Stay With Me Violet Season 1

Stay With Me Violet Season 1
"Izinkan aku melakukanya sekali saja"




"Ben? apa dia sadar jika wanita yang ia lihat ini adalah aku?" Batin Violet.


"Sudah tuan, anda sudah bisa memeriksanya." Sahut Ben, fokus matanya tidak dapat teralihkan dari sosok wanita yang saat ini berada di dekat Zayn Keenan.


"Bagus." Ucap Zayn, ia menoleh pada Violet yang semkin menyembunyikan diri di dadanya.


"Ayo sayang." Ajak Zayn, ia merangkul Violet dan mulai bergegas meninggalkan lift.


Violet tertunduk semakin dalam seraya sepasang kaki jenjangnya mengikuti langkah kaki Zayn Keenan, Ben sungguh menatap wanita itu sangat dalam, wanita yang menyembunyikan wajah cantiknya di balik rambut panjangnya yang indah bergelombang.


DEG!


Violet terkejut, Ben meraih telapak tanganya saat mereka berpapasan. namun Violet tidak menghentikan langkahnya, ia menoleh pada Zayn dan sadar jika Zayn Keenan tidak menyadarinya. Ben sangat erat menggenggam telapak tanganya hingga pada akhirnya jarak mereka semakin jauh dan genggaman itu harus segera berakhir, kedua tangan itu kini menemui puncak jemari mereka masing-masing hingga terlepas dan tidak dapat di jangkau lagi.


Ben menoleh dan memutar tubuh saat wanita itu pergi bersama prianya, ia memandang sosok cantik wanita yang sebenarnya ia sukai sejak lama namun sampai saat ini perasaan itu tidak dapat ia sampaikan.


"Violet." Batin Ben.


Violet menoleh, ia menatap Ben yang saat itu sedang memandangi dirinya dengan wajah yang sendu. Violet pun kembali menundukan kepala hingga ia menghilang di balik pintu ruangan VVIP CEO Perusahaan One Zayn Group.


"Jika bisa, akupun ingin mendapatkan kesempatan yang sama seperti Axel Zayn. namun sayang kamu terlalu sempurna untuk aku gapai." Batin Ben.


Di dalam ruangan Zayn Keenan mempersilahkan wanitanya untuk duduk di sofa, ia tentu akan membawa wanita itu kemanapun. kenapa? karena wanita itu adalah tahananya dan ia sendiri tidak mau ambil resiko akan wanitanya bisa menghilang kapan saja jika ia lengah, maka Zayn Keenan tidak percaya meski itu kepada bodyguardnya sekalipun, Zayn Keenan akan memastikan sendiri jika wanita itu selalu ada di dekatnya.


"Sayang, aku akan sedikit sibuk bersama dokumen. tunggu aku di sini." Pinta Zayn.


Violet hanya diam, ia pun duduk dan memperhatikan prianya sedang menyalakan televisi untuk menghiburnya agar tidak merasa bosan.


Cup~ satu kecupan lembut mendarat di puncak kepala wanita itu, "Katakan padaku jika kamu mulai merasa bosan." Ucap Zayn Keenan.


"Iya." Sahut Violet.


Sejenak Zayn Keenan terdiam, ia memandangi wanita yang sangat dingin padanya. Zayn menarik satu sudut bibirnya seraya ia tertunduk merasa kecewa dan perlahan ia bangkit dari duduk menuju meja kerjanya, Violet pun menoleh dan melihat kini pria mengerikan itu mulai masuk kedalam dunianya yang berbeda, apa lagi jika bukan dunia bisnis.


Violet bersandar di sofa tempatnya duduk, ia mulai menonton televisi yang sesungguhnya sangat membosankan, Violet pun mengalihkan pandanganya dan ia mulai memasuki duniaya yang lain, yaitu dunia dalam ingatanya, kembali kemasa lalu untuk sekedar ia ingin merasakan kebahagiaan yang pernah menghiasi kehidupanya, Violet hanya diam dengan pandangan kosong.


Waktu terus berputar, berdetak tiada henti. Violet tersadar saat ia sudah berada di ruangan itu selama 60 menit dan waktu 60 menit itu telah habis ia gunakan hanya untuk mengingat masa lalu. Violet pun menoleh, ia mendapati duda tampan dengan dua orang anak itu masih sibuk dengan dokumen-dokumen.


"Dia sangat serius, Zayn Keenan.. pria yang sangat tampan di usianya yang sudah tidak muda lagi, ia masih terlihat muda dan kokoh, ia sangat mengerikan dan selalu membuatku di hantui rasa takut. jika di pikir sebenarnya aku mungkin akan bahagia jika menghabiskan sisa hidupku bersamanya, aku akan lepas dari kemiskinan, aku memiliki suami yang kokoh dan tampan, dia menyayangi dan mencintaiku. tapi... hati kecilku berkata tidak, sesempurna apapun seorang Zayn Keenan di padandang mata. dia tetap seorang pembunuh yang menghabisi nyawa orang-orang yang sangat aku cintai." Batin Violet, ia sangat dalam memandang Zayn Keenan yang sibuk di meja kerjanya.


Zyan sadar jika sejak tadi Violet menatapnya, ia lantas menoleh pada wanitanya hingga sepasang mata keduanya saling bertemu, saling menatap dalam waktu yang lama.


"Aku bosan, apa aku boleh keluar sebentar untuk melihat-lihat?" Tanya Violet, ia bicara dengan wajah yang datar tanpa ekspresi sedikitpun.


Mendengar permintaan wanitanya, Zayn Keenan tersenyum tipis. ia meraih telpon kantor yang ada di atas mejanya untuk memanggil seseorang.


"Halo tuan, apa anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Jeon.


"Kirim dua orang ke ruanganku sekarang." Perintahnya.


"Baik tuan."


Tidak butuh waktu lama, dua orang berjas hitam dengan logo mata elang di bagian dada mereka telah menghadap Zayn Keenan, mereka telah siap menerima perintah dari tuanya.


"Tunanganku ingin berkeliling, aku masih sibuk jadi kalian temani dia keluar." Perintahnya.


"Baik tuan." Sahut para bodyguard bertubuh kekar itu.


"Ingat konsekuensi apa yang akan kalian terima jika sampai wanitaku menghilang." Ucapnya.


"Baik tuan." Sahutnya serentak.


Zayn bangkit dari duduk, ia menghampiri wanitanya yang kini beranjak dari sofa. pria itu meraih dagu Violet dan menatap matanya.


"Aku tidak akan segan padamu lagi jika kamu berani melarikan diri." Ancamnya.


"Aku tau." Sahut Violet, ia menepis tangan Zayn dari dagunya hingga membuat Zayn mematung di tempatnya berdiri menatap wanita yang berlalu pergi begitu saja.


Violet meninggalkan ruangan Zayn Keenan bersama dua orang bodyguard berjas hitam dengan logo mata elang. ia terus mengayunkan kakinya meski ia tau jika ia tidak bisa pergi jauh, Violet hanya bisa berkeliling di lantai 8 karena hanya lantai 8 dan lobby utama saja yang di kosongkan dari aktivitas kerja. namun Violet fikir ia lebih baik keluar daripada harus satu ruangan bersama Zayn Keenan.


Sepasang kaki jenjang Violet kini terhenti di depan pintu toilet, ia menolah dan mengatakan..


Kedua patung manusia itu pun lantas mengangguk, mereka berbaik badan dan Violet menghilang di balik pintu toilet wanita.


Violet kini terhenti di depan wastafel dengan cermin besar nan tinggi di hadapanya, ia menatap sosoknya yang sangat cantik, Violet mendesah seraya menundukan kepala dan memejamkan mata.


"Hanya tempat ini yang aman, akhirnya aku bisa sendirian." Ucapnya.


"Kamu tidak sendirian, ada aku disini." Ucap seorang pria, ia memeluk tubuh Violet dari belakang.


Violet terkejut, ia langsung mendongak dan menatap cermin untuk ia mengetahui siapa yang saat ini memeluk tubuhnya.


"Ben.." Ucap Violet, ia lantas berusaha melepaskan sepasang tangan Ben yang saat ini melingkar di dadanya.


"Tolong biarkan aku memelukmu sebentar saja." Pinta Ben, ia mencium puncak kepala Violet seraya ia memejamkan matanya.


"Ben, di luar ada bodyguard yang......"


"Huuuuussttt."


Ben meletakan jari telunjuknya di bibir manis Violet dan ia kembali melingkarkan tanganya di dada wanita itu setelah Violet terdiam.


"Kamu menghilang, aku sangat merindukanmu." Ucap Ben pada Violet yang mematung menatapnya dari dalam cermin.


"Ben, tolong jangan seperti ini, aku tidak nyaman."


"Violet, aku menyukaimu sejak lama, aku tau kamu menyadarinya."


"Ben, kamu tau hubunganku bersama Axel Zayn."


"Iya, itu cukup membuatku sakit."


Violet tertunduk, jujur saja ia memang menyadari jika Ben menaruh cinta untuknya sejak lama, hanya saja Violet tidak pernah membuka hatinya untuk pria itu, ia hanya mebuka hatinya untuk Axel Zayn, ia memberikan separuh cintanya hanya pada Axel Zayn dan selebihnya cinta Violet hanya milik Joe Nathan.


Violet pun mulai berusaha melepaskan sepasang tangan Ben dari tubuhnya lagi.


"Bisakah kamu memberikan aku kesempatan yang sama? sepeti mereka... Joe Nathan, Axel Zayn bagkan Zayn Keenan. kamu tau? aku cemburu melihat pria itu mencium bibirmu di dalam lift, aku bahkan berfikir sepanjang aku melangkah. kenapa harus aku yang menyaksikanya?"


"Ben Giorgino, aku bukan wanita yang tepat untukmu. tolong jangan seperti ini." Pinta Violet.


"Aku menyukaimu Violet, aku mencintaimu." Ucap Ben, ia mencium pipi Violet yang saat ini berada di dalam dekapanya.


Violet terkejut dan tertunduk, "Lepaskan tanganmu dari tubuhku Ben." Pinta Violet.


Ben pun melepaskanya, keduanya kini menatap cermin dan saling menatap dari dalam cermin itu. Ben meraih kedua sisi lengan Violet untuk ia memutar tubuh wanita itu. Ben meraih dagu Violet sambil ia terus maju dan Violet terus mundur hingga ia tertahan di sisi dinding.


Ben menatap mata Violet sangat dalam hingga jemari tangan pria itu beralih ke bibir manisnya, Ben mengelus bibir wanita itu sangat lembut, bibir yang sebelumnya menerima ciuman manis dari Zayn Keenan yang mampuh membuatnya merasa cemburu. kini Ben semakin mendekatkan wajanya, ia mengingikanya.


"Ben.. tolong jangan seperti ini." Pinta Violet lagi, ia semakin meringsek ke sisi dinding.


Sadar akan Ben menginginkan sesuatu darinya dan ia tidak mau menggubris permintaanya, Violet lantas bergegas dan menerobos tubuh pria itu untuk Violet hendak meninggalkan toilet.


Namun sayang, Ben tidak akan mengizinkan Violet untuk pergi dan menemui Zayn Keenan lagi. ia lantas meraih perggelangan tangan wanita itu dan menariknya kedalam dekapan.


"Kamu tidak pernah memberikan aku kesempatan, meski kamu tau aku mengharapakan sebuah hubungan lebih dari teman." Ucap Ben, ia sangat erat mendekap Violet.


Violet hanya diam, ia tidak menyangkalnya. Ben lantas mendorong perlahan tubuh wanita itu ke sisi dinding lagi, Ben meraih dagu Violet untuk menatap wajahnya yang sangat cantik, ia lantas mendekatkan wajanya lagi untuk ia sangat menginginkan bibirnya.


"Ben." Ucap Violet, ia mulai gelisah melihat Ben yang bahkan tidak bisa mengalihkan pandanganya.


"Izinkan aku melakukanya sekali saja Violet." Pintanya semakin mendekat.


🍁🍁🍁🍁🍁


Violet Grizelle



🍁Stay With Me Violet🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys....