You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 94



Di lantai bawah,


Luis baru saja akan membalas pukulan Kai. Dia tidak terima disalahkan, meski memang sebenarnya dialah yang bersalah. Membawa pergi Natasya tanpa izin dari Kai. Yang bisa dikategorikan sebagai penculikan.


"Sudahlah. Mengaku saja, Brother" Ledek Steven.


Pria itu menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan pada besi pembatas di lantai dua. Memandang dengan santai dua orang saudaranya dengan wajah masing-masing penuh amarah.


"Dia datang" Info seseorang melalui earphone di telinga Steven.


Steven menyeringai.


"Show time" Bisiknya lirih.


Luis hampir saja memukul wajah Kai. Ketika suara tepuk tangan terdengar.


Prook, proook, prooook,


"Wah, sebuah pertunjukkan yang menarik. Melihat pewaris klan Liu saling memukul karena seorang wanita" Cibir seorang pria paruh baya. Suaranya penuh dengan kebencian.


"Tuan Wang...." Desis Luis.


"Oooh, senang bertemu kembali denganmu tuan Luis Liu. Dan Anda pastilah Tuan Eric Liu yang lama menghilang" Ucap pria itu lagi. Kali ini jelas terlihat sorot kebencian di mata pria yang dipanggil Tuan Wang oleh Luis.


"Ada apa tuan Wang kemari?" Tanya Luis. Dia pikir tidak mengundang siapapun ke vila. Namun detik berikutnya Luis melayangkan tatapannya kepada Kai.


"Aku tidak mengundangnya, brengsek!" Sarkas Kai.


Dia masih begitu marah dengan ulah Luis hingga membuat Natasya demam.


"Aku sendiri yang ingin datang kemari. Pasti seru sekali jika mendapatkan ketiga pewaris klan Liu sekaligus" Ucapnya ambigu.


"Apa maksudmu?" Luis tidak paham dengan pembicaraan tuan Wang.


Kai dan Steven hanya saling melirik dari tempat mereka berdiri masing-masing.


"Ya, sebaiknya aku jelaskan saja tujuanku datang ke sini. Agar kalian tidak penasaran ketika kalian mati nanti"


Luis semakin tidak paham.


"Aku ingin membalas dendam atas kematian putriku, Luna" Kata tuan Wang menatap Luis tajam.


"Maksud Anda?"


"Putriku meninggal karena kalian" Tuan Wang berucap penuh amarah.


"Bagaimana mungkin? Itu tidak mungkin" Sangkal Luis.


"Steven kau yang melakukan itu kan?" Luis bertanya kepada Steven di lantai dua.


"Sudah kukatakan ribuan kali Luis bukan aku yang menabrak Luna. Ataupun orang-orangku. Tidak ada yang berniat melenyapkan Luna" Jelas Steven.


"Bohong!" Sahut Luis tidak percaya.


"Mau kuberitahu cerita sesungguhnya" Kata Steven sambil berjalan turun.


Semua orang terdiam. Penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Steven. Tapi tidak dengan tuan Wang. Pria itu menggeram marah.


"Tutup mulutmu!" Ancam tuan Wang.


"Kenapa? Anda takut kalau rahasia Anda akan terbongkar" Steven berucap tajam.


"Sebenarnya apa maksud perkataan kalian" Luis benar-benar tidak mengerti ke mana arah pembicaraan semua orang.


"Kau mau tahu?" Tanya Steven pada Luis


"Diam!!!" Raung tuan Wang.


"Sebenarnya Luna menyelamatkanmu dari orang yang bermaksud menabrak mobilmu" Ucap Steven yang langsung membuat Luis ternganga tidak percaya.


"Dia bohong!" Sangkal tuan Wang.


"Maksudmu?"


"Tuan Wang bermaksud melenyapkanmu. Dia marah karena Luna jatuh cinta padamu. Tapi ternyata Luna tahu rencana ayahnya. Dan seperti yang kau tahu selanjutnya. Luna meninggal" Jelas Steven.


"Kau bohong!" Seru Luis dengan bibir gemetar. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Aku punya semua buktinya jika kau mau menginginkannya" Tambah Steven.


"Haaa, karena semua sudah tahu. Jadi aku langsung saja. Habisi mereka!" perintah tuan Wang.


Semua penjaga langsung bereaksi. Mereka mengangkat pistol mereka masing-masing.


Alena jelas langsung ketakutan melihat hal ini. Tubuhnya mulai bergetar hebat.


"Kau sendiri yang membunuh putrimu kenapa menyalahkan orang lain?" Teriak Luis.


"Karena kaulah putriku jadi melawanku!" Balas tuan Wang tidak kalah keras.


Luis benar-benar shock. Luna meninggal karena dirinya. Satu fakta yang baru dia ketahui setelah tiga tahun kematian Luna.


"Jadi kaulah yang menghembuskan kabar kalau saudaraku yang lain yang sudah menabrak Luna. Kau yang sengaja mengadu domba kami. Agar kami saling berkelahi sesama sendiri?!" Teriak Luis penuh penyesalan.


Dia tersadar dia yang salah dalam hal ini. Berapa banyak kekacauan yang telah ia buat dalam tiga tahun ini. Semua karena dia termakan oleh tipuan yang diciptakan oleh pria didepannya ini.


"Ya, aku cukup senang kalian bertengkar sesama sendiri. Apalagi hari ini. Kalian bisa saling bunuh hanya demi seorang wanita ciiihhh.... memalukan!" Ejek tuan Wang.


Seketika Luis tersadar telah menyeret Natasya dalam masalah keluarganya. Masalah yang sebenarnya ia ciptakan sendiri. Rasa sedih dan kehilangan atas meninggalnya Luna membuat Luis tidak bisa berpikir jernih. Hingga dengan mudah percaya pada kabar yang mengatakan kalau Luna meninggal akibat ulah saudaranya sendiri. Yaitu Steven.


Meski Steven ribuan kali menyangkal tuduhan itu. Tapi Luis tidak percaya. Hingga satu tekad timbul di benak Luis. Dia harus merebut semua yang dimiliki Steven dalam hal ini adalah aset yang dia miliki di dalam keluarga Liu.


"Lalu sekarang apa yang kau inginkan tuan Wang?" Kali ini Kai yang bicara.


"Aahh, Tuan Muda Eric. Aku menginginkan kematian kalian, tiga pewaris utama klan Liu. Dan juga...aku begitu penasaran dengan wanita yang kabarnya adalah tunanganmu" Ucap tuan Wang sambil melihat ke lantai dua.


"Kurang ajar!!" Umpat Kai.


"Ooo, tenang dulu tuan muda Eric. Setidaknya aku akan menghabisi kalian dulu. Sebelum bersenang-senang dengan tunanganmu" Lagi-lagi ucapan tuan Wang membuat telinga Kai panas.


"Bunuh mereka!!" Perintah tuan Wang.


Dan satu tembakan langsung terdengar. Disusul jeritan Alena. Membuat Luis sadar akan keberadaan Alena. Secepat kilat Luis berlari ke arah Alena. Memastikan kalau sekretarisnya itu baik-baik saja.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Luis panik. Menatap dalam wajah ketakutan Alena.


Perlahan gadis itu mengangguk. Meski tidak dipungkiri tubuhnya gemetaran mendengar suara tembakan yang semakin sering terdengar.


"Naiklah ke tempat Natasya berada. Kami akan mencoba mengeluarkan kalian" Pinta Luis. Seraya meraih tangan Alena. Membimbing gadis itu menaiki tangga menuju lantai dua.


"Cover Luis!" Teriak Steven dari tempatnya bersembunyi.


Detik berikutnya sekumpulan anak buah Steven langsung melindungi Luis dan Alena. Memastikan Alena selamat naik ke lantai dua. Masuk ke kamar Natasya. Seorang anak buahnya langsung memberikan sebuah Revolver pada Luis. Dan pria itu dengan cepat mengokang senjatanya.


"Klaatakk!"


Kini dirinya sudah bergabung dengan dua saudaranya. Saling menembak dengan kubu tuan Wang.


"Alfa, Delta masuk!"


"Kau memanggil pasukan marinirmu" Tanya Luis. Mendengar komando dari Steven melalui earphone-nya.


"Dia membawa cukup banyak anak buah untuk membunuh kita" Balas Steven sambil terkekeh. Di sela-sela aksi tembak menembak mereka.


"Aahhh, aku rasa akan merombak total vila ini" Sahut Kai dari tempat persembunyiaannya.


Bisa Luis lihat vila itu kini berantakan dengan bekas tembakan di seluruh bagian vila.


"Tuan mereka mulai naik ke lantai dua" Beritahu seorang anak buah Steven.


"Brengsek!!" Umpat Kai dan Luis bersamaan.


Keduanya langsung melesat naik ke lantai dua. Beberapa kali menunduk menghindari tembakan yang diarahkan kepada mereka berdua.


Sementara di dalam kamar,


Belum sempat Alena menjawab. Suara tembakan yang begitu dekat terdengar. Membuat Alena langsung berjongkok. Menutup rapat kedua telinganya.


Profesor Huang dengan cepat menarik Alena menjauh dari pintu. Sedang Justin tetap waspada dengan pistolnya.


"Apa yang terjadi?" Tanya profesor Huang.


"Tuan Wang menyerang" Jawab Justin singkat. Pria itu mulai mendengarkan perintah Steven dari earphone-nya.


"Aku mengerti" Balas Justin.


"Tahu pintu penghubung ke kamar Luis?" Tanya Justin kepada Alena.


Alena mengangguk menunjuk sebuah lukisan.


"Jalan rahasia" Gumam profesor Huang.


Dengan cepat Justin melepas infus Natasya. Menyerahkan pistolnya pada profesor Huang yang langsung ditolaknya.


"Sebentar saja. Hanya sampai ke kamar Luis" Bujuk Justin.


Pria itu kekeuh menolak.


"Biar aku saja" Tawar Alena.


"Kau bisa menembak?" Tanya Justin.


"Aku tahu tekniknya" Jawab Alena.


Dan gadis itu menerima Revolver milik Justin. Sementara pria itu langsung menggendong Natasya. Mengikuti Alena menuju sebuah lukisan. Sejenak gadis itu meraba sesuatu di dinding sebelah lukisan itu.


"Got it"


Ucap Alena. Perlahan menekan sesuatu di sana. Dan "sreeettttt" terdengar bunyi sesuatu bergeser. Dengan cepat Alena mendorong lukisan itu. Yang ternyata adalah sebuah pintu.


"Cepatlah!" Pinta gadis itu.


Justin masuk lebih dulu. Diikuti profesor Huang yang membawa infus Natasya. Terakhir Alena yang langsung menutup pintu itu. Ketiganya mulai menaiki tangga dalam ruangan yang cukup bersih dan terang itu.


Ceklek, suara pintu dibuka Alena. Mereka masuk ke sebuah kamar dengan desain yang lebih maskulin ketimbang kamar Natasya tadi.


Justin baru saja akan merebahkan tubuh Natasya ketika gadis itu membuka matanya.


"Justin..." Bisiknya lemah.


"Kau bangun?" Tanya Justin.


"Ada apa ini?" Natasya balik bertanya.


Belum sempat Justin menjawab. Suara Steven terdengar di telinga Justin.


"Keluar dari sana sekarang. Gunakan litf"


"Oh *****!" Maki Justin.


"Dimana liftnya?" Tanya Justin lagi.


Alena jelas terpaku. Apa mereka berhasil mengejar ke kamar tuannya.


"Cepat Alena mereka mulai naik ke sini" Seru Justin sambil membantu Natasya berjalan.


"Apa maksudnya ini?" Natasya terlihat bingung.


"Aku jelaskan nanti" Jawab Justin cepat. Perlahan mengikuti Alena berjalan. Lagi-lagi ke arah sebuah lukisan. Kali ini sebuah tombol langsung terlihat. Namun untuk orang awam mereka jelas tidak tahu kalau ada sebuah tombol di dinding itu.


Alena menekan tombol itu. Dan "tiing" suara khas pintu lift terbuka terdengar.


Keempatnya langsung masuk kedalam lift itu. Alena menekan lantai 1. Lantai paling dasar yang ada. Lift tertutup bersamaan dengan pintu kamar Luis yang dibuka paksa.


"Mereka tidak ada" Beberapa suara yang sempat mereka dengar.


****