Stay With Me Violet Season 1

Stay With Me Violet Season 1
California




Saat menjelang fajar Axel Zayn berhasil keluar dari dalam rumah sakit atas bantuan seorang suster, ia kembali melanjutkan langkahnya untuk satu tujuan yaitu menemui Violet. pria itu mengayunkan sepasang kakinya menyusuri jalan dengan hanya mengenakan alas kaki dan setelan pakaian rumah sakit serta di bantu mantel milik seorang bodyguard, setidaknya dengan mantel itu ia cukup merasa hangat di pagi yang berselimut embun seperti saat ini.


Axel Zayn terus melangkah meski ia tidak tau saat ini berada di mana dan ia harus pergi ke arah mana, tidak ada ponsel, uang ataupun kendaraan.


"Aku hanya tidak habis pikir, kenapa ayah sampai hati menembak putranya sendiri dengan senjatanya." Batin Axel.


Pria itu terus melangkah dengan wajah yang pucat dan dada yang mulai terlihat noda merah di pakaianya. Axel tau jika saat ini lukanya mungkin terbuka hingga membuatnya mengeluarkan darah lagi.


"Aaaahh~" Erangnya.


Sadar akan dirinya tidak akan aman jika ia terus berjalan di dekat area ruamah sakit, Axel lantas terhenti dan ia memutar tubuhnya berharap ada sesuatu yang mampuh membawanya pulang hingga ia melihat supir pengangkut barang sedang menikmati segelas kopi di pinggiran jalan, tanpa pikir panjang Axel langsung menghampirinya.


"Dia terlihat seperti orang Korea, mungkin dia bisa membantuku." Batin Axel.


"Tuan." Sapa Axel.


Orang itu menoleh dan ia langsung bangkit dari duduknya, "Ah~ anda memanggilku tuan? anda terlihat terluka duduklah." Ucapnya, sambil meraih lengan Axel untuk memintanya duduk.


"Tidak perlu tuan, anda orang Korea? aku merasa asing di tempat ini jika boleh tau ini kota apa?" Tanya Axel.


"Sacramento California tuan."


"Apa? California?"


Sejenak Axel terdiam, ia sungguh merasa asing di kota itu, ia tidak membawa apapun maka apa yang harus di lakukanya?


"Anda orang Korea sama sepertiku tuan, kenapa bisa sampai di kota ini?"


"Sangat panjang dan sulit di jelaskan." Sahut Axel.


"Anda membutuhkan bantuan tuan?"


"Iya, anda akan mengirim barang ini kemana? apa aku bisa ikut? tidak apa di belakang bersama barang."


Setelah sedikit berbincang akhirnya Axel Zayn meninggalkan tempat itu bersama dengan seorang sopir berkebangsaan Korea, sopir itu memintanya untuk duduk di depan bersamanya namun Axel sadar jika ia akan tertangkap kamera CCTV jalan jika ia duduk di depan. maka pria itu memutuskan untuk duduk di belakang bersama dengan barang-barang.


Bagaikan mimpi memang seorang Presiden Direktur sebuah perusahaan terkemuka dunia One Zayn Group Axel Zayn duduk bersama barang-barang di atas mobil truk. semua kesulitan itu tidak akan ia alami jika saja ia menyerah dan merelakan Violet Grizelle untuk ayahnya. namun pada kenyataanya..


"Tidak apa aku kesulitan, aku akan tetap membawamu pergi bersamaku." Ucapnya.


Langit gelap kini semakin terang, Axel yang tertidur di atas tumpukan barang pun mulai membuka matanya. ia terdiam menatap langit cerah di pagi hari dengan wajahnya yang semakin memucat, ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk bangkit.


Saat itu ia ikut bersama mobil barang hanya untuk sekedar menghindari para bodyguard ayahnya. ia tau perjalananya masih sangat panjang mengingat dirinya saat ini berada di Amerika sedangkan Violet di kota Seoul Korea.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ben? apa dia bisa membantuku? aku akan menyulitkan keluarganya, ayah pasti akan mengancamnya lagi." Batin Axel.


Sejenak Axel terdiam lagi, ia sungguh tidak dapat berpikir dan yang pasti saat ini ia merasa sangat lapar.


"Racel? ia aku harus minta tolong padanya." Batin Axel.


Meski saat itu ia bisa saja pergi ke Los Angeles mengingat di sana ada cabang dari Perusahaan One Zayn Group, namun Axel tidak bisa datang ke sana karena One Zayn Group Amerika berada di bawah kendali Zayn Keenan ayahnya. ia pun sempat berpikir untuk pergi ke Los Angeles untuk menemui pamanya di sana namun ia tau itu tidak akan aman baginya mengingat tuan Sean memiliki sifat yang sama persis dengan ayahnya Zayn Keenan.


Mobil yang ia tumpangi kini terhenti, supir itu keluar dan menghampiri Axel.


"Tuan." Sapanya.


Axel lantas bangkit dan ia bergegas untuk turun, supir itu sesungguhnya tidak sampai hati meninggalkanya di tempat itu melihat Axel yang terlihat kesulitan.


"Apa anda yakin mau aku tinggalkan di tempat ini tuan?" Tanya supir.


"Jika anda tidak keberatan, ikutlah bersamaku pulang kerumah untuk sementara waktu." Ajaknya.


Axel terkejut dan ia lantas menoleh, "Sungguh? anda tidak keberatan jika aku ikut? aku janji hanya untuk sementara sampai adikku membantuku untuk kembali ke Korea." Sahutnya.


"Iya, aku senang bisa menolong anda apa lagi kita satu kebangsaan." Ucapnya.


"Terimakasih tuan."


Terimakasih, hanya itu yang mampuh Axel ucapkan. ia tidak bisa memberinya imbalan uang ataupun barang karena ia tidak memiliki apapun saat ini. Axel kembali melihat sekeliling hingga pandanganya terhenti dan terfokus pada satu objek, telpon umum.


Supir itu memperhatikanya, ia melihat tuan Korea tampan itu tidak mampuh mengalihkan pandanganya pada objek lain. supir itu lantas memasukan tanganya kedalam saku celana dan ia meraih tangan Axel.


"Pakailah untuk menghubungi adik anda." Ucapnya, ia memberikan Axel Zayn uang.


Axel Zayn lantas terdiam, pria itu sungguh tidak tahu apa latar belakang pemuda yang saat ini ia tolong. namun sungguh.. Axel merasa tersentuh akan kebaikanya, ia menatap supir itu terlihat kesulitan dalam segi ekonomi namun ia masih sempat berpikir untuk menolongnya apa lagi memberinya uang.


"Terimakasih." Ucap Axel.


"Iya." Sahutnya menepuk pundak Axel.


Axel lantas meninggalkan supir itu menuju telpon umum, ia masuk kedalamnya dan melakukan panggilan pada Racel. iya! untungnya Axel Zayn hafal nomor ponsel adik kesayanganya itu. sambil menunggu telpon di terima Axel melihat keluar, ia melihat supir itu duduk di trotoar jalanan menunggunya untuk pelang bersamanya.


Entah seperti apa tempat tinggal pria itu yang jelas Axel tidak perduli lagi, yang ia tau hanya ia butuh pertolongan dan orang itu mau menolongnya, yang Axel Zayn tau hanyalah ia ingin segera pulang tanpa sepengetahuan Zayn Keenan ayahnya karena jika Zayn tau, maka pria itu akan mengutus lebih banyak bodyguardnya untuk menahanya lebih lama bahkan lebih jauh lagi, Axel telah memahami itu semua.


"Aku akan membalas kebaikanmu tuan supir." Batin Axel.


"Halo" Sapa Racel.


"Racel." Sahut Axel.


"Kakak!! apa ini sungguh kau? kenapa baru sekarang menelfonku? aku khawatir! kakak dimana! cepat pulang!" Ucap Racel, ia marah namun ia menangis.


"Kakak berada di California, ayah mengirim kakak ke tempat ini. Racel.. apa Violet bersama ayah?"


"Pria bodoh! kau sepeti ini karena wanita sialan itu! kau malah menanyakanya padaku? aku ini adikmu! aku khawatir dan yang kau tanyakan malah dia?"


"Kau bisa bicara sangat lantang, jelas kau sangat sehat bukan?"


"Hiks... hiks..."


"Sudah jangan menangis adik manis."


"Iya! wanita sial itu bersama ayah!"


"Apa dia baik-baik saja?"


"Apanya yang baik-baik saja? dia selalu berusaha mengakhiri hidupnya! dia sangat menyusahkan!"


"Apa? dia selalu berusaha mengakhiri hidupnya?" Batin Axel.


"Racel." Panggil Axel lirih.


"Iya."


"Tolong jaga Violet untuk kakak." Pintanya.


🍁Stay With Me Violet🍁


Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys....