
Pagi itu Racel melihat ayahnya Zayn keluar dari dalam kamar bersama seorang dokter, mereka menuju ruang utama sambil berbincang mereka duduk bersama. Racel pun menoleh ke arah kamar Violet, ia melihat pintu kamar wanita itu terbuka.
Entah penasaran atau apa, rasanya saat itu Racel sangat ingin masuk kedalam kamar wanita itu dan Racel pun perlahan mulai mengayunkan sepasang kakinya untuk menemui Violet di kamarnya.
Kini Racel sudah berdiri di depan pintu, ia masuk kedalam dan menghampiri Violet yang belum sadarkan diri, Racel duduk di atas tempat tidur di dekatnya, ia memandang wajah Violet sangat dalam. ada rasa iba saat Racel melihat luka di kepala dengan kedua tangan Violet yang terikat.
"Aku pikir tidak akan ada orang yang mau di perlakukan seperti ini bukan? kau pun pasti tidak mau kan Violet?" Tanya Racel.
"Wanita yang malang." Sambungnya.
"Racel." Panggil Zayn.
Racel terkejut, ia menoleh dan langsung bangkit dari duduk, "Ayah.." Ucapnya, saat ia melihat ayahnya sudah memasuki kamar.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Zayn.
"Ak... aku hanya ingin mengunjungi Violet." Sahutnya.
"Kalau begitu awasi dia, ayah mau mandi."
"Iya.. ayah.."
Sambil melangkah menuju kamar mandi Zayn membuka seluruh kancing kemeja yang dikenakanya, ia pun lantas menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Mata ayah masih merah, ia menangis? cih! entah kapan aku melihat ayah menangis terakhir kalinya, rasanya sudah sangat lama." Gumam Racel, ia kembali memandang wajah Violet sambil kembali duduk di dekatnya.
Jemari Violet bergerak, ia mulai membuka matanya lagi. Racel menyadarinya dan ia hanya diam memandang Violet yang juga hanya diam. Violet melihat seisi ruangan itu berputar, ia juga melihat seorang wanita namun tidak jelas itu siapa.
"Racel?" Panggil Violet tidak yakin.
Racel hanya diam, Violet pun memejamkan mata dan membukanya lagi berharap pandanganya kembali normal.
Melihat Violet sudah sadar Racel pun bangkit, namun langkahnya terhenti saat Violet meraih pergelangan tanganya.
"Temani aku Racel, aku takut." Ucapanya.
Mendengarnya Racel pun kembali duduk, hanya saja ia tidak mau bicara pada Violet. Racel menatap pergelangan tanganya yang saat ini masih di genggam oleh Violet, ia merasakan betapa wanita itu ketakutan.
"Dia tidak mau melepaskan tanganku, genggaman tanganya semakin kuat." Batin Racel.
Tok.. tok..
Seorang pelayan mengetuk pintu kamar, Racel pun menoleh.
"Nona Racel, tuan besar meminta sarapan nona Violet di bawa ke kamar." Ucap pelayan itu.
"Taruh saja di atas meja." Sahut Racel.
"Baik nona."
Pelayan meletakan nampan berisi makanan itu di atas meja, ia lantas keluar dari dalam kamar dan menutup pintu. Racel kembali menatap Violet, ia melihat wanita itu hanya diam saja.
"Makan makananmu." Perintah Racel ketus.
"Aku tidak lapar." Sahut Violet.
"Kau mau mati?" Tanya Racel.
"Iya." Sahutnya.
"Kau tidak berpikir untuk mencari Joe Nathan? bagaimana jika Joe Nathan masih hidup? kau lebih memilih mati daripada mencarinya?" Tanya Racel.
"Aku hidup pun tidak akan bisa mencarinya."
"Maksudmu?"
"Aku terikat dan terkurung, aku bahkan tidak tau di mana makam ayahku, aku tidak bisa bergerak sedikitpun jika Zayn masih berada di dekatku, aku tidak akan memiliki kesempatan untuk mencari Joe Nathan atau pun kakakmu Axel Zayn."
"Violet, apa kau bisa jujur tentang satu hal padaku?" Tanya Racel.
"Apa?"
"Kau mencintai Axel Zayn?" Tanya Racel.
Mendengar pertanyaan itu sejenak Violet terdiam.
"Kenapa hanya diam?" Tanya Racel.
"Lalu kenapa kau memilih Joe Nathan?"
"Karena cintaku pada Joe Nathan lebih besar daripada cintaku pada Axel Zayn. apa kamu akan menyalahkan aku tentang itu? Racel.. aku sendiri tidak dapat mengendalikan perasaan ini." Sahut Violet.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Racel.
"Menurutmu apa aku bisa melakukan sesuatu?"
"Tidak."
"Iya, aku tidak dapat melakukan apapun. aku mungkin akan benar-benar berakhir di tangan ayahmu."
"Kau menyerah?"
"Aku hanya putus asa."
"Kau akan menikah dengan ayahku dan menjadi ibuku? ibu dari Axel Zayn yang sangat mencintaimu?"
"Entahlah terserah nasib membawaku kemana..." Sahut Violet, ia tertunduk dan melepaskan genggaman tanganya.
Racel memperhatikanya, ia merasa jika wanita itu memang putus asa, ia ketakutan, semua terlihat jelas dari bahasa tubuhnya, wanita itu mengeluarkan air mata dari kedua sudut matanya lagi, jemarinya kini bahkan tidak berhenti memainkan selimut tebalnya.
"Jika begitu makanlah, kau harus menjadi ibu yang baik untuk aku dan kakak ku." Ucap Racel, ia bangkit dari duduk.
Violet hanya diam, ia menghapus air mata dengan kedua telapak tanganya yang menyatu, berpikir akan kapan kegilaan yang melelahkan ini segera berakhir.
Pintu kamar mandi terbuka, Racel menoleh dan iya memutar tubuh untuk segera meninggalkan kamar saat ia melihat Zayn Keenan ayahnya telah selesai membersihkan diri.
"Racel." Panggil Zayn.
Racel terhenti dan menoleh.
"Suapi Violet." Perintahnya.
"Dia bukan anak kecil lagi, dia bisa makan sendiri ayah." Sahut Racel, ia melanjutkan langkahnya dan menghilang di balik pintu.
"Anak itu sulit sekali di atur." Gumam Zayn.
Zayn menoleh pada Violet yang kini sedang duduk di atas tempat tidurnya, ia menghampirinya dengan senyum di wajah.
"Sayang.." Sapa Zayn.
Violet hanya diam, ia bahkan tidak menoleh. Zayn pun duduk di dekatanya, ia meraih kedua lengan Violet dan menyandarkan kepala di pundak wanitanya. Cup~ satu kecupan manis mendarat di pipi Violet, Zayn tersenyum dan Violet semakin tertunduk.
"Aku akan menyuapimu." Ucap Zayn.
Zayn meraih nampan berisi makanan untuk Violet, ia mulai menyendok makanan itu dan meminta Violet untuk membuka mulutnya.
"Aku tidak lapar." Ucap Violet lirih.
"Kamu harus makan dan minum obat." Sahut Zayn, ia mendekatkan sendok berisi makan itu ke mulut Violet namun Violet mengalihkan pandanganya.
"Violet Grizelle.." Panggil Zayn Keenan.
"Aku tidak lapar tuan Zayn." Sahut Violet.
Mendengar Violet memanggilnya "Tuan Zayn", senyum di wajah Zayn Keenan langsung lenyap begitu saja. ia meletakan nampan makanan itu kembali ke atas meja.
Zayn meraih leher bagian belakang Violet, ia mendekatkan wajah cantik itu untuk mendekat ke wajahnya lagi. pria itu menggertakan gigi dengan tatapan matanya yang tajam.
"Panggil aku sayang." Ucapnya.
Violet hanya bungkam, tentu ia tidak akan sudi jika harus memanggil pria yang telah membunuh orang-orang yang ia sayangi dengan panggilan seperti itu.
"Sekarang, aku mau dengar.. panggil aku sayang." Pinta Zayn.
Violet menggelengkan kepala, ia menutup rapat mulutnya hingga Zayn semakin menariknya mendekat sangat kasar.
"Cepat! panggil aku sayang..." Pinta Zayn.
"Aku tidak mau!" Sahut Violet.
"Jika begitu aku harus memaksamu." Ucap Zayn, ia menghempaskan tubuh wanita itu ke atas tempat tidur.
🍁Stay With Me Violet🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE DAN KOMEN sopan ya guys....