
Mentari pagi bersinar lagi. Axel membuka kedua matanya dan melihat Violet yang tertidur di dekatnya dengan tangan Violet yang menggenggam erat tanganya.
Axel pun bangkit dan duduk di atas temapat tidur. Axel nampak menata Violet yang kelelahan.
Violet pun membuka matanya dan menatap Axel yang sedang menatapnya.
"Axel kau sudah bangun? apa sudah lebih baik?"tanya Violet.
"Terimakasih."ucap Axel mencium tangan Violet.
Violet pun tersenyum dan menoleh ke sisi tembok. dia pun langsung bangun dari duduknya karena kaget.
"Sudah jam 07:00 aku akan terlambat."ucap Violet berlari meninggalkan Axel.
"Apa yang kamu takutkan?"ucap Axel tersenyum.
Axel pun bangkit dari tempat tidur dan mandi air hangat. dia sangat bahagia Violet menemani malamnya.
Deerrtt.... ponsel Joe Nathan bergetar. ia pun memeriksa ponselnya dan menerima panggilan itu.
"Halo~"ucap Nathan.
"Halo tuan, kami sudah menyembunyikan tuan Hari. semua berjalan lancar sesuai rencana."ucap pengawal Nathan.
"Bagus. jalankan rencana selanjutnya."perintah Nathan pada pengawalnya.
"Baik tuan."ucap pengawalnya memutus sambungan telpon.
"Violet. bersiaplah."ucap Nathan yang sedang mengendarai mobilnya ke kantor.
Pagi itu Violet sudah ada di mejanya dengan setumpuk dokumen di dekatnya. Nathan pun tersenyum melihatnya dan menghampiri Violet.
"Violet, nanti siang makan keluar bersamaku."ajak Nathan pada Violet yang menatapnya.
"Baiklah, sampai ketemu nanti siang."saut Violet.
Merekapun larut dalam kesibukan hingga waktu mulai berputar.
"Sudah jam 11:00."ucap Violet menoleh ke meja Nathan yang masih bicara dengan Manager produksi.
"Lebih baik merapihkan dokumen dulu."ucap Violet merapihkan semua dokumen di atas mejanya.
Axel pun keluar dari ruanganya bersama Ben. dia menatap Violet yang di hampiri Joe Nathan.
"Sudah siap?"tanya nathan pada Violet.
"Ia. ayo."ucap Violet mengambil tasnya.
Melihat Nathan mengulurkan tangan Violet pun tanpa berfikir panjang langsung mengulurkan tanganya dan pergi bersama Nathan.
Ben nampak memperhatikan Axel yang membisu.
"Ayo."ucap Axel merangkul pundak Axel dan melangkah pergi.
"Kita makan di luar. ikuti Violet."ucap Axel pada Ben yang ada di sampingnya.
"Baiklah."ucap Ben.
Mereka pun membuntuti Violet dan Nathan. Axel nampak memperhatikan Violet yang tertawa dan banyak bicara pada Na9han yang ada di sampingnya.Axel memperhatikan mereka berdua dari jauh.
"Kamu lebih banyak tertawa dan berbicara saat bersama Nathan."ucap AXel dalam hati.
"Violet ayahmu sudah aku bebaskan dari Zayn. dia sudah ada di tempat yang aman."ucap Nathan.
"Benarkah? terimakasih Nathan. apa ayah baik-baik saja? bagaimana kedaanya? apa dia makan banyak?"tanya Violet senang.
"Tentu saja. ayahmu senang saat dia mendengar aku akan membawamu padanya."saut Nathan.
Violet pun bangkit dari duduknya dan menarik kursi yang ada di dekat Nathan.
"Terimakasih Nathan. tolong jaga ayahku, maaf aku merepotkanmu."ucap Violet memeluk tubuh Nathan yang duduk di dekatnya.
"Ia. semua akan kulakukan jika itu membuatmu bahagia."ucap Nathan meraih dagu Violet dan mengecup bibirnya. Violet pun tertawa dan bercanda bersama Nathan.
"Ayo kita kembali!"ucap Axel beranjak dari kursinya dan melangkah cepat menuju mobil di ikuti Ben di belakangnya.
Didalam mobil Axel hanya membisu dan banyak berfikir. Ben menyadari Axel yang terbakar api cemburu.
"Bahagialah saat kau melihat wanita yang kau cintai bahagia."ucap Ben yang sedang menyetir.
"Aku akan bahagia jika dia bahagia saat bersamaku saja."saut Axel menatap keluar jendela.
"Jangan menjadi egois. cinta bukan tentang kamu yang harus memilikinya."ucap Ben.
Axel pun terdiam dan menatap Ben.
"Kau tidak merasa cemburu?"tanya Axel pada Ben.
"Tentu saja aku cemburu. sama sepertimu. tapi aku hanya merasa puas saat dia tersenyum bahagia dan banyak bicara. apa lagi yang aku harapkan pada wanita yang tidak mungkin aku miliki? melihatnya bahagia bagiku sudah cukup."saut Ben.
Axel pun terdiam dan merebahkan tubuhnya di kursi.
"Ia, setidaknya aku lega melihatmu bahagia."ucap Axel dalam hati.
Deeertt...ponsel Zayn bergetar.
"Halo."saut Zayn.
"Tuan. gawat semua pengawal tertidur dan tuan Hari menghilang. anjing pelacak bahkan tidak bisa melacak keberadaanya. seperti ada yang membantunya melarikan diri karena semua tersusun sangat rapih tidak ada jejak ataupun barang yang bisa di jadikan petunjuk. semua CCTV mati. bahkan di seluruh jalan di kota CCTV tidak berfungsi di waktu menghilanya tuan Hari."ucap pengawal Zayn panik.
"Bodoh! kalian tidak berguna! kalian banyak tapi tidak bisa menjaga 1 orang saja! cari dia sampai dapat! atau aku habisi kalian semua!"ucap Zayn dengan tatapanya yang seperti elang.
Zayn mematikan telponnya dan berjalan cepat dengan wajah mengerikan dan urat-urat yang nampak sangat jelas.
"Heehh~ berani macam-macam dengan Zayn Keenan. beriaplah untuk mati."ucapnya melangkah cepat untuk kembali menemui Violet.
"Cih dugaanku benar."ucap Zayn naik ke helikopternya.
"Violet berpura-puralah tidak mengetahui apapun. besok pagi seseorang akan menjemputmu untuk menemui ayahmu dan bersembunyilah di sana sampai Zayn tidak mencarimu lagi. aku akan mengawasi Zayn dari sini. kamu hanya perlu ikuti perintahku."ucap Nathan berbisik di telinga Violet.
"Aku merasa jika aku harus pergi sekarang."ucap Violet.
"JIka begitu aku kan mempercepat waktunya. pulang kerja masuklah kedalam taxi yang menunggumu di depan gerbang. jangan bawa ponselmu karena Zayn bisa melacak keberadaanmu dari ponselmu. aku sudah siapkan ponsel baru dengan nomor baru. di dalamnya hanya ada no ponselku saja. dengarkan aku kau hanya perlu mengikuti intruksi dariku."ucap Nathan serius.
"Baik Joe Nathan aku akan mematuhi semua perintahmu. jaga dirimu baik-baik di sini berhati-hatilah pada Zayn."ucap Violet memeluk Nathan lagi.
"Ia. aku mencintaimu Violet. aku akan menepati janjiku padamu dan aku akan menikahimu."ucap Nathan.
"Ia. aku menunggumu datang dan menikahiku."saut Violet memejamkan matanya di dekapan Nathan.
Nathan pun mengecup kening Violet dan membiarkan Violet mendekap tubuhnya sangat lama.