
Setelah berbincang Nadine dan Violet selesai dan menaruh piringnya ditempat cuci piring dikantin dan mereka keluar. Violet yang saat itu bersikap sangat manja pada Nadine dia menggelendoti tanganya sambil bercanda dan tertawa seperti anak kecil. Sedangkan Axel dan Ben yang berada dikantin VVIP keduanya tersenyum melihat sisi lain dari Violet yang manja. Ben yang tersenyum menoleh kearah Axel yang juga sedang tersenyum dengan sorot matanya pada Violet.
"Cih..."Ben tersenyum meledek.
"Apa?"Tanya Axel tidak senang.
"Kau lupa kita sedang taruhan?"Tanya Ben.
"Sudah tidak berlaku."Saut Axel.
"Kau tau aku pasti kalah darimu jika kau menyuruhnya untuk memilih antara aku dan kamu."Ucap Ben.
"Bagus jika kau sadar."Saut Axel.
"Lalu bagaimana dengan Mikka?"Tanya Ben.
"Apa aku pernah perduli denganya?"Tanya Axel.
"Ya.. Memang tidak, tapi kau tidak memberiku kesempatan untuk dekat dengan Violet."Ucap Ben.
"Cari wanita lain, Violet milikku sekarang."Saut Axel sambil meminum air digenggamanya.
Mereka berbincang panjang lebar dan kembali kekantor. Hari itu ada Meeting yang berkaitan dengan keuangan One Zayn Group, Axel, Ben, Mikka dan rekan lainya nampak serius dan berdiskusi. Waktu terus berjalan Meeting akhirnya selesai dan satu persatu dari mereka keluar ruangan. Mikka menyuruh Nia untuk mengantarkan dokumen pada Violet dan menyuruh Violet yang mengantarkan keruang Meeting melalui Chat, Nia yang polos hanya menuruti perintah. Mikka mulai mendekati Axel yang hendak pergi keluar, Mikka menaruh kedua tanganya dipundak Axel.
"Sayang, sudah lama kita tidak bertemu."Ucap Mikka.
"Lepaskan tanganmu dariku."Ucap Axel yang menatap Mikka.
Violet yang mendapat perintah dia menuju ruang Meeting dan membuka pintu, Violet terkejut dengan pemandangan didepanya dan tanpa sengaja menjatuhkan dokumenya. Axel yang menyadari kehadiran Violet dia dengan cepat menghempaskan Mikka darinya.
"Hei.."Panggil Axel mengejar Violet yang berjalan cepat.
Namun Violet tidak menghentikan langkahnya, dia berjalan dengan cepat menuju toilet. Axel yang tidak bisa menyusulnya dia membatu dan menggibaskan rambutnya.
"Dia pasti salah paham."Ucap Axel dalam hati.
Violet yang masuk ketoilet wanita dia mencuci wajahnya dan merentangkan kedua tanganya untuk menyanggah tubuhnya diatas meja, dia tertunduk. Perlahan Violet mengangkat kepalanya dan melihat kedalam cermin, dia menatap dirinya sendiri. Air masih menetes dari wajahnya.
"Kenapa aku kabur?"Tanyanya dalam hati.
"Mikka kekasihnya, apa salahnya jika berciuman? Bukankah yang salah itu jika aku yang berciuman denganya?"tanyanya lagi dalam hati.
"Apa dia mencium Mikka sama seperti dia menciumku?"Tanya Violet.
Violet banyak berfikir dan bertanya-tanya saat itu, dia merasa tidak senang dan kehilangan semangat. Entah dia tidak mengerti dengan perasaanya sendiri saat itu. Krieett... Pintu toilet terbuka, Violet melihat kecermin siapa yang datang dan ternyata Mikka lah yang datang dan berdiri sejajar denganya didepan cermin. Violet membasuh wajahnya lagi.
"Axel selalu melakukan itu padaku."Ucap Mikka.
Violet terhenti dan menatap kearah Mikka yang ada didalam cermin, Violet menoleh kearahnya.
"Cih..."Violet senyum meledek.
"Apa itu lucu?"Tanya Mikka.
"Ia."Saut Voilet.
"Apa kau tau? Aku bahkan sudah melakukan hal yang lebih jauh dengannya, dia bilang dia menyukai tubuhku."Ucap Mikka berbohong untuk memancing amarah Violet dan membuatnya cemburu.
"Cih.. hal yang sangat menjijikan saja kau bicarakan padaku dengan sangat bangga."Ucap Violet yang saat itu sedang tidak enak hati membuatnya melawan setiap perkataan Mikka padanya.
"Sejak kapan kau menjadi berani padaku."Ucap Mikka kesal.
"Sejak kau menunjukan dirimu yang rendahan padaku."Saut Violet.
"Plaakk..!" Mikka menampar Violet. Violet yang suasana hatinya sedang buruk diapun "plaaakk...!"menampar Mikka balik.
"Jaga sikapmu."Ucap Violet memberi peringatan dan pergi meninggalkan Mikka.
"Sialan!"Ucap Mikka marah dan melempar lipstiknya.
"Wajahmu merah, siapa yang berani menamparmu?"Tanya Ben.
Violet menggenggam tangan Ben yang berada diwajah cantiknya. Axel yang melihat Ben bersama Violet dengan tanggan Violet yang menggenggam tangan Ben dia dengan cepat melangkahkan kaki menuju ruanganya.
Ben dan Violet tidak menyadari Axel yang marah dan pergi, Axel menatap mereka dari dalam ruanganya. Dia sangat marah karena Violet tidak juga melepaskan tangan Ben dari genggamanya.
"Tadi aku tidak lihat ada pintu kaca jadi aku menabraknya."Ucap Violet berbohong lagi pada Ben.
"Kau sudah besar masih saja ceroboh."Ucap Ben khawatir.
"Sudahlah ini tidak sakit."Saut Violet.
"Tidak ada luka yang tidak sakit Violet, kau jangan mencoba membohongiku."Ucap Ben.
"Ia~ ini sedikit sakit."Saut Violet tertawa.
Axel menjadi sangat kesal melihat adegan mereka berdua. Violet tersenyum dan tertawa pada Ben namun Violet tidak pernah seperti itu padanya.
"Ben! Awas saja!"Ancam Axel didalam ruanganya.
"Violet sore ini aku antar kamu pulang ya."Pinta ben.
"Tidak usah aku naik bus saja hee..."Saut Violet mulai tegang.
"Tuan Ben sepertinya Tuan Axel sudah menunggu anda, cepat temui dia."Ucap Violet sambil mendorong tubuh Ben menuju pintu ruangan Axel.
Axel yang melihat mereka berdua sangat dekat bahkan saling bersentuhan dia mulai sesak nafas. Ben masuk keruangan Axel dan langsung duduk dikursinya.
"Ben."Panggil Axel.
Ben menoleh kearah Axel dan kaget melihat Axel dengan tatapanya yang mematikan.
"Ada apa?"Tanya Ben.
"Besok kau dinas luar kota lagi."Perintah Axel.
"Aku baru pulang, memang tidak ada yang lain?"Tanya Ben keberatan.
"Apa kau membantah?"Tanya Axel
"Tidak."Saut Ben berat hati dan melanjutakan pekerjaanya lagi.
"Selalu saja berusaha menjauhkanku dengan Violet."Ucap Ben dalam hati.
Deeeerrtt.... Ponsel Violet bergetar.
"Halo.."Ucap Violet.
"Violet ini ayah nak."Ucap pria dalam telpon.
Mendengar itu ayahnya Violet dengan cepat mencari tempat yang sepi untuk bercengkrama dengan ayah kesayanganya.
"Ayah apa kau sudah baikan? apa kau makan dengan benar? apa kau hidup dengan baik? katakan padaku bagaimana kondisimu sekarang ayah."Tanya Violet khawatir.
"Ayah sudah sembuh, maafkan ayah membuatmu dalam kesulitan."Ucap Tuan Hari.
"Tidak ayah, aku baik-baik saja. Ayah jangan khawatir."Saut Violet.
"Ayah melarikan diri dari penjagaan Tuan Zayn, ayah akan cari cara untuk membebaskanmu darinya."Ucap Tuan Hari.
"Jangan membahayakan dirimu ayah, tenanglah aku tidak akan menikah dengan Tuan Zayn, secepatnya aku akan melarikan diri darinya.
***
Halo Readers..
Kalau suka sama karya aku ini, mohon untuk Like, Komen, tekan tombol Favorit dan Vote yaa..๐
mohon untuk menggunakan bahasa yang sopan supaya author semangat nulisnya๐๐