
"Jam makan siang akan segera berakhir, aku harus kembali kekantor."Ucap Violet.
"Aku akan mengantarmu, 30 menit lagi aku juga harus datang ke One Zayn Group untuk serah terima pekerjaan."Ucap Joe Nathan.
"Wah baguslah."Saut Violet mengambil tas yang ada disampingnya.
Merekapun bergegas masuk kemobil dan pergi menuju kantor Joe Nathan mengendarai mobilnya dengan santai agar bisa mengobrol lebih lama bersama Violet.
"Bagaimana kabar ayah?"Tanya Joe Nathan.
"Eemm..."Violet tidak dapat menjawab diapun terdiam.
"Ada apa?"Tanya Joe Nathan menoleh kearahnya.
"Jika aku beritahu Joe Nathan permasalahanku, mungkinkah dia bisa membantuku melepaskan diri dari Zayn?"Tanya Violet dalam hati.
"Aku akan beri tahu padamu saat pulang kerja, tunggu aku kita pulang bersama."Ucap Violet.
"Baiklah."Saut Joe Nathan.
Joe Nathan dan Violet sampai dikantor, mereka berjalan bersama, para karyawan sudah bersiap menyambut kedatanganya.
"Kamu masuk duluan, aku akan lewat pintu samping."Ucap Violet menghindari para karyawan lainya.
"Baiklah."Saut Joe Nathan tersenyum padanya.
Axel berdiri dijendela ruanganya, dia menatap kearah Violet dan Joe Nathan dengan tatapanya yang tidak biasa.
"Joe Nathan, sepertinya bukan orang biasa bagi Violet."Ucap Axel dalam hati.
Joe Nathan disambut dengan hangat, dia menjadi idola baru di One Zayn Group selain Axel, karena ketampanan dan kecerdasan keduanya membuat para wanita meleleh melihatnya.
"Tidak menyangka, Tuan Joe Nathan ganteng bangeeettt...!!!"
"Ia, ganteng banget sama seperti Tuan Axel juga tidak kalah ganteng, bedanya Tuan Axel galak-galak manis kalu yang ini sepertinya orang yang hangat"
"Ia. Sudah ganteng, kaya, badanya juga baguuuss."
"Ia Jadi bikin sesak nafas."
Riuh karyawan wanita yang bergosip, Memang Joe Nathan sangat tampan dan baik, dia juga cerdas dan kompeten. Memberi banyak keuntungan bagi One Zayn Group, itulah sebabnya dia menjadi orang kepercayaan Zayn Keenan di One Zayn Group Amerika.
Setelah semua selesai, waktu terus berjalan dengan banyaknya aktivitas dikantor, tiba waktunya untuk pulang kerja. Axel keluar dari ruanganya nampak melihat kearah Violet yang sedang beres-beres. Axel melangkahkan kakinya untuk hendak menemui Violet.
Namun dari jauh dia melihat Joe Nathan menghampiri Violet, Joe Nathan dan Violet mengobrol dan merekapun pergi bersama dengan tangan Joe Nathan yang ada dipinggang Violet, mereka berjalan meninggalkan kantor dengan senyum yang terlihat diwajah Violet yang mengobrol bersama Joe Nathan.
Axel pun untuk kesekian kalinya membatu melihatnya, dia merasa sangat sakit melihat Violet yang dekat dengan pria selain dirinya, Axel tertunduk dan mengepalkan kedua tanganya. Dia tidak tau lagi harus melampiaskan amarahnya seperti apa. Axel merasa kehadiran Joe Nathan adalah ancaman baginya.
Merekapun sampai disebuah Restoran, tempat itu sangat tenang dan damai, mereka memilih duduk didekat danau buatan disana. Violet perlahan menceritakan semua yang terjadi pada dirinya dan ayahnya selama beberapa bulan terakhir. Dia berbicara dengan sangat jelas dan perlahan suaranya mulai terbatah dan gemetar, Violet yang larut dalam kesedihanya nampak ingin menangis tapi dia menahanya.
Joe Nathan membatu mendengar semua kesulitan yang dialami Violet selama ia tidak ada, Joe Nathan mendengarkan setiap kata yang diucapkan Violet mulai dari ayahnya yang disakiti, Kontrak perjanjian, syarat yang ia berikan pada Zayn keenan sampai dia yang harus tinggal terpisah dengan ayahnya. Violet tidak mampuh menahan dan membendung kesedihanya lagi diapun menangis saat dia berkata..
"Aku tidak mau menikah denganya."Ucap Violet pilu.
Joe Nathan memeluk Violet yang menangis, dia mencoba membuatnya tenang, Joe Nathan yang sesungguhnya sampai saat ini masih mencintai Violet, dia tidak bersama wanita lain saat di Amerika, Dia masih sangat berharap kembali dan menikahi Violet. Joe Nathan menjaga jaraknya dengan wanita lain selama ia disana, Bersikap dingin kepada semua wanita yang mendekatinya diapun mulai mempunyai alasan untuk bisa mewujudkan harapan yang masih diimpikanya hingga saat ini yaitu untuk menikahi Violet.
"Dulu, saat aku akan terbang ke Amerika, kau mengantarku sampai kebandara. Kau menangis dipelukanku, aku pernah berkata padamu. Untuk kau menunggu aku pulang, dan setelah aku menyelesaikan pendidikanku dan membawa kesuksesanku sendiri maka aku akan kembali dan menikahimu. Kau bilang kau akan bersedia menungguku. Violet...Meski pada akhirnya kau mengakhiri hubungan kita, tapi sejujurnya sampai saat ini hanya ada kamu didalam hatiku, selama aku disana, aku tidak pernah berdekatan dengan wanita lain, aku masih berharap kita kembali bersama. Aku masih ingin memenuhi janjiku padamu yang aku ucapkan saat itu dan berfikir suatu saat aku akan kembali dengan kesuksesan dan dengan bangga memintamu pada ayahmu. Sekarang aku sudah ada disini, sekarang tatap mataku....Apa kau akan bersedia jika aku ingin menikahimu?"Tanya Joe Nathan.
Violet pun terdiam ia sejenak berfikir.
"Zayn tidak akan segan melukainya, aku sudah dipisahkan dari ayah, mungkin Zayn juga akan memisahkan aku dengan Joe Nathan, tidak... aku tidak mau, aku baru bertemu lagi denganya."Ucap Violet dalam hati.
Joe Nathan yang masih menatap matanya, ia menunggu jawaban dari Violet.
"Aku tidak mau kedekatan kita diketahui Zayn."Ucap Violet menatap Joe Nathan.
"Apa itu artinya kamu mau?"Tanya Joe Nathan.
"Aku tidak tau, aku tidak dapat mencerna semuanya dengan baik."Saut Violet.
"Sudahlah lupakan, ini bukan waktu yang tepat untuk memutuskan, kita jalani semua bersama aku akan pikirkan caranya, kamu tenanglah dan bersabar, kita masih punya waktu."Ucap Joe Nathan yang memeluk Violet lagi.
"Joe Nathan, apa kamu tau? aku sangat merindukanmu."Ucap Violet dipelukan Joe Nathan.
"Akupun sangat merindukanmu Violet."Saut Joe Nathan.
Mereka menghabiskan waktu bersama, setelah Violet tenang Joe Nathan membawanya pulang kerumah. Violet meminta Joe Nathan untuk menurunkanya dijalan tidak jauh dari kediamnya sekarang, karena jika para pengawal Tuan Zayn mengetahuinya mungkin mereka akan mengadukanya pada Zayn Keenan.
Violet turun, Joe Nathan melambaikan tanganya dengan senyum indah diwajahnya, Violet pun berjalan dan para pengawal membukakan gerbang untuknya, diapun masuk dan membersihkan diri dengan berendam dibak berisi air dengan busa sabun yang melimpah, Violet menghabiskan waktunya didalam bak itu hanya untuk melamun dan mengulur waktu. saat itu Zayn yang sedang berada di Amerika membuatnya bisa sedikit bernafas lega, dia tidak perlu waspada sepanjang malam untuk beberapa minggu kedepan.
Violet yang saat itu berendam nampak sangat cantik dengan wajah yang polos dan rambut terurai, sesekali ia menyelamkan kepalanya didalam air untuk beberapa saat dan keluar lagi untuk sekedar mengontrol nafasnya. Dia melakukannya berulang kali, Violet yang hanya berselimut busa sabun dia bersandar dan merebahkan kepalanya, Violet menatap kelangit-langit dengan tatapan kosong. didalam ruangan itu hanya ada dirinya sendiri ditemani suara gemercik air selama berjam-jam.
Setelah puas menghabiskan banyak waktu diapun bangkit dan berdiri, Violet menuju shower untuk membersihkan semua busa sabun yang menyelimuti tubuhnya dan mematikanya, diapun mengambil handuknya dan keluar dari kamar mandi. Violet yang belum memakai pakaianya dia hanya memakai handuk untuk menutup tubuhnya. Violet langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan kedua tangan yang merentang seolah ia tidak punya tenaga untuk sekedar bergerak.
"Tempat ini.. Seperti penjara."Ucapnya dengan tatapan kosong.
Mata Violet mulai sayup, malam itu malam yang tenang dengan pancaran sinar rembulan yang menyinari kamarnya yang gelap, Violet menoleh kearah jendela besar didalam kamar itu, jendela yang selalu terbuka lebar dilantai dua, Jendela yang besar nan tinggi ditemani tirai-tirai panjang yang beterbangan terhempas angin malam. Membuatnya perlahan lelap sampai mentari pagi berikutnya membangunkanya lagi.
***
Halo Readers..
Kalau suka sama karya aku ini, mohon untuk Like, Komen, tekan tombol Favorit dan Vote yaa..๐
mohon untuk menggunakan bahasa yang sopan supaya author semangat nulisnya๐๐