
Fanny berjalan keluar dari gedung Atmaja Group. Sebenarnya dia ingin berpamitan pada Nadya. Karena besok ia memutuskan untuk terbang ke Surabaya. Memulai hidupnya di sana. Dan melupakan semua yang dialaminya disini.
Keadaan Natasya jelas sudah stabil. Hanya tinggal perlu diobservasi. Sedang ibunya sendiri. Dia sudah tidak peduli. Anggaplah dia menjadi anak yang tidak tahu diri. Dia terlalu kecewa dengan semua perbuatan ibunya. Beberapa kali mengikuti sidang sudah jelas jika sang ibu memang bersalah. Semua bukti memberatkan ibunya.
Sedang sang kakek sama sekali tidak peduli dengannya. Membuatnya sering bertanya apakah dia ini benar anak papanya, Kevin. Atau kehadirannya memang benar-benar sebuah kesalahan. Yang ia takutkan kalau dirinya bukanlah anak kandung papanya. Namun sang ibu menggunakan dirinya untuk menjerat sang papa dengan mengaku kalau dirinya adalah anak papanya.
Fanny menarik nafasnya pelan dan dalam. Seolah ingin mengusir semua rasa sesak di dadanya. Sebenarnya beberapa hari yang membuatnya begitu bahagia adalah kedua kakaknya.
Nadya seringkali menghubunginya untuk mengajaknya makan. Atau sekedar keluar jalan-jalan. Atau menemani sang kakak di rumah sakit. Mendengarkan keluhan sang kakak yang mengatakan kalau sudah bosan di rumah sakit. Ingin pulang.
Semua terasa begitu tulus bagi Fanny. Hal yang tidak pernah ia dapatkan bahkan dari ibunya sendiri.
"Bisa berikan aku koktail?" Tanya Fanny ketika dia sudah duduk di depan meja bartender di lounge bar. Di sebuah hotel tempatnya menginap beberapa hari ini.
Yah, dia pikir ingin sedikit minum untuk menghilangkan rasa kecewanya. Atau anggaplah ini sebagai pesta perpisahan pada kota ini. Dimana besok ia dan asistennya Vera akan terbang ke Surabya. Semua sudah siap. Bahkan dia sudah packing dari jauh-jauh hari.
Sang bartender sedikit mengerutkan alisnya. Mendengar permintaan Fanny.
"Masih siang kok mau mabuk" Begitulah mungkin yang ada dikepala sang bartender.
"Ayolah kak. Aku lagi patah hati ini. Lagian aku juga menginap disini. Ini kuncinya" kata Fanny sambil menunjukkan roomkey-nya.
Sang bartender masih tidak bergeming.
"Kak ayolah buatkan aku koktailnya. Jangan khawatir aku sudah 23 tahun. Jadi bukan anak di bawah umur" Bujuk Fanny.
Akhirnya sang bartender mengalah. Melihat kesedihan jelas terukir di wajah gadis cantik itu.
"Tapi nggak tanggung lo, kalau mbaknya mabuk" Blartender itu memperingatkan.
"Siap Kak. Aku bisa naik sendiri ke kamarku" Ucap Fanny.
Dan mulailah Fanny menenggak koktail dari gelasnya. Suasana bar yang belum ramai membuat Fanny tidak perlu berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Dia cukup menikmati meminum koktailnya.
"Kak satu lagi" Pinta Fanny. Dengan wajah yang sudah memerah. Menandakan kalau dia mulai mabuk.
"Haissh sudah. Kamu sudah mulai mabuk itu" Bartender itu menolak.
"Ahhh kakak ini tidak asyik. Sama seperti semua orang dihidupku. Semua nggak asik" Racau Fanny.
Sang bartender menggelengkan kepalanya mendengar keluhan Fanny.
"Sudah naik sana. Nanti keburu tidak bisa jalan" Usir bartender itu.
"Benar-benar menyebalkan" Maki Fanny. Lantas berlalu dari hadapan bartender itu. Melangkah ke arah lift dengan gaya khas orang mabuk. Senggol kiri senggol kanan. Membuat bartender itu kembali geleng-geleng kepala.
Detik berikutnya bartender itu tampak menyusul Fanny. Gadis itu masih berdiri didalam lift. Bingung dia tinggal di lantai berapa ya. Hingga satu tangan menekan angka 30.
"Kamu tinggal di lantain 30 kan. Naiklah jangan sampai salah kamar" Bartender itu memperingatkan.
Ucapan bartender itu membuat Fanny melebarkan senyumnya.
"Thank you kakak" Ucap Fannya asal.
"Bahkan orang lain pun masih peduli padaku" Batin Fanny.
Tiiing,
Pintu lift terbuka. Fannya langsung bersiap keluar. Ini pastilah lantainya. Soalnya dia sendirian di lift itu.
Saat pintu terbuka nampak seorang pria tengah berada di depan pintu lift itu. Tubuh Fanny nyaris ambruk jika pria itu tidak sigap menangkapnya.
"Siang-siang kok sudah mabuk" Ucap pria itu. Ketika dia mencium aroma alkohol dari nafas dan tubuh gadis yang baru saja menabraknya itu.
"Hey, aku tidak mabuk ya" Jawab Fanny.
"Terserahlah kalau begitu" Balas pria itu lagi.
Fanny bersusah payah berdiri. Lantas mulai berjalan menyusuri lorong hotel itu. Bertumpu pada dinding hotel itu. Agar tubuhnya tidak ambruk lagi.
Fanny mulai mencari-cari roomkey didalam tasnya. Tanpa dia sadari jika kunci itu terjatuh dari dalam tasnya. Membuat pria itu menghela nafasnya pelan.
Lantas berjalan menyusul Fanny. Diambilnya roomkey yang terjatuh di atas karpet lorong hotel itu. Mengamatinya, lantas menyusul Fanny.
"Ini kuncinya. Dimana kamarmu. Ayo aku antar" Ucap pria itu sambil berusaha memapah tubuh Fanny.
"Iih, jangan pegang-pegang" Fanny berucap.
Pria itu tampak memutar matanya jengah.
"Sudah mabuk. Merepotkan pula" Gerutu pria itu.
"Iya-iya, aku memang merepotkan. Sampai-sampai diapun kabur di hari pernikahan kami" Jawab Fanny sendu.
"Oh, patah hati ditinggal calon suami to" Sahut pria itu jelas sekali di telinga Fanny.
Mendengar ucapan pria itu. Fanny menangis. Tapi sepertinya pria itu tidak menghiraukannya.
"Ini kamarmu kan" Tanya pria itu.
Pria itu langsung membuka kamar Fanny. Dan Fanny mengikuti pria itu masuk ke dalam kamarnya. Masih sambil menangis.
"Ini benarkan kamarmu. Kalau begitu aku pergi dulu. Selamat menikmati harimu Nona" Pamit pria itu.
Tapi ketika pria itu ingin keluar dari kamarnya. Fanny menahan tangan pria itu. Membuat pria itu mengerutkan dahinya.
"Tunggu dulu. Temani aku sebentar" Pinta Fanny tidak tahu kenapa. Tapi yang jelas dia tidak ingin sendiri kali ini.
Sejenak pria itu terdiam.
"Oke, sebentar saja kalau begitu" Jawab pria itu. Lantas mulai berjalan menuju sofa. Namun lagi-lagi Fanny menahan tangan pria itu.
"Apalagi?" Tanya pria itu.
Bukannya menjawab Fanny malah mengalungkan tangannya ke leher pria itu. Lantas mencium bibir pria yang bahkan namapun dia tidak tahu. Pria itu nampak melebarkan matanya.
Hanya sebentar Fanny mencium pria itu. Lalu dengan cepat Fanny melepas ciumannya dari pria itu. Dengan wajah memerah menahan malu.
"Maaf" Bisik Fanny lirih.
"Apa ini ciuman pertamamu? Amatiran sekali" Ejek pria itu.
Hal itu membuat Fanny membulatkan matanya.
"Ingin aku ajari ciuman yang sesungguhnya. Seperti ini" Ucap pria itu.
Lantas detik berikutnya pria itu telah menautkan bibirnya dengan sempurna ke bibir Fanny. Membuat Fanny shock seketika. Pria itu terus mencium bibir Fanny dengan lembut. Cukup lama bagi Fanny menikmati ciuman pria itu. Hingga perlahan Fanny mulai membalas ciuman pria itu.
Semua terasa indah bagi Fanny. Ini adalah pertama kali bagi Fanny mendapat sentuhan dari seorang pria. Bahkan pria itu terlihat begitu ahli dalam hal wanita.
Dalam sekejap saja Fanny sudah berada dalam kungkungan pria itu. Yang terus mencum** Fanny. Membuat gadis itu benar-benar kehilangannya kendali dirinya. Tubuh polosnya kini sudah berada dalam kendali pria itu.
Hingga tiba-tiba pria itu menghentikan gerakannya. Saat akan memasuki dirinya. Bisa Fanny lihat keraguan di mata pria itu. Yang baru kali ini Fanny sadari kalau pria itu sangatlah tampan.
"Lakukan saja. Toh sudah tidak ada alasan lagi bagiku untuk mempertahankannya" Bisik Fanny lirih.
Mendengar ucapan Fanny, pria itu langsung melanjutkan aksinya. Menembus pembatas untuk memasuki Fanny. Membuat gadis itu menjerit seketika. Marasakan sakit yang teramat sangat di bagian inti tubuhnya. Tak ayal lagi, air mata langsung mengalir deras di pipi Fanny.
"Maaf" Bisik pria itu lirih.
Sesaat pria itu terdiam. Memandang Fanny dalam. Hingga kemudian dia bergerak lagi. Berpacu bersama waktu. Membawa Fanny menikmati indahnya surga dunia.
***
Up lagi readersku tercintah,
Like like like
Vote vote vote
Happy reading semua
Love you all 😘😘😘
****