
Jason dengan santainya masuk ke dalam sebuah rumah mewah yang didominasi warna putih. Dengan kolam renang yang yang membentang luas di depannya.
Kredit google.com
Rumah mewah itu terlihat begitu asri karena terletak di perbukitan yang dikelilingi tumbuhan hijau di sekelilingnya.
Dia masuk sambil melempar-lemparkan kunci Ducatti Panigale-nya hingga satu suara menghentikan aksinya.
"Masih ingat pulang, ha?" Tanya suara itu yang tak lain adalah suara papanya.
"Masihlah, Pa" Jawab Jason santai.
"Kamu ini! Kamu dilarang keluar jika masih ngeyel tidak mau masuk perusahaan!" Titah pria itu.
"Iya-iya, aku akan masuk perusahaan mulai minggu depan" Jawab Jason lagi-lagi dengan nada santai.
"Kamu tidak sedang bercanda kan dengan Papa?" Tanya pria itu curiga.
"Kelihatannya?" Jawab Jason sambil berjalan santai menuju kamarnya di lantai 3.
"Selidiki siapa gadis itu!" Perintah pria itu melalui ponselnya.
Dia heran. Anak buahnya melaporkan jika Jason baru saja membawa seorang gadis ke private pantai milik keluargannya. Dan hanya beberapa jam kemudian sang putra langsung berubah menjadi penurut.
Mau masuk ke perusahaan. Satu hal yang selalu menjadi bahan pertengkaran keluarga ini hampir dua tahun belakangan ini. Jason tidak seperti kakaknya yang penurut. Dia sangat liar, susah dikendalikan dan seenaknya sendiri. Walaupun sebenarnya Jason terhitung anak yang pintar.
Sebenarnya semua tampuk tanggungjawab perusahaan dilimpahkan pada kakaknya. Namun nahas, dua tahun lalu sang kakak meninggal dalam kecelakaan. Menyebabkan keluarga ini berada dalam suasana duka yang cukup lama.
Apalagi ketika kemudian Jason secara tegas menolak mengambil alih tugas sang sang kakak menjadi pewaris bisnis keluarga mereka. Memilih menekuni bidang seni, khususnya menjadi dancer yang tentu saja membuat keluarganya marah besar padanya.
Jason masuk ke dalam kamar mewahnya.
Kredit google.com
Kamar maskulin bernuansa putih abu-abu. Lantas meraih ponsel dari saku jaket kulitnya.
"Kak, mungkin aku akan berhenti"
"..."
"Aku akan mulai masuk perusahaan minggu depan"
"...."
"Aku ingin mendapatkan sesuatu yang kuinginkan. Jadi aku harus memiliki kekuasaan. Bukankah seperti itu?"
"..."
"Terima kasih atas bantuannya selama ini"
Tuuut,
Bunyi sambungan telepon yang dimatikan. Jason merebahkan diri di kasur king size-nya. Menatap langit-langit kamarnya.
Namanya Jason Reynan Park. Ya dia adalah adik dari Alan Raymound Park. Putra dari salah satu raja properti dan real estate di negeri ini. Asalnya sang kakak yang digadang-gadang menjadi penerus bisnis keluarga mereka. Namun kecelakaan dua tahun yang lalu yang menewaskan kakaknya.Ikut membuat dunianya jungkir balik.
Selain rasa kehilangan yang mendalam. Keluarganya terus memaksa dirinya untuk menggantikan tempat sang kakak menjadi penerus bisnis keluarga mereka.
Tentu saja Jason menolak. Dia merasa bisnis properti bukanlah passionnya. Walaupun dia kuliah mengambil jurusan bisnis dan management. Tapi itu hanya untuk menyenangkan keluarganya saja. Passion sebenarnya adalah menjadi dancer.
Dan jelas keinginannya itu ditentang keras oleh sang ayah. Hingga hampir dua bulan ini dia memilih kabur dari rumah mewahnya. Tinggal di kontrakan yang boleh dibilang sederhana tapi dia bebas melakukan apapun yang dia suka.
Jason menarik nafasnya panjang.
"Oke Angela. Aku akan lakukan saranmu. Dan akan kita lihat. Begitu kekuasaan itu ada di tanganku. Kau adalah hal pertama yang aku inginkan. Jadi bersiaplah" Ucap Jason lantas memejamkan matanya.
***
Angela mengerutkan dahinya. Ketika mendapat pesan dari Jason keesokan harinya. Mengatakan kalau dia akan berehat sejenak dari aktivitas menjadi dancernya. Ada hal yang harus dia kerjakan. Begitu bunyi pesan yang ditulis oleh Jason.
"Kamu tidak mengalami cidera kan?" Tanya Angela membalas pesan Jason.
"Tidak. Aku baik-baik saja. Aku akan menemuimu weekend ini" Balas Jason membuat Angela mengembangkan senyumnya.
Dia baru saja turun dari bis mulai berjalan menyusuri trotoar menuju HD TV. Ketika dia menangkap sebuah pemandangan yang membuat dirinya segera berlari. Lantas menarik lengan seorang wanita yang juga tengah berjalan di trotoar seperti dirinya.
"Kak, Kakak tidak apa-apa?" Tanya Angela panik. Berusaha membantu wanita itu bangun dari aspal tempat keduanya jatuh sebelumnya.
"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing" Jawab wanita itu yang tak lain adalah Natasya.
Angela sigap menarik Natasya ketika melihat sebuah mobil seolah ingin menabrak Natasya ketika wanita itu baru turun dari taksinya.
"Aku rasa mobil itu ingin menabrak kakak. Kakak berjalan sudah sangat ke tepi. Tapi mobil itu terus mengikuti kakak" Ucap Angela.
Lantas memapah Natasya masuk ke kawasan HD TV.
"Kalian kenapa?" Tanya Kai yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Ah, selamat pagi pak General Manager" Sapa Angela. Namun tidak dengan Natasya. Wajahnya terlihat pucat.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Kai panik.
"Aku tidak apa-apa. Hanya pusing saja. Istirahat sebentar nanti juga baik" Jawab Natasya berusaha tersenyum.
"Jangan bohong. Apa kita perlu ke rumah sakit. Aku akan menelepon Jocelyn untuk bersiap" Tanya Kai meraih ponsel dari saku jasnya. Namun ditahan oleh Natasya.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir" Sahut Natasya sambil menatap wajah tampan Kai.
kenapa akhir-akhir ini aku begitu takut akan kehilanganmu. Perasaan apa ini?" Batin Natasya berusaha menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
"Pak GM, aku rasa ada mobil tadi yang ingin menabrak Bu Natasya" Ucap Angela membuat Kai menoleh pada gadis itu.
"Maksudmu? Mobil itu sengaja ingin menabraknya" Tanya Kai dan Angela mengangguk.
"Sudahlah itu mungkin hanya kebetulan saja" Ucap Natasya sambil berusaha berdiri. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi.
"Kamu sungguh tidak apa-apa?" Tanya Kai memastikan.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Aku pergi dulu. Ada meeting dengan divisiku pagi ini" Pamit Natasya sambil mengusap lembut jemari tangan Kai. Sebelum berlalu dari sana. Sebuah tanda yang mungkin hanya keduanya yang paham.
Sedang Kai langsung naik ke lantai 5 tempat dirinya berkantor. Langsung duduk dan memejamkan matanya.
"Pernikahan kalian akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini" Perintah Kakek Hadiwinata.
"Tapi Kek" Kai jelas ingin membantah.
"Konferensi pers akan diadakan dalam dua minggu kedepan. Dan Kakek tidak menerima penolakan" Ucap Kakek Hadiwinata lagi.
"Kamu tahu kan Kakek bisa melakukan apapun untuk mendapatkan yang kakek inginkan. Jadi jangan sampai kakek melakukan hal-hal yang tidak kamu inginkan pada gadis itu" Ancam kakek Hadiwinata.
Itu percakapan terakhir yang Kai lakukan dalam usahanya mengubah keputusan sang kakek. Menikahi Fanny? Yang benar saja. Kai sudah menganggap Fanny sebagai adiknya sendiri.
Tapi bagaimana jika kejadian pagi ini adalah sebuah peringatan dari sang kakek. Dia tahu sejak lama, kakeknya adalah tipe yang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya. Tidak segan untuk menyakiti orang lain. Bahkan melukai.
Kai memijit pelan pelipisnya yang berdenyut. Apa yang harus dia lakukan sekarang.
Sedang di sisi lain,
Bu Sarah menggebrak keras mejanya. Dia marah ketika mendapat laporan anak buahnya gagal menyingkirkan Natasya. Ya, dia yang memerintahkan seseorang untuk menabrak Natasya. Bermaksud ingin menyingkirkan gadis itu.
Bu Sarah tidak bisa melihat Fanny menangis. Apalagi setelah Kai dengan tegas menolak pernikahan itu. Dengan alasan dia hanya menganggap Fanny sebagai adiknya. Dan juga dia telah mencintai gadis lain. Bahkan Kai lebih rela kehilangan haknya sebagai salah satu pewaris di HD GROUP.
Dan dari bibir Fanny. Didapati satu nama yang menjadi halangan bagi dirinya mencapai tujuannya. Dan juga memberikan kebahagiaan bagi putrinya.
"Aku harus menyingkirkannya. Sama seperti yang aku lakukan dua puluh tahun lalu" Tekad Bu Sarah.
*
Suasana kantin di HD TV sudah ramai pagi itu. Semua tampak bersemangat untuk menyambut hari ini. Tapi tidak dengan sepasang manusia yang sejak tadi hanya memainkan makanan di depan mereka.
Kredit google.com
Lisa langsung kehilangan selera makan paginya. Begitu mendengar kabar dari Leo.
"Kamu yakin tidak salah dengar?" Tanya Lisa untuk yang keberapa kali. Dia sendiri tidak ingat.
"Astaga, Sa. Bos Kai sendiri yang bilang. Itu perintah langsung dari tuan Hadiwinata sendiri" Jawab Leo.
"Lalu apa yang pak GM akan lakukan? Apa dia akan menyerah begitu saja. Melepas hubungan ini dan menuruti perintah Kakeknya?" Tanya Lisa lagi.
Leo mengedikkan bahunya. Tidak tahu. Lisa menarik nafasnya pelan. Dia pikir apa yang akan terjadi pada atasannya kali ini. Lisa tahu, atasannya baru saja mencoba membuka hatinya untuk Kai, GM baru mereka.
Setelah sekian lama berhibernasi, atasannya itu akhirnya berusaha membuka hatinya dan berdamai dengan masa lalunya. Alan, mencoba merelakan kepergian pria itu. Setidaknya begitulah cerita yang dia dengar dari Hera. Saat keduanya saling mengenali satu sama lain, ketika Lisa tidak sengaja makan di restoran tempat Hera bekerja.
Tapi sekarang? Apa atasannya itu akan kembali terpuruk jika tahu bahwa Kai dijodohkan dengan Fanny. Yang ternyata hanya adik angkat Kai. Dan satu fakta yang mengejutkan Lisa adalah bahwa GM baru mereka hanyalah anak angkat yang diadopsi oleh tuan Hadiwinata.
"Aku rasa tuan Hadiwinata sudah merencanakan hal ini sejak awal beliau mengambil bos Kai dari panti asuhan. Dia hanya ingin mencari pendamping buat Fanny sebagai pewaris sah dari HD GROUP. Dan lihat betapa tepat pilihan tuan Hadiwinata bisa mendapatkan orang seperti bos Kai" Ucap Leo yang membuat Lisa melongo.
"Jadi kalau begitu bisa kita bilang jika tuan Hadiwinata itu kejam dan tidak berperasaan. Jahat pisan" Ucap Lisa sambil menurunkan level suaranya menjadi setengah berbisik.
"Aku sependapat denganmu. Ada ya tipe orang seperti itu. Tidak peduli dengan perasaan orang lain. Main perintah saja. Itulah kenapa bos Kai selalu menghindari Jakarta. Tapi ini...entahlah. Aku pikir kemarin kita pindah ke sini akan dapat kabar baik soal orang yang dicari Bos Kai. Tapi ini bukan kabar baik yang bos Kai terima. Tapi bencana yang bahkan BPBN ( Badan Penanggulangan Bencana Nasional) pun tidak akan sanggup mengatasinya" Ucap Leo. Lisa memutar matanya malas mengabaikan candaan garing Leo.
"Bosmu lagi cari orang? Siapa?" Tanya Lisa kepo.
"Teman masa kecil Bos Kai waktu di panti asuhan" Ucap Leo singkat.
Lisa hanya ber-ooo ria.
"Dulu Bos Kai pernah bilang, kalau tidak akan menikah selain dengan teman masa kecilnya itu. Tapi sekarang tidak tahu akan jadi bagaimana" Tambah Leo lagi.
"Setia sekali ya Bosmu itu. Tapi kalau Bosmu bilang hanya akan menikahi teman masa kecilnya kenapa dia pacaran dengan bosku. Jangan-jangan dia cuma mau mainin perasaan bosku saja" Sahut Lisa panas.
"Nah itu dia. Bos Kai bilang tiap kali dia menatap Bosmu dia seperti melihat seseorang dalam diri Bosmu" Jawab Leo.
"Maksudnya" Tanya Lisa.
"Dia cuma bilang seperti sudah mengenal Bosmu lama" Jawab Leo.
Membuat keduanya terdiam. Hingga bunyi ponsel keduanya memecah keheningan itu.
"Our boss is calling"
**
Up lagi readers,
Thank's sudah mampir,
Happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘😘
****