Stay With Me Violet Season 1

Stay With Me Violet Season 1
Biarkan dia Memilih




Axel duduk disofa didekat Ben, Berfikir ada hubungan apa antara Tuan Hari, Violet dan Ayahnya. Namun Axel tidak mungkin menanyakanya pada Tuan Hari melalui pesan Whatsapp ini, karena akan membuat Tuan Hari curiga.


"Ada apa?"Tanya Ben.


"Tidak."Saut Axel.


"Apa kau menyukainya?"Tanya Ben tanpa basa basi.


"Ia."Saut Axel.


"Sejak kapan?"Tanya Ben.


"Sejak dia datang untuk wawancara, dia berdiri dihadapanku berharap aku memberinya pekerjaan. Sejak pertama kali bertemu denganya, dia bilang "Namaku Violet Grizelle. Sejak saat itu aku jatuh hati namun aku menyangkalnya."Saut Axel jujur.


"Kenapa tidak bicara sejak awal?"Tanya Ben.


"Aku hanya tidak dapat mengatakanya."Saut Axel.


"Sudah terlambat."Ucap Ben.


"Apa maksudmu?"Tanya Axel memperjelas ucapan Ben.


"Aku sudah mulai menyukainya."Saut Ben.


"Aku tau."Ucap Axel.


"Berjanjilah padaku."Ucap Ben.


"Untuk apa?"Tanya Axel.


"Untuk menjaganya."Ucap Ben.


"Apa kau sangat menginginkanya?"Tanya Axel pada Ben namun fokus matanya menatap Violet.


"Ia."Saut Ben.


"Sejak kapan?"Tanya Axel.


"Sejak kau memberikan lembar CVnya padaku."Saut Ben.


Axel pun menoleh kearah Ben yang tertunduk. Axel tidak dapat berkata-kata lagi, dia dapat merasakan bahwa sahabatnya benar-benar menginginkan wanita yang sama.


"Biarkan dia memilih."Ucap Axel.


Ben menoleh ke arah Axel dan perlahan mengalihkan padandanganya kearah Violet, Dia pun tertunduk lagi. Malam itu Axel dan Ben menjaganya semalaman. Sedangkan Mikka masih berkeliaran dengan bebas setelah apa yang dilakukanya pada Violet. Dia tau Axel tidak dapat menyingkirkanya dari One Zayn Group karena Tuan Zayn berhutang nyawa pada ayahnya.


"Pesan saja yang kalian inginkan, aku akan traktir."Ucap Mikka merayakan pestanya.


1 minggu kemudian...


Violet mulai pulih dan diperbolehkan untuk pulang namun lebam di wajahnya masih terlihat, Dia menatap wajahnya dicermin dan memegang luka-luka diwajahnya. Dia tidak tau apa yang akan ia jelaskan pada ayahnya. Dari belakang Axel memeluknya dan menahan tangan Violet.


"Jangan sentuh lagi."Ucap Axel.


"Ayah pasti khawatir."Saut Violet.


Violet pun melepas pelukan Axel dan menatapnya, dia berfikir bahwa dia tidak boleh melangkah lebih jauh lagi. Axel milik Mikka dan bukan miliknya. Dia hanya berfikir bahwa dia akan perlahan menjauh dari Axel untuk menjaga perasaan Mikka.


"Apa tuan dapat membantuku?"Tanya Violet.


"Antar aku kerumah Nadine. Aku akan tinggal dirumahnya sampai lukaku menghilang."Pinta Violet pada Axel.


"Aku akan mengantarmu menemuinya."Saut Axel.


Axel dan Violet meninggalkan rumah sakit bersama, mereka menuju kediaman Nadine. Sesampainya dirumah Nadine, Nadine dengan cepat menyambar sahabatnya itu. Nadine sangat merindukan dan khawatir pada Violet, dia banyak bicara tiada henti. Setelah semua barang diturunkan Axel pun pamit untuk pulang. Axel menggenggam tangan Violet.


"Jaga dirimu baik-baik, jika masih sakit tidak usah datang untuk bekerja istirahat saja agar cepat pulih."Ucap Axel.


Violet pun melepaskan genggaman tangan Axel, dia tersenyum pada Axel.


"Tuan lebih baik jangan terlalu dekat denganku."Pinta Violet.


"Kenapa?"Tanya Axel serius.


"Karena akan membuat orang lain salah paham, dan terutama Mikka kekasihmu, aku tidak ingin melukai perasaannya lagi."Ucap Violet.


"Jangan memperdulikanya."Saut Axel.


Violet pun terdiam, Axel meraih tangan Violet dan mencium keningnya.


"Jangan terlalu banyak berfikir, istirahatlah."Ucap Axel menatap mata Violet.


Axel pun pergi dari kediaman Nadine untuk kembali kerumah. Krieeett.... Axel membuka pintu yang besar dan tinggi dirumahnya, dia melangkah dengan cepat dan merebahkan tubuhnya disofa besar diruang tamu. Dia terlihat lelah dan memikirkan perkataan Violet, dia merasa Violet akan menjauh darinya.


"Kaa..."Panggil seorang wanita muda yang menghampirinya.


"Apa."Saut Axel.


"Dari mana saja?"Tanya wanita itu yang tidak lain adalah Racel Zayn adik perempuan dari Axel.


"Dari rumah Ben."Saut Axel berbohong.


"Sudah makan belum?"Tanya Racel.


"Belum."


Racel pun memanggil 5 pelayan untuk menyiapkan makanan, 4 pelayan untuk menyiapkan air hangat untuk kakaknya mandi, 3 pelayan untuk menyiapkan pakaian dan 2 pelayan untuk membersihkan Kamarnya. Racel sangat menyayangi kakaknya Axel.


"Panggil saja semuanya."Ucap Axel meledek.


"Bangun!"Pinta Racel sambil menarik tangan kakaknya yang berbaring malas disofa.


"Ayah belum pulang?"Tanya Axel yang bangun dari tidurnya dan duduk disofa.


"Ayah pulang lusa."Saut Racel.


Para pelayan berjajar untuk melayani Axel melakukan semua aktivitasnya. mulai dari makan, minum, pakaian dan semuanya sudah ada yang mengurus, dia seperti raja dizaman yang sudah moderen seperti sekarang ini. Terlahir dari keluarga berdarah bitu dia tidak pernah merasakan kesulitan.


Setelah membersihkan diri Axel pun berbaring ditempat tidurnya. Wajah dan suara Violet selalu nampak dan terdengar ditelinganya. Dia tergila-gila pada wanita cantik itu. Axel tersenyum-senyum sendiri dan perlahan dia memejamkan matanya, berharap Violet hadir dalam mimpi indahnya malam itu.


"I Love You."Ucap Axel yang mulai memejamkan matanya sambil tersenyum dan perlahan mulai pulas.


***


Halo Readers..


Kalau suka sama karya aku ini, mohon untuk Like, Komen, tekan tombol Favorit (Love) dan Vote yaa..๐Ÿ˜€


mohon untuk menggunakan bahasa yang sopan supaya author semangat nulisnya๐Ÿ˜˜๐Ÿ™