Tapi tunggu dulu Jo" Potong Edgard cepat.
"Sepertinya kita tidak boleh menyalahkan orang itu juga. Lihatlah" Kata Edgard lagi sambil menunjukkan ponselnya lagi.
Sejenak dia memperhatikan layar ponsel Edgard.
"Dia..."
"Dia terpaksa berada di sana. Ada kemungkinan dia terpaksa melakukan hal itu. Kita bisa lihat dengan jelas" Tambah Edgard.
"Apa mungkin kakek tua itu memaksakan perjodohan ini. Sama seperti cerita Papa"
****
"Apaaaa!!" Lisa hampir saja meledakkan suaranya jika saja Leo tidak segera menutup mulut Lisa dengan tangannya.
"Pelankan suaramu" Ucap Leo.
"Itu beneran?" Tanya Lisa tidak percaya.
"Bos sendiri yang cerita. Sekarang kalau seperti itu, Bosku bisa apa" Jawab Leo sendu.
Leo langsung speachless begitu dia mendesak Bosnya bercerita tentang pernikahannya dengan Fanny. Selain menjadi tangan kanan Kai. Leo adalah sahabat yang selalu ada untuk Kai.
Senang susah sudah banyak mereka lewati bersama. Hingga membuat pertemanan mereka berubah layaknya saudara. Umur keduanya sama. Hanya Kai lebih tua beberapa bulan dari Leo.
"Benar-benar tidak menyangka tuan besar bisa melakukan hal itu. Dia mengancam bosmu menggunakan Bosku. Mengerikan sekali" Ucp Lisa tidak percaya.
"Kalau begitu caranya siapapun akan melakukan yang bosku lakukan" Ujar Leo yang langsung diangguki oleh Lisa.
"Aku juga tidak tahu. Apalagi tadi pagi bosmu sudah menyerahkan surat pengunduran dirinya" Info Leo yang langsung membuat Lisa tersedak.
"Uhuk..uhuk..uhuk...apa maksudmu surat pengunduran diri bagaimana?" Tanya Lisa.
"Kamu tidak tahu. Bosmu mengundurkan diri dan merekomendasikan kamu sebagai penggantinya" Jawab Leo membuat Lisa ternganga.
"Leo itu tidak mungkin. Dia bilang padaku kalau mau berangkat liburan. Bukan mengundurkan diri" Bantah Lisa.
"Sa, aku sendiri yang membaca surat pengunduran dirinya sebelum dirobek Bos. Dia bilang tidak akan pernah menyetujuinya" Tutur Leo.
"Ini sebenarnya apa sih yang terjadi" Tanya Lisa bingung.
"Tunggu dia bilang padamu akan pergi liburan bukannya mengundurkan diri?" Tanya Leo. Lisa mengangguk.
"Dia juga menyembunyikan sesuatu" Simpul Leo.
"Maksudmu?"
"Kamu bilang bosmu berubah setelah bertemu dengan temannya yang seorang dokter?" Tanya Leo dan Lisa kembali mengangguk.
"Aku rasa ini berhubungan dengan general check up-nya" Ucap Lisa.
Leo terdiam.
"Bosku tiap tahun ikut general check up. Tahun kemarin hasilnya oke. Dia memberitahuku. Tapi tahun ini aku tidak tahu hasilnya. Dia tidak memberitahuku. Dia hanya memberitahu kalau dia ingin mengambil liburannya" Jelas Lisa.
"Aku akan memberitahu bos soal hal ini" Ucap Leo cepat.
"Tapi sementara itu silahkan berpusing ria karena broadcasting divisi sementara ada dipundakmu" Kekeh Leo.
"Itu dia masalahnya" Keluh Lisa.
"Oh ya satu lagi yang aneh. Aku sejak tadi pagi tidak bisa menghubungi bosku"
"Masih di pesawat kali kalau dia beneran liburan"
"Haiiss, sini Singapura berapa jam sih?"
"Singapura? Dia pergi ke sana?"
"Kemungkinan. Soalnya adiknya kuliah di sana" Ucap Lisa.
Padahal yang sebenarnya. Natasya mengganti nomor ponselnya. Dia tidak ingin diganggu apalagi setelah kejadian tadi pagi. Natasya tidak ingin Kai menemukan dirinya.
Natasya baru saja selesai membersihkan diri di ruang perawatannya. Dia sedikit protes ketika tahu dia akan tinggal di kamar VIP selama perawatannya.
"Aku tidak akan bisa membayarnya Jo. Tempatkan aku di kamar yang biasa saja" Protes Natasya.
"Kamu tidak perlu khawatir dengan biayanya" Jawab Jocelyn.
"Jangan bilang papamu yang membayari ini semua"
"Bukan papa. Sudah jangan berpikiran yang macam-macam. Jangan pikirkan soal biaya. Fokus saja pada perawatanmu. Itu yang paling penting. Kita akan memulai semuanya besok. Jadi istirahatlah. Hera sebentar lagi akan datang. Aku sudah menyiapkan ekstra bed di ruang itu jika Hera ingin menginap" Jelas Jocelyn.
"Terima kasih Jo. Akan jadi apa diriku dan Nadya tanpa dirimu. Tanpa keluargamu" Ucap Natasya tulus.
"Jangan berkata seperti itu. Sudahlah. Makanlah. Selama belum ada keputusan soal makananmu. Kamu bebas makan apa saja" jelas Jo lagi.
Sejenak keduanya terdiam.
"Semangat Sya. Kita bisa melalui ini. Percayalah" Ucap Jo sambil memeluk Natasya.
Dan pelukan itu segera bertambah. Ketika Hera langsung menerobos masuk dan ikut memeluk keduanya. Langkah Hera diikuti Evan dibelakangnya.
"Kamu keterlaluan kenapa tidak cerita. Kamu anggap aku ini apa ha?" Protes Hera. Namun matanya berkaca-kaca menatap Natasya.
"Maaf aku tidak ingin membuatmu khawatir" Ucap Natasya.
"Dasar anak bodoh. Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu. Kamu anggap aku orang lain?" Marah Hera.
"Maaf" Ucap Natasya lagi.
"Sudah. Sudah. Itu tidak penting. Sekarang yang penting kamu harus fokus pada penyembuhanmu. Dan tugas kita membantumu" Ucap Jocelyn.
"Aku akan membantu" Ucap Hera mantap.
"Aku juga" Sahut Evan. Yang membuat Jo dan Natasya sadar akan kehadirannya.
"Evan?" Ucap Natasya.
"Kamu sudah seperti adikku. Jadi katakan saja jika ada yang bisa aku bantu" Tutur Evan tulus.
"Evan...terima kasih" Balas Natasya berkaca-kaca.
"Kamu lihat. Banyak yang mendukungmu. Jadi semangat. Kamu, kita bisa melalui ini" Ucap Jocelyn.
Dan Natasya mengangguk.
"Tapi dia bahkan tidak tahu keadaanku. Ah kenapa aku jadi memikirkan dia. Bukankah dia sebentar lagi akan menikah. Jadi buat apa dia memikirkanku"
Batin Natasya. Tanpa sadar menyentuh cincin pemberian Kai yang masih melingkar manis di jarinya.
***
"Kamu yakin dengan penyelidikanmu, Thomas?" Tanya Kai melalui ponselnya.
"Yakin, Tuan. Dia tidak masuk ke sini dari jalur manapun. Bahkan kemungkinan dia masih di sana. Tidak kemana-mana. Tidak ada data yang menunjukkan kalau dia melakukan perjalanan ke luar negeri" Jelas suara yang dipanggil Thomas oleh Kai.
"Bagaimana?" tanya Leo.
"Dia tidak ada di sana. Dia bahkan kemungkinan masih di sini" Jelas Kai.
Kai hari ini cukup frustrasi. Seharian dia mencari Natasya. Namun hasilnya nihil. Ponselnya tidak dapat dihubungi. Rumahnya juga terlihat kosong ketika Kai mengunjunginya siang tadi.
"Ke mana kamu pergi?" Batin Kai.
**
Up lagi readers tercinta,
Thank's sudah mampir,
Jangan lupa di like ya,
Happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘😘
***