
"Joe.." Ucap Violet, dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Joe Nathan.
Joe Nathan memeluknya sangat erat dan perlahan dia menarik diri, Joe Nathan meraih dagu Violet untuk menatap matanya.
"Apa dia menyakitimu?" Tanya Joe Nathan.
Violet menggelengkan kepala sambil dia menatap mata pria yang begitu mengkhawatirkanya. Joe Nathan pun tersenyum, dia meraih leher wanita itu dan menariknya mendekat, dia mencium bibir wanitanya sangat lembut penuh perasaan, Violet tidak menolak ciuman itu, keduanya menikmatinya penuh rasa bahagia karena telah bertemu kembali.
Puas akan ciuman mereka yang sangat lama, perlahan Violet menarik diri dan merebahkan kepala di dada Joe Nathan lagi, tanganya yang saat ini melingkar di tubuh Joe Nathan perlahan semakin kuat ia memeluknya.
"Aku takut." Ucap Violet.
"Ada aku, tidak ada lagi yang harus kamu takutkan, ayo kita pulang." Saut Joe Nathan.
"Eemm~"
Violet menarik diri, Joe Nathan pun meraih pingganya dan keduanya mulai melangkah bersama. namun langkah keduanya terhenti saat mereka melihat Axel mematung menatap mereka.
"Axel..." Ucap Violet, perlahan ia tertunduk dan Joe Nathan melanjutkan langkahnya. Violet dan Axel saling berpapasan namun Joe Nathan tidak menghentikan langkahnya, dia terus melangkah membawa Violet pergi bersamanya.
Langkah Violet dan Joe Nathan terhenti saat Axel meraih tangan Violet, dia menggenggam tangan wanita itu sangat erat, Axel pun menatap lurus kedepan dengan kedua bola matanya yang memerah dan berkaca.
"Aku merindukanmu." Ucapnya, dia bicara tanpa menoleh pada Violet. Violet mendengar ucapanya, dia perlahan menoleh dan menatap Axel yang tidak bisa menatap wajahnya, perlahan pandangan Violet beralih ke arah genggaman tangan Axel yang begitu erat menggenggam pergelangan tanganya.
Axel menoleh, dia menatap Violet sangat dalam penuh arti dan Violet pun mulai menatap matanya lagi, sepasang bola mata mereka saling bertemu. membuat Joe Nathan terdiam merasa tidak senang.
"Aku mencintaimu Violet." Ucap Axel. tiap tetes air tanda kesedihan mengalir keluar dari kedua sudut matanya.
"Ayo kita pergi." Ucap Joe Nathan, dia melanjutkan langkahnya hingga perlahan genggaman tangan Axel sangat kuat mencengkram telapak tangan Violet yang hanya diam menatapnya.
Genggaman tangan yang perlahan semakin menuju puncak jemari keduanya dan pada akhirnya kedua tangan itu terlepas semakin jauh tidak dapat di jangkau lagi.
Axel memutar tubuh dan menatap kepergian Violet, "Aku merindukanmu Violet, aku mencintaimu." Ucapnya.
Violet pun menoleh sambil dia di tarik pergi oleh Joe Nathan untuk segera meninggalkan Axel dan rumah mewahnya. jujur saja.. Joe Nathan merasa takut akan Violet yang bisa kapan saja berubah pikiran atau pun tergoyah darinya.
Violet pun semakin jauh, dia menuruni anak tangga dan menoleh ke atas, dia melihat Axel menatapnya pergi dari lantai dua rumahnya, Axel meraih gagang pagar besi pembatas tangga, dia menatap Violet yang kini benar-benar menghilang dari pandangan matanya.
Selang satu jam setelah kepergian Violet, Zayn Keenan membuka kedua kelopak matanya, dia meringis kesakitan dan memegangi punggungnya.
"Uuugghh.." Erang Zayn, dia bangkit dan menatap sofa di depanya yang kosong.
Sadar akan Joe Nathan yang telah pergi, mata Zayn Keenan mulai membelalak, dia langsung bangkit dan mencari keberadaan Violet.
"Haaaaaaahhhh!!!! Teriak Zayn saat dia mendapati kamar Violet telah kosong dengan pintu yang rusak.
Craaangg!!! Craaangg!!! Braaaakkk!!! suara gaduh itu terdengar sangat jelas, membuat semua penghuni di rumah mewah itu merasa sangat ketakutan akan tuanya yang saat ini sedang mengamuk.
Suara desah penuh kecewa terdengar berulang kali keluar dari mulut Zayn Keenan, Violet telah berhasil melarikan diri lagi dan Zayn keenan sibuk menghancurkan semua benda yang ada di dekatnya lagi sebagai pelampiasan akan amarahnya yang tidak dapat terbendung.
Zayn keluar dari dalam kamar Violet, dia memanggil semua anak buahnya dan mulai menghajar mereka semua dengan kepalan tanganya sendiri.
"Bodoh!!!" Kata-kata kasar itu terucap berulang kali lagi.
"Cari sampai ketemu!!! Perintahnya.
"Baik tuan." Jawab serentak semua anak buahnya, mereka mulai berhamburan untuk melaksanakan perintah dari Zayn Keenan.
CCTV adalah yang paling utama mereka cek untuk mengetahui ke arah mana Violet dan Joe Nathan pergi.
Mencari... itulah yang saat ini menyibukan mereka lagi.
Zayn memutar tubuh dengan wajanya yang mengerikan, dia mengepalkan kedua telapak tangan dengan urat-urat di wajah yang menonjol sangat jelas, dia melangkah sambil menggertakan gigi menuju kamar Axel.
Suara pintu kamar Axel yang Zayn buka dengan menggunakan kakinya. pintu pun terbuka lebar dan menghantam tembok sangat kuat hingga gagangnya telah rusak. Axel yang sedang duduk tertunduk di sofanya, dia menoleh dan menatap mata tajam ayahnya.
Zayn yang saat ini di kuasi amarah, dia menghampiri Axel untuknya segera menghujani putranya dengan kepalan tangan. Axel tidak melawanya, dia seolah telah pasrah akan apapun yang terjadi padanya. dia sungguh telah putus asa.
"Ayah! jangan ayah!" Teriak Racel, dia baru kembali dari kantor dan di kejutkan dengan rumah yang berantakan dan ayah yang menghujani kakaknya dengan pukulan-pukulan sekuat tenaga.
Racel langsung berlari untuk ia memeluk Axel, Racel berusaha menahan Zayn Keenan yang telah buta karena wanita.
"Jangan ayah, kakak akan mati jika ayah pukuli seperti ini." Ucap Racel, dia menangis pilu melihat Axel yang tidak bergeming di pelukanya.
Kepalan tangan Zayn gemetar dan melebam biru, dia telah puas menghukum putranya Axel yang kini sudah dewasa.
Zayn pergi meninggalkan Axel dan Racel dengan membawa amarahnya yang telah memuncak, dia melanjutkan melampiaskan amarahnya dengan menghancurkan kamar Violet. suara desahan bahkan teriakan terdengar sangat kuat. Zayn sungguh sangat kecewa lagi dan lagi.
Zayn meraih ponselnya, dia memanggil Jeon dan mengatakan "Temukan Joe Nathan dan habisi dia! bagaimanapun caranya aku menginginkanya berakhir secepat mungkin!" Perintahnya.
"Baik tuan."
Braaaakkkk!!! Zayn melemparkan ponselnya ke sudut kamar hingga ponsel itu hancur berkeping-keping. dengan nafas terpenggal-penggal dan tatapan membunuh yang sangat pekat Zayn mengatakan, "Joe Nathan, kau akan lenyap di tanganku." Ucapnya.
Dikamar Axel di papah Racel keluar dari dalam kamar, Racel membawanya masuk kedalam mobil untuknya pergi ke rumah sakit, ini kesekian kali Zayn memukuli putranya sendiri demi memuaskan amarahnya.
Setelah Axel mendapat pemeriksaan dan dia mulai di pindahkan keruang inap, Racel masuk kedalam kamar inap itu untuk menemui Axel, Racel menarik kursi dan duduk di dekat Axel yang berbaring lemah di atas ranjang pasien. Racel pun meraih telapak tangan kakak laki-lakinya, dengan tatapan sendu, Racel pun mencium punggung telapak tangan Axel.
"Kakak." Panggil Racel.
Axel menoleh dan dia mengelus kepala Racel, "Jangan khawatir." Ucapnya.
"Apanya yang jangan khawatir!" Saut Racel, dia memukul lengan Axel.
"Aaaww!"
"Maaf-maaf aku lupa!" Ucap Racel, dia cemberut lagi.
"Apa yang terjadi? dimana ja*lang sialan itu?" Tanya Racel.
"Jaga bicaramu Racel, Violet wanita baik-baik." Saut Axel.
"Kau sama saja seperti ayah, selalu saja membelanya!" Ucap Racel, dia sangat kesal.
"Wanita itu telah menghancurkan keluarga kita!" Ucapnya lagi.
"Ayah lah yang telah menghancurkan keluarga kita Racel, bukan Violet." Saut Axel.
Racel terdiam, dia menatap wajah kakaknya yang telah babak belur. Racel menggenggam tangan Axel sangat erat hingga membuat Axel menoleh, dia memberikan senyuman pada adik kesayanganya yang keras kepala itu dan Axel pun mengatakan pada adiknya.
"Kakak sangat mencintainya Racel."
🌸Stay With Me Violet🌸
Jangan lupa dukung author:
Vote
Like
Love
Komen positif
🙏