
Dipagi hari Violet kembali menjalankan rutinitasnya yaitu bekerja untuk mendapatkan uang, pagi ini ia sangat bersemangat dan seperti biasanya ia terlihat sangat cantik.
"Selamat pagi." Sapa Violet kepada semua karyawan yang ia temui.
"Pagi."
Kini wanita itu terhenti di depan lift, ia menekan tombol nomor 7 yang artinya ia akan menuju lantai 7 untuk menuju ruang kerjanya.
Ting....
Suara itu nyaring terdengar dan pintu lift pun terbuka semakin lebar, di dalam lift itu ada 3 orang staff Purchasing dan seorang General Manager Quality Control. entah kenapa mereka yang saat itu hendak keluar tiba-tiba menundukan kepala pada Violet hingga membuat Violet terkejut dan berwajah bodoh.
"Selamat pagi Presdir Axel Zayn." Sapa mereka.
Deg!
Violet membatu mendengarnya, ia mulai merasakan aurah panas di belakangnya.
"Pagi." Sahut Axel, ia berdiri tepat di belakang Violet yang membatu.
Dua langkah Violet menyingkir ke samping saat para staff dan General manager itu keluar meninggalkan lift, ia memutar tubuh dan merunduk sopan memberikan jalan pada tuanya yang saat itu bersama dengan Ben Giorgino sekertarisnya.
Axel lantas melangkahkan kakinya, ia masuk kedalam lift di ikuti Ben di sampingnya. saat itu Violet hanya diam, ia bingung harus ikut masuk atau menunggu sekali lagi dan membiarkan mereka menggunakan liftnya terlebih dahulu.
Pintu lift perlahan tertutup hingga tiba-tiba terhenti saat tangan Ben menahanya. "Violet, mari masuk." Pintanya.
"Ah~? baik." Sahut Violet, ia mulai memasuki lift dan menuju ruang kosong tersudut lift itu, ia berdiri di belakang Ben memandangi kedua punggung kekar pria yang saat ini ada di hadapanya.
"Mereka tampan sekali." Batin Violet.
Selintas pikiran itu menguasai isi kepalanya dan dengan segera Violet menepisnya dengan menggelengkan kepala sangat cepat.
"Tidak! apa yang aku pikirkan." Batin Violet.
Violet kembali menatap kedepan, entah kenapa ia selalu ingin memandang sosok Presdirnya Axel Zayn, rupayan pewaris One Zayn Group itu memiliki daya pikat sangat sangat kuat.
"Benar kata banyak orang, Presdir Axel Zayn memang sangat tampan dan berkarisma. semalam dia memelukku dan hari ini dia seperti tidak mengenalku." Batin Violet.
Ben menoleh kebelakang, ia tersenyum pada Violet dan Violet refleks langsung membalas senyuamnya.
"Violet." Panggil Ben.
"Iya." Sahut Violet lirih.
"Sudah sarapan?" Tanya Ben.
"Sudah." Sahut Violet singkat.
"Hari ini kamu sangat cantik." Puji Ben, ia tersenyum lagi.
"Benarkah? terimakasih Ben." Sahut Violet.
Mendengar Ben memuji Violet dan mendengar Violet memanggil Ben dengan namanya saja, terdengar begitu akrab. Axel pun menoleh kebelakang, ia menatap Violet yang langsung menundukan kepala saat tuanya menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
"Apa aku berbuat salah?" Batin Violet.
"Cih!" Axel tersenyum lucu sambil ia memasukan kedua telapak tanganya di saku celana, pria itu kini kembali menatap kedapan dan..
Ting....
Lift terbuka, saat ini mereka sudah berada di lantai 7, Axel dan Ben meninggalkan lift yang menyisakan Violet di dalamnya. Violet kembali mendongak dan ia pun menyusul keluar dari dalam lift menuju meja kerjanya yang satu area dengan ruang kerja Presdir Axel Zayn.
Violet duduk di kursinya, ia melihat kedua pria itu menghilang di balik pintu ruangan mereka.
"Huuufft~" Violet menghela nafas panjang dan ia meletakan tasnya di atas meja, wanita itu mulai memeriksa file-file yang ada di atas mejanya sambil ia terus berpikir apa maksud dari senyuman Axel Zayn saat menatapnya.
"Apa baru saja dia memandangku sangat rendah? apa baru saja dia mentertawakan aku? apa aku terlihat seperti lelucon baginya?" Batin Violet.
Violet pun mulai berusaha fokus dengan pekerjaanya, ia mulai memeriksa email dan untuk pertama kalinya ia harus membuat desain sepatu dengan sasaran pasar kaula muda saat ini. kini Violet bisa tersenyum seolah ia melupakan semua pemikiran negatifnya, ia kembali bersemangat dan mulai membuat desainya sangat serius.
"Ini desain pertamaku, aku tidak akan mengecewakan One Zayn Group." Batin Violet.
Saat itu Axel Zayn memperhatikan Violet melalui kaca jendela ruanganya, ia duduk di kursinya sambil memainkan pena yang ada di dalam genggaman tangan, pria itu tidak henti menggerakan kursi dengan tatapan tajam lurus kedepan.
"Ini tidak benar! kenapa aku selalu ingin melihat wanita itu." Batin Axel.
Tok... tok...
Seseorang mengetuk pintu, Ben mendongak dan melihat Mikka masuk kedalam ruangan menghampiri Axel Zayn kekasihnya.
"Sayaaang." Panggil Mikka, ia sangat manja dan selalu bersikap manis pada Axel.
Namun Axel seperti tidak mendengarnya, ia tidak memberi respon pada wanita itu. Mikka lantas memperhatikan sepasang bola mata prianya menatap ke arah mana? ia lantas menggertakan gigi saat mendapati prianya sedang menatap wanita lain.
Bagaikan rubah Mikka sangat pandai berpura-pura, ia tersenyum dan mendekati Axel, "Sayang, kamu lihat apa?" Tanya Mikka, ia menggelendoti Axel yang saat ini sedang duduk di kursinya.
"Eng~, kapan kamu masuk?" Tanya Axel.
"Kamu sampai tidak tahu aku masuk, kamu sedang memperhatikan apa?" Tanya Mikka.
"Sudalah."
"Sayang, kamu memperhatikan Violet?"
"Jangan bersikap manja saat di kantor." Ucap Axel, ia menyingkirkan tangan Mikka dari pundaknya.
Mikka pun terdim, ia berdiri memandangi Axel yang muali meraih laporan yang ada di atas mejanya. Mikka lantas meraih dokumen itu dan meletakanya kembali di atas meja.
"Cemburu?" Tanya Axel, ia meraih pergelangan tangan Mikka dan wanita itu pun duduk di pangkuanya.
"Aku tidak mau kamu memperhatikan wanita lain." Ucap Mikka.
Axel tersenyum tipis dan cup~ satu kecupan manis mendarat di bibir Mikka, Mikka pun tersenyum dan ia kembali menggelendoti Axel.
"Selama ini kamu hanya mengecup bibir atau pipiku saja, kamu bahkan tidak pernah mencium bibirku." Ucap Mikka.
"Pfffttt..." Ben menahan tawa hingga membuat Mikka menoleh padanya.
"Kamu mentertawan aku Ben?" Tanya Mikka, ia bangkit dari pangkuan Axel.
"Jika Axel tidak pernah menciumu, seharusnya kamu cari pria lain saja yang mau menciumu pasti sangat banyak bukan?" Sahut Ben.
"Aku tidak mau, aku hanya mau di cium Axel." Ucap Mikka, ia meraih pergelangan tangan Axel, "Kamu bisa kan sekali saja menciumku?" Lanjutnya bertanta.
"Jangan membahas persoalan yang tidak penting, kembalilah ke ruanganmu." Sahut Axel, ia kembali meraih dokumen yang ada di atas mejanya.
"Kamu sungguh tidak mau melakukanya bersamaku meski hanya sekali saja?" Tanya Mikka.
Axel hanya diam, ia tidak menanggapi pertanyaan wanitanya dan hanya fokus dengan dokumen yang ada di genggaman tanganya saat ini.
"Kenapa kamu tidak menjawab?" Tanya Mikka.
Braaakkk!
Axel meletakan dokumenya di atas meja sangat kasar, ia hanya diam menatap Mikka yang saat itu sedang menatapnya.
"Hubungan kita bukan karena cinta. melainkan hanya kesepakatan bersama untuk saling menguntungkan, kamu tidak berhak menuntut apapun dariku." Ucap Axel, wajahnya sangat datar saat ia mengucapkan kalimatnya.
"Tapi aku sungguh mencintaimu." Sahut Mikka.
"Tapi aku tidak pernah mencintaimu." Sahutnya.
"Axel.."
"Kembali keruanganmu atau aku yang akan pergi." Ucap Axel, ia memotong pembicaraan Mikka.
Mikka terdiam dan ia pun pergi meninggalkan ruangan. wanita itu lantas menghampiri Violet yang saat ini sedang berada di kursinya.
"Apa yang akan Mikka katakan pada Violet?" Tanya Ben, ia begiru fokus memperhatikan kedua wanita itu dari jendela ruangan.
"Entahlah." Sahut Axel.
Waktu makan siang telah tiba, Mikka meninggalkan Violet dimejanya. Violet nampak diam saja seperti ada yang dipikirkanya saat itu, entah apa yang dikatakan Mikka padanya. Axel dan Ben keluar dari ruangan untuk makan siang, Violet dan rekan lainya yang masih tersisa diruangan itupun bangkit dari duduknya dan memberi salam pada Axel dan Ben yang berjalan tanpa menoleh. Setelah Axel dan Ben tak nampak dari pandangan mata, Violet pergi ketempat Nadine untuk mengajaknya makan siang dikantin.
"Kerja terus, serius sekali?" Sapa Violet, ia menarik kursi dan duduk disamping Nadine.
"Sebentar lagi selesai kok, kamu sudah lapar ya?" Tanya Nadine.
"Santai saja." Sahut Violet lirih, ia duduk bersandar di kursinya sambil melipat kedua tanganya di dada dengan pandangan kosong.
Nadine menoleh, ia menyadari sikap Violet yang diam. dengan cepat Nadine mematikan komputer dan ia menarik tangan Violet untuk pergi makan siang.
"Bagaimana pekerjaanmu? apakah berat?" Tanya Nadine.
"Tidak. saat ini aku sedang membuat desain pertamaku untuk One Zayn Group, rasanya aku gugup takut hasilnya tidak memuaskan." Ucap Violet.
"Sejak kapan kamu jadi tidak percaya diri seperti itu?" Tanya Nadine.
Violet pun tersenyum pada Nadine dan ia mulai menggelendotinya, mereka berjalan sambil bercanda dan tertawa. Axel dan Ben nampak melihat Violet dan sahabatnya itu dari jendela kantin VVIP.
"Violet sangat cantik." Gumam Axel.
"Memang dia sangat cantik." Sahut Ben, kedua pria itu bahkan tidak berkedip.
Axel menoleh pada Ben yang saat itu sedang memandangi Violet, "Cih.." Senyum Axel tidak dapat berkata-kata melihat sahabatnya yang lupa diri.
"Makan makananmu." Ucap Axel.
Hari ini Violet dan Nadine makan ditempat yang sama seperti kemarin, namun kali ini mereka bisa makan dengan tenang karena Mikka hari ini makan siang diluar. Saat Axel dan Ben selesai makan, mereka pun beranjak untuk kembali kekantor, Presdir dan sekertarisnya itu berjalan menuju pintu keluar kantin yang letaknya didekat meja tempat Violet dan Nadine makan. Ben nampak keluar dari jalurnya untuk menghampiri Violet.
"Setelah makan kamu datang ke ruanganku ya, kita lanjutkan yang kemarin." Ucap Ben dengan senyum hangat yang tertoreh di wajahnya.
"Baik." Sahut Violet, ia lantas berdiri dan menundukan kepala.
Violet kembali mendongak, ia melihat Axel saat itu sedang berdiri di dekat pintu di belakang Ben. Violet pun menundukan kepalanya untuk memberi salam, namun Axel pergi begitu saja tanpa merespon.
Ben menyadari saat itu Axel pergi meninggalkanya, ia lantas pamit pada Violet.
"Aku pergi, habiskan makanmu." Ucap Bin.
"Baik."
Ben pun pergi menyusul Axel, pria itu tersenyum sendiri hingga membuat Axel menatapnya heran.
"Kau mulai gila." Ucap Axel pada sekertarisnya.
"Gila karena sepertinya aku sungguh-sungguh menyukainya." Sahut Ben.
"Sungguh-sungguh menyukainya." Kalimat itu digarisbawahi oleh Axel Zayn. kalimat yang terucap dari mulut Ben Giorgino itu mampuh membuatnya merasakan hal lain. Axel menatap Ben lagi untuk kedua kalinya. kali ini ia merasa tidak senang dengan kalimat "sungguh-sungguh menyukainya" kalimat yang membuat suasana hatinya menjadi semakin buruk.
🍁Stay With Me Violet🍁
Dukung author agar rajin Up dengan cara: VOTE, LIKE, LOVE dan KOMEN sopan ya guys....