You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 29



Nadya baru saja keluar dari kampusnya ketika satu suara memanggilnya.


"Sudah selesai kuliahnya?" Tanya suara itu.


"Ah, Justin kamu mengejutkanku" Jawab Nadya melihat seorang pria tampan tengah menunggunya, sambil bersandar pada mobilnya.


"Sorry. Mau makan siang denganku" Tanya Justin.


"Apa kamu lagi free bisa ngajakin aku makan siang" Tanya Nadya.


"Aku off hari ini. So bisa kita makan siang bareng?" Tanya Justin lagi.


Yang dijawab anggukan oleh Nadya.Yeeeeessss! Justin bersorak dalam hati. Kemudian membukakan pintu mobil untuk gadis itu.


"Mau makan apa?" Tanya Justin sejenak menatap gadis manis itu.


Jantungnya berdebar seketika.


"Oh God, jantungku" Batin Justin.


"Pengen makan laksa Singapura, boleh?" Tanya Nadya.


"No problem, Nona" Jawab Justin.


Justin tersenyum melihat senyum manis di bibir Nadya.


"Apa kamu masih bisa tersenyum seperti ini Nad, jika kamu tahu keadaan kakakmu" Batin Justin sambil membawa mobilnya keluar dari parkiran National University of Singapore.


Justin mendapat perintah dari Jocelyn untuk mengawasi Nadya. Setelah Jocelyn memberitahu keadaan Natasya. Dan juga mengirim sample sumsun tulang belakang Nadya yang waktu itu sempat Justin ambil untuk berjaga-jaga. Dan ternyata feeling Justin benar. Kakak Nadya mungkin memerlukannya sebagai usaha terakhir menyembuhkan penyakit Natasya.


Justin menghentikan mobilnya di sebuah food court yang cukup terkenal di Singapura. Lau Pa Sat Festival Market. Sebuah tempat makan yang terletak tidak jauh dari Stasiun MRT Raffles Place.



Kredit google.com


Food court ini buka 24 jam. Jadi bisa kesana setiap saat kalau perut lagi lapar. Menu yang ditawarkan juga banyak. Mulai dari masakan India, Turki, Cina, dan masih banyak lagi yang lainnya.


Tak lama semangkuk laksa Singapura yang terlihat begitu lezat sudah tersaji di depan keduanya. Membuat wajah Nadya berbinar senang.



Kredit google.com


"Mari makan" Ucap Justin. Yang disambut senyum manis Nadya.


"Kamu suka dengan Nadya" Tanya Jocelyn terakhir kali mereka bertemu. Justin adalah sepupu Jocelyn.


Justin sendiri saat ini memilih tinggal sementara di negeri Singa itu setelah mendapat pekerjaan di General Hospital of Singapure. Dia seorang dokter juga, mengambil spesialisasi di bedah jantung.


"Aku rasa iya. Tidakkah dia manis saat tersenyum" Jawab Justin sambil mengembangkan senyumnya.


"Well aku rasa kamu cukup pantas untuk mengejar cinta Nadya" Ucap Jocelyn penuh misteri.


"Maksud kamu apa?" Tanya Justin bingung mendengar pertanyaan Justin.


"Tidak ada. Bukankah seorang pria harus membuktikan kalau dia pantas mendapatkan gadis yang diinginkannya. Apalagi dia Nadya. Sainganmu banyak kan?" Ucap Jocelyn.


"Apalagi dia cucu Atmaja dan Hadiwinata" Batin Jocelyn.


"Iya sih. Tapi sejauh ini hanya aku yang diresponnya. Jadi bolehkah aku berbangga hati" Ucap Justin dengan pede-nya.


"Mau pergi jalan-jalan setelah ini?" Tanya Justin sambil menatap Nadya yang tengah asyik menikmati laksanya.


"Ke mana?" Tanya Nadya.


"Terserah. Aku akan jadi supirmu hari ini" Ucap Justin.


"Wah aku merasa tersanjung dan beruntung. Ada seorang pria tampan yang mau jadi supirku"


Blush, wajah Justin langsung memerah mendapat pujian dari Nadya.


"Astaga, lagi-lagi jantungku"


Namun detik berikutnya wajah Nadya berubah sendu. Sambil memegang lehernya di mana kalung dengan bandul cincin pernikahan sang ayah terpasang disana.


"Kamu kenapa? Ada masalah?" Tanya Justin yang melihat perubahan air muka Nadya.


"Entahlah. Akhir-akhir ini aku merasa gelisah. Sepertinya hal buruk sedang terjadi pada kakakku" Jawabnya sendu.


"Sudah menghubunginya?" Tanya Justin.


"Sudah. Dia bilang dia memang sedikit kecapekan karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya"


"Kalau begitu jangan terlalu khawatir. Kakakmu pasti baik-baik saja" Hibur Justin menenangkan.


"Kamu tahu, maka itu aku bekerja keras untuk menyelesaikan skripsiku secepatnya. Aku sudah menghubungi kak Kai untuk membantuku. Dan sekarang skripsiku sudah 60% siap. Jika minggu ini aku bisa menyelesaikannya. Bulan depan aku akan pulang menengok kakakku. Entah kenapa aku begitu cemas kali ini" Curhat Nadya.


"Kalau kakakmu kenapa-kenapa orang-orang di sana pasti akan memberitahumu. Bukan begitu?" Justin berusaha menenangkan Nadya kembali.


"Kamu benar. Bahkan kak Hera dan kak Jocelyn mengatakan kakakku tidak apa-apa. Apa aku perlu meminta bantuan kak Kai untuk mencari tahu keadaan kakakku" Sebersit ide muncul di pikiran Nadya.


"Sampai seperti itu. Itu berarti kamu tidak percaya dengan orang-orang yang ada di sana" Cegah Justin.


"Betul juga ucapanmu" Jawab Nadya mengiyakan pendapat Justin.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Fokus saja pada skripsimu. Dengan begitu kamu bisa cepat bertemu kakakmu lagi" Hibur Justin.


Akhirnya keduanya memutuskan untuk jalan-jalan ke Gardens by the Bay. Sebuah taman yang menjadi salah satu ikon negara Singapura.



Kredit visitsingapore.com


Sebuah tempat wisata yang terletak di Marina Bay. Tempat wisata bertema kebun yang sengaja dibuat pemerintah setempat guna menambah ruang hijau di negara itu. Mengingat kawasan Singapura yang sempit hingga sulit sekali menemukan ruang hijau di negara itu.


Sebenarnya Gardens by the Bay lebih cantik saat dikunjungi malam hari. Dengan jutaan lampu berwarna-warni menghiasi tiap sudut kebun itu.



Kredit visitsingapore.com


Ada beberapa spot yang Nadya sukai saat berkunjung ke Gardens by the Bay. Salah satunya Flower Dome.



Kredit visitsingapore.com


Dan satu lagi Flower Fantasy.



Kredit visitsingapore.com


"Mereka cantik kan?" Ucap Nadya sambil memandang takjub pemandangan yang ada di sekelilingnya.


"Cantik" Jawab Justi singkat.


"Namun tidak secantik dirimu Nad" Batin Justin.


Sambil terus mengikuti kemana gadis itu melangkahkan kakinya.


"Tunggu sebentar, Nad" Ucap Justin tiba-tiba.


"Ya?"


Nadya menghentikan langkahnya.


"Ada ini di rambutmu" Ucap Justin sambil mengambil beberapa daun yang tersangkut di rambut Nadya.


Jantung Nadya seakan berhenti berdetak. Kala mendapati tubuh mereka yang berjarak sangat dekat. Hingga Nadya mampu menghirup wangi tubuh pria itu.


Pun dengan Justin. Darahnya berdesir hebat tatkala jarinya tanpa sengaja menyentuh kulit pipi Nadya. Sejenak keduanya hanya terpaku. Saling menatap dalam kedua bola mata masing-masing.


Keberadaan mereka di Flower Fantasy cukup mendukung terciptanya suasana romantis di antara mereka. Dengan ribuan bunga berwarna-warni dan tumbuhan gantung yang berada di sekeliling mereka.


Hingga tiba-tiba Justin dengan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Nadya. Pria itu sedikit menunduk mengingat tinggi Nadya hanya sebatas bahunya. Dan "cup" sebuah ciuman mendarat lembut di bibir Nadya.


Membuat gadis itu membulatkan matanya. Terkejut, jelas sebab itu adalah ciuman pertamanya. Sedang Justin dengan perlahan mulai memainkan bibirnya di bibir Nadya. Begitu lembut dan dalam.


Perlahan satu tangannya bergerak ke tengkuk Nadya. Membuat Nadya hanya bisa memejamkan mata. Menikmati sensasi ciuman yang baru pertama kali ia rasakan.


Sedang tangan lainnya meraih pinggang gadis itu. Mengikis jarak diantara keduanya. Dan detik berikutnya. Tubuh Nadya sudah menempel ketat pada tubuh Justin. Sedang tangan Nadya hanya bisa memegang erat lengan Justin.


Cukup lama Justin menikmati bibir mungil Nadya. Terkadang lum**** kecil ia berikan. Membuat jantung Nadya berdetak semakin kencang.


"Aku jatuh cinta padamu, Nadya Arina" Ucap Justin sesaat setelah dia melepaskan ciumannya.


Kata-kata Justin langsung membuat Nadya mengembangkan senyumnya. Dari sekian banyak pria yang mendekatinya hanya Justin yang mampu membuat jantung Nadya berdebar hebat.


****


Natasya meringkuk memeluk lututnya. Menangis tersedu-sedu di sudut rooftop seperti biasa. Namun kali ini tangisnya benar-benar tidak terkendali.


Kaizo adalah kak Adit-nya. Orang yang selama ini dicarinya. Tidak menyangka jika pria yang dia cintai adalah kak Adit-nya sendiri.


Dan lagi Natasya begitu terkejut ketika mengetahui jika Kai telah dijodohkan dengan Fanny. Cucu tuan Hadiwinata yang bisa dikatakan Fanny adalah adik tirinya. Tania begitu ayahnya dulu memberi nama adik tirinya.


Dan setelah sekian lama Natasya baru tahu bahwa adik tirinya tidak pernah jauh darinya. Melihat Fanny seumuran Nadya adik kandungnya. Karena ayahnya dulu mengatakan kalau keduanya hanya berbeda bulan.


Lama dia menangis terisak seorang diri. Tanpa sadar, Kai terus mengawasi Natasya. Pria itu pun tak kalah sedihnya dengan Natasya. Hati Kai hancur melihat tatapan sedih dan kecewa dari Natasya. Tatkala mendengar sang kakek mengumumkan soal pernikahannya dengan Fanny.


"Maaf.Maafkan aku" Bisiknya berulang kali.


"Bos, apa tidak sebaiknya Bos menjelaskan semuanya. Kalau ini semua keinginan Tuan Besar. Bukan keinginan Anda" Saran Leo. Dia juga begitu shock mendengar berita ini tadi pagi.


Leo sejak tadi hanya mampu berdiri di belakang Kai. Tanpa tahu harus berbuat apa.


"Apakah ada gunanya? Penjelasanku tidak akan mengubah keadaan. Itu hanya akan membuatku seolah sengaja membohonginya" Ucap Kai.


Leo hanya bisa terdiam. Ucapan tuannya memang benar adanya. Hingga keduanya hanya bisa menatap Natasya yang tengah menangis pilu di sana seorang diri.


****


Up lagi readers,


Thank's sudah mampir,


Happy reading everyone,


Love you all, 😘😘😘😘


*****