
Waktu terus berputar ini adalah bulan ke 3 kepergian Violet. semua tampak tidak berjalan dengan mudah bagi Axel dan Zayn.
Axel yang kehilangan semangat kerjanya, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan merenung di dalam ruanganya.
"Ini sudah bulan ke 3. apa ada perkembangan?"tanya Zayn pada para pengawalnya.
"Mohon maaf tuan kami sudah berusaha namun kami belum bisa menemukan nyonya."saut pengawal.
Zayn nampak menghela nafas panjang dan merebahkan tubuhnya di sofa, ia terlihat sangat frustasi dan bosan menghukum para pengawalnya.
Zayn melangkah cepat menuju kamar Violet,
ia membuka laci meja yang ada di dekat tempat tidur Violet dan mengeluarkan cincin pertunanganya yang Violet tinggalkan. wajah Zayn seketika berubah saat dia melihat cincin itu, wajahnya dan matanya memerah, dia meneteskan air mata dan mengepal cincin itu dan dibalik telapak tanganya dan memukul berulang kali dadanya sendiri. Zayn sangat merindukanya hingga ia nampak sangat sesak.
"Kenapa? Kenapa kau tidak bisa mencintaiku? kenapa kau meninggalkanku? aku sangat menyayngimu. kembalilah padaku Violeeet.."ucap Zayn menundukan kepalanya.
Joe Nathan yang berada di kantor, dia nampak melamun dan ingin menemui Violet. dia duduk bersandar di kursinya dengan setangkai mawar putih yang ada di tanganya. dia menciumi mawar putih itu berulang kali.
"Harum mawar ini, seharum dirimu. Putih mawar ini, seputih cintaku yang suci untukmu. Violet aku akan datang."ucap Nathan yang termenung di kursinya.
Hari itu Zayn datang ke One Zayn Group, dia nampak memperhatikan para pria di sana secara langsung. Zayn yang sedang berjalan di kawal para petinggi One Zayn Group dia pergi menuju ruangan Axel dan berpapasan dengan Joe Nathan.
Zayn dan Nathan pun menghentikan langkahnya dan saling berhadapan.
"Lama tidak bertemu tuan Zayn Keenan."ucap Nathan mengulurkan tanganya.
"Ia, Joe Nathan."saut Zayn mengulurkan tanganya.
Mereka saling berjabar dan menatap mata satu sama lain. Joe Nathan masih nampak tenang.
"Apa yang membawa anda datang kemari tuan Zayn?"tanya Nathan.
"Untuk mencari tau apa yang tidak aku ketahui."saut Zayn dengan kedua tangan yang terselip di saku celananya. Zayn pun menoleh pada Nathan yang tersenyum padanya.
"Tuan, tuan Axel sudah menunggu di ruanganya."ucap para pengawal Zayn.
"Sayang sekali kita tidak bisa mengobrol lebih lama, aku akan mengundangmu datang kerumah Joe Nathan."ucap Zayn.
"Tentu, aku akan menunggu undanganmu tuan."saut Nathan.
Zayn pun melangkah menuju ruangan Axel dan duduk di sofa ruangan Axel. para petinggi hanya mengantarnya sampai pintu dan kembali melanjutkan pekerjaan. di dalam ruangan itu hanya ada Zayn, 1 orang pengawal dan Axel.
Zayn nampak duduk dengan tangan kanan yang menyangga daguya dan tangan kiri yang merentang di sandaran sofa dengan kaki yang melipat. ia nampak sedang memikirkan sesuatu.
"Selidiki tentang Joe Nathan."perintah Zayn pada pengawalnya.
Mendengar perintah Zayn pada pengawalnya, Axel pun mengankat kepalanya dan menatap Zayn ayahnya.
"Untuk apa?"tanya Axel.
"Dia General Manager Violet, dia juga sangat tampan, aku tidak akan melewatkan sedikitpun informasi yang harus aku ketahui untuk menemukan Violet."saut Zayn pada putranya.
"Dia hanya GM Violet, tidak ada hubunganya dengan Violet. berhentilah mencarinya."ucap AXel melindungi Nathan.
"Ada banyak kemungkinan dan ayah akan mencoba segala cara."saut Zayn.
"Cih.."senyum kecut Axel.
"Ayah melepaskanmu karena kau putra ayah Axel, selanjutnya kau jangan pernah berani mengharapkan Violet lagi."ucap Zayn.
"Tidak ada yang bisa mengaturku ayah."saut Axel.
"Kau masih begutu keras kepala."saut Zayn.
"Ia, sama sepertimu."saut Axel menatap ayahnya.
Sedangkan ditempat yang jauh dan tersembunyi, Violet perlahan mulai melupakan belengu hidupnya, dia mulai banyak tersenyum dan menghabiskan waktu bersama ayah tercintanya.
Memasak bersama, bercanda dan tertawa. Violet banyak bicara dan dia sangat bahagia.
Waktu terus berputar hari pun mulai petang, Zayn kembali kerumah.
"Tuan ini informasi tentang tuan Joe Nathan."ucap pengawal Zayn memberikan dokumen berisi informasi tentang Zayn.
Zayn pun membuka dan membaca tiap lembar dari dokumen itu. nampak senyum tertoreh di wajahnya.
"Panggil Joe Nathan datang kemari, aku mengundangnya."perintah Zayn pada pengawalnya.
"Baik tuan."saut pengawal itu dan bergegas melaksanakan perintah tuanya.
Tak perlu menunggu lama Joe Nathan datang kekediaman Zayn Keenan bersama pengawalnya.
Joe Nathan datang dengan senyum menawanya pada Zayn.
"Tentu saja tuan Zayn, sebuah kehormatan dapat berkunjung kerumahmu."saut Joe Nathan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Zayn mengajaknya untuk duduk di rumah bak istana itu dan Nathan pun duduk.
Axel yang baru kembali, dia nampak menatap apa yang di lihatnya. dan melangkah pergi meninggalkan Joe Nathan dan ayahnya.
"Axel."panggil Zayn.
Axel pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Zayn dan Nathan yang sedang menatapnya.
"Ucapkan salam pada tamu kita."saut Zayn menatap Nathan yang sangat tenang.
"Selamat datang tuan Joe Nathan."ucap Axel melangkah menaiki anak tangga untuk pergi ke kamarnya.
"Cih.."senyum Nathan lucu.
"Putraku sedikit tidak sopan, ku harap kau memakluminya."ucap Zayn.
"Tentu saja tuan, anda tidak perlu sungkan."saut Nathan.
"Yang terpenting, hal apa yang membuat anda mengundangku?"tanya Nathan.
"Kau anak muda yang tidak sabaran."saut Zayn tertawa.
"Ia, aku tidak suka membuang waktu tuan."saut Nathan tersenyum.
"Kau mengenal Violet bukan?"tanya Zayn menatap mata Nathan yang sangat tenang.
"Tentu saja, dia bawahanku."saut Nathan.
"Dia menghilang, kau tau dimana dia sekarang?"tanya Zayn.
"Dia memang bawahanku, tapi bukan berarti aku harus mengetahui persolan pribadinya bukan?"saut Nathan tanpa rasa takut.
"Kau nampak sangat tenang saat berbicara denganku Joe Nathan aku menyukai sikap tenangmu."ucap Zayn.
"Anda bertanya tentang Violet, apa anda ada hubungan denganya?"tanya Nathan.
"Ia, bisa di bilang seperti itu."saut Zayn.
"Apa aku boleh tau hubungan yang seperti apa?"tanya Nathan menatap mata Zayn.
"Hahaha.. sudahlah, aku tidak bisa mengulur waktumu lagi. ada hal yang ingin aku ketahui tentangmu dan Violet."ucap Zayn.
"Silahkan ada tanyakan."saut Nathan.
"Kau mantan kekasih Violet?"tanya Zayn menatap mata Nathan.
"Ia, dia mantan kekasihku. lantas? apa ada hal lain?"saut Nathan.
"Hahaha... Nathan, sepertinya aku salah menempatkanmu di sini."saut Zayn.
"Bisa aku tau alasanya?"tanya Nathan.
"Joe Nathan, apa kau masih mencintai Violet?"tanya Zayn.
"Hahaha.. apa aku perlu mengatakanya padamu? aku rasa tidak penting buatmu soal pribaduku tuan Zayn."saut Nathan.
"Kau tau Violet menghilang? aku merasa ada orang lain yang membantunya."saut Zayn.
"Lalu? apa urusanya denganku?"tanya Nathan tersenyum.
"Kau ! apa kau menyembunyikanya?!"tanya Zayn menarik kerah baju Nathan.
"Hahaha.. jangan tergesa-gesa tuan, tenangkan dirimu. nampaknya kau sangat perduli padanya ada hubungan apa sebenarnya antara kau dan Violet?"tanya Nathan berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Hentikah! jangan berpura-pura lagi di hadapanku.. apa kau tau apa akhibat bermain-main denganku?"tanya Zayn.
"Anda begitu lucu, menuduh orang tanpa bukti."ucap Nathan meremas tangan Zayn dan menghempaskanya dari kerah baju yang di kenakanya.
"Cih.. anak muda yang berani."ucap Zayn.
"Lebih baik anda mencari bukti sebelum menuduh tuan Zayn yang terhormat."ucap Nathan merapihkan dasi dan kemejanya.
"Aku akan membunuhmu jika aku tau kaulah yang menyembunyikanya."ucap Zayn dengan tatapan mengerikan di wajahnya.
"Cih.. jika begitu aku sudah bisa pergi bukan? selamat mencari tuan Zayn Keenan. kuharap kau tidak menemukanya."ucap Joe Nathan berlalu pergi dengan senyum di wajahnya.
Zayn menatap kepergian Joe Nathan dengan sorot mata penuh kebencian dan kemarahan.
"Tentu saja, aku akan terus mencarinya dan jika benar kau yang menyembunyikanya. aku harap kau akan menyukai hadiahku Joe Nathan, bersiaplah."ucap Zayn dengan wajah mengerikan.