
Tiap langkah kaki mengantarkanya semakin dekat dengan pria tampan yang saat ini sedang berdiri di ruang utama rumah mewahnya, pria tampan itu bertubuh tinggi, dadanya bidang, ia sangat gagah dan berani. kini pria itu menoleh dan tersenyum, tangan kananya menjulur ke arah Violet untuk ia ingin menggandeng wanitanya menuju mobil.
Anak tangga terakhir telah Violet tapaki, sungguh ia terbebani dan merasa sangat berat hanya untuk melangkah karena ia merasa jika dirinya akan menjemput nasib yang semakin buruk untuk hadir menyertai perjalanan hidupnya.
Meski berat hati, nyatanya Violet kini menerima uluran tangan pria itu, keduanya mengayunkan kaki jenjang mereka menuju mobil. sungguh pagi itu Zayn Keenan sangat bahagia.
Violet kini duduk di dekat calon suaminya di dalam mobil mewah yang ia tumpangi, ia menatap kaca spion tengah dan mendapati supir tengah menatapnya begitu tajam. Violet pun bersandar dan mulai menatap keluar jendela.
"Kenapa aku begitu lemah? aku bahkan sangat bodoh? kenapa aku masih di sisinya sedangkan aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku bersama denganya? bukankah aku harus pergi sebelum semuanya terlambat.. tapi bagaimana caraku bisa pergi? meski aku lari ke ujung dunia, dia akan tetap menemukan aku." Batin Violet.
"Sayang.." Sapa Zayn, namun Violet masih belum tersadar dari lamunanya, wanita itu hanya diam tidak mendengar jika Zayn Keenan memanggilnya.
"Sayang.." Sapanya lagi, ia meraih telapak tangan Violet dan menciumnya.
Violet pun tersadar, ia menoleh dan menatap sepasang mata tajam seorang Zayn tengah menatapnya saat ini, ia mencium tangan Violet dengan senyum yang tertoreh di wajahnya.
"Apa aku boleh bertanya?" Tanya Violet.
"Tentu saja, katakan apa yang ingin kamu tanyakan dariku."
"Berjanjilah untuk tidak marah.."
"Ada apa?" Tanya Zayn, tatapan matanya mulai semakin tajam hingga membuat bulu kuduk Violet berdiri menatapnya.
Violet tertunduk penuh keraguan, isi kepala wanita itu di buat dilema akan ia harus bertanya atau tidak. Violet menelan ludan dan mulai mendongak seraya ia bertanya, "Sayang... Axel Zayn.. diaa...." Tanya Violet terbatah nampak ragu. Zayn mulai memahami akan pertanyaan wanitanya, maka ia segera menjawabnya..
"Axel Zayn sudah tidak ada lagi di dunia ini." Sahutnya.
DEG!
Seketika semua berdengung mendengar ucapan Zayn Keenan. Violet melihat mulut pria itu masih berbicara namun ia tidak dapat mendengarnya. sungguh... seolah dunia ini berhenti berputar, Violet terhuyung dan kembali bersandar di kursinya menatap keluar jendela. wanita itu mulai meneteskan air matanya lagi.
"Apa mungkin?" Batin Violet.
Violet menarik tanganya seolah ia tidak sudi jika pria itu menggenggamnya lebih lama lagi.
"Anda membunuhnya?" Tanya Violet, ia menundukan kepala tidak berani menatap sepasang mata mengerikan calon suaminya.
"Iya. sebagai konsekuensi untuk membuatmu jera. aku akan menghabisi siapapun yang berdiri dibelakangmu." Sahut Zayn.
"Dia putramu."
"Lalu?"
"Lalu?" katanya? demi membuatku jera dia bahkan bertindak sejahat ini? sungguh... apa aku benar-benar tidak bisa melepaskan diri darinya? dia sangat mengerikan, aku takut." Batin Violet.
"Joe Nathan pun pasti sudah mati, kamu masih mengharapkanya?" Tanya Zayn.
"Ucapan pria ini begitu menyakitkan, sungguh aku tidak berdaya. Joe Nathan, Axel Zayn, ayah... cepatlah jemput aku." Batin Violet.
*One Zayn Group.
Mobil mewah yang mereka tumpangi telah berhenti di lobby utama, petugas keamanan yang sedang berjaga pun mulai berlari menghampiri mobil mewah itu dan membukakan pintunya.
"Tumben hanya ada satu mobil dan tidak ada penyambutan." Batin petugas keamanan.
Violet pun keluar, ia sungguh terkejut dengan pemandangan di hadapanya.
"Tidak ada satu pun karyawan yang menyambut kedatanganya? ini sungguh aneh meski aku sangat bersyukur dan lega." Batin Violet.
"Untukmu aku meminta lobby dan semua tempat yang akan kita lalui menuju ruanganku di kosongkan dari semua aktivitas kerja dan para staff." Ucap Zayn Keenan.
Mendengarnya Violet pun terkejut, ia menoleh dan menatap senyum hangat yang tertoreh di wajah tampan pria paruh baya itu. Zayn Keenan lantas meraih pinggang wanitanya, mereka mulai menuju ruangan CEO di perusahaan besar itu.
"Dia menyelamatkan reputasiku kali ini, syukurlah." Batin Violet.
Zayn dan Violet mulai memasuki lift, mereka bisa leluasa karena tidak ada satu orangpun dapat mengganggu mereka. di dalam lift itu mereka hanya berdua, Violet sendiri hanya diam mengingat tentang putra sulung pria itu dan Joe Nathan calon suaminya.
"Apa mungkin kalian benar-benar telah pergi? apa aku harus mempercayai upcapan pria gila ini?" Batin Violet.
Zayn menoleh, ia mendapati wanitanya selalu murung bahkan tidak pernah tersenyum. pria itu kini menghampirinya dan meraih lengan wanitanya. ia menyandarkan wanita itu di sisi lift.
"Kamu tau? aku tidak mengizinkanmu memikirkan hal lain." Ucap Zayn.
"Apa Axel Zayn bernar-benar telah mati?" Tanya Violet, jujur saja ia sedikit ragu atas ucapan Zayn padanya.
Zayn Keenan meraih ponsel dari dalam saku jasnya, ia mulai memainkan ponselnya dan memberikanya pada Violet.
"Kamu akan percaya jika melihatnya sendiri."
Violet menerima ponsel Zayn yang ia serahkan padanya, Violet lantas memeriksa isinya. seketika sepasang bola mata wanita itu membelalak seraya ia menscroll kebawah. foto makam dengan batu nisan bertuliskan nama Axel Zayn itu sungguh ia lihat dari dalam ponsel milik Zayn Keenan.
Braaakkk!!!
Violet yang lemas, ia menjatuhkan ponsel mewah itu dengan sepasang bola mata yang berkaca hingga air matanya kini mengalir lagi.
"Axel sungguh telah mati?... dia sungguh telah mati?" Batin Violet.
Melihat reaksi Violet yang sangat shock, Zayn maju satu langkah mendekati wanitanya. meski ia sangat memahami akan tempat itu di penuhi CCTV, nyatanya ia bahkan tidak segan untuk mencium wanitanya di tempat itu.
Sepasang tangan Zayn Keenan kini berada di kedua sisi pipi Violet untuk ia menikmati bibir manis wanitanya lagi, ia tidak melepaskanya meski Violet terus mendorong tubuhnya yang bahkan tidak bergeser. Zayn menciumnya sampai ia benar-benar telah puas.
Semakin lama, Violet semakin melemah. meski ia sangat gigih untuk ingin melepaskan diri namun nyatanya ciuman manis itu sangat nikmat dan mampuh membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat.
"Meski hanya sebatas ciuman di bibir, leher, punggung bahkan di pundaknya. sejujurnya Violet telah merasa jika ia sudah ternoda oleh pria itu. Zayn Keenan telah sering menikmati ke 4 bagian tubuh indahnya.
Ting!.... suara itu nyaring terdengar saat lift terhenti dan pintu mulai terbuka semakin lebar.
Braaakkk!!!
Sebuah dokumen terjatuh ke lantai. Zayn pun terhenti dan ia menoleh ke arah pintu lift. Zayn mendapati seorang pria muda telah terkejut atas apa yang ia lihat, pria muda itu tertunduk saat sepasang mata mengerikan Zayn Keenan menatapnya.
"Maaf aku tidak sengaja." Ucap pria muda itu.
Violet yang terengah, ia bahkan tidak berani untuk mendongak dan melihat siapa yang telah memergokinya bersama Zayn Keenan berciuman di lift, ia bahkan menyembunyikan wajahnya di dada bidang calon suaminya dengan sekujur tubuh yang gemetar hebat sambil ia mengatur nafasnya yang terpenggal-penggal.
"Ben, dokumen yang aku minta sudah kau letakan di mejaku?" Tanya Zayn Keenan pada pemuda itu yang tidak lain adalah Ben Giorgino.
🍁Stay With Me Violet🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE DAN KOMEN sopan ya guys....