
"Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Kai pada dokter Leri.
"Lukanya cukup dalam. Dan kami harus menjahitnya. Untung darahnya langsung bisa kami hentikan. Jadi sejauh ini keadaannya baik-baik saja" Jawab dokter Leri.
Kai langsung menarik nafasnya lega.
"Tapi dokter Jocelyn meminta saya untuk mengambil sample darahnya. Dia ingin melakukan tes Hitung Darah Lengkap. Juga sebenarnya dokter Jocelyn ingin kami melakukan tes sumsum tulang belakang. Tapi untuk tes sumsum tulang belakang kami tidak bisa melakukannya. Kami tidak punya konsultan hematologi onkologi di sini. Jadi kami hanya bisa mengambil sample untuk Hitung Darah Lengkap" Jelas dokter Leri.
Yang sama sekali tidak Kai pahami.
"Jadi intinya dia baik-baik saja kan Dok?" Tanya Kai pada akhirnya.
Dokter Leri tersenyum. Paham kalau pria di hadapannya ini tidak mengerti dengan ucapan panjang kali lebarnya.
"Iya, dia baik-baik saja. Cuma perlu perhatian ekstra karena dia punya lima luka jahitan. Tapi itu akan sembuh dengan sendirinya"
Kai mengangguk paham.
"Dia masih dalam pengaruh obat tidur. Tapi mungkin sebentar lagi akan sadar. Kami akan memantau keadaannya dalam beberapa jam. Sesuai permintaan dokter Jocelyn.
"Baik Dokter. Lalu apa kami harus menunggu hasil tes apa itu tadi...keluar" Tanya Kai.
"Oh tidak perlu. Kami akan mengirimnya langsung ke dokter Jocelyn. Lagipula hasilnya baru akan keluar dua hari lagi, Pak. Itu tes darah yang rumit. Kami harus mengirimnya ke RSUP karena lab kami belum mampu melakukan tes itu"Jelas dokter Leri.
Kai kembali mengangguk paham.
"Bagaimana Mas keadaan Anna?" tanya Agus begitu melihat pria itu kembali dari ruang dokter.
"Keadaannya baik-baik saja. Cuma jahitannya lima. Jadi perlu diperhatikan sedikit" Jawab Kai.
Sejenak keduanya terdiam.
"Oh ya kita belum kenalan. Kamu siapa ya?" Tanya Kai. Ada sedikit rasa cemburu dalam diri Kai melihat Natasya terlihat begitu dekat dengan pria lain.
"Perkenalkan saya Agus. Saya pemilik rumah tempat Anna menginap" Jawab Agus sambil mengajak berjabat tangan.
"Oh dia nginap di rumah sewa. Pantes aku tidak menemukannya di hotel manapun" Batin Kai.
Kai menyambut uluran tangan Agus untuk berjabat tangan.
"Aku Kaizo Aditya. Aku ..."
"Pacarnya Anna?"
"Lebih tepatnya tunangannya" Kai sengaja menunjukkan kalau posisinya tidak main-main.
Dan benar saja. Raut wajah Agus langsung berubah. Ada raut kecewa di wajah Agus.
"Lah malah mereka sudah bertunangan. Benar-benar aku sudah tidak punya kesempatan lagi" Batin Agus.
"Oh iya Mas, tadi pihak administrasi meminta saya mengurus administrasi Anna. Tapi saya tidak bawa uang" Ucap Agus sambil nyengir. Menghilangkan rasa canggung di hati Agus.
"Bisa kamu mengurusnya? Gunakan saja ini" Pinta Kai sambil menyerahkan sebuah kartu debit.
Agus melongo melihat deretan kartu di dompet Kai. Saat pria itu mengambil kartu debit dari dompetnya.
"Busyet, sugih tenan wong iki. Wis, wis, angel, angel" Batin Agus.
(Busyet, kaya sekali orang ini. Sudah, sudah, sulit, sulit)
Batin Agus merasa akan semakin sulit menyaingi pria dihadapannya ini.
"Hei, hei mas Agus" Ucap Kai sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan Agus. Karena laki-laki itu malah melongo.
"Ah iya, kenapa ya?" Jawab Agus gelagapan.
"Ini pin-nya" Kai berucap sambil memberikan enam digit angka kepada Agus.
Agus mengangguk. Lalu berlalu menuju ke bagian administrasi.
Kai masuk ke ruangan di mana Natasya dirawat.
Sejenak ditatapnya wajah Natasya yang masih tertidur pulas. Kai benar-benar merindukan sosok yang tengah tertidur itu. Perlahan dikecupnya lembut kening gadis itu. Lama dia mencium kening gadis itu. Meluapkan rasa rindu yang selama ini ia rasakan.
Beberapa saat berlalu. Agus kembali dari mengurus administrasi Natasya. Tapi ia merasa heran. Karena semua biaya sudah ada yang menanggung.
"Mas..." Panggil Agus pada Kai.
Kai melangkah keluar dari ruangan Natasya dirawat.
"Ini" Ucap Agus sambil menyerahkan kembali kartu debitnya.
"Sudah selesai?" Tanya Kai.
"Itu...semuanya sudah ada yang bayarin" Sahut Agus.
Kai mengerutkan dahinya. Lantas meraih ponselnya. Menghubungi seseorang.
"...."
"Yang benar?"
"...."
"Oke kalau begitu"
"Bagaimana Mas?" Tanya Agus.
"Iya sudah dibayarin" jawab Kai.
"Kamu pegang saja dulu kartunya. Siapa tahu nanti kamu perlu" Tambah Kai santai.
"Tapi..."
"Sudah bawa saja dulu. Ngomong-ngomong kamu sudah makan belum? Kalau belum cari makan dulu. Dia masih harus disini beberapa jam lagi. Atau kalau mau pulang dulu juga tidak apa-apa. Nanti aku hubungi jika sudah mau pulang" Saran Kai.
Agus berpikir. Benar juga kata Kai. Kalau dia tetap disini juga tidak ada gunanya. Sudah ada Kai di sini. Dia jelas khawatir dengan keadaan Neneknya.
"Kalau aku pulang dulu gimana Mas. Kasihan Mbah saya. Pasti bingung" Kata Agus ragu.
"Gitu juga nggak papa. Soalnya tidak tahu sampai kapan dia ditahan di sini. Bawa saja dulu mobilnya. Nanti aku hubungi kalau sudah mau pulang" Kata Kai.
Agus mengerutkan dahinya.
"Apikan temen wong iki. Ora wedi opo nek mobile tak bawa lari" Batin Agus.
(Baik hati bener orang ini. Tidak takut apa kalau mobilnya tak bawa lari)
"Mas, nggak takut kalau mobilnya saya larikan" Ujar Agus mengungkapkan uneg-unegnya.
Kai tersenyum tipis.
"Coba saja. Kalau mau ditangkap polisi. Ada GPS di mobil itu. Jadi kemanapun kamu pergi pasti ketahuan" Sahut Kai enteng.
Agus menelan ludahnya berat.
Akhirnya setelah keduanya saling bertukar nomor ponsel. Agus permisi pulang dulu.
"Coba kalau aku punya mobil seperti ini. Wis hebat pokoke" Gumam Agus ketika sudah berada didalam mobil yang Kai sewa.
Hari merayap petang ketika Agus mulai melajukan mobil Kai menuju rumahnya.
***
Kai baru selesai menerima telepon dari Leo. Yang mengabarkan kalau pengajuan kerjasama mereka dengan salah satu hotel di Kota Surabaya berhasil mereka dapatkan. Kai tentu saja senang bukan kepalang.
Ketika dia masuk. Dilihatnya Natasya yang sudah duduk di atas bednya. Gadis itu sedikit takut ketika Kai melangkah mendekat ke arahnya.
"Kak..." Ucap Natasya lirih.
"Sudah baikan?" Tanya Kai dingin.
Natasya mengangguk. Tidak berani menatap kedua mata Kai yang memang menatapnya tajam.
"Jadi, apa ada yang ingin dijelaskan?" Tanya Kai sengaja ingin mengerjai Natasya.
"Soal?" Tanya Natasya balik.
"Soal acara kabur-kaburanmu ini, Putri Kabur" Jawab Kai dingin.
"Aku hanya ingin menenangkan diri. Hanya itu saja" Natasya menjawab masih sambil menunduk.
"Dengan cara tidak memberi tahu semua orang kemana kamu pergi. Kamu membuat semua orang khawatir.Kamu tahu itu?" Kata Kai penuh penekanan.
"Maaf" Natasya berucap setelah beberapa saat terdiam.
Kai terdiam. Bisa dia lihat jika gadis itu sedang menahan tangisnya.
"Maaf, jika sudah membuat kalian marah. Karena aku pergi tidak pamit. Aku tidak masalah jika kalian marah padaku. Aku....."
Ucapan Natasya terpotong karena Kai sudah lebih dulu meraih tengkuk Natasya. Lantas mencium lembut bibir gadis itu. Bibir yang membuatnya begitu tersiksa selama tiga minggu terakhir ini.
Natasya tentu terkejut dengan ulah Kai. Apalagi ketika detik berikutnya ciuman itu berubah menjadi ******* kecil yang membuat seluruh tubuh Natasya meremang seketika. Dia hanya bisa mengedip-ngedipkan matanya lucu. Melihat betapa Kai sangat menikmati ciuman mereka dengan mata terpejam.
Hingga beberapa waktu berlalu. Kai mulai mengakhiri ciumannya.
"Jangan lakukan ini lagi. Kau bisa membuatku gila jika melakukan ini lagi" Pinta Kai dengan kening yang ia tempelkan di kening Natasya.
"Haaaaah...?" Natasya melongo.
Natasya pikir Kai akan memarahinya habis-habisan. Ternyata tidak.
*****