
Violet patuh, ia membuka mulut dan Zayn lantas menyuapinya. Zayn tersenyum, ia sangat bahagia meski hanya menyuapi sepotong daging untuk wanitanya. Violet pun kembali tertunduk sambil mengunyah perlahan.
"Kenapa psikopat gila ini begitu baik memperlakukan aku?" Batin Violet.
"Kali ini kamu harus habiskan makananmu." Pinta Zayn.
Violet hanya diam, ia meraih potongan dagingnya yang ke tiga, Violet mengunyahnya dan perlahan wajah wanita itu berubah, ia memperlambat kunyahanya hingga tiba-tiba terhenti dengan raut wajahnya yang aneh. Violet pun berusaha untuk langsung menelan makananya.
"Ueek..." Violet terdiam dan langsung menutup mulut dengan menggunakan kedua telapak tanganya.
Zayn menyadarinya, ia lantas meraih tissue dan bangkit dari duduk untuk menghampiri Violet.
"Jangan di paksakan menelanya, muntahkan saja sayang." Pinta Zayn, ia meletakan tissue di tanganya di dekat mulut Violet untuk ia meminta wanita itu memuntahkanya.
Violet patuh, ia segera memuntahkan seisi makanan di dalam molutnya di tissue milik Zayn, Zayn pun membuang tissue itu di tempat sampah. ia menghampiri wanitanya lagi dan kembali duduk di dekatnya.
"Aku kenyang." Ucap Violet.
"Kamu baru makan dua potong daging, jangan biarkan perutmu terus menerus kosong." Sahut Zayn.
"Tapi aku tidak lapar."
Violet tertunduk, entah kenapa ia memang tidak pernah lagi merasakan lapar. kini kedua sisi pipi wanita itu mulai di basahi air matanya lagi hingga membuat Zayn tidak mampuh memaksa Violet untuk menghabiskan makananya.
Zayn bangkit dan ia menarik kursinya untuk duduk lebih dekat dengan Violet, ia meraih telapak tanganya dan membelai rambut panjang yang menutupi wajah wanitanya. Zayn pun menyelipkanya di antara telinga Violet.
"Kenapa kamu menangis?" Tanya Zayn, ia menghapus air mata wanita itu.
"Tolong jangan bersikap seperti ini padaku tuan Zayn." Pintanya, ia menarik telapak tanganya dari genggaman tangan Zayn Keenan. Violet mengepalkan telapak tanganya dan meletakanya di dada.
"Apa yang kamu bicarakan?" Tanya Zayn, ia meraih lagi telapak tangan wanitanya.
"Jangan menghujaniku dengan cinta dan perhatian anda tuan, aku tidak bisa menerimanya." Sahut Violet.
"Kamu takut akan memiliki perasaan yang sama denganku?" Tanya Zayn.
Violet hanya diam, ia tidak menyangkalnya karena ia memang takut jika suatu saat ia memiliki perasaan yang sama denganya. Violet tidak mau, ia tidak mau memiliki perasaan itu pada pria yang telah membunuh ayahnya tuan Harry, pria yang juga melenyapakan Axel Zayn dan Joe Nathan dari kehidupanya.
"Jika itu yang kamu takutkan maka aku akan tetap seperti ini dan kamu akan mencintaiku suatu hari nanti." Ucap Zayn Keenan.
Zayn bangkit dari duduk, ia menarik tangan wanitanya untuk meninggalkan restoran itu bersamanya. Zayn bahkan kehilangan selera makan karena permintaan Violet padanya.
"Kamu bahkan ingin aku untuk memperlakukanmu dengan kasar agar kamu tidak akan bisa mencintaiku? seperti itu? sayang.. jangan kamu anggap aku tidak mengeri dengan maksud dari permintaanmu." Batin Zayn.
Langkah kaki Violet begitu cepat mengikuti langkah kaki Zayn Keenan, ia menatap perggelangan tanganya yang saat ini di genggam erat oleh prianya. Violet pun menatap kedepan, ia menatap punggung kekar Zayn Keenan sangat dalam.
Zayn meraih ponsel dari dalam saku jasnya, ia melakukan panggilan pada bodyguard untuk meminta mereka mengurus pembayaran, ia lantas memanggil supir pribadinya untuk segera menjemput di lobby utama restoran.
Sesampainya di lobby mereka masuk kedalam mobil dan meninggalkan restoran, di sepanjang jalan Violet hanya menatap keluar jendela dan di sepanjang jalan itu Zayn Keenan memperhatikanya.
"Kamu tidak lelah? lehermu tidak sakit? tidak bisa menatap kedepan atau menoleh ke arahku?" Tanya Zayn, ia mulai terlihat tidak sabar.
Violet tidak menjawab, ia lantas bersandar dan menatap kedepan namun ia memejamkan matanya.
"Sayang... kamu tau? kamu sangat menyebalkan." Ucap Zayn dan Violet bahkan tidak membuka matanya untuk sekedar mereson.
Meski berusaha bersabar menghadapi Violet, nyatanya Zayn Keenan mulai di kuasai amarahnya, ia menghela nafas panjang seraya menyandarkan tubuh di kursinya, ia menoleh lagi pada Violet yang masih memejamkan matanya.
"Marahlah Zayn Keenan dan bunuh aku." Batin Violet.
"Kita pulang!" Perintah Zayn pada supirnya, namun tatapan mata pria itu begitu tajam menatap Violet.
"Baik tuan."
Tit... tit... tit...tit...
Suara itu nyaring terdengar mendominasi ruang perawatan seorang pria muda yang saat ini berbaring di ranjang pasien dengan oksigen dan berbagai alat medis yang melekat di tubuhnya untuk membantunya tetap bernafas. pria dengan stelan pakaian biru langit itu kini menggerakan jemarinya seraya ia berusaha membuka kedua kelopak matanya.
Meski sangat sulit untuk membuka mata, namun dengan kegigihanya kini pria muda itu dapat melihat dunianya kembali.
"Violet..." Panggilnya nyaris tidak terdengar.
Mendengar pria itu memanggil nama Violet, dua orang bodyguard berjas hitam dengan logo mata elang yang saat ini sedang menjaganya lantas menoleh dan menghampiri pria itu.
"Tuan Axel sudah sadar." Ucapnya serentak.
"Violet..." Gumamnya lagi.
Kedua bodyguard itu saling menatap dan satu di antara mereka meninggalkan ruang perawatan, ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya untuk memanggil seseorang.
"Halo tuan Zayn." Sapanya.
"Ada apa?" Sahut Zayn.
"Tuan muda Axel Zayn sudah sadar, ia memanggil nama nona Violet."
"Awasi dia jangan sampai kabur." Perintah Zayn.
"Baik tuan."
Zayn mengakhiri panggilan itu dan ia menyimpan kembali ponselnya di saku jas. ia kembali menatap wanitanya yang saat ini benar-benar tertidur pulas.
"Aku tidak akan membiarkan putraku merebutmu dariku." Batin Zayn.
Zayn meraih kepala Violet dan menyandarkanya di pundak kekarnya, ia lantas menyatukan kepalanya dengan kepala Violet sambil ia menciuminya.
"Kamu milikku, milik Zayn Keenan." Batin Zayn.
Kini mereka telah sampai di rumah, Zayn keluar dari dalam mobil dan menggendong tubuh Violet yang tertidur sangat pulas, wanita itu bahkan tidak membuka mata sampai hari mulai sore dan langit semakin gelap.
Zayn Keenan keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan jubah handuk berwarna putih terbuka di bagian dadanya hingga dada kekar pria itu terlihat nampak jelas. Zayn menghampiri meja di dekat tempat tidur Violet, ia meraih ponselnya dan mulai melakukan panggilan sambil ia mengayunkan sepasang kaki jenjangnya menuju balkon.
"Halo tuan Zayn." Sapa Jeon.
"Bagaimana keadaan Axel?" Tanya Zayn Keenan.
"Tuan Axel semakin membaik, hanya saja ia belum bisa menggerakan tubuhnya karena luka tembak di dada yang belum sepenuhnya pulih pasca oprasi."
"Laporkan semua tentangnya padaku, awasi dia jagan sampai ia kembali sebelum aku menikahi Violet."
"Baik tuan, tapi... setelah tuan muda Axel sadar, ia selalu memanggil nama nona Violet."
"Lumpuhkan dia jika ia berusaha melarikan diri." Perintah Zayn.
"Maksud anda tuan?"
"Lakukan apapun untuk menahanya di sana!"
"Ba... baik tuan." Sahut Jeon terbatah.
🍁Stay With Me Violet🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys....