You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 84



Pada akhirnya baik Luis maupun Natasya tidur juga di kursi masing-masing. Mereka terbangun ketika pramugari memberitahukan kalau mereka akan tiba di Shanghai dalam satu jam.


"Apa aku ingin makan?" Tanya Luis ketika gadis itu baru saja keluar dari kamar. Setelah membersihkan diri dan mengganti baju.


Natasya tidak punya pilihan. Dia merasa gerah dan lengket. Apalagi ketika Luis menawari untuk berganti baju. Dia mengiyakan saja. Sedikit heran ketika melihat ada beberapa set pakaian wanita lengkap dengan pakaian dalamnya.


"Tidak mau" Tegas Natasya.


"Kau keras kepala sekali. Makanlah! Kau perlu tenaga ekstra untuk bisa lari dariku" Ucap Luis sambil menyeringai.


"Kak Kai akan menjemputku!" Ulang Natasya.


"Ooh kita lihat saja. Apa dia mampu mengambilmu dariku. Kau lupa Nona, aku yang menculikmu. Dan aku pastikan kau akan tetap berada di sisiku"


Dia mengurung Natasya dengan kedua lengannya. Membuat Natasya reflek memundurkan tubuhnya. Menghindari kontak sedekat mungkin dengan Luis.


"Dia akan menemukanku bagaimanapun caranya" Desis Natasya.


Membuat Luis geram.


"Dengar kau akan jadi milikku. Dan selamanya akan jadi milikku" Tegas Luis.


"Aku tidak kenal kau. Ataupun siapa kau aku tidak peduli. Aku hanya mencintai tunanganku seorang" Teriak Natasya.


Kemarahan Luis meledak seketika. Dia menyeret Natasya ke kamar. Namun seolah tahu itu akan terjadi. Dia dengan cepat melepaskan cekalan tangan Luis. Berlari sekuat tenaga menjauh dari Luis.


"Kau tidak akan bisa lari dariku" Geram Luis. Dia berlari keluar kamar. Dan mendapati gadis itu tengah berdiri. Siap menantangnya.


"Kau tidak akan menang melawanku" Seringai Luis.


"Kita lihat saja" Balas Natasya.


Natasya sudah bersiap menyerang ketika pemberitahuan bahwa mereka akan segera mendarat terdengar.


"Duduk dan pakai seatbelt-mu" Perintah Luis.


Natasya bergeming.


"Natasya!!!!" Luis menaikkan suaranya satu oktaf. Membuatnya terdengar menggelegar di ruangan sempit itu.


Namun Natasya tetap tidak bergerak. Wajahnya menunjukkan penolakan atas apapun yang Luis perintahkan.


"Kau benar-benar gadis yang keras kepala!" Geram Luis.


Dengan cepat Luis memaksa Natasya duduk. Lagi-lagi gadis itu melawan. Hingga pada akhirnya Luis memanggul tubuh Natasya membuat gadis itu berteriak.


"Turunkan aku breng***" Maki Natasya.


Baru kali ini dia memaki seseorang dengan kata yang begitu kasar.


"Maka menurutlah" Teriak Luis tak kalah pedas.


Luis dengan cepat mendudukkan Natasya di sebelah kursinya. Memasangkan seatbelt dengan cepat ke tubuh gadis itu. Lantas kembali ke tempat duduknya dan melakukan hal yang sama pada dirinya. Karena guncangan mulai terasa seiring pesawat yang mulai mendarat.


"Dia benar-benar berbeda dengan Luna. Aah tentu saja karena dia memang bukan Luna. Tapi perasaan apa yang aku rasakan sekarang. Kenapa aku seperti menginginkan dia untuk selalu berada di dekatku. Juga sifatnya yang begitu keras kepala. Membuatku tertantang untuk menakhlukannya. Ah ada apa denganku? Tidak mungkin kan aku menyukai tunangan si brengsek itu" Monolog Luis dalm hati.


"Apa kau takut?" tanya Luis ketika melihat ketegangan di wajah Natasya.


"Tidak!" Natasya menjawab tegas.


Luis mengulum senyum. Jelas-jelas kalau dia ketakutan masih saja menyangkal.


"Tahu begini akan lebih baik jika aku membiusmu lagi" Ucap Luis santai yang langsung membuat Natasya membuka matanya yang terpejam.


"Kau mengakui kalau kau membiusku?" Tanya Natasya tidak percaya.


"Iya kenapa?" Jawab Luis.


"Aku bisa melaporkanmu ke polisi. Kau membiusku lalu menculikku"


"Laporkan saja. Kau pikir aku takut?" Luis sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Natasya. Membuat gadis itu kembali memundurkan tubuhnya. Membuat jarak yang cukup aman dengan Luis.


Hingga tak lama terdengar bunyi "klik". Natasya mengalihkan pandangannya.


"Turunlah. Kita sudah sampai" Bisik Luis santai. Melepas seatbelt miliknya. Lalu perlahan bangkit. Tak lama pintu pesawat itu terbuka.


"Kau ingin tetap disini atau keluar?" Tanya Luis.


Natasya tidak bergerak sama sekali. Gadis itu malah menyilangkan kakinya. Menyilangkan tangannya didepan dadanya. Dan mulai memejamkan mata. Seolah memberi jawaban kalau aku memilih tidak keluar dari pesawat ini.


Natasya sontak berontak Menggoyang-goyangkan kedua kakinya agar pria itu kewalahan.


"Turunkan aku! Aku tidak mau turun!" Teriak Natasya sambil kedua tangannya memukuli dada Luis.


"Diamlah atau aku akan menciummu disini!" Ancam Luis.


"Kau bohong! Kau hanya menggertakku saja...!"


Belum sempat Natasya selesai memaki. Bibir Luis sudah bertaut sempurna di bibir Natasya. Membuat Natasya membulatkan matanya seketika.


Detik berikutnya, Natasya mendorong jauh dada bidang Luis.


"Berani kau menciumku!" Bentak Natasya.


"Jangan kau pikir kalau aku hanya menggertak. Menciummu adalah hal yang mudah untukku. Aku bahkan bisa melakukan hal yang lebih padamu" Balas Luis dengan nada penuh ancaman.


Sejenak Natasya terdiam. Luis yang melihat gadis itu terdiam lantas melanjutkan langkahnya menuruni tangga. Sedang Natasya yang melihat tangga di depannya cukup tinggi langsung melingkarkan tangannya di leher kokoh Luis.


"Jangan bilang kau takut ketinggian juga" Bisik Luis. Menutupi dadanya yang berdebar kencang kala harum vanila menyeruak masuk ke hidungnya.


"Aku..aku.. tidak ...takut" Jawab Natasya terbata-bata.


Luis kembali mengulum senyumnya.


"Jelas-jelas takut masih juga berpura-pura" Batin Luis.


Natasya sempat menutup matanya ketika dirinya dibawa turun oleh Luis. Ketika sampai dibawah. Luis yang sengaja melonggarkan gendongannya terkejut karena Natasya tiba-tiba melompat turun dari gendongannya.


Gadis itu langsung berlari menjauh. Membuat semua bodyguard Luis sontak mengejarnya.


"Natasya....!!!!" Teriak Luis, menggelegar di tempat pria itu berdiri.


Sedang hal itu rupanya tak lepas dari seseorang yang tengah merekam kejadian itu. Dan langsung mengirimkannya pada seseorang.


Dan seseorang itu langsung tertawa terpingkal-pingkal melihat anak buah Luis yang kocar kacir berusaha menangkap Natasya.


"Waahhh tunanganmu benar-benar sesuatu, brother" Seloroh seseorang yang tak lain adalah Steven.


Sedang Kai jelas terlihat marah. Melihat bagaimana Natasya memeluk Luis. Meski dia tahu. Natasya melakukannya karena dia memang takut ketinggian. Ada rasa cemburu ketika melihat Natasya menyentuh pria lain.


"Apakah dia memang seperti itu?" Tanya Steven.


"Dia sangat keras kepala" Jawab Kai.


"Jangan khawatir bro kita akan segera menjemput tunanganmu" Sahut Steven.


"Aku akan segera menikahinya begitu kita menjemputnya" Tekad Kai.


Steven terdiam.


"Eemmm, sebelumnya ada yang harus kuberitahukan padamu" Kata Steven sedikit ragu.


Namun Steven merasa jika Kai harus tahu semua masa lalunya.


"Haaa? dijodohkan lagi" ucap Kai begitu Steven selesai bercerita tentang perjodohan yang sudah disiapkan untuknya.


"Bagaimana?" Tanya Steven ingin tahu apa yang akan dilakukan Kai mengenai perjodohan itu.


"Kau tahu aku nyaris kehilangan Anna gara-gara perjodohan konyol yang dilakukan oleh Kakek Anna. Dan kau pikir sekarang pun aku akan melepaskan Anna untuk sebuah perjodohan lagi. Jangan harap aku akan menerimanya. Siapapun calonnya aku tidak akan menerima perjodohan ini" Tegas Kai.


"Baiklah jika itu keputusanmu. Tidak ingin melihat calonnya dulu" Goda Steven.


"Aku tidak tertarik. Kau ambil saja jika kau mau" Balas Kai.


"Aiiisshhh, aku sudah punya Lin Qian" Jawab Steven.


"Makanya jangan memaksa"


"Aku tidak memaksa. Hanya ingin kau mempertimbangkannya"


"Tidak ada pertimbangan lagi. Pilihanku sudah final. Siapapun yang menghalangi akan aku lawan. Kau bilang semua keputusan mengenai klan Liu ada di tanganku" Tanya Kai.


"Benar. Jika teori Dokter Su benar. Maka nasib klan Liu ada ditanganmu" Balas Steven.


"Bagus. Akan aku manfaatkan hal itu" Sahut Kai sambil menyeringai.


***